The Godfather

— Mitra Keluarga

GodFather

Godfather
thegodfathertrilogy.com

Tidak banyak film yang memiliki kekuatan sedemikian hingga mampu memosisikan diri sebagai legenda yang bertahan sampai sekian masa mendatang, melampaui kemampuan bertahan fisik maupun kilau ketenaran para pemerannya. Lebih sedikit lagi film yang karakter tokohnya sedemikian kuat sehingga kerap diasosiasikan secara langsung dengan pemerannya.

The Godfather (1972) besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diangkat dari novel karya Mario Puzo adalah salah satu contoh terbaik (meski ada sigi yang menyatakan bahwa film ini adalah legenda nomor dua setelah Citizen Kane). Dalam hal ini, Marlon Brando adalah sang Godfather. Sehingga, meski sudah memiliki generasi penerus, tak seorang pun yang sanggup menggeser karisma Brando yang memerani Don Vito Corleone. Tidak Robert de Niro (Vito Corleone muda), tidak Al Pacino (Michael Corleone), tidak pula Andy Garcia (Vincent Mancini, yang diharapkan menjadi suksesor Michael Corleone). Padahal, mereka semua adalah aktor-aktor besar, bukan aktor kacangan ataupun pendatang baru. Godfather tetap saja dipandang identik dengan Brando dan demikian pula sebaliknya.

Sebenarnya bukan soal film yang hendak saya bicarakan saat ini, melainkan soal istilah Godfather. Bagi kalangan mafia, Godfather adalah sosok bapak dan tuan yang punya kuasa memberi jaminan perlindungan dan pemeliharaan dalam segala hal bagi seseorang yang menyerahkan diri, menyatakan kesetiaan penuh, dan taat mutlak kepada sang penguasa. Hal ini terus berlaku selama orang itu tidak melanggar sumpahnya dan tidak menciderai hubungan kekeluargaan kelompok tersebut. Ibarat Faust dalam novel Goethe yang menjalin transaksi dengan Mephisto sang Iblis, perjanjian dengan sang penguasa dan keluarga besar mafia tersebut pun akan terus mengikat hingga putus napas.

Orang yang masuk dan diterima oleh keluarga mafia memiliki kewajiban berbakti pada keluarga mafia tanpa banyak hitungan. Semua yang diperintahkan atasannya, apalagi jika sang pemimpin sendiri yang menyampaikannya, dipandang sebagai kewajiban yang tidak boleh dipertanyakan apalagi ditolak. Di sisi lain, sang pemimpin wajib memfasilitasi kebutuhan hidup orang tersebut berikut keluarganya. Dalam hal ini, selain yang berurusan dengan persoalan ekonomi, juga perlindungan dari berbagai ancaman hukum maupun fisik.

Begitulah kontrak idealnya. Tetapi, pada kenyataannya, ada saja anggota yang berkhianat maupun pemimpin yang tidak menganggap anggotanya lebih berharga dibanding kepentingan sang pemimpin ataupun keluarga walau orang itu tidak melanggar perjanjian😦 .

Bisa jadi akibat kesuksesan film tersebut maka istilah Godfather jadi melekat pada dan langsung diasosiasikan dengan pemimpin mafia di Amerika (yang acapkali disamakan begitu saja dengan gangster). Sementara, sewaktu kecil dan belum mengenal yang disebut mafia, saya menyangka bahwa Godfather adalah sebutan untuk Allah Bapa berdasarkan penerjemahan secara literal.

Padahal, istilah tersebut bukan diinisiasi oleh para mafiosi, melainkan diadopsi dari lingkup Gereja Katolik Roma, yakni sebutan yang diberikan kepada orang yang menjadi Bapa Baptis (Bapa Serani) seseorang yang menerima baptisan. Penggunaan istilah ini oleh kalangan mafia bisa dimaklumi jika kita menilik latarbelakang agama mereka yang bercikal-bakal dari Italia (lebih tepatnya lagi: kawasan Sisilia).

Baptis bagi umat Katolik [dan Kristen pada umumnya] merupakan inisiasi memasuki keluarga Allah dan terikat perjanjian kekal dengan-Nya. Memang mirip dengan masuknya seseorang ke dalam lingkaran keluarga mafia, yang penyerahan diri dan sumpah setianya menjadi tanda “pembaptisan” yang dimeteraikan dengan mencium cincin sang Don (mirip dengan umat Katolik yang mencium cincin Uskup atau Paus🙂 ).

Dalam prosesi Sakramen Baptis di Katolik —khususnya yang dilayankan pada anak kecil— orangtua sang anak tidak menjalaninya sendirian, melainkan didampingi pasangan suami-istri yang bertindak sebagai Orangtua Baptis (Godparent: Godfather dan Godmother) bagi sang anak (disebut Godchild, Godson atau Goddaughter). Keberadaan dan status mereka dicatat secara resmi dalam surat baptis yang diterbitkan oleh gereja.

Saya yakin ada peran khusus bagi mereka yang dipandang penting oleh gereja. Kalau tidak, untuk apa repot-repot membuat skenario semacam itu? Menurut penjelasan Bapak saya, sejatinya mereka akan berperan sebagai orangtua juga bagi sang anak, yang mendampingi orangtua kandungnya dalam banyak hal, bukan hanya dalam hal-hal yang bersifat kerohanian melainkan juga hingga ke masalah kebutuhan fisikalnya. Persis seperti orangtua kandung, kecuali dalam hal-hal yang benar-benar menjadi urusan dan kewenangan khusus keluarga asli. Maka, Bapak saya menyatakan adalah keterlaluan jika Orangtua Baptis tidak ingat tanggal lahir Anak Baptisnya.

Pendeknya, Orangtua Baptis berkewajiban memantau dan mengikuti perkembangan sang anak serta terlibat sebagai mitra orangtua kandung dalam membekali seorang manusia baru memasuki dunianya sendiri. Secara sepintas terlihat bahwa hal ini memberikan banyak dukungan positif bagi semua pihak apabila masing-masing pelaku menjalankan perannya sesuai dengan proporsinya.

Pengandaian itulah yang sempat melintas di benak saya tatkala menghadiri prosesi pembaptisan anak teman Riris di GKI Kebayoran Baru pagi tadi. Dua anaknya dibaptis berbarengan. Dan yang membawa mereka maju ke altar hanyalah ibunya saja sebab ayah mereka sudah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kanker. Ketika kami memberikan selamat di pintu keluar gereja, sang ibu nyaris tidak bisa membendung airmata karena terkenang pada almarhum suaminya yang tidak ada di sisinya pada momen bersejarah tersebut.

Mengapa saya harus berandai-andai? Apakah tanpa Orangtua Baptis maka sang ibu tidak akan mampu menjaga dan memelihara anak-anaknya? Tidak. Sama sekali tidak! Bukan itu maksud saya. Ada banyak bukti nyata bahwa orangtua tunggal tidaklah identik dengan ketidakmampuan mengurus anak dan keluarga. Sebaliknya, tidak sedikit anak-anak dari keluarga semacam itu yang malah berhasil dalam hidupnya.

Namun, di sisi lain, merupakan sebuah kewajaran jika seorang manusia memerlukan orang lain yang bersedia diajak bicara tentang hal-hal yang sangat pribadi dan peka, yang tidak perlu diketahui orang lain. Itu sebabnya anak-anak muda umumnya memiliki sobat untuk curhat, suami memiliki istri dan sebaliknya, yang pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama terhadap persoalan yang dibahas atau memiliki saling ketergantungan satu terhadap yang lain.

Tetapi, kepada siapakah seorang orangtua tunggal pergi mengadu? Apalagi jika mereka dihadapkan pada keterbatasan waktu, pengetahuan, kemampuan, biaya, dan sebagainya. Terlebih-lebih jika keterbatasan-keterbatasan tersebut justru merupakan faktor yang turut mewarnai persoalan yang timbul antara sang orangtua dengan anaknya.

Kepada teman atau sahabat? Bisa saja. Sayangnya, mereka pada umumnya tidak memiliki panggilan moral untuk selalu siap menopang beban hati. Paling banter, ngobrol sesekali ataupun membantu tanpa harus terlibat secara pribadi. Bagaimana dengan kakek-nenek sang anak? Selain berbeda “dunia” dan “bahasa”, mereka pun acapkali kurang bisa mengambil jarak objektif terhadap persoalan yang berlangsung antara anaknya dengan cucunya. Akibatnya, malah sering memperuncing masalah.

Bagaimana dengan Pastor atau Pendeta? Wah, susah, karena mereka tidak jarang bersikap normatif dan menggurui [bahkan menghakimi], bukannya sebagai kawan. Kepada anggota jemaat lain? Walah! Bisa-bisa menimbulkan masalah baru karena menjadi bahan pergunjingan. Apalagi mereka semua tidak mengetahui secara cukup rinci proses yang berlangsung.

Kepada Tuhan? Sudahlah pasti. Hanya saja, manusia kerapkali merasa butuh sosok yang tampak secara visual dan bisa memberikan tanggapan secara langsung.

Lalu, siapa orang yang secara etis dianggap layak mengemban tanggung jawab menjaga kerahasiaan keluarga seraya membantu menjernihkan serta menyelesaikan persoalan yang sangat pribadi semacam itu? Siapa yang mau bersukarela menempatkan diri di posisi orangtua sebagaimana layaknya orangtua asli?

Peran itulah yang seyogianya dilakoni oleh para Orangtua Baptis, demikian Bapak saya kerap menyampaikan pandangannya saat beliau masih cukup sehat untuk menunaikan kewajibannya selaku seorang Prodiakon. Hanya saja saya sangsi ada cukup banyak orang yang sungguh-sungguh melakoni peran tersebut sebagaimana diidealkan Bapak (dan hal ini pun diakui beliau), kecuali mereka yang juga memiliki hubungan kekeluargaan secara nyata. Tetapi, hubungan keluarga pun ternyata bukanlah sebuah jaminan. Di dunia nyata ini, tidak sedikit keluarga yang tidak terpelihara kekerabatannya. Jangan kata diminta untuk ikut berbagi beban.

Saya pun kurang yakin bahwa mereka yang secara legal-formal-gerejani telah tercatat sebagai Orangtua Baptis tersebut sebenarnya cukup memahami makna peran yang diembannya. Ada berapa banyak Orangtua Baptis yang benar-benar bisa menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga Anak Baptisnya berikut tanggungjawab yang disandangnya? Faktanya, saya sendiri tidak pernah diberi penjelasan oleh pihak gereja ketika menjadi Orangtua Baptis bagi keponakan saya, apalagi dimintai konfirmasi mengenai kesanggupan menjadi Orangtua Baptis. Hanya penjelasan dari Bapak sayalah yang jadi pegangan saya. Itu pun saya diskusikan terlebih dahulu dengan kedua orangtua si anak.

Saya khawatir, jangan-jangan malah tidak ada orang yang mau menjadi Orangtua Baptis jika kepadanya disampaikan “beban berat” yang akan dipikulnya. Walhasil, menurut pandangan saya, peran tersebut di masa kini cenderung menjadi sebuah formalitas belaka, yang tidak bermakna apa-apa seusai prosesi pembaptisan.

Membandingkan Godfather kaum mafia dengan Godfather pembaptisan di Katolik, tampaknya kalangan mafioso sudah lebih berhasil menerjemahkan posisi Godfather bagi sang anak ke dalam perilaku nyata. Meskipun relasi yang terbangun antara keduabelah pihak jadi berlebihan —yakni kesetiaan mutlak kepada kekuasaan tak terbatas sang pemimpin terhadap seluruh hidup dan mati sang anak—, ikatan dan pengejawantahannya dalam kehidupan merupakan sesuatu yang amat nyata tinimbang sekedar prosesi dan pencatatan di selembar kertas akta baptis.

Saya tidak tahu apakah pernah terpikirkan tentang pendudukan kembali peran Godparent dalam sebuah keluarga Katolik. Entahlah. Itu urusan yang jauh dari kemampuan saya untuk menggelutinya. Yang jelas, saya masih terus bertanya-tanya tentang siapa orang yang akan mengambil peran sebagai Godparent (tanpa harus diformalkan) bagi kedua anak teman Riris yang masih demikian panjang perjalanannya ke masa depan. Tentu saja tanpa mereduksi bahkan menihilkan posisi orangtua kandung sang anak sebagai Godparent yang sesungguhnya, sebagaimana de Niro maupun Pacino maupun Garcia yang tidak akan bisa menggeser kedudukan Brando.

Terutama pada saat dunia ini tampak demikian tidak bersahabat, betapa melegakan memiliki orang yang bersedia berdiri di samping kita.

— PinAng: Minggu, 14 September 2008 15:27

4 Comments

Filed under familia

4 responses to “The Godfather

  1. the beautiful sarimatondang

    terimakasih untuk tulisan yang menarik dan bermanfaat ini, om alof. apakah dalam hal ini yang ada godfather saja atau godmother ada juga? (ini pertanyaan serius, bukan bercanda). maksud saya, konsep orang tua baptis itu apakah suami-istri atau hanya ayah saja?

    mungkin kalau ada waktu juga, mohon dijelaskan apakah ini diambil dari tradisi tertentu atau memang ada landasan teologisnya.

    sekali lagi menarik sekali konsep godfather ini. malah jadi lebih menarik ketimbang filmnya🙂

    diatei tupa

  2. Halo, Eben. Terimakasih banyak atas apresiasinya🙂

    1. Orangtua/wali baptis bisa dilakoni oleh seorang lelaki saja (Godfather) atau seorang perempuan saja (Godmother) atau kedua-duanya secara bersama-sama (Godparents). Sejauh yang saya ketahui, peran ini tidak mensyaratkan sepasang suami-istri. Tetapi, tentu akan lebih baik jika mereka benar-benar sepasang suami-istri sehingga peran sebagai orangtua terwujud dalam arti yang sesungguhnya.

    2. Orangtua/wali baptis bukanlah syarat keabsahan suatu pembaptisan, melainkan suatu kondisi yang dianjurkan. Tidak ada pun sebenarnya tidak menjadi masalah, tidak menghalangi maupun mengurangi hakikat sakramen baptis.

    3. Hingga sekarang saya belum menemukan rujukan yang menyatakan bahwa adanya orangtua/wali baptis didasarkan pada ayat-ayat Alkitab, melainkan tradisi yang sudah berlangsung sejak masa gereja perdana berdasarkan kondisi yang berlangsung pada saat itu. Tentu saja hal ini kemudian bisa dicarikan pembenaran teologisnya🙂

    Salah satu artikel mengenai hal ini adalah Memilih Wali Baptis yang Tepat.

    Tabik,
    ~alof

  3. the beautiful sarimatondang

    terimakasih om alof.
    (sambil mikir-mikir, baik juga dalam tradisi batak dicangkokkan praktik godfather ini).

  4. Sebenarnya adat Batak sangat bisa memainkan peran tersebut melalui kedudukan istimewa Bapak Tua dan Tulang dalam keluarga. Hanya saja, peran keduanya belum diimbuhi pesan-pesan teologis Kristen, masih murni berdasarkan adat.

    Di GPIB pun keberadaan Godfather/Godmother sudah dipraktikkan. Tetapi saya tidak tahu persis bagaimana sebenarnya fungsi mereka secara spiritual maupun sosial (walau saya pernah menjadi wali baptis di sana🙂 ).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s