Bianglala Kehidupan

— Merentang Busur Asa dan Juang

Rare Rainbow (Idaho, June 19, 2006)
Rare Rainbow
nationalgeographic.com

Entah kenapa, sepekan ini saya berulangkali memutar lagu Somewhere over The Rainbow, persis kelakuan orang sedang kasmaran yang tidak jemu mendendangkan lagu cinta yang sama sampai-sampai orang lain naik pitam karena bosan🙂 . Padahal saya tidak sedang mengalami mood tertentu yang ada hubungannya dengan pelangi, konon pula dengan rasa kasmaran.

Sudah agak lama saya ingin tahu siapa yang menyanyikan lagu yang terdengar sederhana. Apalagi penyajiannya hanya diiringi kocokan khas pada ukulele, sebuah alat musik yang boleh dibilang sama sekali tidak elit dan prestisius bagi para pesohor musik. Benar-benar lagu yang sederhana.

Beberapa kali saya mendengar lagu itu digunakan sebagai musik ilustrasi film. Yang masih saya ingat adalah 50 First Dates yang diperani oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore (tentu saja bersama sobat kental Sandler, Rob Schneider) serta Meet Joe Black yang dibintangi Brad Pitt dan Anthony Hopkins. Juga sebuah film lain yang saya lupa judul dan ceritanya😦 , hanya ingat adegan akhirnya dimana kamera yang berada di ketinggian angkasa menyorot sang tokoh yang berdiri di puncak sebuah bukit.

Karena film-film itu bicara tentang nilai indah harapan dan perjuangan serta penghargaan terhadap kehidupan, terlepas dari tragedi apa pun yang mengiringi dan menggerogoti, tentu sangat menarik untuk mengetahui mengapa lagu sederhana itu dipilih. Namun kali ini saya tidak hendak bicara tentang film-film tersebut walau ada sesuatu yang sangat dalam yang bisa diulas. Lain kali saja.

Satu ketika, Riris membuat sebuah demo iklan untuk media TV yang dihiasi lagu tersebut. Kontan rasa penasaran saya jadi makin tergugah. Sayangnya, Riris tidak bisa memberikan informasi banyak tentang lagu tersebut. Bodohnya pula saya saat itu tidak segera bertanya pada Mr. Google yang mahasakti dalam soal informasi🙂 . Walhasil, rasa ingin tahu itu tetap tinggal sebagai kerikil samar-samar dalam hati selama sekian lama.

Beberapa hari yang lalu, sewaktu mengunggah (upload) lagu-lagu ke internet, saya teringat pada lagu yang menurut saya cukup ajaib itu. Kali ini, tanpa menunda-nunda lagi, saya langsung takzim menghadap Mr. Google. Dalam hitungan kurang dari 1 detik, ribuan informasi segera membanjiri layar komputer. Dari sana, saya singgah ke perpustakaan WikiPedia untuk mencari informasi lebih dalam, serta menyambangi situs YouTube untuk mendapatkan efek visual. Dan tentu saja tidak lupa memasukkan lagu tersebut ke dalam daftar lagu untuk blog ini🙂 .

Israel Kamakawiwo'ole
Israel “Iz” Ka’ano’i Kamakawiwo’ole

Baru saya tahu bahwa lagu itu digubah dan dipopulerkan oleh seorang “raksasa” dari Hawaii bernama Israel Ka’ano’i Kamakawiwo’ole yang akrab disapa Iz. Kisah hidupnya cukup menarik. Selain menjadi seniman yang tekun memopulerkan musik khas Hawaii, Iz juga adalah seorang pejuang yang gigih menyerukan kebebasan dan hak-hak orang Hawaii.

Demikian besar determinasi dan upayanya, sehingga pada akhir hayatnya dia menjadi orang ketiga (tetapi rakyat biasa pertama) yang jenasahnya mendapat penghormatan disemayamkan di gedung pusat pemerintahan Honolulu. Bendera Hawaii pun dikibarkan setengah tiang pada hari pemakamannya. (Jadi ingat Bob Marley yang juga sering dianggap sebagai pahlawan orang Jamaika.) Selain raksasa dalam ukuran badan, ternyata Iz juga adalah seorang raksasa dalam musik serta perjuangan kesetaraan hak-hak sipil orang Hawaii.

Tentang lagu itu sendiri; secara mengagumkan Iz menyisipkan syair lagu “What a Wonderful World” gubahan Louis Armstrong Jr. di tengah-tengah syair lagunya. Lagu Armstrong yang berjiwa jazz/blues tersebut masuk dengan mulus dan cantik ke dalam irama hawaiian yang menjadi karakter lagu Iz. Lagu yang kemudian kerap dijuduli Somewhere over The Rainbow/What a Wonderful World itu pun populer ke seantero dunia. Bahkan hingga saat ini, setelah kematian Iz sekitar satu dekade lalu. Selain dinyanyikan banyak orang dan penyanyi sohor dari berbagai genre musik, juga menjadi lagu latar berbagai film dan iklan di berbagai negara.

Digital Rainbow
Digital Rainbow
digitalrevolutions.biz

Sekarang soal pelangi. Sejatinya, tidak satu pun dari kita —kecuali saudara-saudara yang tunanetra ataupun butawarna— asing pada pelangi serta keindahannya. Memang pelangi hanyalah sebuah fenomena optik yang bisa dijelaskan secara masuk akal oleh ilmu fisika sehingga tidak dianggap sebagai mukjijat. Namun, sekian masa yang lampau, pelangi dipandang sebagai tanda yang dilambari sifat keilahian. Bahkan menjadi meterai perjanjian damai antara Tuhan dan manusia melalui Nuh, demikian Alkitab bertutur perihal fenomena indah alam yang saat itu belum terjelaskan ilmu pengetahuan.

Maka bisa dipahami mengapa pelangi hampir selalu dikaitkan dengan kebaikan. Malahan dalam dongeng kanak-kanak, sering digambarkan sebagai busur rejeki yang di kakinya tergeletak seguci emas ataupun sepeti harta karun. Pada intinya, nyaris tidak ada metafora yang menggunakan pelangi untuk keburukan. Paling banter netral-netral saja sebagai kias keragaman ataupun dinamika asam-garam kehidupan.

Pelangi adalah simbol keindahan-tiada-tara dunia ini. Segala sesuatu demikian indah dalam harmoni bak sebuah simfoni agung. Maka, rasa haru saya cukup tergetar saat melihat klip video yang lagunya dilantunkan suara kanak-kanak Aselin Debison (silakan klik ini ataupun ini).

Sialnya, bukan klip video manis tersebut yang pertamakali saya temukan dan buka di situs YouTube😦 , melainkan video ilustrasi di bawah ini.

Entah siapa yang membuatnya, namun dengan jitu memparodikan 180° seluruh syair tentang keindahan yang semula nikmat didendangkan. Dan naasnya, justru itulah kenyataan dunia saat ini! Walhasil, lagu yang semula membuat saya penasaran itu kini malah membuat saya terjerembab dalam renung kesesakan. Benarkah dunia ini demikian indah tiada tara? Ataukah semua itu hanya dongeng pengantar tidur kanak-kanak?

Dan ketika menyimak liriknya, saya terpukau pada frasa pendek yang disodorkan Iz di akhir syairnya. Begitu singkat sehingga tidak menonjol, bahkan seperti sambil lalu. Namun, entah kenapa, saya merasa, justru pada frasa pendek itulah terkristalkan jiwa lagu tersebut.

Adalah sebuah gugatan besar yang mendasar tatkala seseorang mempertanyakan kenyataan tidak diijinkan memasuki berbagai hal indah dan menyenangkan yang berani [dan boleh] diimpikan orang lain. Seluruh keindahan yang kerap dikisahkan orang lain tinggal sebagai dongeng yang bahkan terlarang untuk dimimpikan, konon pula dinyatakan. Sebagian orang seakan berhadapan dengan dinding cadas yang membatasinya dari kebebasan dan keutuhan manusia yang asasi. Dalam hal ini saya bisa memahami maknanya dalam kaitan perjuangan Iz bagi hak-hak orang-orang asli Hawaii yang terbedakan dengan orang kulit putih.

Gugatan semacam itu membuat saya resah tatkala merefleksikannya ke dalam kehidupan di sini dan kini.

Saya percaya bahwa sesungguhnya dunia dan kehidupan ini amatlah indah. Penuh warna bagai pelangi, yang dalam lagu kanak-kanak dinyatakan sebagai ciptaan Tuhan. (Bukankah dunia dan hidup ini memang ciptaan Tuhan?) Pelangi adalah gambaran keragaman berbagai hal yang kita hadapi setiap saat dalam kehidupan. Kita bisa saja melihat sesuatu yang sama, tetapi belum tentu kita membaca makna dan memiliki rasa yang sama tentangnya. Demikianlah halnya semua kenyataan yang berlintasan di hadapan kita. Amat berwarna dan seharusnya amat menggairahkan. Bahkan setiap orang pun berhak memiliki pelanginya sendiri, tempat dia menyisipkan harapan dan mimpi-mimpi.

Sayangnya, kerapkali kita sulit menerima keberadaan orang lain yang memiliki “warna” berbeda dengan yang kita gemari. Entah bagaimana caranya menikmati keindahan pelangi yang hanya terdiri dari satu warna. Dan entah warna mana pula yang pantas dihadirkan. Setiap orang akan bertikai mempertahankan kubu masing-masing.

Pelangi kehidupan memang tidak seindah pelangi alam. Tidak musti selalu berwarna cerah semarak. Begitulah galibnya kehidupan. Namun, pelangi kehidupan ini acap berlumur lumpur hitam yang bukannya tidak jarang kita sendiri yang melaburkannya atau —lebih celaka— dilakukan satu orang terhadap lain orang. Tak perlu kita sangkal kenyataan tentang sebagian orang yang —entah dengan cara bagaimana— punya kuasa menentukan, menodai, atau bahkan merebut pelangi orang lain. Di sisi lain, tidak sedikit orang lain yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghayati pelangi kehidupannya yang sudah tergadaikan oleh belenggu keseharian. Di antara keduanya terentang ketegangan tak terdamaikan yang mungkin belum akan berakhir hingga hayat berpamitan pada raga.

Seandainya saja setiap orang mau berpadan diri dalam harmoni bagai nada-nada yang terangkai dalam sebuah lagu, niscaya semua akan menjadi pelangi yang anggun mewarnai kehidupan. Betapa indah dunia ini jika berjuta pelangi saling bertaut menyumbangkan keindahan masing-masing.

Pelangi memang belum menjadi tanda perdamaian dan kebaikan yang dijanjikan bagi seluruh insan. Namun kehidupan terus berjalan tanpa henti, tak jemu menantang orang-orang untuk tidak pernah menyerah hingga mencapai kaki pelangi. Di baliknyalah barangkali akan ditemukan keindahan sejati, bukannya kesemuan penuh gincu demi mematut penampilan dan kenikmatan tamak. Barangkali di sanalah bisa disua kedamaian dalam kesahajaan yang tidak canggih, tatkala setiap orang sedia berbagi dengan sesamanya, sehingga tak ada lagi orang yang masih harus berjuang menggugat hak-hak asasinya, termasuk untuk bermimpi.

Di sanalah mungkin Iz kini berada, bernyanyi riang dengan ukulelenya. Entah pula jika hal itu berarti telah terpenuhinya janji perdamaian antara Tuhan dengannya, sehingga pelanginya bukan lagi sekedar sebuah busur cahaya yang dipendarkan kristal air sebagai sebuah fenomena fisika biasa semata, bukan pula sebuah angan yang terbelenggu. Somewhere over the rainbow, dreams really do come true.

Sekarang saya bisa menarik hikmah dari parodi video ilustrasi tersebut tentang kenyataan dunia yang amat bertolakbelakang dengan keindahan di balik pelangi. Kendati demikian, bagi saya, lagu legendaris karya Israel Ka’ano’i Kamakawiwo’ole itu adalah sebuah himne bagi orang-orang yang terbedakan namun tidak pernah terkalahkan. Itu sebabnya secara intuitif saya langsung menyukainya sejak awal🙂

— PinAng: Sabtu, 6 September 2008 02:27

Leave a comment

Filed under di balik nada, ecce homo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s