Di Timur Luar Sebuah Taman*

Satu tulisan yang menjadi peserta sebuah perlombaan yang dibatalkan😦

Adam and Eve
Adam and Eve
by Stan Mullins

Mega tembaga bergayut di langit muram. Bongkahan awan-awan kecil berarak pelan merapat, lalu menyatu seakan bersepakat menaungi satu noktah yang nyaris tak nampak dari ketinggian: segunduk tanah bercampur lempung kuning yang diapit sepasang perempuan dan lelaki berhadap-hadapan.

"Marahkah engkau?" si perempuan mengoyak senyap tanpa mengalihkan pandang dari gundukan tanah.

Lelaki itu tidak menjawab. Tangannya menoreh-noreh tanah dengan pangkal ranting zaitun yang masih berdaun, lalu menancapkannya di salah satu ujung gundukan. Dia mendongak sejenak menatap mega tembaga yang kian padat menggumpal di langit sebelum menyahut lirih, "Tak ada alasan bagiku marah pada daging dari dagingku dan tulang dari tulangku. Engkau adalah aku, aku adalah engkau [1]. Perihalmu adalah perihalku. Murka dan nestapa yang kautanggung, pula sukacita dan rahasia, adalah karunia untuk kita saling berbagi, meski tak bisa sepenuhnya kita kecap bersama."

"Aku tahu. Tapi hatiku masih saja resah."

"Mengenai kekinian kita di sini akibat pilihan kita sendiri? Kalaupun semua ini adalah kesalahan, setidaknya kita masih punya alasan untuk menjalaninya bersama."

"Meski kita telah kehilangan banyak?"

"Walau kehilangan segalanya."

Burung gagak di pucuk pohon ara kering memiringkan kepalanya bagai ingin menyimak cermat percakapan mereka. Seekor kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu hinggap di ranting zaitun. Sayapnya mengepak perlahan mengirim isyarat aman bagi seekor kupu-kupu lain agar hinggap di sisinya. Dengan santun keduanya melarutkan diri dalam hening.

"Mengapa kaubiarkan aku jadi jurubicara atas sesuatu yang tak pernah diserahkan untuk kutanggungjawabi?" tanya perempuan itu setelah cukup lama terperangkap dalam diam. Dia tolehkan wajahnya menatap lelaki yang masih tepekur di seberang gundukan.

"Aku tak membiarkanmu. Aku bersamamu," sahut si lelaki masih dengan suara lirih.

"Kau tak melarangku beradujawab dengan si ular tua!"

"Manalah bisa aku melarang setelah aku lebih dulu kehabisan kata menghadapinya? Kaulah pembelaku, benteng pamungkas diriku sepenuh, penyambung lidahku kelu, pengurai kebuntuan pemberangus benakku. Justru karenamu aku urung kehilangan martabat kemanusiaanku di hadapan seluruh mahluk yang menjadi saksi perjumpaan kita dengan si ular tua. Seluruh diriku, semua yang terbaik dariku, ada padamu. Walau pada akhirnya takluk, masih ada harga diri tak terenggutkan yang membuat kepala kita tetap tegak saat terusir."

"Kau bermanis kata menghiburku dan menghibur dirimu sendiri," si perempuan merajuk.

"Beginilah cara kita berbagi saat berbagai beban mendera. Begini pula keturunan kita kelak menyatakan kesejatian kebersamaan mereka. Walau tak langsung katupkan nganga luka, setidaknya ada peluang tak tersungkur sebatangkara."

"Kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu?" selidik si perempuan sambil melirik tajam.

Lelaki itu mengangkat wajahnya. Matanya menghunjam tajam langsung ke bola mata si perempuan.

"Bukannya aku tak punya pilihan meninggalkanmu. Namun, ikrar telah kutorehkan jauh sebelum namamu disebut. Kepada namamu, jiwaku tak kuasa ingkar dan berdusta. Dan atas nama ikrar itu, janji-janji baru jadi memuakkan."

Sinar mata perempuan itu melembut. Tangannya, yang tak sehalus dulu, membenahi ranting zaitun yang agak miring.

"Begitukah cara keturunan kita kelak menautkan janji antarmereka?" tanyanya lagi.

"Ya. Hanya diperlukan satu ikrar demi seluruh hidup mereka, hingga kisah tergenapkan."

"Kau yakin tentang masa depan?"

"Semula, hanya pengetahuan tentang masa kini yang kumiliki, yang dengannya semua mahluk kuberi nama. Dengan kehadiranmu, aku menjadi lengkap. Sebagian masa depan kini dapat kuhampiri dalam penglihatan."

"Seperti penglihatan yang kadang melintas sekejap di ruang pandangku selama ini?"

"Ya, sebuah terawang yang muncul saat kita bersehati penuh dengan semesta. Itu adalah karunia bagi setiap insan. Namun, tak semua sedia memelihara kepekaan berselaras dalam harmoni alam guna merengkuh sebersit kearifan membaca sasmita [2]."

"Termasuk anak kita sehingga bangkit amarahnya pada saudara sedarahnya sendiri?"

"Termasuk anak kita," keluh si lelaki.

"Mengapa tak kauajarkan semua ini kepadanya? Kepadaku pun baru kaukatakan sekarang, setelah sekian lama," protes si perempuan agak keras.

"Kearifan bukanlah ujud lain pengetahuan. Dia datang bersama dengan munculnya kerendahhatian setelah pengetahuan lebih dulu menghampirinya. Ketika anak kita menengarai perbedaan ritualnya dengan ritual saudaranya, sesungguhnyalah saat itu kearifan sedang mengetuk hati dan pikirannya. Hanya dia sendiri yang layak memutuskan apakah membukakan pintu bagi kearifan untuk bersemayam dalam dirinya ataukah menutup pintu itu sekali untuk selamanya. Tak ada hakku memilihkan masa depannya. Anak-anak kita bukanlah anak-anak kita, melainkan anak-anak kehidupan yang melesat bagai anak panah ke masa depan yang tidak bisa kita kunjungi [3]."

"Maksudmu, semua peristiwa di masa depan belum tersuratkan sejak purba?"

"Semua yang ada di masa depan bersebabkan semua yang ada di masa lampau serta masa kini."

"Jadi, masa depan adalah konsekuensi atas pilihan-pilihan kita dan bisa berubah jika kita berkehendak?"

"Siapatah yang bisa menggariskan masa depan? Masa depan justru akan sangat menggairahkan ketika meniti di atas ketidakpastian," sahut si lelaki dalam retorika. "Itu sebabnya nasib seseorang tak akan berubah apabila orang itu tak mengubahnya sendiri [4]."

Burung gagak di pucuk pohon ara kering masih memiringkan kepalanya, tak jemu menyimak percakapan maupun keheningan mereka. Dia tidak perlu terlalu lama menanti, sebab perempuan lalu berbicara lagi. Kali ini suaranya amat datar. Matanya menatap lurus seakan sedang mengintai sesuatu di kejauhan.

"Ada banyak orang. Kacau. Hingar. Sebagian mengejar sebagian lain. Mengusir. Mendera. Antara lelaki dengan lelaki. Terhadap anak-anak, perempuan, orang tua. Kudengar jerit dan tangis. Kulihat luka dan kematian. Darah tertumpah. Merah. Api menyala. Membara. Ada yang tersungkur. Meregang nyawa. Seperti yang terjadi pada anak kita. Persis seperti anak kita. Mati. Mati…" [5]

Setelah beberapa jenak, cahaya kembali ke bola mata perempuan itu. Matanya berkejap-kejap, seperti ada sesuatu yang mengganggu pandangannya. Perlahan dia menyeka matanya. Sebutir air bening menggelantung di ujung jarinya. Dipandanginya lekat-lekat. Pelan-pelan butir air itu pecah dan mengalir membasahi jarinya.

"Sesak kurasa. Perih dalam dada ini sesakit persalinan. Walau air dari mataku ini serupa dengan yang keluar saat kudengar suara pertama anak kita dulu, aku tahu pasti bahwa keduanya menorehkan rasa yang amat berbeda."

"Kelahiran dan kematian adalah simpul-simpul terujung titi kehidupan. Pada keduanya terpatri sukacita paling jujur maupun nestapa paling murni. Di antara kedua simpul itu, sukacita dan nestapa silih berganti menghadirkan bermacam hakikat dan topengnya. Melalui pergiliran keduanyalah kehidupan menjangkarkan makna."

"Lalu, apa hak sah seseorang menghela titi hidup orang lain ke dalam api dan kematian?"

"Orang kerap menyangka bahwa sebutir berlian tafsir kebenaran adalah liontin kebenaran itu sendiri. Padahal, untuk menguntai liontin, tak cukup satu berlian. Dan tak satupun berlian yang sepenuhnya sama dengan yang lain. Di sisi lain, tafsir kebenaran bagaikan seekor naga yang senantiasa gelisah mencari pijakan ajek. Dia tak lelah menggali, membongkar, bahkan menjungkirbalikkan segala sesuatu. Kadang dia ramah pada perbedaan, namun tak jarang teramat bengis terhadap semua yang merintanginya. Semua berpulang pada sang penunggang naga pengetahuan itu."

"Sekeping kebenaran yang diperumit oleh pengetahuan, didaku sebagai kebenaran hakiki."

"Padahal, kebenaran hakiki justru adalah yang paling bersahaja. Sesederhana pengakuan bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Tak ada tuntutan kebenaran yang melampaui itu. Manusialah yang acap mengubahpaksa kebenaran menjadi taring tajam pembedaan sehingga gagal menemukan dirinya yang paling murni dan utuh dalam diri manusia lain. Sebagian orang memaknai hakikat kebenaran sebagai nilai-nilai yang berpihak padanya. Padahal, tak seorang pun yang sanggup merengkuh inti kebenaran itu sendiri."

"Kalau saja mereka paham bahwa kebenaran selalu tampil dengan wajah berbeda akibat perbedaan cermin hati dan akal mereka, tentu tak seorang pun akan angkuh memuliakan tafsir kebenarannya berlaku mutlak bagi semua orang."

"Detak waktu dan bentang jarak kuasa mengikis kesadaran paling purba akan ketidaklengkapan pribadi tanpa kebersamaan. Akibatnya, orang menyangka bahwa dirinya paripurna, sebagai perwujudan ketunggalan adikodrati yang tak memiliki padanan, sekutu, maupun seteru. Mereka merasa berhak —bahkan wajib— meniadakan semua yang bertentangan dengan kemandirian kemahatunggalannya."

"Mereka tidak lebih dari perampok yang mengangkangi hak memaknai kebenaran!"

"Bagaimanapun, mereka adalah keturunan kita."

"Kau tak merasakan sesak dan sakit yang kurasakan saat menampak masa depan," gerutu si perempuan.

"Bagaimana mungkin aku tak merasakan apa yang dirasakan belahan jiwaku?" balas si lelaki setengah mesra.

Perempuan itu menyunggingkan senyum paling indah yang setara intipan hangat mentari pagi dari balik bukit.

"Mungkinkah semua itu karena kita sudah mencampakkan sebagian pengetahuan mengenai kebenaran di taman yang kita tinggalkan, sehingga pengetahuan mereka perihal kebenaran tidak lengkap, bahkan ternoda?"

"Buah pengetahuan yang kita kupas dan cecap telah membebaskan segala kemungkinan —yang baik maupun buruk— ke dalam kehidupan. Setimpal dengan hak istimewa kita mengambil putusan berdasarkan kehendak bebas kita, yang bahkan malaikat pun tak berani memintanya."

"Dan, di masa depan, keturunan kita akan menuturkan legenda kotak Pandora," sambut si perempuan sambil tersenyum. "Untunglah kita masih diberi kesempatan membebaskan pengharapan sebelum selubung buah pengetahuan itu ditautkan kembali, sehingga keturunan kita kelak tak kehilangan daya juang, meski pada akhirnya harus tetap bertelut kalah."

"Dan akulah orang pertama yang menikmati pengharapan itu ketika kauhadapi si ular tua," sahut si lelaki setengah meringis.

Keduanya lantas tertawa seakan semua beban sudah terangkat seketika.

"Tidak bolehkah kita menyampaikan kebenaran ini kepada keturunan kita agar mereka tak mengulangi kebodohan yang sama dengan yang dilakukan anak kita?" tanya si perempuan.

"Kita pun bukan manusia sempurna. Kebenaran sempurna macam apakah yang bisa disampaikan oleh manusia tak sempurna?"

"Mereka jauh lebih tak sempurna walau mendaku sempurna!"

"Itu sebabnya di masa depan akan datang banyak utusan yang menguak serta mengajarkan kebenaran, selapis demi selapis, guna mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaan mereka jika tanpa kebersamaan."

"Mengapa bertahap? Tidak secara gamblang dan tuntas?"

"Tak seorang pun yang akan sanggup menanggungnya. Kelak, saat seorang penguasa mengajukan pertanyaan ‘Apakah kebenaran itu?’ kepada seorang utusan, jawaban yang diberikan utusan itu hanyalah diam [6]."

"Diam?"

"Ya. Diam. Kebenaran hakiki tidaklah muncul dari keriuhan. Tidak dari gelegar guntur, taufan dahsyat, maupun genderang perang. Tunasnya muncul dalam hening semilir angin tatkala semua atribut —bahkan seluruh tafsir kebenaran— ditanggalkan. Kebenaran bersedia menyingkapkan diri hanya jika manusia rela membuka diri sepenuhnya dan berlutut dalam pengakuan keterbatasannya. Sebab, jalan kebenaran bukanlah dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar. Dari ketelanjangan yang paling asasi."

"Jadi, kebenaran itu sesungguhnya telah ada dalam diri manusia?"

"Itulah warisan paling berharga kita pada keturunan kita."

"Sayangnya, tak sedikit orang yang jumawa mengingkari hak waris tersebut. Betapa pedih melihat banyak keturunan kita yang bercuriga pada kebenaran bersahaja yang tidak gemerlap dan gegap-gempita. Akibatnya, mereka harus menjalani pertikaian paling riuh dan brutal maupun dendam paling senyap dan mengiris."

"Demikianlah perjanjian yang sudah kita buat dengan semesta tatkala kita putuskan memiliki kehendak bebas. Kita sendirilah yang akan menetapkan masa depan kita. Walau keturunan kita banyak yang kerap membuatnya demikian suram."

Lelaki itu terdiam. Perempuan itu terdiam. Betapa menyakitkan memiliki pengetahuan dan sekeping kebenaran.

Langit masih muram. Sepasang kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu melayang bersama. Burung gagak di atas pohon ara kering sudah menghilang sejak tadi. Mega tembaga di langit beringsut sedikit menyisakan sebuah lubang kecil di tengahnya. Sebutir air menetes melaluinya, jatuh tepat di atas sehelai daun zaitun pada ranting yang tertancap di ujung gundukan tanah bercampur lempung kuning, lalu menghunjam tanpa ragu ke tanah. Sepi pun serta-merta menyergap petang. Sepasang lelaki dan perempuan beranjak. Ke Timur. Kian ke luar taman yang tidak lagi berhak mereka tinggali. Menyongsong masa depan yang belum dipastikan.

— PinAng: Kamis, 10 Juli 2008 22:44

[*] inspirasi judul dari film "East of Eden" yang dibintangi oleh Julie Harris dan James Dean
http://en.wikipedia.org/wiki/East_of_Eden_(1955_film)

[1] merenungkan filsafat Hindu "Tat Tvam Asi"
http://genpositif.org/Global/Agung Putu/index.html.html

[2] mengingat "The Celestine Prophecy" karya James Redfield
http://www.thecelestineprophecymovie.com/insights.php

[3] mengkaji puisi "On Children" karya Gibran Kahlil Gibran
http://www.katsandogz.com/onchildren.html

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let our bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.

[4] menyadur al-Qur’an QS ar-Ra’d 13:11

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

[5] menyaksikan tragedi Monas 1 Juni 2008
http://www.youtube.com/watch?v=AlMnli0jcp4&feature=related

[6] mengutip Injil Yohanes 18:38a
http://sabdaweb.sabda.org/bible/verse/?b=43&c=18&v=38

 


Saya mengalami kesulitan besar memangkas dan menautkan kata mengejar batas maksimal 10.000 karakter akibat salah ingat, menyangka 10.000 kata. Membuang cukup banyak alinea ibarat melakukan mutilasi terhadap untaian tema yang telanjur telah dituliskan. Inilah jadinya, sebuah tulisan compang-camping hasil pembantaian dari sebuah prosa liris.

Meski sudah berupaya keras, ternyata hasilnya masih saja melampaui batas maksimal karakter. 12.600 karakter jika catatan kaki dimasukkan, 11.138 karakter tanpa catatan kaki (semuanya tanpa memperhitungkan karakter kosong antarkata). Secara administratif, saya sudah terkena diskualifikasi. Saya tidak sanggup berbuat lebih😦

Leave a comment

Filed under imaji, perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s