Tak Beranjak dari Tahun Pertama hingga Tahun ke Sepuluh

— Pupusnya Jejak Reformasi Kita

Chaos Inversion
Chaos Inversion
skokienet.org

Hari ini, tanggal 15 Mei, sebagian orang memperingati tragedi kelabu yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Konon, tanggal ini dianggap sebagai tonggak lahirnya era Reformasi yang mengakhiri tiga dasawarsa era kejayaan Orde Baru. [Reformasi dan Persatuan Nasional: 1998 to 2001]

Pada tanggal ini, 10 tahun silam, kota Jakarta dicekam kengerian yang amat pekat. Berawal dari maraknya demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan rakyat setelah Indonesia diterjang krisis moneter. Mulanya, demonstrasi yang terkonsentrasi di seputaran gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu masih terkendali. Semua berlangsung biasa. Teriak-teriak, orasi, pernyataan sikap, bernyanyi-nyanyi, long march. Namun, entah apa alasannya, tiba-tiba beberapa orang mahasiswa —yang saat itu sedang berada di kawasan kampusnya sendiri— tewas diterjang peluru penembak gelap. Beberapa orang lain hilang tak tentu rimba. Begitu pula orang-orang biasa yang tidak tercatat namanya sebagai tokoh negeri ini. Lenyap tanpa jejak.

Sekonyong-konyong, kerusuhan merebak di mana-mana. Penjarahan terhadap toko-toko dan pusat-pusat perbelanjaan, bahkan bank, meledak serentak di seluruh penjuru kota bagai sebuah drama yang sudah disusun jalan ceritanya. Asap hitam tebal membubung ke angkasa dari berbagai lokasi yang merah membara bagai api unggun raksasa. Umumnya, penjarahan terjadi di kawasan-kawasan yang dominan dengan aktivitas komersial. [The May 1998 Riot in Jakarta, Indonesia, Analyzed with GIS]

Yang amat mengenaskan adalah terjadinya pelecehan seksual dan pemerkosaan, hingga pembunuhan, secara brutal dan terang-terangan terhadap para perempuan keturunan Tionghoa. Ada yang dengan cara menyeret korban dari jalan, ada pula yang sengaja mendobrak rumah korban. Walau penistaan yang sangat biadab ini tidak diakui oleh pemerintah Indonesia, tidak sedikit kesaksian para korban (walau kebanyakan disampaikan secara anonim demi keselamatan mereka) maupun para relawan yang bergerak di bidang kemasyarakatan, penanganan pascatrauma, dan perlindungan perempuan. [Indonesian Anti-Chinese Riot, Jakarta, May 1998, Riot in Indonesia on May 1998, Chinese victims, Jakarta Black May]

Belum cukup sampai di situ, di beberapa pusat perbelanjaan, terjadi “pembantaian” massal. Sekian puluh —bahkan mungkin ratus— orang terperangkap dalam gedung yang bernyala-nyala dilalap api. Entah bagaimana logikanya sehingga mereka bisa terkunci di dalamnya. Padahal, biasanya pintu toko, pusat perbelanjaan, maupun mal tidak pernah terkunci pada saat jam kerjanya. Apalagi, di tempat-tempat semacam itu pasti ada petugas satuan pengamanan (satpam) yang sejatinya tahu persis apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

Entah mengapa, hari itu Jakarta seperti kehilangan aparat dan penguasa. Tidak ada satu pun pihak berwewenang yang berinisiatif mengambil kendali koordinasi pengamanan. Benar-benar suatu kondisi anarkis dan chaos. [Peaceful Indonesia – Sign the Petition/Masukkan Petisi]

“Sekitar jam 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat sebuah mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar. Mereka mulai melucuti pakaian kedua gadis itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua gadis itu coba melawan sambil menjerit ketakutan, namun sia-sia,” tutur seorang saksi mata di Muara Angke, Jakarta pada tanggal 14 Mei 1998.

Hampir seratus perempuan Indonesia etnis Tionghoa menderita kekerasan seksual dalam tragedi kemanusiaan 13-15 Mei 1998 dan 1.339 warga Indonesia menderita kematian dini di beberapa supermarket yang dibakar gerakan massa. Penembakan yang menyebabkan kematian dini empat mahasiswa Universitas Trisakti mendahului tragedi Mei. Langit siang Jakarta menjadi gelap dan langit malam menjadi merah membara oleh kobaran asap dan pembakaran terhadap lebih dari 5.723 bangunan, 1948 kendaraan dan 516 fasilitas umum dengan total kerugian material, moral dan jiwa yang tak terhargai. Kekerasan serupa juga berlangsung di beberapa kota lain, seperti Surabaya, Palembang, Solo dan Lampung (Jusuf, Timbul, Gultom & Frishka, 2007).

peacefulindonesia.com

Ketika akhirnya suasana berangsur-angsur mereda, ketika rezim Orde Baru mengundurkan diri [secara simbolis] melalui berhentinya Soeharto selaku presiden, kebanyakan orang berharap akan muncul pemerintahan baru yang lebih mengedepankan kepentingan rakyat.

Namun, sejarah berkata lain. Silih bergantinya presiden maupun datang-perginya para pejabat negara —termasuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat dan petinggi-petinggi hukum— ternyata tidak mengubah wajah bangsa dan negara ini. Banyak dari mereka yang dahulu dianggap [dan menganggap dirinya] sebagai bagian dari gerakan reformasi 1998, lupa pada cita-cita perjuangan dahulu setelah kini dihadiahi berbagai posisi nyaman. Jangankan mendarmabaktikan dirinya bagi kepentingan orang banyak, bahkan untuk menuntaskan pengusutan tragedi Mei 1998 pun tampaknya hati mereka tidak tergerak. Padahal, kenyamanan mereka saat ini dibayar tunai dengan darah dan nyawa para mahasiswa dan rakyat.

Berlalu 10 tahun, tidak banyak perbaikan signifikan bagi kebanyakan rakyat Indonesia. Kemiskinan masih merajalela, bahkan kian meningkat. Biaya pendidikan semakin tidak terjangkau, biaya kesehatan kian mencekik leher. Berbagai subsidi dari pemerintah (enak saja dari pemerintah! Itu dari uang rakyat juga, yang ditarik melalui pajak) banyak yang tidak tepat sasaran. Dan, entah dari mana pula, timbul gagasan mengajari rakyat menjadi malas dan bermental pengemis dengan mengadakan pembagian uang melalui program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Tetapi, alih-alih meredakan penderitaan rakyat, program ini malah menimbulkan perkara baru. Ada orang berkekurangan yang tidak mendapat jatah, namun sebaliknya ada orang yang tidak tergolong miskin malah mendapatkannya. Tragisnya, pada pelaksanaannya, tidak sedikit keributan yang terjadi yang mengakibatkan jatuhnya korban nyawa.

Belakangan ini, malah terjadi antrean berbagai macam kebutuhan. Mulai dari bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan, minyak goreng, minyak tanah (yang semakin langka dengan adanya upaya pengalihan ke penggunaan kompor gas). Bahan makanan pun kian sulit diperoleh rakyat miskin. Kendati dicanangkan pengadaan beras untuk rakyat miskin (raskin), media massa kian bertubi-tubi memberitakan kondisi kurang gizi dan kelaparan di berbagai daerah. Bukan hanya satu-dua orang yang akhirnya “terbebas” dari penderitaan tersebut melalui kematian.

Setelah 10 tahun, gerakan reformasi —yang semula diharapkan menjadi titik terang di ujung terowongan gelap— ternyata masih tinggal sebagai utopia. Kalaupun ada, saya rasa, tidaklah banyak pergerakan menuju kemakmuran dan keadilan. Dan dalam beberapa waktu mendatang, rakyat akan semakin dihimpit berbagai kesusahan baru dengan adanya rencana pemerintah menaikkan harga BBM.

Pada akhirnya, semua masih sama —bahkan lebih berat— tinimbang 9 tahun yang lalu saat saya tuliskan puisi-puisi berikut ini:

Generasi tanpa bendera
(satu tahun reformasi #1)

Tigapuluh delapan tahun yang lalu,
aku bertanya pada Bunda, “Ini foto siapa?”
Bunda menjawab, “Kakekmu. Ayah Bapakmu.”
Aku kembali bertanya, “Mengapa kakek berselempang peluru?”
Bunda menjawab, “Merebut bendera.”

Tidak sekalipun aku jumpa kakek.

Tigapuluh tiga tahun yang lalu,
aku bertanya pada Bunda, “Kemana Bapak?”
Bunda menjawab, “Menjaga bendera.”

Esoknya, sebuah keranda ada di pekarangan rumah.

Satu tahun yang lalu,
aku bertanya pada Bunda anak-anakku, “Kemana anak kita?”
Bunda anak-anakku menjawab, “Mengibarkan bendera.”

Esoknya, semua tetangga membaca surah Yassin.

Malam ini,
aku bertanya pada Tuhanku,
“Kemana kami akan pergi, Tuhan?
Setelah semua yang kami kasihi tidak kembali.
Kami tidak tahu bendera mana
—dari sekian puluh bendera warna-warni
yang mencakari langit kota—
yang kemarin anakku kibarkan
dengan darahnya.”

Esok akan kukibarkan Sang Saka
di atas semua bendera
di puncak menara kota.

— Cipinang, 19 Mei 1999

Nyanyian angin Tugu Proklamasi
(satu tahun reformasi #2)

Aku tidak lagi punya airmata
buat mereka yang terkapar
karena luka sudah demikian dalam
mengiris nadi.

Senja kemarin aku berdiri
di pelataran sepi Tugu Proklamasi.
aku bertanya pada Bung Karno,
aku bertanya pada Bung Hatta,
: “Inikah bangsa merdeka?”

Bisu.
Aku hanya mendengar nyanyi angin.

Empat lelaki muda
dengan pakaian putih-putih
tanpa kata tanpa suara
menyeka air mata dari pipi Bung Karno.

— Cipinang, 19 Mei 1999

— Beth: Kamis, 15 Mei 2008 01:07

Leave a comment

Filed under risalah kedunguan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s