Spekulasi Kata-kata yang Membunuh

— Refleksi dari Kasus Zidane vs Materazzi

Battle of Heraclius and Chosroes (Francesca)
Battle of Heraclius and Chosroes
Piero della Francesca

“Ketika dokumentasi tidak ada, spekulasi adalah satu-satunya sumber yang dapat dijadikan acuan oleh para ahli”, demikian pengakuan jujur M.C. Ricklefs, seorang sejarawan yang banyak melakukan penelitian dan penulisan literatur sejarah mengenai Indonesia dan Islam di Indonesia.

Menurut pendapat saya, pengakuan tersebut telah menjadi keniscayaan dalam khasanah keilmuan. Persoalannya adalah: spekulasi macam apa yang layak diajukan? Tentunya, saya yakin, bukan spekulasi tanpa preseden atau bahkan lepas dari logika dan keping-keping data —sesedikit apa pun itu— yang dapat disusun secara koheren guna membangun spekulasi tersebut.

Selain itu, sebagaimana kelaziman yang berlaku di dunia ilmu pengetahuan, setiap spekulasi —bahkan teori yang dipandang ajeg sekalipun— senantiasa bersifat terbuka untuk diperdebatkan (debatable). Intinya adalah perlunya penalaran (akal sehat) yang dibangun secara argumentatif dalam atmosfir logika yang diskursif.

Oleh sebab itulah saya merasa tergugah ketika seorang rekan di sebuah milis menghubung-hubungkan rasisme dengan kasus “penandukan” terhadap Marco Materazzi (bek tim nasional Italia) oleh Zinedine Zidane (kapten tim nasional Prancis) saat berlangsungnya partai final Piala Dunia 2006 di Berlin Jerman pada tanggal 10 Juli 2006. Sebab, hingga saat itu, saya sama sekali belum melihat hubungannya.

Sampai tanggal 13 Juli 2006, saat posting tersebut dirilis, belum ada bukti sahih apa pun yang dikeluarkan oleh pihak yang berwewenang. Satu-satunya bukti yang bisa dipegang adalah kenyataan bahwa Zidane telah menanduk dada Materazzi dengan kepalanya sebagaimana yang terekam dalam video. Sisanya adalah dugaan bahwa Materazzi telah melontarkan kata-kata provokatif yang memancing emosi Zidane.

Dugaan yang berkembang itu didasarkan pada pembacaan gerak bibir Materazzi dari rekaman video. Menurut pembacaan Marianne Frere yang dipublikasikan suratkabar The Sun dan dilansir Tribalfootball pada hari Selasa 11 Juli 2006, Materazzi mengucapkan kata-kata “Anak seorang pelacur teroris!”. Karena tautan ke berita tersebut tidak bisa saya temukan lagi di kedua situs tersebut, saya ambil kutipan beritanya dari sebuah blog.

A lip-reader told The Sun that Marco Materazzi called Zidane “a son of a terrorist whore”.

Top lip-reader Marianne Frere revealed the Italian told Zidane — who understands the language after playing for Juventus — a high ball was “not for feccia like you”.

Feccia is an Italian insult meaning scum or s**t.

Zidane smiled at Materazzi as he walked away. But there was another exchange, Zidane turned and floored him with a butt to the chest. The lip-reader claimed the Italian had said: “We all know you are the son of a terrorist whore.”

He added: “Viffanculo”. (f*** off). A source close to the Italian squad claimed that after twisting Zidane’s nipple, Materazzi asked him: “What, don’t you like it?” The French captain replied: “A bit too hard to turn me on.”

But Materazzi shouted: “Well, I did it that way because I know that’s how your mother likes it.”

Materazzi’s agent denied any racist slur — and said the attack came when Zidane offered to swap shirts later and the Italian replied: “‘I’d rather take the shirt off your wife.”

globalcairene.blogspot.com

Wawancara dengan Zidane di Canal Plus pada hari Kamis 13 Juli 2006 pun tidak memberikan hasil yang lebih jelas, sebab Zidane tidak mengungkapkan apa tepatnya kata-kata Materazzi. Dia hanya mengatakan bahwa Materazzi telah menghina ibu dan saudara perempuannya. Namun, dalam kesempatan lain, Materazzi membantah hal itu, sebab ibu adalah sosok yang sakral baginya, yang tidak mungkin dinistanya. Maka, kasus ini pun masih diliputi misteri.

Sambil menunggu hasil penyelidikan FIFA yang menurut rencana akan diumumkan pada tanggal 20 Juli ini, muncul begitu banyak kecaman, tudingan, maupun analisis kejiwaan terhadap kedua belah pihak. Namun, banyak dari pendapat itu yang tetap saja tidak lebih dari spekulasi belaka.

Sayangnya, kaidah spekulasi yang diajukan Ricklefs sama sekali tidak bisa diterapkan di sini. Selain karena kasus ini masih dalam proses penyelidikan yang boleh dipastikan akan memberikan fakta akurat [yang pada akhirnya akan terdokumentasi], juga karena pihak-pihak yang terlibat masih bisa diusut, dimintai keterangan, dan dikonfrontasikan.

Maka, spekulasi rekan diskusi saya yang menghubung-hubungkan rasisme dengan kasus ini membuat kening saya mengernyit. Kalaupun pembacaan Frere benar, saya masih tetap gagal menangkap hubungan kata-kata tersebut dengan persoalan ras. Entah jika nanti FIFA membeberkan fakta yang membuktikan demikian. Hingga saat ini, saya bukanlah cenayang yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan. Saya hanya berpijak pada data yang ada saat ini.

Terlepas dari tidak berhasilnya saya merelasikan soal rasisme dengan makian [yang diduga] dilontarkan oleh Materazzi, lanjutan tulisan rekan saya itu kian membuat saya merinding. Dikatakannya, kalau benar kejadiannya seperti itu dan dia adalah Zidane, maka malam itu pun Materazzi sudah dia jadikan jenasah.

Cukup lama saya tercenung membaca tulisannya. Walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk berempati, tetap saja saya gagal untuk mengaminkan haknya mencabut nyawa orang lain. Dan, walau sudah pasti saya akan tersinggung dan marah pada orang yang menghina keluarga saya —apalagi ibu saya!—, tetap saja tidak terlintas dalam benak saya untuk menghabisi hidup orang itu.

Berhakkah seseorang membunuh orang lain atas dasar perasaan tersinggung? Pertanyaan ini jadi hantu yang membuntuti saya selama beberapa hari.

Saya ingat kata-kata yang kerap dilontarkan oleh Mahmud Ahmadinejad, presiden Iran, bahwa holocaust terhadap orang-orang Yahudi di jaman NAZI adalah dusta belaka. Juga pernyataannya bahwa negara Israel harus dihapuskan dari peta bumi. Tidakkah ini menyinggung perasaan warganegara Israel? Apakah hal ini lantas memberikan pembenaran untuk membunuh Ahmadinejad bahkan negara dan bangsa Iran (maupun negara dan bangsa lain) yang mendukungnya?

Saya ingat tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam polemik kebudayaan di tahun 70-an yang tajam menyakitkan perasaan pekerja seni yang berbeda posisi dengannya. Apakah hal ini menghalalkan tumpahnya darah Pramoedya?

Saya lihat banyak buku dan VCD yang dijual secara resmi di toko buku maupun kakilima yang merendahkan Yesus dan kekristenan dengan kata-kata yang tidak senonoh. Melalui pengeras suara mesjid, saya dengar kata-kata menusuk sang pengkotbah tentang kaum nonmuslim. Juga ceramah-ceramah terbatas (di ruang tertutup yang mengutip biaya) maupun terbuka (di lapangan atau jalanan) yang membuat luka perasaan saya sebagai seorang nonmuslim.

Apakah itu menjadi landasan sah untuk menghajar mereka hingga mati?

Mungkin demikian pandangan yang dianuti oleh sebagian orang, sehingga Theo van Gogh di Belanda pada tahun 2004 ditembak mati dan kemudian perutnya ditancap 2 pisau besar dan kertas bertuliskan “Allahu akbar”. Pelakunya adalah seorang Maroko bernama Mohammad B. yang mengemukakan alasan bahwa film Submission yang dibuat van Gogh telah menghina Islam.

Sedangkan rekan van Gogh dalam pembuatan film itu, Ayaan Hirsi Ali (pelarian politik dari Somalia yang kini menjadi anggota Parlemen Belanda dari partai liberal VVD), pun telah mendapat ancaman akan dibunuh.

Ayatollah Ruhollah Khomeini dari Iran mengeluarkan fatwa mati bagi Salman Rushdie di Inggris karena menulis novel fiksi Satanic Verses (1989). Penginjil Pat Robertson di Amerika Serikat (2005) menyerukan pembunuhan terhadap Presiden Hugo Chavez dari Venezuela yang menentang Amerika Serikat. Nicholas Almeida, seorang anggota Catholic Secular Forum (CSF) dari India, menjanjikan US $ 25.000 bagi orang yang dapat membunuh Dan Brown sang penulis buku Da Vinci Code yang menghebohkan itu.

Di sekitar kita, di Indonesia, pun banyak terjadi kasus serupa. Bukannya jarang media massa memberitakan kematian seseorang akibat ketersinggungan. Akibat saling pandang di jalanan saja, nyawa pun bisa melayang. Bahkan hal ini pun terjadi pada anak-anak. (Siapa mengajari mereka?)

Inikah hak yang diberikan dari perasaan tersinggung? Bagaimanakah mengukur kadar ketersinggungan yang pantas dibayar dengan nyawa? Siapakah yang berhak tersinggung dan berhak membunuh? Siapa yang mengatur kewenangan itu?

Di sisi lain, ada juga yang tampaknya menyalahi pakem tersebut. Tahun 2003, El Moumni, imam sebuah mesjid di Rotterdam diajukan ke pengadilan karena mengkotbahkan bahwa “orang nonmuslim adalah heidendom (kafir) yang derajatnya lebih rendah dari anjing dan babi”. Namun dia dibebaskan sebab hakim menganggap bahwa kotbah itu hanyalah ungkapan kebebasan beragama dan pengejewantahan dari asas kebebasan mengemukakan pendapat.

Mungkin, bagi teman diskusi saya itu, hakim Belanda tersebut adalah orang yang tidak bermoral ataupun tidak punya nyali. Saya tidak tahu.

Entah bagaimana pula sikapnya —yang kebetulan beragama Islam— terhadap kisah yang kerap dengan bangga dikemukakan oleh rekan-rekan muslim di berbagai milis tentang kesabaran nabi Muhammad yang tidak membalas walau dihina, diludahi, dan dilempari batu oleh penduduk Mekkah yang membencinya. Juga kisah seorang pengemis buta Yahudi yang tidak tahu bahwa Muhammad yang dicacinya adalah orang yang menyuapinya tiap hari.

Padahal, telah menjadi semacam “kewajiban” bagi seorang muslim untuk meneladani perilaku Muhammad. Lalu, mengapa tidak konsekuen untuk menirunya pula dalam hal kesabaran terhadap kata-kata yang menyakitkan?

Boleh jadi saya bukan seorang pemberani yang sanggup menyaksikan banjir darah dan gelimpang bangkai manusia. Mungkin pula saya hanya seseorang yang mencoba ingkar pada konsensus primitif manusia —yang masih berlaku hingga beberapa abad lampau— bahwa perbedaan pendapat dan ketersinggungan membuat seseorang pantas membunuh pihak lain dalam rangka menegakkan harga diri.

Tanpa harus menjadi cenayang, bisa saya bayangkan betapa banyak darah tertumpah dan nyawa melayang jika pembunuhan masih dihalalkan sebagai balasan setimpal atas kata-kata yang [dianggap] menyakitkan, yang tentunya amat subjektif. Dalam tempo sangat singkat dunia ini akan kehilangan setengah penghuninya. Permukiman-permukiman segera bertransformasi menjadi pemakaman-pemakaman.

Dan pada akhirnya manusia akan kehilangan perangkat utama berwacana yang selama ini membuatnya berbeda dengan binatang maupun mahluk primitif: kata-kata. Kata-kata telah menjadi pembunuh, yang membuat tak seorang pun berani angkat bicara.

Ah, betapa sepinya dunia tanpa kata-kata.

— Beth: Kamis, 20 Juli 2006 12:53

1 Comment

Filed under komunika

One response to “Spekulasi Kata-kata yang Membunuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s