Sekelumit Catatan Kopdar #3

— Korporasi Gereja

The Corporation
The Corporation
thecorporation.com

Bukan satu kejanggalan ketika lembaga usaha (bisnis) yang disebut korporasi dibandingkan dengan manusia sebagaimana yang disodorkan film dokumenter The Corporation besutan Mark Achbar dan Jennifer Abbot. Saya rasa, sah-sah saja jika seseorang menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang lain guna memperoleh pemerian yang lebih mudah berterima.

Kejutan terjadi saat analisis mereka yang mengacu pada buku pintar perihal gangguanmental Diagnostic and Statistical of Mental Disorders/DSM-IV terbitan American Psychiatric Association itu memberikan kesimpulan bahwa sifat-sifat dasar korporasi menunjukkan perilaku manusia psikopat, yakni "kepribadian" antisosial yang ditandai dengan perilaku egoistis, pengecut, amoral, tidak pernah merasa bersalah terhadap pihak lain, berbahaya bagi manusia yang menjadi pekerjanya, dan menghalalkan segala cara —termasuk menabrak norma-norma sosial dan aturan hukum— untuk mencapai tujuannya.

"Meski korporasi kadang-kadang suka menampakkan niat dan itikad baik kepada orang lain dalam bentuk yang mereka namakan corporate social responsibility, jangan pernah percaya! Karena korporasi hanya memiliki satu niat dan tujuan: keuntungan materi," tukas Achbar sebagaimana yang tertulis dalam artikel di harian Kompas pada tanggal 20 Desember 2005. (Berhubung tautan tersebut tampaknya sudah "mati", sila baca salinan berita tersebut di sini.)

Terlepas dari apakah kita setuju atau tidak setuju terhadap penyimpulan tersebut, analogi Achbar ini mirip dengan yang dilakukan oleh Rasul Paulus perihal gereja/jemaat yang dianggapnya sebagai satu tubuh. Intinya, baik korporasi maupun gereja dipandang sebagai organisme alias mahluk hidup. Bedanya, korporasi a-la Achbar adalah manusia psikopat, sedangkan jemaat a-la Paulus adalah tubuh yang dikepalai oleh Kristus sendiri dengan banyak anggota yang masing-masing memiliki karunia serta fungsi khusus untuk saling melengkapi (bdk. Roma 12:4-6, 1Korintus 10:17, 12:12-27, Efesus 5:23, Kolose 1:18).

Introduksi dan ilustrasi di atas memang tidak tercetus dalam kopdar yang baru lalu. Namun demikian, gagasan tulisan ini mengacu pada perbincangan kemarin. Adapun pemikiran yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini mengacu pada sebuah pertanyaan: "Organisme macam apakah gereja yang kini kita kenal dalam kenyataan keseharian?"

Mungkin akan terdengar sarkastis jika saya katakan bahwa model jemaat/gereja di
Indonesia yang paling dominan saat ini adalah yang bernapaskan status-quo alias terjerat
kemapanan. Dengan sedikit pengecualian, misalnya seperti yang dikisahkan oleh Pdt. Valen
dari Bogor mengenai Gereja Dibela oleh Tukang Ojek dan Becak, tidak sedikit gereja yang nyaris sudah kehilangan elan vitalnya sebagai garam dan terang dunia yang memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Seorang kawan, secara provokatif pernah mengatakan bahwa gereja semacam itu memang sepantasnya disegel atau dirobohkan. Seperti garam yang tidak lagi bisa mengasinkan, tiada gunanya selain dibuang ke jalan dan diinjak-injak. Demikianlah kesimpulannya atas kejadian-kejadian yang belakangan ini kerap terjadi dan menjadi trend di berbagai wilayah. Memang terdengar amat sinis, namun —jika kita mau berpikir sedikit tenang— juga mengandung kritik yang kontemplatis.

Jika Rasul Paulus menggambarkan jemaat sebagai kesatuan berbagai anggota tubuh —yang dicontohkannya dengan kaki, tangan, telinga, mata, dan hidung—, maka seorang kawan lain mengatakan kepada saya bahwa gereja masa kini banyak yang anggota tubuhnya sudah teramputasi atau termultilasi. Yang tersisa hanyalah mulut. Dan itu pun bukan mulut yang baik.

Ada "mulut" yang demikian perkasa menelan limpahan persembahan anggota jemaatnya. Persembahan —yang konon dipandang sebagai ungkapan syukur pada Allah— dikonversikan ke bentuk-bentuk fisik tempat ibadah yang megah. Keindahan dan keagungan bela rasa (kasih) yang selalu menjadi slogan orang Kristen bermetamorfosis menjadi keperkasaan dingin marmer dan ornamen mahal sehingga mengundang decak kekaguman (sekaligus kecemburuan).

Yang cukup ironis adalah jika jemaat beribadah secara nomaden dari hotel ke hotel atau mal ke mal atau ruko ke ruko yang tanpa kemegahan dan kemewahan fisis, namun anggota jemaatnya dengan penuh sukacita mendekor tubuh sang gembala dengan cincin berlian, jam dan kalung emas, mobil jaguar, rumah mewah, kondominium di Australia atau Amerika Serikat, tabungan pribadi yang cukup untuk 7 turunan, maupun berbagai fasilitas lain yang setara pesohor kelas dunia. Bagai menghias pohon Natal dan memberi sesajen pada berhala.

Ada juga "mulut" yang sibuk menegaskan berbagai keharusan dan larangan untuk dipatuhi anggota jemaatnya. Ucapan sang gembala atau senior dipandang sebagai doktrin yang adalah pernyataan dari Allah sendiri, sehingga tidak seorang pun yang boleh mempertanyakan apalagi membantah. Bahkan, jika perlu, mereka rela mengorbankan segalanya, baik materi hingga hidup mereka sendiri, demi menjunjung kebenaran yang diwahyukan Allah melalui sang gembala.

Para anggota jemaat tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan dan mengkaji hidupnya sendiri. Sejak urusan hari kiamat sampai perjodohan mereka pun ada dalam kewenangan pimpinan jemaat. Hitam-putihnya dunia ditentukan oleh pimpinan yang dipandang sebagai nabi.

Ada juga "mulut" lain yang tidak kalah aktifnya, namun dalam hal mencerca. Tiada hari tanpa kecaman pada dunia, seakan-akan tiada satu pun kebaikan yang mungkin hadir dalam kehidupan di luar pandangan mereka. Mulai dari mencerca ajaran lain —termasuk yang sama-sama Kristen— hingga mencerca ilmu pengetahuan yang dianggapnya bertentangan dengan "sains" Alkitab.

Dan masih ada berbagai jenis "mulut" lain yang pada intinya memandang dirinya sebagai mahkota kesucian, kebenaran, dan kebaikan ilahi, sedangkan semua yang ada di luar dirinya tidak lebih dari penyesatan dan kesesatan yang mematikan.

Dalam hati saya timbul pertanyaan, "Apakah gereja masa kini adalah representasi korporasi yang dianalogikan oleh Achbar, yakni sebagai organisme psikopat yang melulu terdiri dari mulut rakus menelan sekaligus boros memuntahkan kata-kata negatif?"

Ya, keroyalan menelan dan muntah. Betapa menjijikkannya …

Namun demikian, perlu juga saya nyatakan di sini, saya tidak sangsi masih ada juga "mulut" yang setia pada suara kenabian. Dan saya pun masih percaya ada gereja yang aktivitas mulutnya lebih sedikit tinimbang kerja kepala, kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya, sehingga masih berani mengartikulasikan kebeningan nurani dan pemahamannya tentang wahyu ilahi ke dalam tindakan nyata di dunia nyata pada saat yang nyata pula.

Saya tidak tahu (baca: tidak mau menilai) dalam model yang manakah gereja kita berada. Sebab, saya percaya bahwa gereja bukanlah menara atau dinding atau bangunannya, melainkan orang-orangnya. Namun seringkali kita lupa bahwa kitalah yang seharusnya menjadi kepala, mulut, mata, telinga, hidung, kaki, tangan, dan lain-lain dari gereja.

— Beth: Jum’at, 06 Januari 2006 23:12
[paragraf penutup: Selasa, 14 Pebruari 2006 12:18]

Leave a comment

Filed under gereja, komunika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s