Hikayat Dua Nama

Ketika ada orang yang menyoroti perbedaan kisah penciptaan —khususnya penciptaan manusia— dalam kitab Kejadian 1 dan kitab Kejadian 2, cukup sering saya baca dan dengar dalih pembelaan bahwa kisah dalam Kejadian 2 merupakan perincian dari kisah dalam Kejadian 1.

Apakah alasan semacam itu bisa diterima?

Pikiran seperti itu sempat juga bertengger cukup lama dalam benak saya. Bahkan pernah saya jadikan argumen dalam berapologetika. Tetapi, seiring berjalannya waktu yang saya lewatkan [dengan cukup boros] untuk membaca buku dan berdiskusi (baik secara aktif ataupun sekedar membaca posting orang lain), akhirnya saya tiba di bibir jurang keraguan terhadap pendapat tersebut. Ada beberapa alasan untuk mempertimbangkan kembali pemikiran semacam itu.

Mari kita tengok racun-racun informasi yang dituang ke dalam pertimbangan saya.

Bukanlah sebuah rahasia bahwa kitab-kitab yang pada akhirnya dikumpulkan menjadi Perjanjian Lama (PL) itu bersumber dari pelbagai tradisi dan lapisan sejarah yang berlangsung dalam kurun waktu cukup panjang di berbagai lokasi. Dan bukan pula sebuah kejutan bahwa segala bahan yang terdapat di dalamnya telah mengalami pengolahan dan pengoreksian beberapa kali sesuai dengan paradigma yang berkembang pada masanya (maupun kepentingan-kepentingan tertentu oleh pihak tertentu, termasuk politik).

Kisah-kisah tersebut disusun, diolah, dan dikembangkan pada masa yang kemudian sesuai dengan pandangan religius dari jaman yang kemudian tersebut, meskipun —katakanlah— kisah-kisah tersebut mengakar secara historis pada sebuah peristiwa nyata di masa lampau.

Pada dasarnya, semua kisah itu merupakan upaya penceritaan kembali (rekonstruksi) agama dan kehidupan religius para leluhur mereka, yang hampir semuanya —sehubungan dengan ketersediaan fasilitas yang ada pada masa purba itu— dilangsungkan secara verbal. Dan sebagaimana galibnya tradisi lisan, sangatlah wajar jika dalam penyampaiannya terjadi evolusi di sana-sini agar kisah-kisah tersebut berterima dalam alam pikiran masyarakat pendengarnya.

Maka, dapatlah dipahami, walau kitab Kejadian terletak di bagian paling awal Alkitab, bukan berarti teologi tentang penciptaan lahir lebih dulu dalam kepercayaan Yahudi. Pada mulanya orang Yahudi malah tidak punya pemikiran bahwa Allah yang mereka sembah adalah pencipta alam semesta (kosmis). Namun demikian, berbeda dengan bangsa-bangsa lain, pemahaman mereka tentang Allah memiliki ciri dinamis dan personal yang dekat dengan mereka.

Demi kemudahan, istilah Yahudi, Ibrani, dan Israel yang menunjuk pada nama suatu kaum dalam solilokui ini adalah sama sehingga dapat saling dipertukarkan. Begitu juga halnya dengan istilah Allah dan Tuhan.

Maka, saya rasa cukup beralasan jika pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah “Siapa atau apa yang dimaksud oleh orang Yahudi sebagai Allah mereka?”.

Dalam Alkitab kita, tampaknya jawabannya sederhana saja, yakni Allah atau Tuhan. Tidak ada tanda-tanda khusus yang membuat istilah itu berbeda. Namun, jika kita perhatikan dengan cermat, kita akan menemukan cara penulisan yang unik. Kadang tertulis “Allah”, kadang “TUHAN”, kadang “Tuhan”, dan lain waktu ditulis “Tuhan ALLAH”.

Mengapa terjadi perbedaan penulisan?

Karena sebutan bagi Allah di dalam kitab-kitab PL Ibrani memang berasal dari 2 nama yang berbeda, yaitu YHWH dan El.

1. YHWH

Nama yang terdiri dari 4 konsonan yang disebut tetragramaton dan kerap dibaca Yahweh ini dikhususkan untuk menyebut nama diri Allah. Nama ini dinyatakan pertamakalinya kepada Musa di Gunung Horeb (bdk. Keluaran 3:14), yang dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB 1974) dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diterjemahkan sebagai AKU ADALAH AKU.

Secara pribadi, saya lebih menyukai terjemahan dalam Alkitab Terjemahan Lama yang menuliskan AKU AKAN ADA, YANG AKU ADA. Atau Alkitab Bahasa Sehari-hari (LAI BIS 1985) yang menuliskan Aku adalah AKU ADA dimana tertera catatan bahwa AKU ADA bunyinya seperti kata Ibrani Yahweh.

Menurut pendapat saya, pada saat itu Tuhan bukannya menyebutkan nama diri-Nya, melainkan menegaskan eksistensi-Nya sebagai Yang Ada (Being) yang kekal. Sebagaimana para mistikus menyebut-Nya Dia yang namanya tidak diketahui atau Dia yang namanya tidak dapat diucapkan.

Untuk selanjutnya Alkitab menerjemahkan tetragramaton tersebut dengan TUHAN (semuanya huruf kapital).

Karena begitu takutnya orang Yahudi terkena hukuman Allah jika salah mengucapkan YHWH —yang berakibat pelanggaran terhadap dasatitah (dekalog) yang melarang menyebut nama Tuhan secara tidak hormat (sembarangan)—, maka setiap kali menjumpai tulisan YHWH mereka langsung mengucapkan adonay.

Adonay sebenarnya berarti panggilan untuk menghormati seseorang. Artinya sama dengan tuan (kurios [Yunani]). Namun, pada penerapannya dalam Alkitab, nama itu digunakan juga untuk menunjuk pada TUHAN yang menjadi Tuhan (tuan) atas sesuatu, misalnya “TUHAN, Tuhan semesta bumi” (bdk. Yosua 3:13) atau “TUHAN, Tuhan seluruh bumi” (bdk. Mazmur 97:5).

Adonay pun digunakan sebagai kata depan bagi YHWH sehingga menjadi adonay YHWH, dimana lebih dari dua pertiganya terdapat dalam kitab Yehezkiel.

Dan adakalanya adonay langsung digunakan sebagai pengganti YHWH (bdk. Yesaya 6:1, 8; Mikha 4:13; Zakaria 4:14; 6:5).

Akibat kebiasaan penggantian penyebutan yang didasarkan pada ketakutan ini, hingga sekarang tidak ada orang yang bisa mengklaim cara pelafalan tetragramaton itu secara tepat.

Mengapa tidak bisa dilafalkan secara tepat?

Resminya, bahasa Ibrani dalam PL memiliki 22 huruf yang semuanya huruf mati (konsonan), termasuk semivokal w dan y. Berhubung sebuah konsonan, yakni s, juga dapat diucapkan sebagai sh (kadang menjadi
sy, sehingga shalom juga kerap ditulis syalom), maka totalnya menjadi 23 konsonan.

Dapat dikatakan, tidak ada orang yang tahu persis bagaimana menyuarakan tulisan Ibrani yang semuanya huruf mati itu. Kasusnya mirip dengan apa yang kita kenal sebagai “Arab gundul” pada masa-masa awal penulisan al-Qur’an, alias tanpa tanda khusus yang menunjukkan bunyi vokal yang cocok.

Orang baru bisa membaca dengan pelafalan yang tepat setelah para ahli Masora (yang secara harafiah berarti “penerus”) pada abad 7 ZB memberikan tanda-tanda khusus pada konsonan-konsonan dalam Alkitab (sehingga disebut naskah Masoret atau Masoretis). Kemungkinan, pemberian tanda vokal secara tradisional ini didasarkan pada pemberian tanda vokal dalam bahasa Aram.

(Jangan tanya apakah pencantuman tanda vokal itu benar atau tidak, karena ada cukup bukti bahwa pembunyian nama tempat secara salah mengakibatkan kacaunya peta Timur Tengah.)

2. El

Istilah ini biasa digunakan sebagai nama diri (proper name) maupun sebutan/gelar/jabatan (generic appelative), tetapi umumnya digunakan sebagai nama diri Allah yang Mahatinggi (El Elyon) dan kemudian untuk Allah Israel (El Elohee Israel).

El juga biasa digabungkan dengan kata lain, seperti El Shaddai (Allah Mahatinggi), El Olam (Allah yang Kekal), El Bethel (Allah Bethel), El Roi (Allah Mahatahu), dan El Berith (Allah Perjanjian).

Varian dari El adalah Elohim yang banyak digunakan dalam PL dengan maksud yang sama dengan El, yakni sebagai nama diri maupun generik. Umumnya bermakna jamak, tetapi bisa juga tunggal. Sebutan ini pada akhirnya biasa juga dikenakan kepada Yahweh sebagai Elohim (Allah) Israel.

Selain itu, ada juga istilah Eloah yang merupakan bentuk tunggal, yang sama maksudnya dengan Elohim.

Ketiga istilah ini —El, Elohim, Eloah— mempunyai maksud yang sama walaupun ada juga perbedaan pengertian dalam penggunaan tertentu.

Adapun paralelisasi terjemahan istilah-istilah tersebut ke dalam Alkitab bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. TUHAN = YHWH
  2. Tuhan, tuan = adonay (kurios [Yunani])
  3. Allah = El, Elohim, Eloah (theos [Yunani])
  4. Tuhan ALLAH = adonay YHWH
  5. TUHAN Allah = YHWH Elohim

Kalau hendak konsisten, (d) seharusnya diterjemahkan sebagai “Tu[h]an TUHAN”. Tapi jadi sangat janggal terdengar di telinga. Itulah repotnya penerjemahan antara 2 bahasa yang tidak setara keluasan makna kosa-katanya. Mungkin yang paling pas adalah istilah Gusti Allah dalam bahasa Jawa/Sunda atau Lord God dalam bahasa Inggris.

Saya tidak mau pusing memilah dan memilih istilah yang paling tepat dipandang dari sudut teologis. Istilah apa pun yang saya gunakan dalam solilokui ini memiliki maksud menunjuk kepada Dia yang satu itu.

Seperti sudah saya katakan di atas, YHWH pertamakalinya dinyatakan kepada Musa, bukannya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub; halmana ditegaskan sendiri oleh Allah dalam Keluaran 6:1-2. Padahal, YHWH sudah berkali-kali tertulis dalam Alkitab sebelum pertemuan Musa di Gunung Horeb itu.

Apa artinya itu?

Itulah salah satu bukti bahwa penulisan kitab-kitab dalam Alkitab tidaklah berlangsung dalam urutan kronologis sebagaimana susunan yang kini saya temukan pada Alkitab. Terjadi upaya-upaya untuk meredaksi ulang kisah-kisah yang sudah ada —baik secara lisan maupun nantinya dalam bentuk tulisan— agar berterima dalam paradigma masyarakat saat itu.

Untuk itu, YHWH pun diberlakukan surut menjadi Allah nenek moyang Israel, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (bdk. Keluaran 3:13-15). Lalu, penggunaannya semakin dimajukan lagi hingga menjadi Allah umat manusia di jaman Enos (bdk. Kejadian 4:26, Enos artinya manusia). Dan akhirnya, nama itu pun tiba di awal segalanya sebagai Allah Pencipta langit dan bumi (bdk. Kejadian 2:4).

Dengan meracik bahan-bahan dari berbagai bacaan, dapat saya simpulkan bahwa hal ini pun merupakan sebuah siasat agar Allah yang disembah orang Yahudi tidak hanya diakui secara terbatas di kalangan mereka saja, melainkan juga —dalam bahasa halus— dapat merebut hati bangsa non-Yahudi. Atau —dalam bahasa lugas— Allah orang Yahudi berjaya di atas (menaklukkan) para dewa bangsa lain yang dianggap sebagai kaum kafir (goyim, gentile). Proses ini terjadi khususnya ketika mereka berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, baik pada saat mengungsi ke Mesir di masa Yusuf hingga eksodus di bawah pimpinan Musa, maupun pada masa-masa penderitaan di pembuangan Assyria dan Babylonia.

Dengan demikian, dalih pembelaan bahwa kisah dalam Kejadian 2 merupakan perincian dari kisah dalam Kejadian 1 —yang nota bene mengimplikasikan urutan kronologis penulisannya— telah cukup hangat untuk saya tanggalkan.

Namun demikian, pergumulan saya belum berakhir. Masih ada kisah selanjutnya yang tidak kalah seru dan seramnya dalam “Hikayat Dua Dewa”. Mudah-mudahan saya tidak dilanda kemalasan untuk menuliskannya🙂

— Beth: Jum’at, 14 Oktober 2005 10:47

Leave a comment

Filed under tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s