Perempuan dari Taman Eden Itu Ibu

Eve Before Eden
Eve Before Eden
by David Haslewood

Dalam satu kesempatan perbincangan yang menyoal kisah Taman Eden dalam pasal 3 kitab Kejadian, seorang rekan mengatakan bahwa perempuanlah yang menjadi sebab jatuhnya manusia ke dalam dosa. Malah, menurutnya, hingga kini pun perempuan masih memegang peranan sebagai penggoda yang menggelincirkan kaum lelaki ke berbagai kesalahan. Mulai dari kebohongan-kebohongan kecil semisal kepalsuan sikap si lelaki guna menarik perhatian si perempuan, perselingkuhan, hingga ke dorongan untuk mengambil apa yang bukan haknya melalui tindak korupsi.

Nyaris hampir semua orang yang akrab dengan kisah Taman Eden memiliki pandangan serupa. Gara-gara perempuan yang kalah beradu argumentasi dengan ular, maka lelaki pertama bernama Adam itu pun terpengaruh untuk ikut makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Padahal, Allah sudah memperingatkan Adam agar tidak memakan buah tersebut, yang pelanggarannya berisiko kematian.

Boleh dibilang, kisah Taman Eden menjadi [salah satu] alasan pembenar untuk memberi stigmata kepada perempuan bahwa mereka adalah mahluk yang rentan terhadap dosa, yang oleh karena itu harus menebus takdirnya dengan menjadi manusia kelas dua di bawah bimbingan (baca: dominasi) kaum lelaki.

Sebagai orang yang secara “tidak sengaja terperosok” ke dalam beberapa forum diskusi maya di internet yang diikuti oleh orang-orang yang memiliki pandangan kritis luarbiasa (sampai-sampai saya sendiri terkadang ngeri dan gamang), saya jadi tidak bisa untuk tidak menggemakan pertanyaan yang sangat mendasar: “Apakah melalui agama Tuhan melegitimasi subordinasi sebagian manusia (kaum perempuan) di bawah sebagian manusia lain (kaum lelaki)?”

Di pihak lain, kita cukup akrab dengan peribahasa klasik Indonesia yang menyatakan sorga ada di telapak kaki ibu.

Bagaimanakah penjelasan untuk mendamaikan kedua pendapat ini? Jika salah satu salah, mana yang benar? Atau malah kedua-duanya salah?

Ataukah kita punya dalih jalan tengah yang menyatakan bahwa makna kata perempuan berbeda dengan ibu, sehingga hanya perempuan yang telah menjadi ibu sajalah yang berhak memiliki sorga di telapak kakinya?

Tetapi, tentu saja hal ini akan bertentangan dengan pendapat rekan yang saya ceritakan di atas yang memberikan gambaran bahwa seorang istri/ibu tetap berpotensi sebagai sumber malapetaka yang mendorong suaminya korupsi. Lagipula, bukannya tidak pernah kita mendengar kisah tentang ibu yang justru tidak memberikan sorga melainkan neraka bagi anak-anaknya.

Makin ruwet saja jadinya. Maka, daripada melantur, saya coret alternatif ketiga itu dari solilokui ini.

Bagi para “pecinta agama” yang mengamini dan mengimani teks secara harafiah, barangkali pendapat yang kedua akan langsung diberangus dan dimasukkan ke keranjang sampah. Barangkali itu jugalah yang menjadi sebab mengapa dalam doa orang Yahudi (entah hingga sekarang apakah masih) ada kata-kata “Terimakasih, Tuhan, karena Engkau tidak menciptakanku sebagai perempuan”.

Dan yang cukup menarik adalah adanya kemiripan tradisi berbagai kultur maupun subkultur di berbagai penjuru dunia yang memperlakukan perempuan sebagai mahluk yang “dibeli” ketika akan diperistri, halmana kebiasaan semacam ini sudah berlangsung jauh sebelum mereka mengenal kisah Taman Eden. (Daripada jadi melenceng ke pembahasan sosio-antropologi, saya lewati saja dulu topik ini. Mungkin lain waktu.)

Rabi Harold S. Kushner mencoba mengoreksi pemahaman berkedok agama yang mendiskreditkan perempuan sebagai asal-muasal dosa. Dalam buku How Good Do We Have To Be? (A New Understanding of Guilt and Forgiveness), dikatakannya bahwa kisah Taman Eden bukanlah peristiwa jatuhnya manusia ke dalam dosa melainkan dimulainya kehidupan manusia yang sungguh-sungguh hidup. Bahkan secara mengejutkan dia nyatakan bahwa dengan dimakannya buah dari pohon pengetahuan itu, maka lahirlah hati nurani (pertimbangan moral) dalam diri manusia yang menjadikannya berbeda dengan hewan.

Diusirnya manusia dari Taman Eden bukanlah hukuman, melainkan belas kasih Allah dalam menghargai kehendak bebas, tanggung jawab, dan karya manusia untuk mengelola dunia. Buah pohon pengetahuan itu telah menempatkan manusia dalam dinamika kreatif yang tidak dimiliki dan dialami oleh hewan yang hanya mengandalkan naluri. Ada banyak pilihan dalam kehidupan yang dapat dibuat dan dijalani oleh manusia, yang menuntutnya menggunakan secara optimal otak (akalbudi), hati (nurani), otot (upaya), dan citarasa (jiwa). Sehingga, dengan demikian, segenap perjuangan manusia pun akan memiliki arti.

Kini saya bisa memahami makna agung dari kata Hawa, nama yang diberikan Adam kepada perempuan dari Taman Eden itu, yang berarti dia yang menjadi ibu semua yang hidup. Ibu Hawa telah memberikan kemanusiaan kepada kita dengan segala penderitaan dan kelimpahannya, lebih dari sekedar eksistensi sebagai salah satu spesies di muka bumi ini. Dialah asal-muasal kehidupan manusia, yang melaluinya manusia memiliki sejarah tentang Taman Eden, tempat di mana manusia dan Allah pernah tinggal bersama-sama. Yang untuk itu, dia dan seluruh keturunannya yang berjenis kelamin perempuan harus menanggung beban stigmata secara tidak adil dari dunia.

Seorang rekan di forum diskusi cyber-gki@yahoogroups.com pernah menuliskan —kurang-lebih— bahwa merendahkan perempuan dengan membuat interpretasi sepihak [androgini, atau bahkan misogini] atas teks Alkitab sama artinya dengan menginjak kepala ibu kita. Jika dihadapkan pada alternatif semacam itu, dia memilih menginjak Alkitab ketimbang menginjak kepala ibunya.

Tercekat leher saya nyaris tidak bisa bernapas saat membaca tulisannya itu. Nanar mata saya membayangkan wajah ibu saya yang kini semakin tua. Dan samar-samar saya ingat seseorang yang suatu waktu di masa lalu pernah mengatakan bahwa “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat”.

Saya rasa, kini saya tahu bahwa saya akan terbebas dari dilema antara menginjak kepala ibu saya ataukah menginjak Alkitab jika saya tidak lagi memandang perempuan sebagai manusia kelas dua yang menjadi sebab berdosanya manusia. Bahkan walau semua itu mengatasnamakan agama.

Dan oleh sebab itulah saya berhutang pencerahan pada rekan diskusi di ruang maya itu, Adji A.S., walau belum pernah jumpa secara fisikal. Kata-katanya selalu terngiang di benak saya saat membaca Alkitab, bahkan ketika tidak menyoal martabat perempuan. Terimakasih saya padamu, kawan.

— Beth: Jum’at, 16 September 2005 05:08

Leave a comment

Filed under ecce homo, perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s