Ketiadasalahan Alkitab

— Mempertanyakan Kembali

Koreksi Romo Santoso, CM. saya terima untuk saya koreksi kembali🙂

Bible
Bible
catholic-convert.com

Dalam upaya menaikkan derajat Alkitab sebagai firman Allah, seseorang bisa saja dengan mudah mengatakan bahwa al-Qur’an adalah buatan manusia. Tetapi, tidak jarang klaim tersebut diajukan tanpa dasar argumentasi yang kokoh. Hanya sekedar klaim [yang umumnya bersifat sepihak belaka].

Tanpa bermaksud menafikan kedudukan Alkitab dalam kehidupan kristiani, kiranya perlu juga kita kaji beberapa fakta di bawah ini sehubungan dengan Alkitab.

1. Berasal dari Allah

Tidak ada satu pun pernyataan tegas dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Alkitab yang kini kita pegang adalah sepenuhnya wahyu/firman Allah. Sejauh yang diakui oleh gereja-gereja arusutama (mainstream), Alkitab tidak diturunkan atau didiktekan oleh Allah sendiri ataupun malaikat sebagaimana umat Islam memandang kitab sucinya didiktekan oleh Malaikat Jibril kepada Muhammad.

Pernyataan yang umum menyatakan bahwa Alkitab ditulis oleh manusia sesuai dengan konteks jamannya dan kemampuan penulisnya, tetapi [diyakini oleh orang Kristen] diinspirasikan oleh Allah/Roh Kudus. Iman orang Kristen dan pernyataan gerejalah yang memberikan posisi kesucian kepada Alkitab.

Pemaknaan atas pernyataan terbuka tersebut bukannya tidak mengundang masalah. Ada yang meyakini bahwa Alkitab adalah sepenuhnya firman Allah bahkan hingga ke huruf-hurufnya, namun ada juga yang menyatakan bahwa Alkitab merupakan tanggapan dan kesaksian iman jemaat terhadap firman Tuhan.

Di lain pihak, dalam al-Qur’an tertera jelas pernyataan Allah bahwa kitab itu diturunkan oleh Allah sendiri, yang dimulai pada malam lailat ‘al qadr.

Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
(QS Yunus 10:37)

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
(QS Huud 11:1)

Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat?. Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.
(QS Huud 11:17)

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(QS an-Nahl 16:89)

Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran).
(QS Thaahaa 20:99)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
(QS al-Qadr 97:1)

Dan masih banyak lagi pernyataan sejenis yang menegaskan keunggulan dan keilahian al-Qur’an sebagai wahyu/sabda/firman yang berasal dari Allah sendiri. Dan hal ini tidak terdapat dalam Alkitab!

2. Akurasi sumber

Kita tidak akan bisa menutup mata dan telinga terhadap beberapa kenyataan dan pernyataan yang disepakati oleh banyak pakar Alkitab bahwa:

  • Tidak ada naskah asli/otentik yang berasal dari penulis orisinal kitab tersebut. Bahkan untuk surat-surat Paulus yang mendominasi Perjanjian Baru (PB) pun tidak ada dokumen yang benar-benar asli tulisan tangan Paulus.
  • Semua sumber yang digunakan dalam menyusun Alkitab adalah bermacam-ragam salinan tangan yang sangat membuka peluang bagi terjadinya salah salin. Dan salinan-salinan itu pun tidak dapat dikatakan sebagai salinan pertama. Misalnya, salinan tertua PB adalah sebagian kecil Injil Yohanes yang ditulis sekitar tahun 120 ZB. Sudah terbentang jarak sekitar 90 tahunan dari saat kematian Yesus.
  • Salinan-salinan yang ada itu tidak persis sama antara yang satu dengan yang lain. Akibatnya, muncul beberapa versi akibat perbedaan masing-masing sumber rujukan yang digunakan dalam penyusunan Alkitab. Setidak-tidaknya ada 2 versi yang paling “populer”, yaitu: (1) Textus Receptus/TR yang mengacu pada naskah Byzantium dan (2) Westcott-Hort/WH (juga disebut Critical-Text/CT) yang mengacu pada naskah Aleksandria. Keduanya menjadi sumber utama dalam penerjemahan Alkitab, termasuk Alkitab Indonesia terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang mengombinasikan keduanya.
  • Hampir tidak ada salinan yang utuh. Umumnya tidak lengkap (hilang bagian-bagiannya), tidak terbaca (kabur tulisannya), atau rusak. Kumpulan naskah (codex) PB terlengkap adalah codex Sinaiticus dan codex Vaticanus yang sama-sama berasal dari abad 4 ZB, serta naskah Alexandrinus yang berasal dari abad 5 ZB.
  • Lebih jauh lagi, tidak dapat dipungkiri kenyataan tentang kitab-kitab yang hilang, yakni kitab-kitab yang disebut/dirujuk dalam kitab yang kini ada dalam Alkitab tetapi tidak diketemukan sama sekali naskahnya. Misalnya:
    • Kitab Orang Jujur (Yosua 10:13, 2Samuel 1:18 )
    • Kitab Sejarah Raja-raja Israel (1Raja-raja 14:19)
    • Kitab Sejarah Raja-raja Yehuda (1Raja-raja 14:29)
    • Kitab Riwayat Salomo (2Raja-raja 11:41)
    • Riwayat Samuel, Riwayat Nabi Natan, Riwayat Gad (1Tawarikh 29:29, 2Tawarikh 9:29, 12:15,
      dsb)
    • Surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1Korintus 5:9)
    • Surat Paulus kepada jemaat di Laodikia (Kolose 4:16)
  • Di lain pihak, ada juga beberapa kitab lain yang hingga kini masih disangsikan otoritas dan keaslian penulisnya, seperti:
    • Surat kepada orang-orang Ibrani
    • Surat Yakobus
    • Surat 1 dan 2 Petrus
    • Surat 2 dan 3 Yohanes
    • Surat Yudas
    • Wahyu kepada Yohanes

3. Penyaduran sumber

Selain ketersediaan salinan naskah yang akurat, masih ada persoalan lainnya, yakni campur tangan manusia dalam pembentukan naskah salinan itu sendiri. Berdasarkan berbagai metode ilmiah —semisal Kritik Teks, Kritik Redaksi, Kritik Tradisi, dan sebagainya— tidak sedikit pakar yang mengakui bahwa beberapa kitab merupakan saduran dari sumber-sumber lain sekaligus, bukannya sekedar menyalin dari sebuah naskah yang utuh dan lengkap.

Dengan kata lain, terjadi penggabungan beberapa naskah, yang berkonsekuensi logis terjadinya penyuntingan (baik pengurangan, penambahan, pengubahan, maupun penempatan) dari tingkatan teks, kalimat, hingga cerita/peristiwa. Apalagi, terutama Injil, tidak terlalu mementingkan ketepatan lokasi (geografis), pelaku, waktu, dan urutan peristiwa.

Misalnya kitab-kitab Taurat dalam Perjanjian Lama (PL) yang sering disebut sebagai 5 kitab Musa atau Pentateukh. Hingga kini masih berdiri kokoh teori Wellhausen yang meyakini bahwa Taurat merupakan penggabungan dari beberapa kitab yang berasal dari 4 tradisi, yaitu Jahwist + Elohist + Deuteronomist + Priest (JEDP).

  • J dan E adalah sumber naratif yang diperkirakan berasal dari abad 9 SZB hingga 8 SZB. Pengombinasian kedua sumber ini terjadi sekitar abad 7 SZB.
  • Sumber D dikomposisikan pada abad 7 SZB
  • Sumber P ditulis setelah masa pembuangan Babel pada abad 6 SZB.
  • Penyuntingan terakhir Pentateukh sebagai satu kesatuan naskah JEDP berlangsung sekitar tahun 400 SZB.

Sedangkan untuk PB, muncul hipotesis tentang adanya suatu sumber yang sama bagi Injil-injil sinoptis (Matius, Markus, Lukas), yang disebut sebagai Q (quelle = sumber, Jerman). Selain itu, Matius dan Lukas diduga menggunakan Injil Markus sebagai salah satu sumber sadurannya. Juga diduga adanya sumber hipotetis lain yang dinamai L (loggia, kumpulan ucapan Yesus).

Dekonstruksi dan rekonstruksi naskah sangat terlihat pada ucapan-ucapan Yesus yang disunting oleh Matius menjadi sebuah kesatuan utuh “Kotbah di Bukit”. Ucapan-ucapan Yesus disusun menjadi satu urutan sehingga memberikan kesan disampaikan dalam sebuah sermon pada satu waktu.

Jadi, sudah ada campur tangan manusia yang mengombinasikan beberapa sumber menjadi sebuah tulisan baru. (Harap tidak menyamakan proses ini dengan pembuatan Diatessaron.)

Diatessaron (Harmoni Empat) disusun oleh seorang Assyria (Syria) bernama Tatian (170 ZB) yang menggabungkan keempat Injil menjadi satu narasi berkesinambungan dengan menggunakan Injil Yohanes sebagai basisnya. Kitab ini sangat populer di Syria selama sekitar 200 tahun.

Baru pada abad ke 4 ZB Injil berbahasa Syria —disebut Peshitta— terbagi ke dalam 4 kitab sebagaimana Perjanjian Baru (PB) pada umumnya. Namun demikian, Diatessarion masih juga digunakan di beberapa wilayah. Ada dugaan bahwa di Syria inilah kemungkinan besar Muhammad “berkenalan” dengan Diatessarion.

Selain pengombinasian, terjadi juga penambahan/penyisipan ayat-ayat. Hingga kini, beberapa ayat masih disangsikan keabsahannya sebagai bagian utuh dan asli dari suatu kitab. Ayat-ayat tersebut dipandang sebagai penambahan yang dilakukan oleh generasi berikutnya di kemudian hari terhadap naskah awal yang telah terbentuk. Misalnya:

  • Markus 16:9-20 (penutup Injil Markus)
  • Lukas 22:43-44 (Yesus di Taman Zaitun/Getsemani)
  • Yohanes 5:3,4 (kisah tentang kolam Betesda)
  • Yohanes 7:53-8:1 (wanita berzinah)

Sedangkan peredaksian naskah cukup terlihat pada Injil Yohanes yang sangat berbeda dengan Injil Sinoptis. Diduga kuat naskah ini mengalami peredaksian hingga 3 generasi.

4. Ketidakpanggahan (inkonsistensi)

Akibat kebebasan maupun kekhilafan yang terjadi pada saat penyalinan dan penyaduran sebagaimana telah dipaparkan di atas, tidak dapat dihindarkan terjadinya kesalahan-kesalahan yang menyebabkan kerancuan informasi.

Misalnya:

  • Cara mati Zedekia Raja Yehuda
    : dengan damai (Yeremia 34:4-5) atau oleh pedang (Yeremia 52:10-11).
  • Jumlah orang Aram yang dibunuh Daud
    : 700 ekor kuda (2Samuel 10:18 ) atau 7000 ekor kuda (1Tawarikh 19:18 ).
    : 40.000 orang pasukan berkuda (2Samuel 10:18 ) atau 40.000 pasukan berjalan kaki (1Tawarikh 19:18).
  • Kapasitas bak mandi Sulaiman
    : 2000 bat air (1Raja-raja 7:26) atau 3000 bat air (2Tawarikh 4:5).
  • Yang membujuk Daud menghitung orang Israel
    : Tuhan (2Samuel 24:1) atau iblis (1Tawarikh 21:1).
  • Kondisi anak perempuan Yairus ketika Yesus bertemu Yairus
    : sudah mati (Matius 9:18 ) atau sakit hampir mati (Markus 5:23).
  • Sikap murid-murid ketika Yesus berjalan di atas air
    : menyembah (Matius 14:33) atau tercengang dan bingung (Markus 6:51-52).
  • Jumlah orang gila yang disembuhkan Yesus di sekitar pekuburan di Gadara/Gerasa
    : 2 orang (Matius 8:28 ) atau 1 orang (Markus 5:2, Lukas 8:27).
  • Jam Yesus disalibkan
    : jam 9 (Markus 15:25) atau setelah jam 12 (Yohanes 19:14).
  • dan lain-lain.

Beberapa orang pernah mencoba melakukan harmonisasi Alkitab guna memecahkan ketidakpanggahan maupun ketidakmasukakalan (irasional) yang terdapat dalam Alkitab. Misalnya Gleason L. Archer dengan bukunya yang berjudul Encyclopedia of Bible Difficulties. Namun upaya itu tidak lebih dari apologetika yang mudah dipatahkan oleh logika dan berbagai metode pengkajian (telaah kritis) Alkitab. Sama sekali tidak ada gunanya bersikeras dalam sikap semacam itu.

5. Campur tangan yang kemudian

Terwujudnya sebagian besar salinan naskah kitab-kitab tersebut hingga mencapai bentuknya seperti yang sekarang ini pun tidak dapat dilepaskan dari campur tangan manusia. Misalnya:

  1. Nama-nama penulis kitab-kitab yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Penamaan Injil Matius, Injil Markus, Surat Yakobus, Wahyu kepada Yohanes, dan sebagainya, didasarkan pada tradisi yang dipercayai jemaat pada saat itu, bukan karena penulis aslinya mencantumkan namanya di sana.Begitu juga tulisan-tulisan Paulus yang tidak semuanya benar-benar berasal dari Paulus, melainkan berupa pseudoepigraph, yakni tulisan orang lain yang menggunakan wibawa nama Paulus, sehingga kerap juga disebut pseudo-Paulus. Bahkan Dr. C. Groenen OFM dalam bukunya yang berjudul Pengantar ke dalam Perjanjian Baru (Penerbit Kanisius, Jakarta, 1984) menyebutnya sebagai surat-surat gadungan.
  2. Pada mulanya Alkitab tidak memiliki pembagian pasal (perikop) maupun ayat-ayat seperti saat ini. Pembagian pasal dan ayat dilakukan oleh Kardinal Hugo de Sancto Caro pada tahun 1240 ZB. Pembagian yang semula berdasarkan teks tersebut ternyata menimbulkan kesulitan, sehingga dilakukan pembagian berbentuk pasal dengan menggunakan abjad. (Dalam sumber lain dituliskan bahwa nomor-nomor ayat dibuat oleh seorang Uskup Katolik, John Langdon, sekitar tahun 1000-an ZB. Untuk yang ini, saya belum mencari konfirmasinya.)Pada tahun 1445 ZB, Rabi Yahudi bernama Mordecai Nathan merinci pasal-pasal tersebut ke dalam ayat-ayat. Dan, akhirnya, penuntasan nomor-nomor ayat dilakukan oleh seorang pencetak buku di Lyon, Prancis, bernama Robert Etienne pada tahun 1551 ZB sehingga menghasilkan bentuk Alkitab seperti yang kini kita kenal.

6. Kanonisasi

Walau masing-masing agama —Kristen dan Islam— memiliki klaim mengenai kitab-kitab sucinya, tidak dapat dipungkiri adanya kenyataan bahwa proses pembentukan kedua kitab suci tersebut sama-sama mengandung kemungkinan terikutkannya kesalahan manusia.

Pertama-tama, perlu kita sadari dan akui bahwa Alkitab tidak sejak awal terbentuk seperti yang kini kita kenal. Alkitab adalah kumpulan kitab-kitab yang dipilih/diseleksi oleh Gereja (baca: manusia) sebagai kanon dari sekian banyak tulisan yang sudah beredar di kalangan jemaat Kristen perdana.

Tidak ada satu pun petunjuk jelas dari Allah mengenai kitab-kitab mana yang seharusnya masuk ke dalam kanon. Semuanya berdasarkan kriteria (serohaniah apapun kriteria tersebut!) yang ditetapkan oleh manusia yang menjadi petinggi gereja. Satu hal yang disepakati adalah keyakinan bahwa tulisan-tulisan tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. (Lain waktu, jikalau sempat dan bersemangat, akan saya tuliskan artikel tentang “Inspirasi Alkitab”.)

Ada banyak tulisan lain yang tidak masuk ke dalam kanon walau dianggap berwibawa di kalangan jemaat. Misalnya Injil Tomas yang isinya oleh banyak ahli dipandang sangat dekat dengan karakter pengajaran Yesus. Begitu juga kitab Didakhe yang jelas-jelas dipandang sebagai Ajaran Para Rasul.

Naskah-naskah yang tidak masuk ke dalam kanon tersebut di kemudian hari dikenal sebagai kitab-kitab apokrip (oleh Katolik) atau pseudoepigraf (oleh Protestan). Walau tidak dipandang suci, sebagian dari kitab-kitab tersebut dihormati sebagai bacaan yang bermanfaat bagi iman dan pengajaran Kristen.

Walau perintisannya sudah dimulai sejak abad 4 ZB, keputusan akhir penetapan kanon Katolik baru diambil pada Konsili Trente melalui dekrit De Canonicis Scripturis (Tentang Kanon Alkitab) tanggal 8 April 1546 ZB. Dalam keputusan tersebut, Gereja Katolik Roma (GKR) mengakui 45 kitab Septuaginta (kitab Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, dan dikenal sebagai kanon Aleksandria) sebagai PL dan 27 kitab jemaat perdana Kristen sebagai PB.

Sedangkan kalangan Protestan menetapkan kanon Alkitabnya melalui 3 dokumen yang lazim disebut Confessio Gallicana (1559 ZB), Confessio Belgica (1561 ZB), dan Confessio Westminster (1648 ZB) dengan mengakui 39 kitab PL yang didasarkan pada kanon Jamnia dan 27 kitab PB yang sama dengan GKR.

Kapan-kapan, kalau sempat dan semangat, akan saya tuliskan ringkasan historis hingga terjadinya kanon Alkitab. Kisahnya ternyata sangat unik dan sekaligus membuktikan bahwa pada mulanya kitab-kitab itu tidak dipandang suci —dalam artian sebagai wahyu Allah— oleh jemaat Kristen. Saya rasa, gambaran sepintas di atas sudah cukup memadai bagi topik ini.

Perbedaan kitab-kitab dalam PL antara kanon Katolik dan kanon Protestan itu disebut deuterokanonika (oleh Katolik) atau apokrip (oleh Protestan, yang jangan sampai tertukar pengertiannya dengan istilah apokrip yang digunakan oleh kalangan Katolik!).

Kitab-kitab yang dimaksud adalah:

  • Tobit
  • Yudit
  • Tambahan-tambahan pada kitab Ester
  • Kebijaksanaan Salomo
  • Yesus bin Sirakh
  • Barukh
  • Surat dari Nabi Yeremia (atau bab 6 kitab Barukh)
  • Tambahan-tambahan pada kitab Daniel
  • Kitab Makabe yang Pertama
  • Kitab Makabe yang Kedua

Gereja-gereja Ortodoks Yunani juga mengakui kitab-kitab Deuterokanonika —yang disebut sebagai anaginoskomena— kecuali kitab Barukh. Sedangkan Gereja-gereja Timur (Suriah, Ethiopia, Koptic, dan lain-lain) memiliki 66 kitab yang sama dengan GKR dengan tambahan 52 kitab apokrip/pseudoepigraf.

Di pihak lain, kanonisasi al-Qur’an sudah dimulai ketika Usman bin Affan menjadi kalifah ketiga (644 ZB sampai 656 ZB). Jadi, waktunya tidak terpaut jauh dari kematian Muhammad pada tahun 632 ZB. Tentu saja jauh lebih singkat dibanding kanon Alkitab yang berselang 400 sampai 1100 tahunan sejak kematian Yesus.

7. Penutup

Melalui paparan di atas, terlihat jelas bahwa Alkitab tidak luput dari campur tangan dan kesalahan manusia. Sehingga, sebagai konsekuensi dari slogan pengakuan keterbatasan diri humanum est errare (to err is human, manusia tidak luput dari kesalahan), maka Alkitab pun tidak terbebas dari kemungkinan kesalahan tersebut.

Oleh sebab itu, menyatakan bahwa isi Alkitab benar-benar tidak ada salahnya (inerrant) sebagaimana yang kerap didengung-dengungkan oleh kalangan fundamentalis-literalis adalah sebuah tindakan ilusif alias mimpi di siang bolong. Bukti-bukti di atas sudah cukup menggentarkan orang-orang yang kerap berteriak tanpa mengerti apa yang diteriakkannya. Talking without speaking, kata Simon & Garfunkel dalam lagu “Sound of Silence”.

Namun demikian, perlu diingat bahwa kesalahan tekstual tidaklah berbanding lurus dengan kemantapan spiritual (iman). Keduanya adalah hal yang berbeda, yang tidak bisa dipautkan secara membabi-buta dalam relasi kausalitas.

Kebenaran dan wibawa Alkitab tidak terletak pada ketepatan tulisan yang tertera dalam sebuah buku yang disebut Alkitab, melainkan dari kemampuan “roh” tulisan itu menjangkau hati terdalam manusia sehingga pada dirinya terjadi perubahan yang mencerminkan kebenaran firman Allah. Hal ini hanya bisa terjadi jika orang itu bersedia menanggapi secara utuh dan total karunia Tuhan. Itulah yang disebut iman, yang tidak lagi tergantung dan peduli pada ketepatan tekstual.

Selain itu, jika kita percaya bahwa Tuhan adalah kebenaran satu-satunya yang mutlak dan tidak mungkin salah, maka tidak pada tempatnya kita menyebut Alkitab —maupun berbagai kitab serta tulisan lainnya— tiada mengandung kesalahan. Itu sama artinya dengan menduakan Tuhan, yang sudah barang tentu identik dengan mencampakkan titah pertama dari dasatitah.

Beberapa persoalan yang serupa juga dialami oleh al-Qur’an. Namun saya tidak akan memaparkannya di sini karena bukan itu tujuan posting ini.

— Jum’at, 17 Desember 2004 06:22
[revisi: Kamis, 04 Agustus 2005 05:27]

From: Rm. Santoso CM <pmsantoso@…>
Sent: Thursday, 16 December 2004 13:55

AMDG

Romo Santoso CM ingin mengoreksi kesimpulan yang terlalu cepat yaitu bahwa Alquran tidak salah. Justru Alquran itu menyesatkan karena ditempat tertentu mereka menyebut Ishak dan ditempat lain menyebut Ismael. Ini berarti pertentangan berat dan berarti ada kekacauan yang fatal dan berarti Alquran itu membinggungkan karena ada kontradiksi yang besar didalamnya. ini sekaligus membuktikan bahwa alquran itu buatan manusia. dan ‘Errare humanum est’ = kesalahan itu adalah manusiawi. Manusia sering berbuat salah yang tidak bisa salah hanya yang ILAHI. seperti Alkitab. tetapi alkitab ada kontradiksi lo tetapi biasanya tidak fatal (tidak ada kesalahan besar yang mematikan).

Alquran menyebut Ismael karena mereka ingin menarik simpati orang Yahudi dan kristen yang percaya bahwa mereka itu keturunan Ishak dan Alquran menyebut Ismael untuk memperoleh dukungan dari orang arab yang tahu bahwa mereka itulah keturunan Ismael.

Sekian.
MGBU.

2 Comments

Filed under alkitab

2 responses to “Ketiadasalahan Alkitab

  1. Daniel Zacharias

    Bung Alof,
    Saya malah senang melihat Alkitab terlalu banyak cela. Hal itu memang membuktikan bahwa itu ditulis oleh manusia dan secara manusiawi. Memaksa Alkitab mengumumkan kesempurnaannya sama dengan mengkhianati asal-muasalnya. Dan juga kurang tepat membandingkannya dengan Quran yang akuannya sudah datang dari “atas”.

    DZ

  2. Di situlah letak persoalannya, Bung Daniel. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa Alkitab akan turun wibawanya sebagai “firman Tuhan” apabila diakui adanya keterlibatan manusia dalam penulisan maupun pembentukannya (kanonisasi).

    Jika Tuhan saja bersedia mengosongkan diri dan mengenakan kodrat kemanusiaan, mengapa pula enggan “memanusiawikan” firman Tuhan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s