Pertikaian dalam Tubuh Gereja

— Penghujatan terhadap Roh Kudus?

Broken Cross
Broken Cross
kypros.org

Sangat sukar bagi saya untuk menyebutkan dosa-dosa apa sajakah yang dapat digolongkan sebagai penghujatan terhadap Roh Kudus. Saya tidak mau dituntut untuk mendaftar jenis-jenis dosa dan terjebak dalam pandangan yang doktriner ataupun dogmatis yang membuat saya kehilangan kebebasan untuk menangkap pesan Tuhan.

Bagi saya, semua yang tidak terungkap secara jelas dalam Alkitab memiliki sifat yang debatable dan terbuka untuk berbagai penafsiran. Siapa saja boleh mengungkapkan penafsirannya sehingga kita semua dapat belajar dan beroleh kekuatan (bdk. 1Korintus 14:31), karena Tuhan sudah menuliskan hukum-hukumNya dalam akal budi dan hatinya (bdk. Ibrani 8:10, 10:16).

Sesuai dengan kaidah yang saya percayai bahwa teologi adalah refleksi kritis atas praksis historis dalam terang sabda Allah (A Theology of Liberation, Gustavo Gutierrez, 1973), maka bukan daftar dosa yang menjadi acuan saya untuk membedakan sesuatu, melainkan bagaimana suatu tindakan memiliki kesesuaian dengan penghayatan kristiani menurut telaah Alkitab yang saya lakukan.

Dengan demikian, daripada menetapkan berbagai dosa tidak berampun yang dikategorikan sebagai penghujatan terhadap Roh Kudus, lebih baik melihat kenyataan yang ada di sekitar kita untuk kemudian mengujinya melalui penghayatan pada Alkitab.

1. Tragedi HKBP

Belum hilang dari ingatan dan pengalaman kita bagaimana gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dicabik-cabik oleh perseteruan di antara jemaatnya sendiri. Keduabelah pihak menganggap dirinya adalah pihak yang paling berhak dan paling benar.

Hak atas apakah yang sebenarnya diperebutkan? Hak atas struktur institusi gereja? Hak atas aset-aset institusi gereja?

Kebenaran apakah yang mendasari masing-masing pihak? Kebenaran menurut siapa? Atas dasar apa?

Jika tragedi semacam ini terjadi di komunitas yang tidak memasang agama sebagai landasan institusinya, paling-paling kita hanya akan mengurut dada dan bergumam, “Kasian deh loo…”. Tetapi karena ini terjadi di komunitas Kristen, dimana HKBP merupakan denominasi terbesar di Indonesia, bahkan [kalau saya tidak keliru] pernah menjadi yang terbesar di Asia, mau-tidak-mau hal ini memiliki dampak terhadap citra kekristenan secara lebih luas.

2. Kebersamaan dalam Kristus

Saya tidak tahu perbedaan prinsip apakah yang menjadi alasan pembenar untuk menempatkan sesama saudara seiman sebagai seteru yang pantas untuk disakiti dan disingkirkan. Saya sama sekali tidak mampu menemukan alasan untuk memahami klaim dari pihak-pihak yang bertikai, walau sekeras apapun saya berusaha menemukannya.

Dengan mengandaikan asumsi bahwa Roh Kudus ada dalam diri orang Kristen, saya jadi bertanya-tanya, “Dimanakah Roh Kudus pada saat-saat seperti itu? Apa bukti bahwa Roh Kudus bekerja? Inikah buah-buah Roh yang dikatakan dalam kitab suci orang Kristen? Dengan penumpahan darah? Mana salib yang katanya harus ditanggung oleh para pengikut Kristus?”

Ketika membaca Injil Matius yang mencantumkan dosa penghujatan terhadap Roh Kudus, saya temukan ayat yang mendahuluinya, yaitu:

Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.
(Matius 12:30)

Dengan demikian, Yesus sendiri yang telah berpesan kepada kita melalui InjilNya bahwa orang yang mencerai-beraikan adalah orang yang tidak bersamaNya.

Sejalan dengan penjelasan Paulus bahwa jemaat merupakan satu tubuh dengan Yesus sebagai kepalanya (bdk. Roma 12:5, 1Korintus 12:27, Efesus 1:22-23, 4:15, Kolose 1:18), maka mencerai-beraikan jemaat berarti mencerai-beraikan tubuh Kristus. Bukankah lakon perpecahan gereja kita ini merupakan sebuah bentuk perlawanan terang-terangan terhadap Kristus?

3. Kesia-siaan Ibadah

Kita beribadah pada tempat dan/atau waktu yang berbeda hanya karena kita berbeda dalam keberpihakan kita. Yang lebih penting bagi kita adalah bagaimana menjalankan ibadah ritual kita dan “melupakan” persoalan yang masih ada di antara kita.

Padahal Alkitab berulangkali mengajarkan kita untuk berdamai dengan sesama [manusia] dan saudara [seiman]. Bahkan Yesus sendiri mengatakan bahwa perdamaian dengan sesama lebih penting daripada ritual peribadahan kepada Tuhan.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
(Matius 5:23-24)

Dan Yohanes menegaskan tentang kemunafikan orang beribadah sebagai berikut:

Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
(1Yohanes 2:9)

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
(1Yohanes 4:20)

Dengan demikian, Alkitab secara terang-benderang sudah menyampaikan kepada kita bahwa ibadah hanyalah sebuah kesia-siaan jika kita belum berdamai dengan sesama saudara kita.

4. Penyesatan

Banyak di antara kita yang tidak ingin mendudukkan persoalan pada proporsinya dengan alasan tidak ingin menguak luka. Biarlah keadaan yang sudah tenang ini tidak diporak-porandakan lagi. Jangan memperpanjang masalah.

Apakah persoalan yang menimbulkan pertikaian sudah jelas bagi semua pihak? Apakah situasi yang kini jalani adalah sebuah penyelesaian yang benar dan adil sesuai petunjuk Alkitab?

Tanpa kita sadari, kita sudah membawa benih pertikaian ke dalam keluarga kita. Kita meneladankan kepada anak-anak dan generasi muda kita bahwa “kita” bukanlah bagian dari “mereka” dan demikian pula sebaliknya.

Dan, baik disadari atau tidak, kita sudah menyesatkan kebenaran dari kaum muda kita bahwa beribadah adalah hal yang berbeda dari perdamaian dan keadilan.

Padahal Yesus mengatakan:

Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
(Matius 18:6-7)

5. Kuasa Menegur Demi Perdamaian

Maka timbullah pertanyaan, perdamaian seperti apakah yang selayaknya dilakukan oleh orang Kristen dalam menyikapi pertikaian di antara kita? Apakah perdamaian tidak mensyaratkan adanya pengakuan dan penilaian oleh kita tentang mana yang benar dan salah?

Perdamaian semacam itu adalah perdamaian semu yang tidak didasarkan pada pengertian dan ketulusan, sebagaimana yang kita alami selama masa kekuasaan Orde Baru. Stabilitas nasional menjadi Tuhan sehingga segala bentuk perbedaan pendapat harus ditekan ke bawah permukaan.

Ibarat api dalam sekam, ketidakpuasan atas ketidakadilan terus membara dalam diri orang-orang yang tertindas, terakumulasi seiring berjalannya waktu dan kelanggengan ketidakadilan tersebut. Dan satu saat, semua itu dapat meledak menjadi kekacauan yang sangat mahal harganya, yang juga dapat mengancam kelangsungan hidup gereja sendiri sebagaimana dikatakan Yesus:

Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.
(Matius 12:25)

Apakah kita akan menunggu nubuat Yesus itu terjadi dalam komunitas kita? Apakah kita tidak boleh menggugat kesalahan seseorang atau sekelompok orang hanya demi ketenangan kita beribadah?

Yesus mengatakan,

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
(Matius 18:15-17)

Dan Paulus menegaskan,

tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.
(2Tesalonika 3:15)

Alkitab kita sudah dengan sangat jelas menyatakan bahwa kesalahan perlu diberi teguran. Dan bentuk teguran yang paling tinggi ada pada sidang jemaat. Dengan demikian, tidak pada tempatnya kita menghindari konflik hanya dengan alasan demi ketenangan beribadah.

6. Menghujat Roh Kudus?

Dalam komunitasnya sendiri, orang Kristen tidak segan-segan menggunakan kekuatan mimbar, media informasi, maupun fisik untuk melegitimasi klaimnya atas institusi berikut aset-asetnya.

Kekristenan macam apakah yang sebenarnya sedang kita pertontonkan kepada dunia? Firman Tuhan macam apa yang sedang kita persaksikan sebagai pengikut Kristus? Roh Kudus macam apa yang sedang bekerja dalam diri kita? Buah-buah Roh apa yang sudah kita perlihatkan?

Tidaklah heran jika orang-orang non-Kristen tidak melihat adanya kelebihan dalam agama Kristen. Pada kenyataannya, agama dan pengajaran Kristen tidak membuahkan keunggulan iman dan perbuatan dalam diri penganut-penganutnya.

Orang Kristen yang mereka lihat adalah orang-orang egois dan oportunis yang sibuk berjuang menyempurnakan imannya sendiri dengan ritual peribadatan, mencari pembenaran-pembenaran sepihak dari kitab sucinya, tidak berani mengungkapkan suara-suara kenabian, serta mengalienasi diri dari kenyataan sehingga tidak memberikan manfaat nyata terhadap lingkungannya.

Ketika kita mencerai-beraikan jemaat pengikut Kristus, menyesatkan anak-anak dan generasi muda kita dalam sikap permusuhan terselubung, beribadah kepada Tuhan dengan pura-pura lupa bahwa di antara kita masih ada persoalan, enggan menegur kesalahan dan mengupayakan keadilan serta perdamaian, tidak memberdayakan jemaat untuk menilai kebenaran dan keadilan; masih pantaskah kita berkata bahwa kita adalah pengikut Kristus yang dipenuhi oleh Roh Kudus? Masih pantaskah kita mengatakan bahwa kita tidak sedang meludahi firman Tuhan? Masih pantaskah kita mengelak bahwa kita sedang menghujat Roh Kudus?

Semua itu kembali ke pemahaman dan refleksi kritis kita terhadap praksis nyata di sekitar kita. Dan semua itu perlu diwujudnyatakan dalam tindakan, bukan sekedar apologetika apalagi hipokrisi.

Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
(1Yohanes 3:18)

sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
(Efesus 4:14-15)

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
(Kolose 3:15)

— Minggu, 04 Mei 2003 15:49

Leave a comment

Filed under gereja, risalah kedunguan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s