Menangkap Pesan Tuhan

— Dari Alkitab ke Alam Semesta

Bible
Bible
whitecourtchurch.ca

Setiap orang Kristen selayaknya percaya bahwa Alkitab berisikan firman Tuhan. Jika tidak, apa lagikah yang dapat kita gunakan sebagai acuan bersama?

Tetapi, apakah dengan demikian kita akan menerima firman Tuhan dalam Alkitab itu secara membabi buta, take it for granted? Apakah Tuhan sudah memfirmankan semua kehendakNya secara lengkap dan jelas kepada manusia?

1. Penyusunan Alkitab

Dari sejarah penyusunan Perjanjian Lama dan Injil (lihat posting Kanonisasi Alkitab dan Kanonisasi Injil yang saya teruskan/forward ke forum ini), sangat jelas terlihat bahwa Alkitab tidak diturunkan Tuhan secara bulat-bulat dari langit. Alkitab, termasuk Perjanjian Baru, disusun oleh manusia dengan cara memilih beberapa sumber tertulis yang sudah dikenal pada masa itu.

Pemilihan dan penyusunan itu dilakukan oleh sebuah tim bentukan institusi agama dengan kriteria tertentu, yang umumnya adalah keyakinan bahwa tulisan-tulisan tersebut diilhami oleh Tuhan. Namun, kita akan berdebat panjang untuk mencari tahu mengapa beberapa kitab lain yang jelas-jelas lebih kental religiositasnya tidak dimasukkan dalam kanon, sementara kitab yang [menurut sebagian orang] sangat duniawi dan bernuansa seksual —seperti Kidung Agung— justru dimasukkan.

Begitu pula halnya dengan Injil. Injil yang ditulis oleh pengarang bernama Lukas sesungguhnya adalah sebuah laporan atau berita yang ditulis bagi Teofilus. Dalam analisis tentang penulis-penulis Injil (lihat juga posting Penulis-penulis Injil yang saya teruskan ke forum diskusi ini), terlihat jelas bahwa para penulisnya bukanlah murid-murid Yesus.

Injil Matius, yang katanya ditulis oleh rasul Matius, ternyata banyak mengambil bahannya dari Injil Markus yang bukan rasul. Bahkan, Injil Yohanes yang dikatakan sebagai satu-satunya Injil yang ditulis (setidak-tidaknya bersumber dari) Yohanes murid Yesus memiliki perbedaan dengan ketiga Injil lain yang disebut Injil Sinoptis.

Mengapa pula anggota tim kanonisasi Alkitab tidak memilih Injil Petrus atau Injil Yakobus, sebagai contoh, yang ditulis oleh murid-murid Yesus sendiri? Mengapa pula bukan tulisan-tulisan Bapa Gereja lain yang dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru, melainkan tulisan Paulus yang adalah “petobat baru”?

Secara sepintas, kita akan menganggap bahwa kriteria yang digunakan oleh tim kanonisasi itu sangat aneh dan debatable. Tetapi apa hendak dikata, merekalah yang memiliki hak untuk menetapkan, sementara kita kini hanya bisa mewarisinya.

2. Terbatasnya Petunjuk Tegas

Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.
(Yohanes 21:25)

Kalimat penutup Injil Yohanes ini dengan jelas memberikan tanda bagi kita bahwa lebih banyak lagi ucapan, ajaran, dan perbuatan Yesus yang tidak tertuliskan. Gibran Kahlil Gibran dengan jitu mengatakan, “Satu hal yang Injil luput menuliskan: Yesus adalah seorang humoris”. Alhasil, Yesus yang kita kenal, misalnya melalui film, adalah sosok yang sangat serius dan kaku.

Bagaimana mungkin Yesus bisa akrab dengan kanak-kanak jika dia bukan seorang yang menyenangkan (bdk. Matius 18:2, 19:14)?

Sebagai bahan perbandingan tentang Yesus dalam penampilan yang berbeda, silakan baca In The Footsteps of Jesus karya Bruce Marciano yang memerankan Yesus dalam film Gospel According To Matthew atau The Jesus I Never Knew karya Philip Yancey.

Dengan demikian, hanya sedikitlah warisan Yesus yang dapat kita peroleh dengan tegas pada saat ini. Hal ini tentu membuat kita akan mengalami kesulitan dalam menyikapi berbagai persoalan yang dahulu tidak pernah dialami oleh Yesus.

John Stott menulis sebuah buku yang membahas isu-isu global masa kini dari kaca mata kekristenan; seperti pluralisme, ancaman nuklir, lingkungan hidup, hubungan Utara-Selatan, hak asasi manusia, masalah kerja dan pengangguran, hubungan industrial, masyarakat multi-rasial, kemiskinan, pria-wanita sehubungan dengan bangkitnya feminisme, perkawinan dan perceraian, aborsi, pasangan homoseksual.

Buku itu cukup bagus. Tetapi belum membahas soal euthanasia dan kloning yang masih menjadi perdebatan kalangan gereja hingga kini. Dan saya yakin bahwa persoalan-persoalan pelik semacam itu bukannya makin berkurang melainkan semakin bertambah banyak dan kompleks pada masa yang akan datang.

Bagaimana kita bisa menjawab persoalan-persoalan semacam itu dari sumber Alkitab yang sangat terbatas? Apalagi Martin Luther menetapkan bahwa sumber kekristenan satu-satunya adalah Alkitab semata-mata. Sola scriptura.

Kita tidak memiliki cara lain selain dari melakukan perujukan, penafsiran, perspektif, dan ekstrapolasi.

3. Kebebasan Berteologi

Reformasi protestanisme yang dikibarkan oleh Luther sangat menekankan imamat am. Semua orang berhak, bahkan wajib, berperanserta dalam karya kerasulan. Itulah sebabnya Luther bersikeras agar semua orang bebas membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.

Pada masa itu, Gereja Katolik Roma hanya menggunakan bahasa Latin. Gereja pun melarang jemaatnya membaca Alkitab karena mengkhawatirkan timbulnya penafsiran-penafsiran yang menjurus pada perpecahan jemaat (bdk. 1Korintus 1:10-12) dan bidah (bdk. Galatia 1:6-9).

Konsekuensi dari imamat am tanpa hirarki kewenangan adalah bebasnya jemaat menafsir Alkitab. Akibatnya, sejak jaman Luther sendiri, timbul berbagai aliran yang didasarkan pada teologi masing-masing, yang tidak jarang menimbulkan pertikaian fisik dan perang saudara.

Maka, timbullah pertanyaan: “Siapakah yang memiliki kewenangan untuk menafsir Alkitab?”

Daripada repot-repot, umumnya kita akan menyerahkan kewenangan itu kepada para pendeta dan teolog, dengan asumsi bahwa mereka lebih mengetahui kaidah-kaidah menafsir (hermeneutika) yang benar dan disertai Roh Kudus.

Kemampuan akademis untuk menafsir, mungkin benar. Tetapi tidak ada jaminan bahwa mereka, yang menyandang gelar doktor teologi sekalipun, sudah pasti memiliki kecerdasan dan kearifan yang melampaui kaum awam.

Disertai Roh Kudus? Sebuah tanda tanya besar! Jika mereka sungguh-sungguh disertai oleh Roh Kudus, maka tidak mungkin kita akan disodori begitu banyak teologi yang kerap tidak bersesuaian antara yang satu dengan yang lain.

Hal ini masih berlangsung hingga sekarang. Munculnya ribuan denominasi di kalangan Protestan antara lain disebabkan oleh perbedaan tafsir teologis mereka terhadap Alkitab.

4. Ironi Kebebasan Teologi

Kesulitan terbesar dari lahirnya suatu teologi —terutama yang berkenaan dengan aksi nyata, bukan sekedar akademis— adalah persoalan keragaman kultur. Tidak ada satu teologi pun yang dapat menjadi jawaban atas segala persoalan di berbagai tempat.

Oleh sebab itu, sangat diperlukan kecerdasan dan kearifan para teolog lokal untuk memberi pemaknaan sikap pandang kekristenan terhadap dinamika masyarakatnya.

Apakah kita sudah dianugerahi Tuhan dengan orang-orang semacam itu?

Sebuah pertanyaan yang dapat ditanggapi dengan senyum masam dan kesinisan. Tragedi HKBP yang masih hangat dalam ingatan kita adalah sebuah bukti nyata bagaimana orang-orang istimewa yang memiliki kewenangan menafsir Alkitab itu memberikan makna baru “mencintai” sesama saudara seiman dengan kekerasan dan kepentingan kelompok.

Di lain pihak, teologi yang cenderung mengalami institusionalisasi pada akhirnya hanya akan melanggengkan status-quo. Kemandegan dalam berbagai aspek akan mengganjal pertumbuhan dan perkembangan gereja dan jemaatnya. Padahal, Luther sendiri menekankan bahwa gereja yang diperbaharui (direformasi) adalah gereja yang terus-menerus memperbaharui dirinya (ecclesia reformata sed semper reformanda).

Bukankah ini sebuah ironi?

5. Alkitab Sebagai Inti Teologi

Kita kerap terperangkap dalam doktrin sola scriptura, sehingga menganggap bahwa firman Tuhan hanyalah yang ada dalam Alkitab saja. Padahal, sebagaimana sudah dipaparkan di atas, Alkitab bukanlah sebuah kamus atau ensiklopedi yang memuat jawaban atas semua persoalan. Akibatnya, kita hanya akan menjadi orang Kristen yang miskin wawasan, bebal, dan sangat mungkin tergelincir ke sikap-sikap fanatik.

Tuhan berfirman secara khusus melalui Alkitab. Sementara, sejak awal penciptaan alam semesta ini, Tuhan sudah menerakan firman-firmanNya secara umum dalam hukum-hukum alam. Alam semesta ini adalah Alkitab yang besar dimana kehendak Tuhan berlangsung.

Oleh sebab itu, menafsir Alkitab tidaklah dapat dilepaskan dari keharusan untuk merefleksikannya dalam konteks yang lebih universal. Ibarat atom, Alkitab menjadi intinya, sementara dinamika kehidupan nyata kita menjadi elektron-elektron yang berkisar di sekelilingnya dalam harmoni keseimbangan.

6. Menuju Teologi Komunal

Teologi sebagai pembicaraan tentang Allah patutlah diejawantahkan dalam pembicaraan tentang dunia. Sehingga dalam konteks realita kita di masa kini, teologi menjadi refleksi kritis atas praksis historis dalam terang sabda Allah (A Theology of Liberation, Gustavo Gutierrez, 1973). Maka, fungsi utama teologi bukanlah memproduksi kegiatan pastoral melainkan merefleksikan secara kritis kehadiran Roh Allah dalam aktivitas pastoral komunitas kristiani.

Dengan mengacu pada konsep itu, yang didasarkan pada semangat imamat am, maka setiap orang Kristen yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial sudah selayaknya bersikap kritis dalam menangkap pesan Tuhan yang kita tempatkan sebagai petunjuk bagi kesejahteraan dan keselamatan manusia.

Maka, tidak ada alasan untuk menganggap suatu penafsiran terhadap Alkitab sebagai pengurangan atau penambahan atas apa yang sudah tertulis. Teologi dan penafsiran adalah upaya memperkaya dan mempertajam perhatian kita terhadap situasi yang berkembang di lingkungan kita.

Untuk itulah, kita berdiskusi dan berdialog dalam rangka mengkristalisasikan pemahaman-pemahaman kita ke dalam paradigma bersama, baik dengan sesama orang Kristen maupun non-Kristen. Karena dunia ini bukanlah milik sebagian orang saja, melainkan seluruh umat manusia. Inilah yang saya maksudkan sebagai teologi komunal.

Pada akhirnya, semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Apakah akan tetap bersembunyi dalam tempurung kenyamanan (comfort zone) warisan dari para leluhur, ataukah berkeinginan menjawab problematika nyata saat ini dengan kembali membaca Alkitab dan menangkap pesan-pesan aktual Tuhan yang tidak tertera dalam Alkitab hasil kanonisasi orang-orang masa lampau melalui pengujian-pengujian di antara kita (bdk. 1Yohanes 4:1).

Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
(Markus 4:22-23)

— Kamis, 01 Mei 2003 02:51

From: Parlindungan <parthy@…>
To: hkbp@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, 29 April 2003 23:22
Subject: Re: [hkbp] Q : Tuhan Mahatahu II

Ikutan nimbrng juga, punten…!

Saya lebih percaya ALKITAB yang saya yakini berisi firman Tuhan daripada Martin Luther. Alkitab mengatakan : “Sebab jika kamu MENGAKU dengan MULUTMU, bahwa Yesus adalah Tuhan dan PERCAYA dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselematkan” (Rom 10 : 9). Jadi, siapapun dia : mau Mahatma Gandi atau Mahatma Gondo kalau dia tidak mengaku dan tidak percaya, dia tidak akan diselamatkan, FIRMAN TUHAN mengatakan demikian.Tapi kemudian, siapa yang akan membuat dia mengaku dan percaya, yakni hanya ROH KUDUS. DIA-lah yang akan menggerakkan orang tsb untuk lahir baru dan mengaku serta percaya pada Tuhan Yesus.

Allah adalah KASIH, namun Dia juga dapat murka (menghukum). Yoh 3 : 18 mengatakan : “Barang siapa percaya kepadaNYA, ia tidak akan dihukum ; barangsiapa TIDAK PERCAYA, ia telah berada di bawah HUKUMAN, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”. Jadi jelas…sekalipun orang tersebut sudah mengorbankan nyawanya bagi orang lain, namun hatinya tidak percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan mulutnya tidak mengaku, Firman Tuhan dengan tegas mengatakan dia tidak akan diselamatkan.

Kalau begitu bagaimana dengan Mahatma Gondo dan Luther King tadi ? Hanya Tuhan yang tahu, Dia adalah hakim bukan kita. Kita cukup membaca Alkitab, merenungkan dan melaksanakan serta memberitakannya dengan orang lain. Namun jika beberapa diantara kita ada yang membaca tulisan/ucapan Martin Luther, ia juga pernah mengatakan : apa yang tertulis di Alkitab biarlah itu tertulis demikian dan apa yang tidak tertulis, yah jangan dipaksa-paksa untuk ditafsirkan macam-macam.

Saya mungkin lebih sependapat kalo agama itu dibuat oleh manusia bukan Tuhan yang menciptakan agama-agama.

salam,
parlindungan

Leave a comment

Filed under alkitab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s