Pembaptisan Dunia

— Antara Kristenisasi, Kristiani, dan Kristianisasi

Hands Holding World
Hands Holding World
whillschurch.org

Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
(Matius 28:19-20)

Amanat Yesus dalam ayat-ayat di atas dapat dengan mudah dimaknai sebagai perintah mengkristenkan (kristenisasi) semua orang. Pengertian semacam ini tidak bisa dihindari apabila kita menganut presuposisi yang menyatakan bahwa menjadi murid/pengikut Yesus sama artinya dengan beragama Kristen.

Di lain pihak, kristenisasi adalah salah satu kata yang sangat mencemaskan penganut agama lain, sebagaimana orang Kristen takut pada islamisasi. Yang menjadi pokok persoalan dari terminologi itu bukanlah apakah kekristenan itu manusiawi atau tidak, melainkan citranya yang cenderung bernuansa pemaksaan sebagaimana yang terbawa dalam pengalaman sejarah.

1. Trauma Sejarah

Umat Islam belum bisa melupakan Perang Salib yang berlangsung selama puluhan tahun dalam beberapa babak perang besar. Dunia mencatat proselitisasi dan inkwisisi yang menghabisi atau mengusir orang non-Kristen, yang terutama sangat dahsyat berlangsung di Spanyol. Orang masih ingat gencarnya kolonialisasi dunia oleh bangsa-bangsa Eropa yang bersemboyankan Gold — Glory — Gospel. Dan kemudian, tidak sedikit yang beranggapan bahwa kapitalisme pun dilahirkan oleh kekristenan, terutama ajaran Calvinis.

Belakangan ini, dampak kebencian global terhadap dominasi Amerika Serikat tidak jarang diungkapkan melalui perusakan gereja dan penindasan terhadap umat Kristen. Banyak orang yang secara salah kaprah menganggap Amerika sebagai representasi kekristenan. Kebencian ini kian menguat pada masa pemerintahan Presiden George Walker Bush Jr. yang melancarkan kebijakan preemptive terhadap Afghanistan dan Irak dengan dukungan kalangan Kristen fundamentalis Amerika Serikat. Apalagi Bush secara gegabah pernah menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan crusade yang mengingatkan pada Perang Salib.

Tidak usah jauh-jauh ke seberang lautan, mari kita tengok apa yang terjadi di Indonesia. Walau Kristen aliran Nestorian diduga sudah lebih dahulu masuk ke Sumatera Timur (Barus?) secara damai (sekitar abad 7 ZB?), agama Kristen baru hadir secara mantap di Indonesia pada masa penjajahan dengan cara membonceng para kolonialis. Portugis membawa Katolik, dilanjutkan oleh Belanda yang membawa Protestan. (Setelah Portugis hengkang dari Indonesia, umat Katolik di berbagai daerah pendudukan Belanda pun dipaksa menjadi Protestan!)

Sejarah penyebaran agama Kristen —khususnya Protestan— di Indonesia yang didominasi para penginjil (zendeling) Jerman mencatat peranan kuat penguasa kolonial dalam bentuk dukungan keuangan dan kekuasaan (senjata, kebijakan publik, dan administrasi), sehingga dapat dikatakan bahwa penguasa koloniallah yang membantu perkembangan agama Kristen di Indonesia.

Keseluruhan “penderitaan” tersebut di atas masih membekas maupun membelenggu hingga hari ini. Dan, celakanya, kesemuanya membawa-bawa nama Kristen walau secara tidak langsung.

Dari perjalanan sejarah yang keras itu, amatlah wajar jika orang menjadi trauma pada kristenisasi. Dan amat wajar pula jika mereka lantas memilih agama lain —khususnya Islam— sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa kolonial yang diasosiasikan dengan agama Kristen. Contohnya adalah seperti yang tergambar dalam film “Cut Nyak Dien”, dimana rakyat Aceh menyebut penjajah Belanda sebagai kapeh alias kafir alias non-Islam.

2. Amanat Pembaptisan

Baptisan dalam nama Bapa — Anak — Roh Kudus hampir selalu dikaitkan dengan masuknya seseorang ke dalam komunitas Kristen alias menjadi pemeluk agama Kristen. Padahal tidak ada rujukan yang secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus pernah membaptis orang. Para rasul dan murid-Nyalah yang melakukan pembaptisan (bdk. Yohanes 4:2) dengan mengadopsi ritual pertobatan yang diperkenalkan Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan.

Tiada janji yang diberikan oleh Yesus selain keselamatan kekal dalam Kerajaan Allah dan berjumpa dengan Bapa. Berkenaan dengan pembaptisan, Yesus menekankan hanya orang yang dilahirkan dari air dan Roh sajalah yang dapat melihat/masuk ke Kerajaan Allah.

Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah
(Yohanes 3:5).

2.1 Air

Kalaupun ada, saya rasa, tidak banyak penafsiran tentang dilahirkan dari air. Salah satu, jika bukan satu-satunya, yang dominan adalah ritual pembaptisan yang lazim dilakukan oleh kebanyakan gereja arusutama (mainstream) Kristen, entah dengan cara percik ataupun selam.

Dalam tulisan ini saya bermaksud mengajukan sisi pandang lain yang dirujukkan pada kisah penciptaan.

Semua manusia dilahirkan dari dalam air, yakni air ketuban ibunya (thanks to my mother!). Air ketuban menjadi sumber hidup manusia secara jasmani. Pada saat ini, janin menjalani tahap ketergantungan total pada kuasa Tuhan melalui proses ajaib pasokan kandungan ibu bagi napas dan makanannya.

Setelah dilahirkan, dunia mengambil alih sebagian kekuasaan Tuhan. Manusia terikat dan tergantung pada hukum-hukum material alam tentang bertahan (survival). Semua orang dihadapkan dan dikenai kodrat yang sama, dimana berlaku prinsip kesetaraan takdir alamiah.

2.2 Roh

Bagi orang beragama, khususnya orang Kristen, proses selanjutnya adalah mengembalikan kekuasaan Tuhan agar penuh lagi dalam dirinya. Dalam hal ini, orang Kristen berupaya melahirkan dirinya kembali dalam Roh.

Agama Kristen kemudian melembagakan proses ini dalam bentuk sidi (Protestan) atau sakramen krisma (Katolik), seakan-akan melalui prosesi ini seseorang menjadi lahir baru. Padahal yang dimaksud sebagai lahir baru atau baptisan Roh merupakan awal dari sikap hidup baru dalam Roh Kudus, bukan semata-mata inisiasi dan sertifikasi dari gereja di hadapan jemaat.

* * *

Atas dasar itu, saya simpulkan bahwa karunia keselamatan hanya diperuntukkan bagi manusia-manusia alamiah saja. Kalaupun kelak ada manusia jenis lain yang keberadaannya bukan berdasarkan kehendak Tuhan —seperti klon, cyborg, ataupun android seperti dalam fiksi ilmiah—, masih disangsikan bahwa Tuhan akan memperlakukan mereka sebagai citra-Nya yang berhak atas karunia keselamatan, sebab dalam diri mereka tidak ada roh yang berasal dan akan kembali kepada Tuhan di akhir jaman. Hal ini dikuatkan oleh Paulus yang menyatakan hanya tubuh alamiah yang mengacu pada Adam sajalah yang akan memiliki tubuh rohaniah yang dikaruniakan Yesus (bdk. 1Korintus 15:44-49).

3. Amanat Pengajaran Berbuat

Beragama Kristen tidak otomatis membuat seseorang bersikap hidup Kristen. Masih diperlukan penghayatan terhadap ajaran Kristus yang kemudian diaktualisasikan dalam sikap hidup sehari-hari. Sikap hidup semacam ini disebut kristiani, yakni bersifat Kristen dalam pengertian bersesuaian dengan ajaran Kristus. Itu pulalah kewajiban para pengikut Yesus saat mengajarkan manusia melakukan apa yang sudah diperintahkan-Nya. (Perhatikan: bahkan hingga akhir pengabdian-Nya secara jasmaniah di bumi ini, Yesus tetap menekankan pentingnya perbuatan!)

Maka, terlontarlah pertanyaan, “Pengajaran seperti apakah yang sepantasnya dilakukan oleh orang Kristen?”

Mengajar berbuat dan perbuatan itu sendiri selayaknya menjadi satu paket tindakan yang integral, karena perbuatan itu sendiri adalah sebuah bentuk pengajaran yang amat nyata. Dari situlah muncul apa yang dikenal sebagai keteladanan, integritas, dan praksis.

Dalam Alkitab tertulis bahwa sepanjang hidup-Nya Yesus senantiasa mengajar dan berbuat. Ajaran dan perbuatan-Nya itulah yang menjadi Kabar Baik bagi semua orang. Dengan kata lain, Injil sebagai kabar baik merupakan praksis yang diteladankan oleh Yesus Kristus sendiri dalam menyikapi problematika dan dinamika kemanusiaan dalam berbagai dimensinya. Itulah praksis kekristenan, praksis kristiani.

Oleh sebab itu, dapat dimengerti mengapa Yesus sering mengecam orang-orang Farisi sebagai orang yang pandai mengajar tetapi munafik/hipokrit karena tidak selarasnya kata dengan tindakan. Mereka hanya pandai berteori dan berkotbah, namun tidak bersedia melakoninya.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”.
(Matius 23:2-3)

Pertanyaan selanjutnya, “Perbuatan-perbuatan apakah yang bisa menggambarkan sikap-sikap kristiani yang merupakan cerminan sikap hidup baru dalam Roh?”

Paulus melabelkan tindakan-tindakan kristiani itu sebagai buah-buah Roh, yang beberapa penjabarannya tertera dalam Surat kepada Orang Galatia:

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
(Galatia 5:22-23)

Amat tepat jugalah Surat Yakobus yang menekankan bahwa tindakan sangatlah penting dalam hal keselamatan (yang membuat Martin Luther pernah berniat membuang Surat Yakobus dari kanon Perjanjian Baru karena bertentangan dengan prinsip sola fide yang didoktrinkannya).

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
(Yakobus 2:14-26)

Dan Petrus menyatakan bahwa:

Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
(Kisah Para Rasul 10:35).

Semua itu menegaskan bahwa kita perlu menunjukkan bukti keimanan dengan perbuatan nyata, bukan sekedar omongan. Perbuatan adalah penjelasan tak terbantahkan atas iman, yang berlaku bagi setiap orang.

4. Praksis Kristiani

Sudah dimaklumi bahwa mewartakan Injil ke seluruh dunia dan menjadikan semua orang sebagai murid-Nya merupakan salah satu tugas orang Kristen. Namun, berdasarkan penjelasan di atas, pengertian mewartakan itu selayaknya tidak lagi diperangkap secara literal (hurufiah dan harafiah) bahwa seseorang menjadi pemeluk agama Kristen (kristenisasi) dengan mengutamakan pengakuan verbal dan formal semata-mata. Kita perlu menyorotinya melalui makna yang lebih hakiki dari Injil sebagai Kabar Baik, yakni mewujudnyatakan ajaran dan perbuatan Kristus, bukannya buku yang berjudul “Injil”.

Oleh sebab itu, pewartaan Injil yang otentik seyogianya dilakukan melalui tindakan-tindakan yang membuat orang lain terangkat dari kubangan kemarjinalan sehingga hidupnya menjadi lebih baik (manusiawi). Dengan begitu, bukan suatu keanehan jika mereka lalu berkata, “Rupanya, beginilah sikap hidup orang-orang Kristen. Inilah Kabar Baik yang disebut Injil itu.”

Perilaku semacam ini sudah berulangkali dilakukan oleh para relawan Kristen yang turun ke daerah bencana atau perang, walau para korban tidak beragama Kristen. Namun, yang lebih penting, semua itu tidak dilakukan dalam nama dan demi mengibarkan panji-panji kekristenan, juga bukan dalam rangka menemukan domba-domba yang hilang dengan dalih mentobatkan dan menyelamatkan jiwa-jiwa, melainkan karena roh yang membimbing mereka meneladani Yesus.

Tindakan anonim semacam itulah yang —menurut hemat saya— sangat tepat dalam menunjukkan citra kekristenan. Kehadiran Yesus, secara incognito sekaligus secara nyata, terungkap jelas di hadapan orang-orang yang dahulu selalu menjadi prioritas utama pembelaan Yesus. Tindakan Romo J.B. Mangunwijaya terhadap masyarakat Kali Code merupakan contoh yang sangat luar biasa.

Lebih jauh lagi, hal ini bisa meredam sikap apriori dan antipati orang-orang non-Kristen yang selama ini dihantui kristenisasi akibat perilaku sebagian orang Kristen yang melakukan penginjilan secara ofensif dan provokatif.

5. Penginjilan Kosmos/Kristianisasi

Jika kebanyakan orang mengandalkan Matius 28:19-20 sebagai pembenar kristenisasi, saya lebih terpukau pada Markus 16:15 yang mengatakan, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk”. Amat mengejutkan bahwa Yesus menyatakan segala mahluk, bukan hanya bangsa manusia!

Mungkin saja terlintas pertanyaan nakal dalam benak kita, “Jika demikian, perlukah kita menginjili kucing, anjing, ayam, ikan, pohon, dan sebagainya yang adalah mahluk ciptaan Tuhan juga?”

Terdengar agak gila, bukan?

Sebaliknya, saya tidak menangkap nada kegilaan dalam pesan tersebut, malah menemukan pengertian yang luar biasa dalamnya saat mengembalikan makna Injil ke pengertian awalnya sebagai kabar baik yang bersifat pembebasan, kesukacitaan, dan keharmonisan, yang ditujukan bagi semua orang berikut lingkungannya. Dengan kata lain, kabar baik bagi seluruh ciptaan Tuhan.

Kepedulian akan keadilan sosial, pendidikan, teknologi, bencana alam, kesehatan, perang, kekerasan, perdamaian, penindasan, kelestarian lingkungan, kemiskinan, ketersediaan pangan, energi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya merupakan tanggung jawab yang sangat nyata dan mendesak. Melalui kepedulian itulah kita secara nyata membaptis dunia ini dalam nama Bapa — Anak — Roh Kudus. Bukan hanya memercikkan, melainkan membanjiri dan membenamkan seisi dunia dalam kebajikan yang menghidupkan, yakni kehidupan material —sebagaimana air ketuban dalam rahim ibu— dan buah-buah Roh dalam relasi sosio-ekologis yang harmonis. Itulah yang disebut kristianisasi.

Konsep penginjilan kosmos semacam ini kiranya dapat disetarakan dengan konsep yang diajukan oleh agama Islam, yaitu rahmatan lil ‘aalamin (rahmat bagi semesta alam).

Menggarisbawahi semuanya, amanat pewartaan Injil perlu direnungkan dan disikapi secara lebih hati-hati agar tidak terjerumus dalam perilaku Farisi modern. Tidak perlulah kita gencar menjadikan orang lain sebagai pemeluk agama Kristen dengan jargon menjala jiwa-jiwa baru. Jauh lebih berharga untuk menunjukkan sikap-sikap kristiani yang sesungguhnya sebagaimana diajarkan Yesus. Itulah yang membuat kristenisasi dan kristianisasi menjadi 2 hal yang sangat berbeda.

Akhirnya, tidak ada yang lebih dikehendaki oleh Yesus selain ketekunan kita mencari dan menemukan Kerajaan Allah, yakni kesejahteraan dan keselamatan semua manusia. Di lain pihak, keselamatan dan Kerajaan Allah hanya dapat dicapai jika kita sudah lahir/hidup baru (bdk. Yohanes 3:3) sebagai manusia yang ilahi (memiliki sifat-sifat ketuhanan, bdk. Mazmur 82:6, Yohanes 10:34), karena manusia sesungguhnya adalah citra Tuhan yang nyata di atas bumi ini (bdk. Kejadian 1:27). Dan hanya kitalah, manusia, yang bisa menjadikan dunia ini sebagai neraka atau surga bagi dirinya sendiri dan sesamanya.

— Selasa, 29 April 2003 04:36
[revisi: Kamis, 26 Nopember 2004 04:10]

From: Riris Siahaan
To: hkbp@yahoogroups.com
Sent: Monday, 28 April 2003 08:57
Subject: RE: [hkbp] Q : Tuhan Mahatahu II

Trus, bagaimana dg Amanat Agung Tuhan seperti di Mat.28:19 ” Karena itu pergilah, jdkanlah semua bgs murid-Ku & baptislah mrk dlm nama Bapa & Anak & Roh Kudus” ?

Salam,
—(ri)2s.

Nb.:
Istilah Kristenisasi bagi saya terlalu radikal. Sense nya menjadikan kekristenan itu menjadi hal yg tidak manusiawi dan tidak independen bagi pemilihnya. Seakan2 menjadikan sesuatu yg hrs dipaksakan tanpa pandang bulu. Menakutkan sekali…😦

Leave a comment

Filed under interfidei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s