Keselamatan bagi Umat Manusia #1

— Menggagas Demitologisasi Eksklusivitas Keselamatan

Salvation
Salvation
urbanvector.net

Persoalan keselamatan manusia setelah kematian merupakan salah satu —jika tidak bisa dikatakan sebagai yang pertama dan utama— dari sekian banyak tawaran ajaran agama.

Untuk memudahkan pembahasan, dalam tulisan ini saya gunakan istilah agama juga terhadap ajaran spiritualisme lain yang tidak mengenal konsep Tuhan.

1. Konsep Kekekalan dalam Agama

Observasi para pengamat sosio-antropologi terhadap agama-agama kuno (primitive religions) memberi kesimpulan bahwa agama lahir dari budaya dan intelektual masyarakat pada jaman tersebut sebagai tanggapan atas keterbatasan mereka menghadapi kekuasaan alam.

Mereka meyakini bahwa alam ini dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertentu, yang spesifik bagi setiap fenomena. Maka muncullah mitos-mitos tentang para dewa-dewi yang mengatur pertanian, perang, perburuan, sungai, hutan, kesuburan, matahari, dan sebagainya. Dari situ, lahirlah prosesi pemujaan dalam upaya melunakkan hati dewa-dewi tersebut serta menyerap kekuatan mereka agar alam lebih bersahabat dan dapat dikendalikan.

Fenomena alam yang berganti-ganti menimbulkan interpretasi bahwa para dewa-dewi silih berganti berebut kekuasaan. Salah satu contohnya adalah legenda dewa-dewi Yunani di Olympus yang bersaing dan bertikai satu sama lain. Maka, pencarian manusia untuk menemukan kekuasaan yang melampaui para dewa-dewi alam tersebut melahirkan konsep tentang Yang Sakral, yang berkuasa mutlak atas kekuatan alam (profan).

Maka, ritual pemujaan pun berkembang menjadi prosesi mendekatkan diri dan menyatu dengan Yang Sakral tersebut, misalnya dengan upacara memakan daging [dan darah] binatang suci. (Perhatikan kemiripannya dengan Komuni dan Perjamuan Kudus.)

Berdasarkan keyakinan bahwa Yang Sakral itu mahakuasa, dimana waktu pun tidak berlaku atasnya, lahirlah konsep kekekalan. Maka, manusia pun berkeyakinan bahwa mereka yang bisa menyatu dengan Yang Sakral itu juga dapat mencapai kekekalan. Dari situlah lahir doktrin-doktrin pemujaan dan larangan (totem and taboo) serta petunjuk-petunjuk cara penyatuan diri dengan Yang Sakral dalam ritual dan norma sosial.

Konsep kekekalan ini tentu saja bertolak-belakang dengan kenyataan yang mereka hadapi bahwa manusia pasti akan mati. Oleh sebab itu, muncullah gagasan tentang kehidupan sesudah kematian.

Pertanyaan besarnya adalah: "Apa yang terjadi setelah kita mati? Selamatkah atau celaka? Senangkah atau susah?"

Inilah persoalan utama semua agama di dunia sejak dahulu hingga sekarang! Dan jawaban atas pertanyaan besar itulah yang dicoba dijajakan oleh setiap agama. Masing-masing mengklaim bahwa agama mereka adalah yang paling sempurna, paling benar, paling menjamin. Semua agama melakukannya, termasuk agama Kristen!

2. Eksklusivitas Agama dan Konsep Keselamatan Kekalnya

Ketika tiap agama menjual eksklusivitas kekekalan a-la mereka, mau-tidak-mau timbullah kompetisi keunggulan berdasarkan versi masing-masing. Celakanya, masing-masing mengandalkan sisi pandangnya sendiri yang didasarkan pada kitab suci yang mereka yakini paling benar.

Tidak ada satu kitab suci pun yang secara eksplisit "memberi ijin" penganut agama lain masuk ke dalam konsep kekekalan yang mereka yakini. (Kecuali al-Qur’an pada masa awal turunnya, yang menganggap penganut agama Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in sebagai kaum beriman juga.)

Dalam pertandingan memenangkan jiwa-jiwa manusia (baca: penganut), konsep kekekalan pun dirumuskan ke dalam 2 cabang ekstrim:

  1. keselamatan kekal
    yang direpresentasikan dengan surga, nirwana, firdaus, dan sebagainya; yang penuh dengan kenikmatan, kedamaian, kesukacitaan, ataupun ketiadaan ego dan nestapa —bahkan hasrat/nafsu/keinginan.

  2. penderitaan kekal
    yang direpresentasikan dengan neraka dan penghukuman abadi yang luarbiasa sadisnya. (Lain kali akan kita diskusikan apakah benar neraka itu sama dengan penghukuman kekal.)

Dalam hal ini, mereka mendeklarasikan keselamatan kekal sebagai hak eksklusif mereka. Di luar mereka, hanya ada penderitaan kekal.

Jika konsep-konsep semacam itu hanya merupakan sebuah deklarasi iman, tentunya tidak akan menjadi masalah besar bagi umat manusia. Setiap manusia bebas memilih ajaran agama sesuai dengan kenyamanan hati masing-masing.

Tetapi, pada kenyataannya, kompetisi konsep telah bermetamorfosis menjadi ajang adu eksistensi yang kemudian dibumbui dengan perilaku-perilaku ofensif terhadap pihak lain. Timbullah inkwisisi, persekusi, proselitisasi, genosida, perang antaragama, dan berbagai tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama, maupun yang tidak secara langsung (fisis) menyerang/menghina agama seperti yang banyak terjadi di media maya internet.

Di sinilah kita menghadapi persoalan besar kemanusiaan. Agama yang semula menjanjikan kesejahteraan dan kedamaian, telah berubah rupa menjadi sumber ancaman. Dunia menjadi runyam dan penuh teror.

3. Konsep Keselamatan dalam Agama Kristen

Pada mulanya, agama Kristen dianggap sebagai sebuah sempalan agama Yahudi, yakni yang berakar pada sekte Essenne.

Banyak kitab Perjanjian Lama dikonfirmasikan oleh Naskah-naskah Laut Mati/Dead Sea Scroll yang ditemukan di wilayah Qumran, yang oleh banyak ahli diyakini sebagai tempat pengucilan diri komunitas sekte ini. Yohanes Pembaptis dan Yesus kerap dianggap sebagai anggota komunitas ini.

Agama Yahudi sendiri pada mulanya tidak mengenal konsep neraka sebagai tempat penghukuman kekal. Mereka memiliki keyakinan bahwa setiap orang [Yahudi] akan kembali ke Rumah Allah YHWH. Paling banter, yang mereka tahu adalah sheol (dunia orang mati). Setelah munculnya Perjanjian Baru, barulah konsep neraka dikenal luas oleh orang Kristen.

Adapun konsep keselamatan dalam agama Kristen dirumuskan sebagai Kerajaan Allah, yang digambarkan dalam berbagai perumpamaan yang diberikan Yesus. Walaupun telah berada di antara manusia, Kerajaan Allah ini bukan diberikan begitu saja oleh Allah, melainkan haruslah dicari oleh manusia. Manusia tetap harus berbuat/bertindak untuk menemukannya (bdk. Lukas 17:21, Matius 6:33).

Kerajaan Allah yang didambakan oleh setiap orang Kristen, dimana semua orang mendapatkan kesukacitaan, adalah janji Allah melalui Yesus kepada dunia yang mau menerima Yesus dan melakukan yang benar (bdk. Yohanes 3:16-21).

Dari sudut pandang Kristen, pernyataan ini kerap dimaknai bahwa hanya orang yang menerima Kristus sajalah yang berhak atas Kerajaan Allah. Dengan kata lain, hanya orang Kristen sajalah yang akan selamat.

Ditegaskan oleh amanat Yesus sebagaimana tertera dalam Matius 28:19 agar para murid-Nya membaptis semua orang dalam nama Bapa + Anak + Roh Kudus, maka semakin yakinlah orang-orang Kristen bahwa keselamatan sejati hanya ada di dalam kekristenan. Pandangan seperti inilah yang menjadi bahan bakar gerakan pengkristenan dunia.

4. Orang-orang Baik di Luar Agama Kristen

Kini kita dihadapkan pada pertanyaan: "Apakah hanya agama Kristen yang mewarisi keselamatan kekal yang dijanjikan Allah? Bagaimana pandangan kita terhadap penganut agama lain yang mampu menampilkan kebaikan dan kesalehan melebihi kebanyakan orang Kristen?"

Sebagai ilustrasi: Mohandas Karamchand Gandhi adalah seorang Hindu yang tindakannya sangat terpuji sampai-sampai dijuluki Mahatma (Jiwa Agung). Walau beragama Hindu, tanpa malu-malu dia mengakui bahwa jiwa "Kotbah di Bukit" yang disampaikan oleh Yesus (bdk. Matius 5:3-12) memiliki pengaruh kuat pada pandangan hidup dan perjuangannya.

Gandhi menerapkan konsep-konsep keberpihakan pada kaum marjinal sebagaimana Yesus melayani kaum tersisih dalam masyarakat Yahudi pada masa-Nya. Seperti Yesus, dia melakukannya dalam semangat antikekerasan. Dan akhirnya, Gandhi dibunuh oleh seorang Hindu fanatik, sebagaimana Yesus diserahkan pada maut melalui tangan pengadilan agama Yahudi (Sanhedrin).

Apakah Gandhi tidak berhak atas keselamatan kekal hanya karena dia tidak beragama Kristen?

Sebagai catatan pula, Gandhi pernah mengemukakan niatnya untuk masuk agama Kristen ketika dia bermukim di Afrika Selatan. Namun gereja yang didominasi oleh kaum kulit putih Eropa menolaknya. Selain itu, Gandhi pun kecewa terhadap perilaku buruk orang Kristen di sana, yang dianggapnya telah menodai ajaran Yesus.

Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh besar. Bagaimana pula halnya dengan orang-orang tidak terkenal yang ada di sekitar kita, yang secara jelas kita lihat dan rasakan kebaikannya kepada masyarakatnya —termasuk kita?

5. Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia

Karl Rahner, seorang teolog moderat Katolik, mengintroduksi istilah kristen anonim (anonymous Christian), yakni orang-orang non-Kristen yang kristiani (bersifat, bersikap, berperilaku sesuai ajaran Kristen; bukan dalam ritual dan tradisinya). Dengan istilah lain, mereka disebut sebagai orang-orang Kristen dalam jubah agama lain.

Begitu pula dalam filsafat Kristen, dikenal istilah Naturaliter Christianus Christiana (semua manusia dilahirkan Kristen). Dalam benak saya, slogan ini saya bunyikan: pada dasarnya setiap manusia memiliki potensi atau sifat-sifat kristiani.

Menurut hemat saya, menjadi kristiani adalah lebih penting daripada sekedar beragama Kristen. Ini adalah sebuah paradoks yang perlu kita elaborasi. (Ada satu tulisan saya yang menyinggung soal ini, Pembaptisan Dunia: Antara Kristenisasi, Kristiani, dan Kristianisasi.) Tetapi, dalam pembahasan kali ini, akan saya gunakan pendekatan konsep manajemen sumber daya manusia.

Kita simulasikan dengan mengajukan pertanyaan awal: "Apakah yang harus dilakukan oleh seorang Kristen sebagai kesaksian atas imannya?"

Banyak jawaban akan bermunculan. Kita akan disodori 1001 perilaku kunci (key behavior) yang akan membedakan orang Kristen dengan non-Kristen, yang pada umumnya mengandung kata harus, tidak boleh, atau jangan (yang menggugah ingatan kita kembali ke konsep totem & taboo dalam agama-agama primitif).

Dari situ, timbul pertanyaan lagi: "Apakah orang non-Kristen tidak mungkin memperlihatkan perilaku yang dilakukan oleh orang Kristen?"

Mulailah timbul kebimbangan. Karena, pada kenyataannya, tidak semua orang Kristen mencerminkan perilaku yang kristiani. Sedangkan satu-satunya perilaku orang Kristen yang tidak mungkin dilakukan oleh orang non-Kristen tidak lebih dari ritual dan tradisinya saja!

Kita pertajam lagi fokus pengamatan kita dengan mengesampingkan ritual dan tradisi agama Kristen.

Kini kita gunakan indikator kinerja kunci (key performance indicator/KPI) yang akan menjadi tolok ukur penilaian prestasi. Jadi, kita akan mengukur "kekristenan" seseorang berdasarkan apa yang dihasilkannya.

Persoalannya, apa yang dapat kita jadikan patokan ukuran kinerja kekristenan seseorang?

Mari kita simak apa yang dikatakan oleh Alkitab:

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
(Galatia 5:22-23)

Jika seseorang menampilkan perilaku seperti disebutkan Paulus di atas, apakah kita akan menolaknya sebagai buah Roh hanya karena dia bukan seorang Kristen? Apakah kita bisa membatasi ruang gerak Roh Allah dalam kisi-kisi yang kita tetapkan?

Untuk itu, perlulah kita mengingat sabda Yesus yang mengatakan bahwa buah yang baik hanya akan dihasilkan oleh pohon yang baik pula, demikian pula sebaliknya. Kebaikan hanya datang dari sumber/perbendaharaan kebaikan, demikian pula sebaliknya (bdk. Matius 12:33-35).

Itulah KPI yang kita gunakan dalam memandang "kekristenan" seseorang, terlepas dari label agama yang dianutnya.

Menjadi orang Kristen tanpa mengamalkan ajaran-ajaran Yesus (yang utamanya adalah cinta kasih), tidak akan membuat kita lebih baik daripada orang-orang Farisi. Kurang apa orang-orang Farisi dalam pengetahuan agama dan menjalankan hukum Musa? Tetapi Yesus mencerca mereka karena mereka tidak melakukannya dengan kesadaran bahwa setiap manusia adalah sesamanya. Mereka membeda-bedakan manusia —bahkan yang sesama Yahudi— dari status sosial, pekerjaan, kecacatan, kekayaan, jenis kelamin, dan lain-lain.

6. Keterbukaan Keselamatan Bagi Semua Orang

Konsep di atas mungkin belum bisa memuaskan pertanyaan "Apakah orang non-Kristen lantas berhak memperoleh keselamatan kekal?"

Saya  tidak bisa memberikan jawaban definitif di sini karena persoalan keselamatan adalah hak prerogatif Allah. Namun saya bisa berbagi sedikit pemahaman atas sebuah ilustrasi yang bersumber dari sabda Yesus sendiri, yang kiranya dapat menjadi renungan bagi kita semua.

Kita tentu sudah mengenal kisah paling populer dalam Alkitab, yakni "Orang Samaria yang Murah Hati" (bdk. Lukas 10:25-37). Perikop ini diawali dengan pertanyaan seorang ahli Taurat (yang jelas-jelas bukan pengikut Yesus, jadi bukan orang Kristen): "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?".

Saya tekankan lagi: hidup yang kekal alias keselamatan.

Orang Samaria adalah musuh bebuyutan orang Yahudi. Secara sosial-politik, mereka terpisah dari orang-orang Yahudi. Dan, walaupun sama-sama mengakui hukum Musa (Taurat), mereka memiliki agama sendiri yang tidak ada kaitannya dengan imam-imam Yahudi di Yerusalem atau bagian mana pun dari wilayah Yehuda. Bahkan, kitab Taurat yang mereka gunakan pun berbeda bahasanya. Bagi orang Yahudi, orang Samaria adalah kafir!

Siapakah yang melaksanakan Hukum Kasih Yesus dalam perumpamaan tersebut (bdk. Lukas 10:27)? Si orang Samaria.

Dan apa yang diperintahkan Yesus pada akhir perikop tersebut? Yesus berkata, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Lukas 10:37).

Saya tekankan lagi: perbuatlah demikian!

Jadi, sangat jelas dari pembukaan dan penutupannya, bahwa untuk memperoleh hidup kekal kita perlu melakukan seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati itu. Bukan agama atau ajaran apa pun yang bisa menyelamatkan, melainkan bagaimana memperlakukan sesama.

Dan mungkin anda akan sangat terkejut jika saya katakan bahwa kesempatan itu berlaku juga bagi orang kafir! (dalam contoh orang Samaria tadi). Oleh sebab itu, mari kita simak beberapa ayat berikut ini:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
(Matius 7:21)

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup kekal.
(Matius 25:40, 45-46)

Siapakah yang menurut anda berhak atas Kerajaan Sorga?

Bukankah sangat jelas bahwa konsep Yesus tentang keselamatan sedemikian revolusioner sedemikian hingga memberi kesempatan pada orang kafir —si orang Samaria itu— untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah dan beroleh hidup kekal?

Allah seperti inilah yang saya sembah, yang penuh cinta dan pengorbanan.

Dari situ, saya memberanikan diri untuk meyakini bahwa Allah tidak akan mencampakkan manusia ciptaan-Nya —yang adalah citra-Nya sendiri— ke neraka jahanam hanya lantaran mereka tidak beragama Kristen. Demikianlah pendapat dan keyakinan saya pribadi [yang tidak harus diterima sebagai kebenaran umum].

Dan sebagai penutup, saya sertakan sebuah ayat dari Amsal [Sulaiman] yang konon adalah manusia paling berhikmat:

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati. Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN daripada korban."
(Amsal 21:2-3)

Ada point lain yang relevan dengan soal demitologisasi eksklusivitas keselamatan ini, yakni konsep kemahahadiran (omnipresent) Allah yang beremanasi dalam ajaran agama lain. Akan kita diskusikan lain waktu jika topiknya sudah tepat.

— Sabtu, 26 April 2003 03:19
[revisi: Rabu, 28 Desember 2005 23:38]

From: JhonSihaloho@…
To: <undisclosed-recipients>
Sent: Thursday, 24 April 2003 10:45
Subject: [hkbp] Q : Tuhan Mahatahu II

Hi All,

Terima kasih buat masukan rekan rekan, sebanyak 14 buah, ada yang memberikan tanggapan sesuai realitas kehidupan, analogi analogi yang masuk akal, penggunaan firman Tuhan dsb. Dengan mengucap syukur atas jawaban rekan-rekan, saya juga telah memberikan jawaban seperti ato hampir mirip dengan yang rekan rekan sampaikan dengan kata pembuka HANYA TUHAN YANG TAHU, malah saya tambahi lagi dengan firman "mintalah, maka akan Aku berikan… seandainya kita minta kita dihentikan begitu mau melakukan pekerjaan jahat, pasti Tuhan bisa, seandainya kebutuhan kita, kita minta, pasti Tuhan berikan dll….. (sesuai pertanyaan sessi I)

Maka ini lanjutan pertanyaan kedua

  1. Bagaimana dengan orang yang sejak lahirnya tidak mengenal Tuhan (Non Kristen) tapi punya agama, bukankah mereka juga ciptaan Tuhan, yang diberi akal?
  2. bukankah mereka juga berdoa dan meminta kepada tuhan yang bukan Tuhankita ?
  3. Bukankah mereka juga ada yang berbuat baik dan berbuat jahat?
  4. Bukankah mereka juga memperoleh kebutuhannya?
  5. Bagaimana dengan orang yang mengaku tidak mengakui Tuhan (komunis) ?
    bukankah mereka juga hidup dan mempunyai kebutuhan hidup ???

Dipandang sekilas, pertanyaan ini memang ndablek, tapi menjawabnya susah, (sama seperti menjawab pertanyaan anak kecil yang bertanya "kenapa panas kalo pake selimut ?). Memang kita bukan TUHAN, tapi saat ini kita berdiskusi, bukan menolak saran saran yang masuk, kemaren ada jawaban yang sepertinya kurang enak jawabannya seperti itu kalo kita lagi berdiskusi.

Moga rekan rekan tetap bersemangat menjawab, setelah ini akan muncul sessi III

Sebagai informasi, pertanyaan ini muncul dari salah satu peserta Pendalaman Firman yang kami lakukan setiap hari selasa dan rabu malam, buat warga gereja yang mau datang, dibimbing oleh majelis gereja.

salam
oho

Leave a comment

Filed under interfidei, keselamatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s