<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>solilokui fajar</title>
	<atom:link href="http://solilokuifajar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://solilokuifajar.wordpress.com</link>
	<description>percik perenungan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Sep 2009 22:14:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='solilokuifajar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>solilokui fajar</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://solilokuifajar.wordpress.com/osd.xml" title="solilokui fajar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://solilokuifajar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Satu Minggu di Bulan Desember #1</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/12/07/satu-minggu-di-bulan-desember-1/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/12/07/satu-minggu-di-bulan-desember-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 18:59:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[familia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/12/07/satu-minggu-di-bulan-desember-1-2</guid>
		<description><![CDATA[— Masih di Jakarta Sleeper&#8217;s Dilemma stevonlucero.com Jumat, 5 Desember 2008 Adik saya, Michael, menelpon sekitar jam 21 bahwa dia sedang menuju rumah tempat tinggal saya. Katanya, supaya sopirnya —yang esok hari akan menjemput dan mengantar saya ke bandara— tahu &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/12/07/satu-minggu-di-bulan-desember-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=775&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Masih di Jakarta</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tbody>
<tr align="right">
<td><a class="snap_noshot" title="Sleeper's Dilemma" rel="lytebox" href="http://www.stevonlucero.com/Metarealism/Sleeper'sDilemma.jpg"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/SleepersDilemma.jpg" alt="Sleeper's Dilemma" width="248" height="200" /></a><br />
Sleeper&#8217;s Dilemma<br />
<a href="http://www.stevonlucero.com/Metarealism/Sleeper's%20DilemmaPoem2.htm" target="_blank">stevonlucero.com</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2>Jumat, 5 Desember 2008</h2>
<p>Adik saya, Michael, menelpon sekitar jam 21 bahwa dia sedang menuju rumah tempat tinggal saya. Katanya, supaya sopirnya —yang esok hari akan menjemput dan mengantar saya ke bandara— tahu jalan. Saya, Mami, Yosephine (kakak saya), dan Clarissa (anak bungsu Kak Yose) akan ke Malang esok hari guna menghadiri pembaptisan Quinn (anak Tidy, adik saya) pada hari Minggu yang akan datang.</p>
<p>Semula saya pikir Michael datang dari rumahnya di Cibubur sehingga saya memberikan ancar-ancar lokasi berdasarkan perkiraan tersebut dengan menggunakan kampus UKI di Cawang dan Jalan Casablanca sebagai patokan.</p>
<p>Ternyata dia datang dari bandara langsung setelah mendarat dari perjalanan dinasnya. Akibatnya, dia dan sopirnya pun salah mengambil belokan di Casablanca dan terpaksa berputar-putar sejenak di kawasan <em>by-pass</em> Jatinegara. Walau sudah dipandu melalui telepon seluler, tetap saja diperlukan waktu hampir 2 jam untuk tiba di tempat tinggal saya sejak saat pertamakali Michael menelpon saya.</p>
<blockquote><p>Asumsi dan penyimpulan adalah 2 hal yang perlu dilakukan secara cermat. Kelengkapan dan ketepatan informasi merupakan modal yang sangat penting dalam menghubungkan kedua titik tersebut. Melalaikan peran dan porsi masing-masing akan menyebabkan pemborosan bahkan kegagalan.</p>
<p>Di sisi lain, kemauan untuk melakukan uji coba merupakan langkah yang sangat diperlukan tatkala sesuatu diperkirakan memiliki risiko. Daripada tersesat keesokan harinya, yang dapat mengakibatkan kerugian lebih besar akibat terlambat tiba di bandara, lebih baik menyediakan upaya ekstra untuk menjamin tingkat keberhasilan pada saat pelaksanaan.</p>
<p>Latihan adalah kata lainnya. <em>Practice makes perfect</em>, kata orang Inggris. Atau dalam peribahasa kita, <span style="text-decoration:underline;">alah bisa karena biasa</span>.</p></blockquote>
<p><span id="more-775"></span></p>
<h2>Sabtu, 6 Desember 2008</h2>
<p>Saya sudah bersiap-siap sejak pukul 8 pagi. Menurut rencana, sopir adik saya berangkat dari Cibubur sekitar jam 8.30 dengan membawa Mami, Kak Yose, dan Clarissa yang sudah tiba di rumah Michael sejak kemarin sore. Berdasarkan perkiraan dari pengalaman sehari-hari, perjalanan dari Cibubur ke tempat saya memakan waktu sekitar 1 jam sampai 1,5 jam. Sedangkan ke bandara, biasanya dicadangkan waktu 2 jam.</p>
<p>Ternyata, jalanan amat lengang (tentu ada hubungannya dengan libur Idul Adha yang jatuh pada hari Senin). Jarum jam belum menunjukkan pukul 9 ketika mereka tiba. Terlalu dini untuk berangkat ke bandara sebab pesawat baru akan berangkat pukul 13.30. Maka, waktu sekitar 1 jam pun dimanfaatkan untuk ngobrol-ngobrol di rumah bersama dengan Riris, Roberto (adik bungsu Riris), dan ibunda Riris (artinya, ya mertua saya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  ).</p>
<blockquote><p>Kadang-kadang kemudahan dan kelancaran yang kita terima malah melahirkan kebingungan. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu berlebih. Orang lebih bersiap menghadapi kekurangan tinimbang kelebihan.</p>
<p>Kelebihan waktu bisa membuat kesal karena sama artinya dengan menunggu, sedangkan waktu tersebut tidak bisa kita sedekahkan atau tukar dengan barang lain. Membunuh waktu kerapkali menuntut kreativitas yang tidak sederhana, apalagi jika dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang berbeda minat. Beruntung manusia memiliki kemampuan untuk berbincang-bincang dengan sesamanya.
</p></blockquote>
<p>Kebetulan, sehari sebelumnya, Clarissa tepat berusia 4 tahun. Riris —yang memang jauh lebih perhatian pada keponakan-keponakan saya dibanding saya sendiri— menghadiahi Clarissa baju hangat dan baju terusan. Sebagaimana lazimnya perilaku anak kecil terhadap barang baru, baju hangat itu pun langsung dipakainya.</p>
<p>Meskipun kakak Clarissa tidak berulangtahun (dan saat itu pun tidak ikut karena sedang mengikuti ulangan umum kelas 4 SD), dia pun mendapat hadiah. Ulangtahun seorang anak ternyata bukan hanya sekali dalam setahun. Dia pun wajib mendapat hadiah jika saudaranya mendapat hadiah. Bagi anak seusia itu, keistimewaan ulangtahun belum merupakan suatu hal yang bisa dimengerti.</p>
<blockquote><p>Keadilan adalah sebuah konsep yang penerapannya sangat kontekstual, tidak bisa digebyah-uyah (jeneralisasi). Pengertian/pemahaman mengenai keadilan adalah hal pokok yang perlu dimiliki oleh semua pihak yang terlibat.</p>
<p>Perbedaan pengertian/pemahaman mengenai keadilan maupun pengejawantahannya merupakan sebuah keniscayaan yang sangat manusiawi. Dalam hal ini, toleransi merupakan jawabannya. Namun, banyak yang lupa bahwa toleransi merupakan kewajiban pihak yang lebih kuat (kuasa, jumlah), bukan kewajiban pihak yang lebih lemah. Toleransi bukanlah sebuah belaskasihan, melainkan kelapangan hati manusia yang memiliki kedewasaan dan kearifan.</p></blockquote>
<p>Hal lain yang membuat kami &#8220;harus&#8221; melakukan hal itu adalah karena rasa setiakawan kedua kakak-beradik keponakan saya. Jika yang satu diberi sesuatu, maka dia akan bertanya apakah saudaranya juga akan memperolehnya. Hampir selalu mereka akan menolak pemberian tersebut jika tahu bahwa saudaranya tidak mendapatkan. Entah dari mana mereka mempelajari dan menghayati solidaritas sekental itu.</p>
<blockquote><p>Wajarkah jika seseorang atau sekelompok orang berkorban menolak &#8220;rejeki&#8221; ketika dia/mereka tahu bahwa sesamanya tidak mendapatkan bagian?</p>
<p>Memikirkan kepentingan dan kesejahteraan pihak lain bukanlah sebuah karakter yang mudah dibentuk. Apalagi jika terdapat perbedaan kepentingan yang bisa berujung pada perselisihan. Bukannya jarang, kebutuhan (ataukah keinginan?) menyebabkan seseorang tidak peduli pada orang lain, meski orang lain itu jauh lebih membutuhkan. Bahkan, tidak mustahil pula seseorang tega merebut milik orang lain. Jika perlu, secara paksa.</p>
<p>Ah, betapa benar ucapan seorang bijak yang mengatakan bahwa kanak-kanak adalah yang empunya Kerajaan Allah. Mereka jauh lebih toleran dan solider dibanding kebanyakan orang dewasa, tanpa harus berkoar-koar tentang keadilan.</p></blockquote>
<p>Sebenarnya siang hari ini ada acara kopdar (kopi darat) para anggota milis (<em>mailing list</em>) <a href="http://yahoogroups.com/group/hkbp" target="_blank">hkbp</a> di Yakoma PGI. Ingin rasanya saya bergabung dengan rekan-rekan milis, apalagi kopdar kali ini dihadiri oleh Padre Joas Adiprasetya yang baru saja menuntaskan proses belajarnya dan meraih gelar Doktor Teologi dari Boston University. Namun saya tidak bisa mengarang alasan untuk tidak berangkat hari ini ke Malang. Pembaptisan keponakan saya esok hari lebih membutuhkan kehadiran saya selaku Tulangnya (dan juga kepala keluarga setelah kematian Bapak) tinimbang kopdar milis yang bertaburan banyak bintang. Saya pikir saya lebih diharapkan berada di Malang daripada di Cempaka Putih.</p>
<blockquote><p>Rupanya memilih antara 2 pilihan yang enak sama tidak menyenangkannya dengan memilih antara 2 pilihan yang tidak enak. Tetapi pilihan harus dibuat. Keuntungan (kenikmatan, kegembiraan) kadangkala harus dilupakan tatkala tanggung jawab masuk dalam variabel pertimbangan.</p></blockquote>
<p>Di bandara, saya sempatkan membuka email dari milis hkbp. Ada kabar bahwa beberapa rekan lain ternyata tidak bisa hadir sesuai rencana. Efron &#8220;Mbah Dukun Sesat&#8221; Dwi Poyo yang sejak semula ngotot agar acara kopdar tersebut tetap dilangsungkan pada tanggal 6 Desember ternyata harus berangkat ke Tabang (entah di mana pula lokasinya di Kalimantan Timur). Begitu pula Erwinthon &#8220;The Architect&#8221; Napitupulu, sang pemilik milis, batal datang dari rancanya di Lembang karena mobilnya bermasalah. Juga Muna &#8220;The Blade&#8221; Panggabean yang sejak beberapa hari sebelumnya sudah <em>woro-woro</em> tidak bisa hadir demi mengurus rencana pembuatan film yang didasarkan pada 4 cerita pendek hasil lomba di milis hkbp dan <a href="http://yahoogroups.com/group/cyber-gki" target="_blank">cyber-gki</a>.</p>
<p>Dasar sirik, diam-diam saya berharap Padre Joas dan Padre Calvin van Pamulang juga berhalangan hadir. Ternyata, dari kabar yang saya baca kemudian, mereka berdua malah datang bersama-sama. Sebaliknya, malah Padre Daniel Taruli Asi Harahap yang tidak muncul tanpa kabar berita. Wah, kopdar milis hkbp malah dihadiri oleh 2 pendeta GKI tanpa seorang pun pendeta HKBP <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  .</p>
<blockquote><p>Saya jadi teringat pada gugatan MDS tentang <span style="text-decoration:underline;">bersyukur</span> yang tidak jarang merupakan manipulasi dan kamuflase seseorang yang bergembira [dan memuji Tuhan] tatkala kemalangan tidak menimpa dirinya melainkan orang lain. Atau kemalangan yang dialaminya tidak seberat orang lain. Syukur menjadi sebuah perbandingan perolehan.</p>
<p>Ternyata moral saya masih payah, sebab tidak rela orang bergembira, malah berharap mereka tidak beruntung <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  .</p></blockquote>
<p>Semula saya berencana menelpon seseorang yang hadir di Yakoma PGI sekitar jam 13 untuk menyampaikan salam bagi semua rekan yang hadir. Gara-gara asik membuka Facebook (yang entah mengapa, tampaknya banyak orang yang sedang dilanda kemurungan), lupalah saya pada niat tersebut. Ah, walau terlambat, kiranya masih bolehlah jika saat ini saya sampaikan secara nonfisikal, &#8220;selamat bergembira, wahai kawan-kawan&#8221;.</p>
<p>Jam 14. Pesawat yang akan membawa kami ke Malang sudah siap di landasan. Kami pun bergegas masuk pesawat, lalu tinggal landas menyeruak langit Jakarta menuju Malang.</p>
<p class="datex">— Malang: Minggu, 7 Desember 2008 01:59</p>
<br />Posted in familia Tagged: familia <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/775/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=775&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/12/07/satu-minggu-di-bulan-desember-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/SleepersDilemma.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sleeper's Dilemma</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ziarah Nalar yang Terhadang Layar Kaca</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/20/ziarah-nalar-yang-terhadang-layar-kaca/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/20/ziarah-nalar-yang-terhadang-layar-kaca/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 21:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[familia]]></category>
		<category><![CDATA[sosialita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/20/ziarah-nalar-yang-terhadang-layar-kaca-2/</guid>
		<description><![CDATA[— Saat Kebajikan dan Kebijakan Menjadi Tawar Philosophy Brain sanjuancollege.edu Berbincang dengan Roberto, adik ipar saya &#8212; adik bungsu Riris, bukanlah pekerjaan yang mudah. Salah satu sifatnya yang senang menggali (atau menguji?) daya nalar lawan bicara, tidak jarang membuat orang &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/20/ziarah-nalar-yang-terhadang-layar-kaca/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=643&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Saat Kebajikan dan Kebijakan Menjadi Tawar</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a href="http://sanjuancollege.edu/lib/images/philosophy_brain.jpg" title="Philosophy Brain" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://s286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/PhilosophyBrain.jpg" alt="Philosophy Brain" width="200" height="240"></a><br />
    Philosophy Brain<br />
    <a href="http://www.sanjuancollege.edu/lib/researchguides" target="_blank">sanjuancollege.edu</a></td>
</tr>
</table>
<p>Berbincang dengan Roberto, adik ipar saya &#8212; adik bungsu Riris, bukanlah pekerjaan yang mudah. Salah satu sifatnya yang senang menggali (atau menguji?) daya nalar lawan bicara, tidak jarang membuat orang menjadi jengkel sehingga memilih untuk menghindari perbincangan yang &quot;berat&quot; dengannya. Kalaupun tidak bisa menghindar, ya memilih tidak menanggapi alias bungkam.</p>
<p>Sebenarnya tidak ada yang salah dengannya. Hanya saja, dia amat senang mengelastiskan berbagai topik perbincangan &#8212;bahkan yang sangat sederhana sekalipun&#8212; ke ruang pembahasan yang tidak pernah diduga. Utamanya adalah filosofi dan spiritual (bukan agama!). Entah apa sebabnya dia gemar menelisik hakikat dari satu fenomena yang &#8212;jika kita tinjau secara sambil lalu&#8212; tampaknya amat sederhana. Tidak banyak orang yang punya ketahanan ekstra untuk mendengar apalagi menanggapi pandangan-pandangannya yang kerap kontroversial.</p>
<p>Barangkali saya adalah salah satu orang dari sedikit orang yang cukup sering diajaknya membincangkan pemikiran-pemikirannya. Bukan karena saya seorang yang sabar ataupun seorang pendengar yang baik, malah sebaliknya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  , melainkan karena kebetulan saya pun memiliki sedikit kegairahan untuk mencoba memandang sesuatu lebih dari sekedar bentuk dan penampakan visualnya.</p>
<p>Jujur saya akui bahwa letupan-letupan pemikirannya yang liar tersebut lebih sering menggugah neuron-neuron otak saya dan menggugat pemahaman-pemahaman konvensional yang saya pegang tinimbang meresahkan emosi. Perbincangan dengannya nyaris selalu berhasil membuat saya mengkaji ulang sulaman pengertian yang sudah tercetak lama dalam wawasan saya. Saya rasa tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa Roberto adalah salah satu dari sedikit orang yang mampu mengetuk jendela-jendela pencerahan saya. Sehingga, ada kalanya justru saya yang mengajaknya berdiskusi. Mungkin [dan semoga] dia pun merasakan hal yang sama saat berbincang dengan saya.</p>
<p><span id="more-643"></span></p>
<p>Sebenarnya ada cukup banyak perbincangan dengannya yang saya pikir cukup baik untuk dibagikan. Sayangnya, saya bukan seorang yang cukup tekun untuk menuliskan semua itu, sedangkan Roberto sendiri tampaknya agak mengalami kesulitan untuk menyampaikan gagasan-gagasannya secara runtut agar mudah dicerna orang lain <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Kali ini, saya akan menyampaikan sebuah topik sederhana yang bermetamorfosis menjadi renungan panjang ketika hal itu sampai di pemikirannya.</p>
<p>Sore itu saya baru pulang kantor. Entah mengapa, tiba-tiba terbit keinginan saya untuk makan nasi goreng petai di Pegambiran, Rawamangun. Saat tiba di rumah dan melihat motornya ada di garasi, saya langsung menghubunginya lewat ponsel untuk mengajaknya makan (saya malas masuk rumah untuk naik ke kamarnya di lantai dua). Dia langsung mengiyakan. Roberto memang nyaris tidak pernah menolak ajakan atau permintaan saya. (Salah satu perilaku yang membuat orang suka berkawan dengannya adalah rasa setiakawan yang luarbiasa serta sifat ringan-tangannya yang tanpa pamrih walau membuatnya repot.)</p>
<p>Di perjalanan menuju rumah makan Bakmi Pegambiran itulah kami berbincang-bincang. Biasanya selalu diawali dengan topik sederhana yang diungkit secara sambil lalu. Kebetulan hari itu adalah saat-saat menjelang eksekusi mati Amrozi dan kawan-kawannya. Kami membincangkan peran media, khususnya televisi, yang kelihatannya memiliki peran luarbiasa dalam menyampaikan informasi sekaligus menunggangbalikkan nilai-nilai informasi itu sendiri.</p>
<p>Saya mengeluhkan cara-cara televisi menyoroti suatu peristiwa yang kerap tidak proporsional serta tidak <em>cover both side</em>. Dalam pandangang saya, televisi sudah bertindak tidak adil. Betapa tingginya porsi pemberitaan serta kesempatan yang diberikan bagi &#8212;dalam hal ini&#8212; trio Amrozi dan kawan-kawan untuk menyampaikan pendapat-pendapat mereka kepada khalayak luas. Seakan-akan meminta masyarakat untuk memahami pembenaran-pembenaran yang mereka ambil. Padahal, di sisi lain, ada ratusan orang yang juga terlibat dalam aksi mereka, yakni para korban bom Bali. Amatlah kecil porsi pemberitaan yang disediakan bagi mereka. Sungguh tidak berimbang.</p>
<p>&quot;Televisi telah menjadikan mereka sebagai pesohor bahkan pahlawan&quot;, gerutu saya.</p>
<p>Roberto, yang menekuni dunia pertelevisian di bangku perkuliahan Institut Kesenian Jakarta, tidak membantah kecaman saya. Bahkan, bukan hanya satu-dua kali dia mengeluhkan tergerusnya idealisme orang-orang televisi akibat terjangan komersialisme dan persaingan memburu peringkat (<em>rating</em>). Pendapat sebagian orang mengenai penyalahgunaan televisi dari sarana penyebaran informasi menjadi perangkat pembodohan dan cuci-otak bukanlah suatu hal yang membuat kening mengernyit.</p>
<p>Kelebihan televisi untuk menampilkan sesuatu secara audio-visual telah menumpulkan daya kritis masyarakat. Jika orang hanya disodori berbagai hal yang bisa dilihat secara kasat mata melalui layar televisi, barangkali masih bisa ditoleransi. Tetapi, tidak jarang hal tersebut dibungkus dengan opini sang penyampai berita yang menggiring pemirsa ke satu sudut pandang. Menyitir ucapan dosennya, Roberto mengulas soal hegemoni wacana dan pergeseran norma masyarakat sipil (<em>civil society</em>) secara sistemis dan sistematis.</p>
<p>Bagi sebagian orang, barangkali perbincangan akan dicukupkan sampai di situ. Tetapi Roberto tidak termasuk dalam kelompok &quot;sebagian orang&quot; tersebut. Sebagaimana biasa, kegemarannya mengelastiskan topik pembicaraan langsung terbangkitkan.</p>
<p>Menurutnya, bukan hanya daya kritis masyarakat yang ditumpulkan oleh media nir-idealisme tersebut, melainkan juga nilai-nilai kebajikan dan kebijakan. Entah disadari atau tidak, pengangkatan suatu topik berita yang dilakukan secara berlebihan [plus opini tidak berimbang] tersebut telah menjadi pedang bermata banyak bagi masyarakat. Antara lain: </p>
<ol>
<li>Positifnya, masyarakat kian mengetahui duduk perkara secara lebih multicakup (komprehensif).</li>
<li>Negatifnya, masyarakat dicekoki dengan pembenaran-pembenaran yang dikemukakan oleh salah satu pihak sehingga perlahan-lahan jadi enggan menguji kebenarannya atau membenturkannya dengan kebenaran yang dipegang pihak lain. Bahkan, bukannya tidak mungkin malah menjadi simpati pada sang pelanggar hukum dan kurang peduli pada para korban.</li>
<li>Lebih negatif lagi, masyarakat jadi saling curiga pada sesamanya.</li>
<li>Jauh lebih negatif lagi, sebagian orang menganggap diri mereka sudah dan lebih baik dibanding tokoh-tokoh yang ditayangkan televisi.</li>
</ol>
<p>&quot;Televisi kita saat ini terjebak dalam tiga pusaran utama yang menjadi ciri-ciri masyarakat yang sakit: gossip artis (terutama urusan kawin-cerai, perselingkuhan), kriminalitas yang mengekspos rincian tindak kejahatan bahkan pada jam tayang yang dinikmati oleh anak-anak, dan sinetron enteng-cengeng-dongeng-absurd maupun hantu-hantu.</p>
<p>Tiga pusaran komersial masyarakat yang sakit itu membuat orang menganggap dirinya sudah dan lebih baik. Karena tidak kawin-cerai dan berselingkuh, orang menganggap dirinya sudah baik secara moral dan etis. Karena tidak terlibat kejahatan, orang merasa dirinya sudah baik secara norma dan hukum. Karena tidak terpengaruh pada dongeng-cengeng-absud maupun horor hantu, orang merasa dirinya sudah baik secara sosial dan spiritual.</p>
<p>Bertolakbelakang dengan godaan kepemilikan materi (termasuk di dalamnya kekuasaan) yang tidak akan pernah kunjung terpuaskan sehingga menjerat orang ke dalam ketamakan, maka kebajikan dan kebijakan akan berkurang daya dorongnya ketika orang merasa merasa sudah bajik dan bijak. Materialisme itu ibarat air asin yang diminum di padang gurun. Semakin diteguk, semakin haus orang yang meminumnya. Sedangkan kebajikan dan kebijakan kerap membuat orang terlena seperti sehabis makan siang. Nyaris tidak ada manusia yang selalu haus bahkan tamak untuk terus berbuat bajik dan bijak.&quot;</p>
<p>Komentar Roberto membuat saya tercenung. Itukah sebabnya semangat kesetiakawanan sosial pelan-pelan menghilang dari kultur masyarakat kita? Itukah yang membuat orang merasa dirinya lebih suci dibanding orang lain sehingga beranggapan bahwa nilai-nilai yang mereka anut harus diterapkan juga pada dan bagi orang lain? Atau, paling sedikit, menghindari orang-orang yang dipandang hanya akan mencemarkan kesucian mereka.</p>
<p>Kita tidak bisa memungkiri kenyataan menurunnya semangat memberikan dan berbuat lebih baik. Etos kerja yang dahulu dipicu oleh rasa malu belum berhasil memberikan yang terbaik kini tergeser oleh rasa bangga sudah menjadi manusia yang lebih baik dibanding orang-orang bermasalah yang ditampilkan televisi. Kesadaran etis dan citarasa estetis yang dahulu menjadi ciri para leluhur telah lenyap bertukar egosentris dan pragmatis.</p>
<p>&quot;Saya sudah menjadi orang baik. Cukup sekian urusan saya dengan orang-orang lain yang tidak baik itu.&quot;</p>
<p>Paling banter, kebajikan yang masih dilakukan tidak lebih dari derma atau iuran RT yang wajib dilakukan agar tidak mengurangi citra kelebihbaikan yang sudah disandang saat ini.</p>
<p>Begitu pula halnya yang terjadi pada orang-orang yang beragama. Panggilan untuk melayani sesama yang didorong semangat cintakasih, belarasa, serta ketundukan pilu menyadari ketidaklayakan di hadapan Tuhan telah ditaklukkan oleh rasa bangga sudah menjadi orang baik. Seluruh karunia belaskasih Tuhan dianggap sudah dibayar lunas, sehingga menganggap diri lebih pantas dekat dengan Tuhan tinimbang para artis kawin-cerai-selingkuh maupun para kriminal dan teroris.</p>
<p>Padahal, kebajikan itu ibarat garam yang menjadi salah satu kebutuhan utama urusan kuliner tanpa menonjolkan diri di deretan bumbu. Orang tidak lagi mencari garam dalam hidangan yang tersaji. Kebijakan itu ibarat terang yang membantu memberikan keluasan pandang bagi ruang sekitarnya tanpa menuntut jadi pusat perhatian. Orang tidak menyalakan pelita untuk mengamati pelita itu sendiri.</p>
<p>Lamat-lamat saya kian paham filosofi kata-kata bijak yang pernah didengungkan dua milenium lampau, &quot;Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.&quot;</p>
<p>Teringat pula saya pada pemeo klasik yang menyatakan, &quot;seseorang berhenti menjadi santo saat dia menyadari dirinya adalah santo&quot;. Pada saat itulah dia berhenti menjadi garam dan terang bagi lingkungannya. Tidak ada gunanya.</p>
<p>Televisi yang tengah kehilangan idealisme itu sudah menunggangbalikkan semua nilai-nilai tersebut. Membuat kebajikan dan kebijakan jadi tawar, menetralisasi otak dan hati dari kegundahan bahwa semua yang kita berikan dan lakukan bagi sesama dan lingkungan belum dan tidak akan pernah cukup, membuat kita puas menatap diri sendiri lalu bergumam senang bahwa semua sudah oke.</p>
<p>Berbincang dengan Roberto memang bukan pekerjaan mudah, tapi bukannya tidak menggairahkan. Sebab bukan cuma mulut dan otak yang harus bekerja keras. Hati akan digedor dengan pertanyaan menikam, rasa bangga dan rasa puas pun harus ditelan sebagai pil pahit memuakkan.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah Roberto juga menyadari hal itu. Saya hanya berharap dia tidak tersiksa akibat ketidaklelahannya memandang dan menelisik sesuatu lebih dari sekedar yang bisa ditampak secara visual seturut kaidah-kaidah optis. Sebab kehidupan yang bermakna sesungguhnya memang lebih dari sekedar itu.</p>
<p class="datex">&#8212; PinAng: Kamis, 20 Nopember 2008 04:01</p>
<br />Posted in familia, sosialita Tagged: familia, sosialita <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/643/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/643/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=643&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/20/ziarah-nalar-yang-terhadang-layar-kaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/PhilosophyBrain.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Philosophy Brain</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Spiral Kematian</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/05/spiral-kematian/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/05/spiral-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 17:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[jentera hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/05/spiral-kematian/</guid>
		<description><![CDATA[— Landmark Kehidupan Spiral IIarthurdouet.com Saya tidak tahu apakah saya sedang menuju gila ataukah sedang melangkah di titik nadir lorong kehidupan ataukah sedang dilanda melankoli yang amat-sangat, sehingga selama beberapa waktu belakangan ini benak saya kerap ditelikung oleh pikiran-pikiran tentang &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/05/spiral-kematian/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=627&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— <em>Landmark</em> Kehidupan</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a href="http://www.arthurdouet.com/gallery/spiral_2_395x600.jpg" title="Spiral II" target="_blank" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/Spiral.jpg" title="All expressions of the One Being return to the Source of Light" alt="Spiral II" width="200" height="304"></a><br />Spiral II<br /><a href="http://www.arthurdouet.com/inspirations.asp" title="All expressions of the One Being return to the Source of Light" target="_blank">arthurdouet.com</a></td>
</tr>
</table>
<p>Saya tidak tahu apakah saya sedang menuju gila ataukah sedang melangkah di titik nadir lorong kehidupan ataukah sedang dilanda melankoli yang amat-sangat, sehingga selama beberapa waktu belakangan ini benak saya kerap ditelikung oleh pikiran-pikiran tentang kematian. Yang jelas, hal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan peringatan hari arwah yang diperingati oleh umat Katolik pada tanggal 2 Nopember kemarin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Kematian bukanlah hal yang cukup akrab bagi saya. Dalam lingkaran keluarga kandung, baru satu kematian yang kami alami, yakni bapak saya yang berpulang pada tanggal 9 Agustus 2007. Agak keluar sedikit, masih dalam lingkup saudara dekat, memang sudah ada beberapa peristiwa kematian. Peristiwa tertua yang saya ingat adalah kematian Ompung Naboru, ibunda Mami. Saat itu saya masih kecil sehingga tidak tahu apa yang harus saya lakukan ketika berdiri di samping tempat tidur pembaringan jenasahnya. Setelah saya bekerja, Ompung Dalahi, ayah Bapak, meninggal di kampung. Saya tidak sempat melihat jenasahnya karena sudah dimakamkan ketika saya menyusul Bapak dan Mami ke sana. Kemudian kakak tertua Mami meninggal di Jakarta tanpa sempat saya hadiri pemakamannya. Lalu abang tertua Mami meninggal di kampung, dan juga tidak bisa saya hadiri pemakamannya. Demikian pula saat abang kedua Mami meninggal.</p>
<p>Saya memang tidak pernah suka datang ke pemakaman maupun acara-acara yang berkaitan dengan kematian <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  .<br />
<span id="more-627"></span></p>
<p>Di luar keluarga kandung, memang ada cukup banyak yang saya ingat dan hadiri prosesi penghormatan terakhirnya (melayat). Misalnya ketika ayah Riris —yang saat itu belum menjadi istri saya— meninggal di Bandung. Lalu abang ayahnya (saat itu pun saya masih belum menjadi suami Riris) yang disusul oleh istrinya beberapa tahun kemudian saat saya dan Riris sudah berstatus sebagai suami-istri.</p>
<p>Lebih keluar lagi, dalam lingkup kekerabatan yang didasari oleh hubungan keluarga orangtua saya maupun marga serta kekerabatan dari pihak keluarga Riris, ada lebih banyak lagi peristiwa kematian. Kebanyakan dari mereka tidak saya kenal dekat sehingga nyaris tidak ada perasaan tertentu yang menggigit di dalam hati.</p>
<p>Di lingkung perkawanan, saya masih ingat kematian tragis seorang kawan perempuan di SMP. Lantaran bergurau dengan kawan-kawannya, dia terdorong ke jalan sehingga disambar kendaraan angkutan kota yang melaju cepat. Ketika kuliah, seorang sahabat sejak SMA meninggal akibat <em>stroke</em>. Saat itu saya tidak percaya bahwa orang semuda dia bisa terkena &#8220;penyakit&#8221; yang saya anggap sebagai keniscayaan orang sudah tua yang banyak pikiran. Sama sekali tidak terbayang betapa berat beban pikirannya sebagai seorang &#8220;mantan orang kaya&#8221;. Setelah lulus, beberapa kawan sekelas saat perkuliahan meninggal tanpa sempat saya layat akibat perbedaan lokasi tinggal atau terlambatnya berita. Beberapa diantaranya akibat kanker.</p>
<p>Bagi kebanyakan orang seperti saya, kematian bukanlah suatu hal yang cepat diakrabi. Walau berita kematian di koran selalu ada setiap hari, kebanyakan dari mereka bukanlah orang-orang yang kita kenal dalam keseharian sehingga kita membacanya hanya sambil lalu atau bahkan tidak pernah membacanya.</p>
<p>Saat masih kecil, saya berpandangan bahwa kematian adalah &#8220;jatah&#8221; para orang tua sebagai sebuah mekanisme yang eksak bagi keuzurannya. Setelah agak besar sedikit, barulah saya sadar bahwa kematian adalah suatu peristiwa acak, dalam pengertian tidak bisa ditentukan dan dipastikan. Ke-mati-muda-an sahabat sejak SMA itu sempat membuat saya tercenung. Tidak ada yang bisa menentukan siapa yang akan mati lebih dulu. Tidak ada aturan urutannya. Apalagi jika kematian itu diakibatkan oleh hal-hal yang di luar perkiraan, entah karena sakit atau kecelakaan atau bencana. Tidak ada yang bisa menerka jadwal kedatangannya. Seperti sebuah putaran undian kesialan.</p>
<p>Menyimak peristiwa-peristiwa kematian yang sudah terjadi di sekitar saya, saya menampak satu pola berbentuk spiral yang bergerak dari luar menuju pusat, yakni diri saya. Kematian itu tidak melesat langsung ke hadapan saya mencabut napas saya melainkan mengambil jalan memutar sambil menjemput orang-orang di sekitar saya, mulai dari yang paling tidak saya kenali akrab hingga yang sangat dekat secara hubungan darah. Aksinya seperti burung elang yang berputar-putar di angkasa menantikan kelengahan sang korban. Tanpa ketentuan namun penuh kepastian, hingga satu saat saya pun akan bermuka-muka langsung dengannya satu lawan satu. Dan dalam hitungan keumuman selaku manusia biasa, sudah pasti saya akan kalah digelandangnya sebab saya bukan manusia <em>immortal</em> semacam tokoh fiksi <em>highlander</em>.</p>
<p>Saya tidak mengerti kenapa pikiran-pikiran mengenai kematian datang menghantui akhir-akhir ini. Saya bukan seorang tua yang renta, tidak pula sedang sakit ataupun mengidap penyakit mematikan (persoalan yang satu ini tidak bisa saya jamin karena saya selalu menolak memeriksakan diri ke dokter walau sakit <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  ). Juga bukan seorang yang sedang dilanda depresi dahsyat sehingga menganggap kematian sebagai satu-satunya jalan terbaik untuk keluar dari kemelut tak tertanggung.</p>
<p>Saya tidak mau menebak-nebak ataupun mencari jawaban dari para penyusup ke masa depan. Kalau memang sudah tiba masanya, apa pula yang harus saya takuti?</p>
<p>Namun demikian, ada yang cukup mengganggu pikiran saya saat ini: Apa yang akan saya tinggalkan sebagai bukti di masa depan bahwa seorang ~alof pernah hadir di dunia ini? Ataukah saya memang disuratkan untuk menjadi seorang manusia yang datang hanya untuk pergi?</p>
<p>Pertanyaan itu kian menggedor benak tatkala beberapa hari yang lalu saya mewawancarai seorang pejabat yang bekerja di salah satu lembaga negara yang mengemban tugas menangani pelaksanaan kebijakan enerji nasional di bidang minyak dan gas (migas). Wawancara yang semula dilangsungkan dalam kisi-kisi profesional itu akhirnya berbumbu perbincangan akrab yang menghabiskan waktu makan siang (ini salah satu &#8220;sifat jelek&#8221; saya sehingga urusan yang semula murni bisnis akhirnya menjadi interpersonal). Barangkali lantaran terjalinnya kecocokan sebagai sesama mantan pekerja perusahaan multinasional yang memilih keluar karena lebih suka berdiri di bawah kibaran Merah-Putih walau harus memerosotkan perolehan pendapatan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Salah satu topik perbincangan menarik (selain urusan Kilang Tangguh yang sempat menghebohkan itu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  ) adalah mengenai sejarah berlakunya sistem <span style="text-decoration:underline;">Production Sharing Contract</span> yang merupakan inovasi cemerlang orang Indonesia. Mekanisme yang dirumuskan pada masa kepemimpinan Ibnu Soetowo tersebut diterapkan akibat keterbatasan teknologi, pengetahuan, maupun sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang eksplorasi dan eksploitasi migas. Tujuan mulia di balik itu adalah mempersiapkan manusia Indonesia agar sekian tahun kemudian bisa menangani sendiri kekayaan alamnya.</p>
<p>Apa lacur, mekanisme tersebut malah membuat orang-orang di lembaga yang pernah dipandang sebagai institusi terkaya itu malah terlena dalam kenikmatan memperoleh kucuran uang tanpa harus berkeringat di hutan maupun lautan. Biar saja orang asing yang berpikir, bekerja, dan memodalinya; kita tinggal menunggu jatah bagian keuntungan setelah dipotong ongkos produksi. (Saya yakin bahwa mereka juga tahu —bahkan lebih dibanding saya— bahwa tidak sedikit dari perusahaan asing itu yang sebenarnya adalah perampok dan perompak.)</p>
<p>Hasilnya? Hingga lebih dari setengah abad kemudian, lembaga yang dulu berlogo bintang dan sepasang kuda laut itu tidak pernah menjadi institusi yang perkasa. Anda tentu sudah tahu lembaga yang saya maksudkan. Ya, Pertamina.</p>
<p>Sedangkan Petronas dari Malaysia yang sekian puluh tahu lalu berguru pada lembaga ini kini menjulang lebih tinggi dan mendunia melampaui gurunya. Logo Petronas melekat angkuh di badan mobil balap Formula-1. Menara kembarnya menjulang megah sebagai <em>landmark</em> negeri jiran. Bisnis eksplorasi dan eksploitasi migas mereka merambah ke seantero jagad. Padahal migas mereka kalah jauh dibanding kekayaan negeri ini. Apa bukan ironis namanya?</p>
<p>Sebagaimana sama-sama kita ketahui, migas adalah sumber daya alam yang tidak terbaharui sehingga suatu saat pasti akan habis dan hanya menjadi sejarah masa lalu. Sehingga, amatlah wajar ketika rekan berbincang saya itu bertanya <em>miris</em>, &#8220;Apa yang akan ditinggalkan oleh Pertamina bagi bangsa dan negara ini sebagai bukti bahwa Republik Indonesia pernah menjadi penghasil minyak dan gas?&#8221;.</p>
<p>Sendok es krim saya sempat terhenti di udara ketika saya merefleksikan pertanyaan itu ke hidup saya sendiri. &#8220;Satu saat saya hanya akan menjadi masa lalu dalam lintasan waktu. Apa yang akan saya tinggalkan sebagai bukti bahwa saya pernah ada? Minimal bagi orang-orang yang memiliki kedekatan hubungan dengan saya.&#8221;</p>
<p>Blog ini? Bah!</p>
<p class="datex">— PinAng: Rabu, 05 Nopember 2008 00:07</p>
<div class="fot">
<em>landmark : kb. 1 (guide) penunjuk. 2 sesuatu yang mudah dilihat atau dikenal. 3 hal<br />
yang menonjol. 4 kejadian/peristiwa penting.</em><br />
<span class="source">— sumber: <a href="http://kamus.itb.ac.id/?target=landmark&amp;jenis=en_to_ina&amp;pijit1=Terjemahan+Tepat+Sama" target="_blank">kamus.itb.ac.id</a></span></div>
<br />Posted in jentera hari Tagged: jentera hari <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/627/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=627&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/11/05/spiral-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/Spiral.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">All expressions of the One Being return to the Source of Light</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merambah Jalan Sepi</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/10/14/merambah-jalan-sepi/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/10/14/merambah-jalan-sepi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 20:38:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[ecce homo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/10/14/merambah-jalan-sepi/</guid>
		<description><![CDATA[— A Tribute to Padré Daniel Taruli Asi Harahap Lucky Luke sesseler.de Sekian tahun sebelum diserbu komik berseri manga dari Jepang, Indonesia sempat disodok oleh komik berwarna dalam format besar seukuran majalah yang berasal dari Amerika dan Eropa. Epideminya di &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/10/14/merambah-jalan-sepi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=464&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— A Tribute to Padré Daniel Taruli Asi Harahap</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a class="snap_noshot" title="Lucky Luke" rel="lytebox" href="http://www.sesseler.de/Comic/Lucky_Luke/Lucky_Luke.jpg"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/LuckyLuke.jpg" alt="Lucky Luke" width="243" height="200" /></a><br />
Lucky Luke<br />
<a href="http://www.sesseler.de/Comic/Lucky_Luke/luckyluke.html" target="_blank">sesseler.de</a></td>
</tr>
</table>
<p>Sekian tahun sebelum diserbu komik berseri <em>manga</em> dari Jepang, Indonesia sempat disodok oleh komik berwarna dalam format besar seukuran majalah yang berasal dari Amerika dan Eropa. Epideminya di Indonesia —jika saya tidak keliru— dirintis oleh sosok wartawan dengan rambut jambul bernama <a href="http://www.tintin.com/" target="_blank">Tintin</a> (1929, Prancis-Belgia) dalam kisah-kisah petualangan a-la spion internasional. Sempat juga saya menikmati lika-liku dunia penerbangan militer melalui kisah dua pilot pesawat jet Mirage dari Prancis, <a href="http://www.dargaud.com/front/albums/series/serie.aspx?id=1784" target="_blank">Tanguy dan Laverdure</a> (1959, Prancis-Belgia). Ada juga kisah manusia prasejarah bernama <a href="http://www.zilverendolfijn.nl/zd/zd.pl?a=fc&amp;c=1&amp;kt=DE&amp;s=c&amp;k=TOENGA&amp;f=ss" target="_blank">Toenga</a> (1963, Belanda) yang kalah pamor dibanding <a href="http://www.conan.com/" target="_blank">Conan The Barbarian</a> (1932, Amerika). Juga kisah jenaka dua karib pahlawan Galia, <a href="http://www.asterix.com/" target="_blank">Asterix dan Obelix</a> (1959, Prancis-Belgia), yang mengambil <em>setting</em> masa ekspansi Pax Romana kekaisaran Romawi. Tentu saja tidak ketinggalan komik pahlawan super Amerika seperti <a href="http://www.superman.com/" target="_blank">Superman</a> (1933), <a href="http://www.dccomics.com/sites/batman/" target="_blank">Batman</a> (1939), dan <a href="http://www.marvel.com/universe/Spider-Man_(Peter_Parker)" target="_blank">Spiderman</a> (1962).</p>
<p>Dari sekian banyak pilihan (yang sudah pasti tidak seberlimpah sekarang), tentu saja tidak bisa dilupakan komik berlatarbelakang situasi klasik khas Amerika pada masa <em>wild west</em> yang menampilkan tokoh koboi <a href="http://www.lucky-luke.com/" target="_blank">Lucky Luke</a> (1946, Prancis-Belgia). Mungkin masih banyak lagi komik dengan berbagai macam <em>genre</em> yang sudah saya lupa atau tidak sempat saya baca.</p>
<p>Kepopuleran Lucky Luke [dan kisah koboi pada umumnya] merupakan fenomena yang cukup menarik. Ada cukup banyak orang yang menggemarinya walau keseluruhan kisahnya boleh dikatakan tidak kena-mengena dengan kultur Indonesia maupun negara lain di luar Amerika. Uniknya, komik ini pun bukan karya orang Amerika melainkan seniman Prancis dan Belgia. Sangat boleh jadi kasusnya mirip dengan kebangkitan film koboi di tangan para sineas Eropa (khususnya Itali, sehingga film-film tersebut dijuluki <em>spaghetti western</em>. Salah satunya adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Django_(film)" target="_blank">Django</a> (1966) yang demikian populer sehingga banyak orang masa lalu yang menyebut koboi dengan <span style="text-decoration:underline;">jenggo</span>. Ciri khas Django yang membawa-bawa peti mati itu kemudian ditiru oleh Hans Jaladara untuk komik silat Panji Tengkorak yang muncul pada tahun 1968).</p>
<p><span id="more-464"></span></p>
<p>Yang tidak kalah menakjubkan, hampir semua anak Indonesia (tentunya yang tidak luput dari imbas informasi dan hiburan produk Barat) pernah bermain koboi-koboian lengkap dengan topi laken, pistol Colt, dan orang Indian, bahkan pedang dan kuda pasukan kavaleri. Dugaan saya, anak-anak di belahan dunia lain pun mengalami hal yang sama.</p>
<p>Apa menariknya dunia koboi sehingga Lucky Luke berterima pada banyak orang? Apa yang menjadi sebab hingga berjilid-jilid buku kisah Winnetou dan Old Shatterhand karangan Karl May menjadi klasik? Apa yang menjadi daya tarik dan daya jual sehingga hampir semua aktor besar Hollywood pernah memainkan peran koboi? Apa keistimewaan orang-orang lusuh jarang mandi yang bertugas mengawal rombongan ternak sapi yang akibat pekerjaannya itu kemudian disebut <em>cowboy</em>?</p>
<p>Tentunya bukan gaya urakan dan bohemian dunia peternakan sapi dan padang rumput yang kurang akrab bagi kebanyakan orang Indonesia apalagi yang hidup di perkotaan. Tentunya juga bukan karena keasikan menggunakan pistol maupun senapan yang terlarang bagi masyarakat sipil Indonesia.</p>
<p>Lantas apa?</p>
<p>Jika kita perhatikan berbagai macam komik yang sebagian di antaranya sudah saya sebut di atas, ternyata ada keserupaan yang cukup kentara antara satu dengan yang lain, yakni kepahlawanan dan keberpihakan nyata dalam menegakkan hukum yang melindungi hak-hak manusia biasa/awam walau merisikokan keselamatan diri sendiri. Dalam hal ini, sosok Lucky Luke lebih dekat pada kenyataan tinimbang Superman yang berasal dari planet Krypton, atau Batman yang memiliki teknologi eksklusif hasil dukungan finansial korporasi Wayne, bahkan Asterix yang dibekali ramuan ajaib superkuat, yang kesemuanya secara gamblang langsung dimengerti hanya mampu hadir dalam dunia cerita. Lucky Luke adalah seorang manusia biasa yang memiliki ketrampilan menunggang kuda dan akurat dalam menembakkan peluru pistol, halmana bukanlah suatu keajaiban atau mukjijat, karena kemumpunian tersebut bisa dicapai oleh banyak manusia biasa lainnya berkat ketekunan berlatih.</p>
<p>Hanya saja, sebagaimana galibnya komik kartun, tentu saja hiperbolisme komis perlu diimbuhkan sebagai petanda bahwa dunia komik tetaplah suatu dunia yang lain. Maka, diciptakanlah sosok Lucky Luke yang populer ke seluruh penjuru dunia sebagai orang yang bisa menembak lebih cepat daripada bayangannya sendiri. Sesuatu yang mustahil menurut kaidah hukum-hukum optik di dunia nyata. Namun, alih-alih mempersoalkan keilmiahan komik, saya malah hendak &#8220;membesar-besarkan&#8221; kemustahilan tersebut <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Tidak sedikit komik kartun yang ternyata bukan sekedar bacaan ringan yang kosong makna. Sebaliknya, kita bisa memetik berbagai pelajaran kehidupan dari komik. Saya cukup meyakini hal itu sebab saya memiliki pandangan subjektif yang cukup stereotip bahwa kebanyakan penulis di belahan Barat sana seakan memiliki kewajiban moral untuk menyampaikan nilai-nilai kebajikan tertentu walau tidak ditampilkan secara telanjang melalui tulisan atau ucapan. Komik menjadi karikatur dari dunia nyata.</p>
<p>Lucky Luke adalah sosok koboi lugu yang tidak dihantui berbagai pikiran canggih. Logikanya lurus-lurus dan sederhana saja. Kalaupun ada pertimbangan yang menjadi dasar tindakannya, barangkali tidak jauh dari persoalan penegakan hukum (tentunya yang berlaku saat itu di dunia <em>wild west</em>) dan &#8230; belas kasih yang juga diberlakukannya pada para pelanggar hukum (yang merupakan anomali di alam liar yang menuntut hukum besi). Dua hal inilah yang —menurut pendapat saya— membuat Lucky Luke jadi menarik sebab merupakan antitesis bagi arketip koboi jagoan berdarah dingin seperti yang disodorkan banyak film.</p>
<p>Salah satu ciri lain yang seakan menjadi pola tipikal para pahlawan komik adalah ketiadaan pamrih. Tiada balas jasa yang mereka dambakan setelah menunaikan kewajiban mereka selaku <em>hero</em>. Secara komis, hal ini ditunjukkan oleh Lucky Luke yang segera mencongklang kuda setianya, Jolly Jumper, berlalu dari lokasi aksi kepahlawanannya menuju matahari terbenam sambil melantunkan senandung sepi &#8220;<em>I&#8217;m a poor lonesome cowboy, and a long way from home&#8230;</em>&#8220;</p>
<p>Demikianlah dunia komik. Sebuah karikatur terbalik yang menyodok dunia nyata.</p>
<p>Tapi, apakah dunia komik benar-benar bertolakbelakang dengan kenyataan kita di sini dan kini serta sekedar utopi khayali? Tidak juga.</p>
<p>Meski tidak populer dalam aksi spektakuler, apalagi yang berkelas dunia, sesungguhnya kita bisa menyua sosok-sosok seperti Lucky Luke dalam keseharian. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang memiliki kemampuan tertentu yang melampaui kebanyakan orang karena ketekunannya. Mereka juga bisa sakit dan terluka [lahir dan batin] seperti kita. Yang membuat perbedaan adalah keberanian mereka menanggung risiko untuk sendirian saat mengambil posisi sebagai perambah <a title="The Road not Taken" rel="lyteframe" rev="auto;" href="http://alof.hostrator.com/solilokui/the-road-not-taken.html">jalan yang enggan diambil</a> oleh kebanyakan orang. Mereka berani tampil beda bukan karena sekedar ingin berbeda, melainkan karena determinasi yang kuat untuk berdiri di atas pemahaman yang dinilainya benar walau dia tahu bahwa hal itu akan membenturkannya dengan keumuman. Mereka memang bukan manusia medioker (rata-rata, kebanyakan).</p>
<p>Biasanya, orang-orang seperti ini pada awalnya akan menghadapi hambatan ataupun penolakan dari khalayak di sekelilingnya. Umumnya, hal ini disebabkan oleh keengganan orang di sekitarnya untuk berubah. Jangankan untuk berubah, bahkan untuk memikirkan dan mengkajinya pun sudah malas. Padahal, belum tentu perubahan yang dimaksud adalah memulai sesuatu yang sama sekali baru, melainkan &#8220;sekedar&#8221; kembali ke jalur yang selayaknya diambil. Namun lingkungan kerapkali amat lamban dan lembam untuk bergerak dari status kemapanan yang dipandang sudah memadai dan baik.</p>
<p>Di sinilah metafora komis Lucky Luke yang &#8220;menembak lebih cepat dari bayangannya sendiri&#8221; terejawantahkan. Dan di sini pula berlaku kaidah alamiah bahwa mereka yang akhirnya terbawa arus perubahan sebagai penikmat perubahan itu sendiri pada akhirnya hanya akan tinggal sebagai bayang-bayang dari sang perambah jalan sampai satu saat muncul seorang perambah baru ketika perubahan tersebut kembali menjadi stagnan.</p>
<table class="captl" style="float:left;margin:10px 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a class="snap_noshot" title="Amani K-N-W" rel="lytebox" href="http://rumametmet.com/wp-content/uploads/2008/06/ama-ni-knw.JPG"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/DTA.jpg" alt="Amani K-N-W" width="147" height="204" /></a><br />
DTA, Amani K-N-W<br />
<a href="http://rumametmet.com/" target="_blank">rumametmet.com</a></td>
</tr>
</table>
<p>Barangkali saya termasuk kurang gaul sehingga tidak mengenal cukup banyak Lucky Luke di dunia nyata. Tetapi, dari sedikit yang saya tahu itu, saya menampak siluet yang kian nyata pada diri seorang Daniel Taruli Asi Harahap yang lebih akrab disapa DTA. Sejak mengenalnya melalui tulisan-tulisannya di <em>mailing list</em> (milis) <a href="http://groups.yahoo.com/group/hkbp/" target="_blank">hkbp@yahoogroups.com</a>, saya sudah merasakan aura keberaniannya dalam merambah jalan sepi, yang bahkan penuh onak dan belukar. Tidak sedikit orang yang menghadang pandangan-pandangannya dengan berbagai argumen, yang pada umumnya dilambari sikap curiga &#8220;ngapain repot-repot?&#8221;.</p>
<p>Tidak banyak —saya pikir— orang yang mau repot secara solo memikirkan dan menyusun berbagai macam rumusan perbaikan bagi sebuah lembaga sebesar HKBP. Apalagi dengan posisi yang disebutnya sendiri sebagai &#8220;pendeta kecil&#8221; yang jauh dari pusat dan pucuk kekuasaan serta tidak dititipi kuasa apa-apa. Jangankan menjadi tokoh sentral, bahkan status kependetaannya pun sempat mengambang tanpa kepastian selama setahun lebih. Sehingga, ketika beliau menyampaikan rancangan sistematis [dan teologis] perbaikan manajemen organisasi HKBP menjelang Sinode Godang yang baru lalu, ada saja orang yang menganggapnya berambisi menjadi petinggi HKBP. Seruannya agar anggota jemaat mengirimkan SMS untuk menguatkan semangat para pendeta dan perwakilan jemaat yang hadir ke Sinode pun ditanggapi sebagian orang dengan sinis.</p>
<p>DTA tetap bergeming. Dari rumah dinasnya di salah satu pojok Serpong, kembali beliau melontarkan himbauan yang sebenarnya sudah menjadi masalah klasik di berbagai gereja, yakni soal perayaan Natal yang dilangsungkan sebelum tanggal 25 Desember ketika masa Adven masih berjalan. Terang-jelas bahwa DTA punya hasrat menata kembali sikap lahir dan batin para anggota jemaat dalam ibadah (kerja bersama komunitas beriman) dan penghayatan ziarah iman sebagaimana sudah disusun secara cermat dan penuh pertimbangan dalam kalender gerejani/liturgi.</p>
<p>Bagi mereka yang sudi menelisik keindahan dan makna liturgi, tentu saja anjuran itu sangat menggairahkan sekaligus melegakan. Namun bagi mereka yang tidak mau repot mengoreksi kebiasaan salah-kaprah, tentu saja hal ini jadi menyebalkan. Berkuranglah kesempatan menghadiri banyak pesta yang diberi jubah Perayaan Natal. &#8220;Mana sempat lagi bernatalan di sana di sini jika waktunya sempit karena sudah dihadang pesta Tahun Baru?&#8221; [yang biasanya lebih meriah di kalangan orang Batak dibanding Natal apalagi Paska]. &#8220;Biarlah semua berjalan sebagaimana adanya sekarang&#8221;. &#8220;Sudah tradisi&#8221;. Demikian sebagian tanggapan kontra yang muncul.</p>
<p>Mengapa kita seakan abai pada hakikat minggu-minggu Adven sebagaimana dimaknai dan dihayati oleh orang-orang beriman sepanjang segala abad? Padahal kita menyatakan solidaritas kita dengan mereka sebagaimana disampaikan pada ajakan meneguhkan pengakuan iman setiap hari Minggu. Tidakkah kita sedia berbelarasa dengan orang-orang yang sebagian besar hidupnya berkutat dalam suasana &#8220;adven&#8221;, menantikan — mengharapkan — merindukan jawaban atas doa-doa sederhana bagi hidup sederhana mereka? Tidakkah terbersit sesal mendalam yang serasa tak berampun sehingga kita memerlukan pertobatan paling memedihkan dalam khusuk pengharapan agar layak untuk sekedar menyentuh jubah-Nya? Tidakkah kita cukup sabar merasai kerinduan yang amat-sangat sehingga terpanggil untuk tekun berbenah diri menyiapkan palungan hati bagi Firman yang hidup? Ataukah kita demikian jumawa menilai kepantasan diri sehingga akhirnya memutuskan untuk mempersingkat masa olah rohani ini? Tidakkah kita &#8230;</p>
<p>Ah, memang tidak mudah memaparkan persoalan ini dengan gamblang <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> . Kendati demikian, saya amat yakin bahwa hal ini bukanlah suatu kemustahilan.</p>
<p>Nyatanya, tidak kurang juga orang yang mendukung saran DTA sebagaimana terbaca dalam komentar-komentar di <a href="http://rumametmet.com/?p=1465" target="_blank">situsnya</a>. Sebab, sesungguhnya, yang diajukan DTA bukanlah gagasan yang sama sekali baru sehingga layak dikuliti habis-habisan. Pergumulan mengenai hal ini sudah cukup lama berlangsung di banyak tempat (sehingga saya katakan sebagai persoalan klasik) dan beberapa gereja sudah berhasil menerapkannya walau harus menyediakan cukup waktu dan kesabaran. Misalnya <a title="Perayaan Natal di GKI Pamulang" rel="lyteframe" rev="auto;" href="http://alof.hostrator.com/solilokui/perayaan-natal-di-gki-pamulang.html" target="_blank">Padré Jan Calvin Pindo</a> yang selama tujuh tahun tidak lelah-lelah &#8220;menyadarkan&#8221; anggota jemaat GKI Pamulang tentang kedudukan masa Adven dan perayaan Natal dalam kerangka siklus ziarah iman. Begitu pula halnya upaya penyadaran yang dilakukan <a title="Merayakan Natal Sebelum 25 Desember? Jangan Dong!" rel="lyteframe" rev="auto;" href="http://alof.hostrator.com/solilokui/merayakan-natal-sebelum-25-desember-jangan-dong.html" target="_blank">Padré Joas Adiprasetya</a> melalui tulisan-tulisannya yang bernas.</p>
<p>Melelahkan? Mungkin. Menjengkelkan? Boleh jadi. Tetapi, manalah pula ada karya besar yang tidak menuntut ikhtiar dan pengorbanan besar? Sebab kita bukan Tuhan yang cukup berkata &#8220;Jadilah!&#8221; ataupun &#8220;Kun faya kun!&#8221;.</p>
<p>Sebagaimana Lucky Luke yang tidak jemu-jemu &#8220;menggulung&#8221; komplotan Dalton bersaudara tanpa harus mengirimkan peluru mematikan ke tubuh mereka, demikian pula saya pikir yang dilakukan oleh DTA maupun beberapa rekan pendeta di HKBP maupun gereja lain dalam mengajar dan menggembalakan anggota jemaat agar memahami, mencintai, dan menghayati liturgi yang tidak lain adalah cerminan ziarah iman/spiritual yang hendaknya terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Walaupun yang mereka lakukan masih &#8220;lebih cepat daripada bayangannya sendiri&#8221;, semoga kian banyak orang yang berani memutuskan untuk mengambil jalan yang enggan dilalui oleh orang kebanyakan itu, sehingga satu saat nanti jalan setapak berbatu itu pun menjadi rata dan lapang sehingga tidak melukai lutut lembut kanak-kanak.</p>
<p>Ketika jalan itu mulai dilirik dan disusuri oleh kian banyak orang, bukannya tidak mungkin nama mereka tidak pernah dicatat dalam buku maupun ingatan, konon pula dielu-elukan. Sekian tahun ke muka, boleh jadi aksi mengembalikan gerbong ke relnya tersebut akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi. Kalaupun demikian yang harus terjadi, patutlah kesahajaan Lucky Luke menjadi cermin. Segera congklang kuda menuju mentari senja sambil menyenandungkan lagu-lagu yang tidak mengeringkan tulang.</p>
<p>Tidak berkurang kemuliaan-Nya karena kekurangmampuan kita menyukseskan perkara, tidak bertambah pula kemuliaan-Nya akibat keberhasilan kita. Sebab pertanyaannya bukanlah &#8220;<em>to be or not to be</em>&#8221; melainkan &#8220;adilkah kita dalam memegang hukum dan berbelaskasihkah kita saat menegakkannya?&#8221;. Di rentang ketegangan antara keduanyalah ujian sejati menyapa integritas kita agar kelak dapat kita ajukan jawaban takzim saat ditanyai, &#8220;Apakah engkau mengasihi-Ku?&#8221;.</p>
<p>Selamat berjuang, Lucky Luke, eh Padré Daniel. Janganlah jemu berikhtiar dan berupaya. Hanya para pemberani sejatilah yang sanggup melangkah di jalan setapak nan sepi. Dan bersukacitalah jika kelak berlaksa bayang orang berseru &#8220;Hei, kita berada di jalan yang tepat!&#8221; tanpa menyebut-nyebut nama anda.</p>
<p class="datex">— PinAng: Selasa, 14 Oktober 2008 03:38</p>
<br />Posted in ecce homo Tagged: ecce homo <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/464/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=464&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/10/14/merambah-jalan-sepi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/LuckyLuke.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Lucky Luke</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/DTA.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Amani K-N-W</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Godfather</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/14/the-godfather/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/14/the-godfather/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 08:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[familia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/14/the-godfather/</guid>
		<description><![CDATA[— Mitra Keluarga Godfather thegodfathertrilogy.com Tidak banyak film yang memiliki kekuatan sedemikian hingga mampu memosisikan diri sebagai legenda yang bertahan sampai sekian masa mendatang, melampaui kemampuan bertahan fisik maupun kilau ketenaran para pemerannya. Lebih sedikit lagi film yang karakter tokohnya &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/14/the-godfather/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=438&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Mitra Keluarga</h2>
<table class="captl" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a class="snap_noshot" title="Godfather" href="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/source/the-godfather-1-1024.jpg" rev="//www.moviewallpapers.net/images/wallpapers/1972/the-godfather/the-godfather-1-1024.jpg[/info][onLoadInfo=true][noTitleInfo=true]" rel="lytebox[GF]"><img height="280" alt="GodFather" src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/GodFather.jpg" width="200"></a><br />
<br />Godfather<br />
<a href="http://www.thegodfathertrilogy.com/" target="_blank">thegodfathertrilogy.com</a></td>
</tr>
</table>
<p>Tidak banyak film yang memiliki kekuatan sedemikian hingga mampu memosisikan diri sebagai legenda yang bertahan sampai sekian masa mendatang, melampaui kemampuan bertahan fisik maupun kilau ketenaran para pemerannya. Lebih sedikit lagi film yang karakter tokohnya sedemikian kuat sehingga kerap diasosiasikan secara langsung dengan pemerannya.</p>
<p>The Godfather (1972) besutan sutradara Francis Ford Coppola yang diangkat dari novel karya Mario Puzo adalah salah satu contoh terbaik (meski ada sigi yang menyatakan bahwa film ini adalah legenda nomor dua setelah Citizen Kane). Dalam hal ini, Marlon Brando adalah sang Godfather. Sehingga, meski sudah memiliki generasi penerus, tak seorang pun yang sanggup menggeser karisma Brando yang memerani Don Vito Corleone. Tidak Robert de Niro (Vito Corleone muda), tidak Al Pacino (Michael Corleone), tidak pula Andy Garcia (Vincent Mancini, yang diharapkan menjadi suksesor Michael Corleone). Padahal, mereka semua adalah aktor-aktor besar, bukan aktor kacangan ataupun pendatang baru. Godfather tetap saja dipandang identik dengan Brando dan demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Sebenarnya bukan soal film yang hendak saya bicarakan saat ini, melainkan soal istilah Godfather. Bagi kalangan mafia, Godfather adalah sosok bapak dan tuan yang punya kuasa memberi jaminan perlindungan dan pemeliharaan dalam segala hal bagi seseorang yang menyerahkan diri, menyatakan kesetiaan penuh, dan taat mutlak kepada sang penguasa. Hal ini terus berlaku selama orang itu tidak melanggar sumpahnya dan tidak menciderai hubungan kekeluargaan kelompok tersebut. Ibarat Faust dalam novel Goethe yang menjalin transaksi dengan Mephisto sang Iblis, perjanjian dengan sang penguasa dan keluarga besar mafia tersebut pun akan terus mengikat hingga putus napas.</p>
<p><span id="more-438"></span>
<p>Orang yang masuk dan diterima oleh keluarga mafia memiliki kewajiban berbakti pada keluarga mafia tanpa banyak hitungan. Semua yang diperintahkan atasannya, apalagi jika sang pemimpin sendiri yang menyampaikannya, dipandang sebagai kewajiban yang tidak boleh dipertanyakan apalagi ditolak. Di sisi lain, sang pemimpin wajib memfasilitasi kebutuhan hidup orang tersebut berikut keluarganya. Dalam hal ini, selain yang berurusan dengan persoalan ekonomi, juga perlindungan dari berbagai ancaman hukum maupun fisik.</p>
<p>Begitulah kontrak idealnya. Tetapi, pada kenyataannya, ada saja anggota yang berkhianat maupun pemimpin yang tidak menganggap anggotanya lebih berharga dibanding kepentingan sang pemimpin ataupun keluarga walau orang itu tidak melanggar perjanjian <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Bisa jadi akibat kesuksesan film tersebut maka istilah Godfather jadi melekat pada dan langsung diasosiasikan dengan pemimpin mafia di Amerika (yang acapkali disamakan begitu saja dengan gangster). Sementara, sewaktu kecil dan belum mengenal yang disebut mafia, saya menyangka bahwa Godfather adalah sebutan untuk Allah Bapa berdasarkan penerjemahan secara literal.</p>
<p>Padahal, istilah tersebut bukan diinisiasi oleh para mafiosi, melainkan diadopsi dari lingkup Gereja Katolik Roma, yakni sebutan yang diberikan kepada orang yang menjadi Bapa Baptis (Bapa Serani) seseorang yang menerima baptisan. Penggunaan istilah ini oleh kalangan mafia bisa dimaklumi jika kita menilik latarbelakang agama mereka yang bercikal-bakal dari Italia (lebih tepatnya lagi: kawasan Sisilia).</p>
<p>Baptis bagi umat Katolik [dan Kristen pada umumnya] merupakan inisiasi memasuki keluarga Allah dan terikat perjanjian kekal dengan-Nya. Memang mirip dengan masuknya seseorang ke dalam lingkaran keluarga mafia, yang penyerahan diri dan sumpah setianya menjadi tanda &#8220;pembaptisan&#8221; yang dimeteraikan dengan <a class="snap_noshot" title="Godfather" href="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/source/godfather.jpg" rev="//www.jaunted.com/files/admin/godfather.jpg[/info][onLoadInfo=true][noTitleInfo=true]" rel="lytebox[GFCincin]">mencium cincin sang Don</a><a class="snap_noshot" title="Godfather" href="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/source/18660525.jpg" rev="//img5.allocine.fr/acmedia/medias/nmedia/18/35/24/16/18660525.jpg[/info][onLoadInfo=true][noTitleInfo=true]" rel="lytebox[GFCincin]"></a> (mirip dengan umat Katolik yang mencium cincin Uskup atau Paus <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p>Dalam prosesi Sakramen Baptis di Katolik &mdash;khususnya yang dilayankan pada anak kecil&mdash; orangtua sang anak tidak menjalaninya sendirian, melainkan didampingi pasangan suami-istri yang bertindak sebagai <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Godparent#Roman_Catholic_Church" target="_blank">Orangtua Baptis</a> (<em>Godparent</em>: Godfather dan Godmother) bagi sang anak (disebut Godchild, Godson atau Goddaughter). Keberadaan dan status mereka dicatat secara resmi dalam surat baptis yang diterbitkan oleh gereja.</p>
<p>Saya yakin ada peran khusus bagi mereka yang dipandang penting oleh gereja. Kalau tidak, untuk apa repot-repot membuat skenario semacam itu? Menurut penjelasan Bapak saya, sejatinya mereka akan berperan sebagai orangtua <strong>juga</strong> bagi sang anak, yang mendampingi orangtua kandungnya dalam banyak hal, bukan hanya dalam hal-hal yang bersifat kerohanian melainkan juga hingga ke masalah kebutuhan fisikalnya. Persis seperti orangtua kandung, kecuali dalam hal-hal yang benar-benar menjadi urusan dan kewenangan khusus keluarga asli. Maka, Bapak saya menyatakan adalah keterlaluan jika Orangtua Baptis tidak ingat tanggal lahir Anak Baptisnya.</p>
<p>Pendeknya, Orangtua Baptis berkewajiban memantau dan mengikuti perkembangan sang anak serta terlibat sebagai mitra orangtua kandung dalam membekali seorang manusia baru memasuki dunianya sendiri. Secara sepintas terlihat bahwa hal ini memberikan banyak dukungan positif bagi semua pihak apabila masing-masing pelaku menjalankan perannya sesuai dengan proporsinya.</p>
<p>Pengandaian itulah yang sempat melintas di benak saya tatkala menghadiri prosesi pembaptisan anak teman Riris di GKI Kebayoran Baru pagi tadi. Dua anaknya dibaptis berbarengan. Dan yang membawa mereka maju ke altar hanyalah ibunya saja sebab ayah mereka sudah meninggal beberapa bulan yang lalu akibat kanker. Ketika kami memberikan selamat di pintu keluar gereja, sang ibu nyaris tidak bisa membendung airmata karena terkenang pada almarhum suaminya yang tidak ada di sisinya pada momen bersejarah tersebut.</p>
<p>Mengapa saya harus berandai-andai? Apakah tanpa Orangtua Baptis maka sang ibu tidak akan mampu menjaga dan memelihara anak-anaknya? Tidak. Sama sekali tidak! Bukan itu maksud saya. Ada banyak bukti nyata bahwa orangtua tunggal tidaklah identik dengan ketidakmampuan mengurus anak dan keluarga. Sebaliknya, tidak sedikit anak-anak dari keluarga semacam itu yang malah berhasil dalam hidupnya.</p>
<p>Namun, di sisi lain, merupakan sebuah kewajaran jika seorang manusia memerlukan orang lain yang bersedia diajak bicara tentang hal-hal yang sangat pribadi dan peka, yang tidak perlu diketahui orang lain. Itu sebabnya anak-anak muda umumnya memiliki sobat untuk curhat, suami memiliki istri dan sebaliknya, yang pada dasarnya memiliki kepentingan yang sama terhadap persoalan yang dibahas atau memiliki saling ketergantungan satu terhadap yang lain.</p>
<p>Tetapi, kepada siapakah seorang orangtua tunggal pergi mengadu? Apalagi jika mereka dihadapkan pada keterbatasan waktu, pengetahuan, kemampuan, biaya, dan sebagainya. Terlebih-lebih jika keterbatasan-keterbatasan tersebut justru merupakan faktor yang turut mewarnai persoalan yang timbul antara sang orangtua dengan anaknya.</p>
<p>Kepada teman atau sahabat? Bisa saja. Sayangnya, mereka pada umumnya tidak memiliki panggilan moral untuk selalu siap menopang beban hati. Paling banter, ngobrol sesekali ataupun membantu tanpa harus terlibat secara pribadi. Bagaimana dengan kakek-nenek sang anak? Selain berbeda &#8220;dunia&#8221; dan &#8220;bahasa&#8221;, mereka pun acapkali kurang bisa mengambil jarak objektif terhadap persoalan yang berlangsung antara anaknya dengan cucunya. Akibatnya, malah sering memperuncing masalah.</p>
<p>Bagaimana dengan Pastor atau Pendeta? Wah, susah, karena mereka tidak jarang bersikap normatif dan menggurui [bahkan menghakimi], bukannya sebagai kawan. Kepada anggota jemaat lain? Walah! Bisa-bisa menimbulkan masalah baru karena menjadi bahan pergunjingan. Apalagi mereka semua tidak mengetahui secara cukup rinci proses yang berlangsung.</p>
<p>Kepada Tuhan? Sudahlah pasti. Hanya saja, manusia kerapkali merasa butuh sosok yang tampak secara visual dan bisa memberikan tanggapan secara langsung.</p>
<p>Lalu, siapa orang yang secara etis dianggap layak mengemban tanggung jawab menjaga kerahasiaan keluarga seraya membantu menjernihkan serta menyelesaikan persoalan yang sangat pribadi semacam itu? Siapa yang mau bersukarela menempatkan diri di posisi orangtua sebagaimana layaknya orangtua asli?</p>
<p>Peran itulah yang seyogianya dilakoni oleh para Orangtua Baptis, demikian Bapak saya kerap menyampaikan pandangannya saat beliau masih cukup sehat untuk menunaikan kewajibannya selaku seorang Prodiakon. Hanya saja saya sangsi ada cukup banyak orang yang sungguh-sungguh melakoni peran tersebut sebagaimana diidealkan Bapak (dan hal ini pun diakui beliau), kecuali mereka yang juga memiliki hubungan kekeluargaan secara nyata. Tetapi, hubungan keluarga pun ternyata bukanlah sebuah jaminan. Di dunia nyata ini, tidak sedikit keluarga yang tidak terpelihara kekerabatannya. Jangan kata diminta untuk ikut berbagi beban.</p>
<p>Saya pun kurang yakin bahwa mereka yang secara legal-formal-gerejani telah tercatat sebagai Orangtua Baptis tersebut sebenarnya cukup memahami makna peran yang diembannya. Ada berapa banyak Orangtua Baptis yang benar-benar bisa menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga Anak Baptisnya berikut tanggungjawab yang disandangnya? Faktanya, saya sendiri tidak pernah diberi penjelasan oleh pihak gereja ketika menjadi Orangtua Baptis bagi keponakan saya, apalagi dimintai konfirmasi mengenai kesanggupan menjadi Orangtua Baptis. Hanya penjelasan dari Bapak sayalah yang jadi pegangan saya. Itu pun saya diskusikan terlebih dahulu dengan kedua orangtua si anak.</p>
<p>Saya khawatir, jangan-jangan malah tidak ada orang yang mau menjadi Orangtua Baptis jika kepadanya disampaikan &#8220;beban berat&#8221; yang akan dipikulnya. Walhasil, menurut pandangan saya, peran tersebut di masa kini cenderung menjadi sebuah formalitas belaka, yang tidak bermakna apa-apa seusai prosesi pembaptisan.</p>
<p>Membandingkan Godfather kaum mafia dengan Godfather pembaptisan di Katolik, tampaknya kalangan mafioso sudah lebih berhasil menerjemahkan posisi Godfather bagi sang anak ke dalam perilaku nyata. Meskipun relasi yang terbangun antara keduabelah pihak jadi berlebihan &mdash;yakni kesetiaan mutlak kepada kekuasaan tak terbatas sang pemimpin terhadap seluruh hidup dan mati sang anak&mdash;, ikatan dan pengejawantahannya dalam kehidupan merupakan sesuatu yang amat nyata tinimbang sekedar prosesi dan pencatatan di selembar kertas akta baptis.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah pernah terpikirkan tentang pendudukan kembali peran Godparent dalam sebuah keluarga Katolik. Entahlah. Itu urusan yang jauh dari kemampuan saya untuk menggelutinya. Yang jelas, saya masih terus bertanya-tanya tentang siapa orang yang akan mengambil peran sebagai Godparent (tanpa harus diformalkan) bagi kedua anak teman Riris yang masih demikian panjang perjalanannya ke masa depan. Tentu saja tanpa mereduksi bahkan menihilkan posisi orangtua kandung sang anak sebagai Godparent yang sesungguhnya, sebagaimana de Niro maupun Pacino maupun Garcia yang tidak akan bisa menggeser kedudukan Brando.</p>
<p>Terutama pada saat dunia ini tampak demikian tidak bersahabat, betapa melegakan memiliki orang yang bersedia berdiri di samping kita.</p>
<p class="datex">&mdash; PinAng: Minggu, 14 September 2008 15:27</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/438/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=438&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/14/the-godfather/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/GodFather.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">GodFather</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuh Tahun yang Lalu</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/11/tujuh-tahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/11/tujuh-tahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 16:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[ecce homo]]></category>
		<category><![CDATA[risalah kedunguan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/11/tujuh-tahun-yang-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[— Macapat Kelabu Satu Bangsa Sun Shines in New York askquestions911.com 1st Plane Approaching jimrlong.com 2nd Plane Approaching 911research.wtc7.net Twin Towers on Fire britannica.com Smoke in The Sky gallupindependent.com Collapse debunk911myths.org Survivor shieldofblue.com Shattered Dreams, Broken Lives illinoisphoto.com New York &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/11/tujuh-tahun-yang-lalu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=425&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Macapat Kelabu Satu Bangsa</h2>
<div align="center">
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="http://i196.photobucket.com/albums/aa272/crazyheart331/TwinTowersNewYork.jpg" title="Sun Shines in New York" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911SunShines.jpg" alt="Sun Shines in New York" width="132" height="200"></a><br />
    Sun Shines in New York<br />
    <a href="http://www.askquestions911.com/ask-questions-911/" target="_blank">askquestions911.com</a></td>
<td><a href="http://www.jimrlong.com/Patriotic/911/WTC1stplanejustbeforeitcrashes.jpg" title="1st Plane Approaching" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Plane1.jpg" alt="1st Plane Approaching" width="131" height="200"></a><br />
    1st Plane Approaching<br />
    <a href="http://www.jimrlong.com/september_11_2001_9-11-2001.htm" target="_blank">jimrlong.com</a></td>
<td><a href="http://911research.wtc7.net/essays/gopm/docs/lead_lg.jpg" title="2nd Plane Approaching" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Plane2.jpg" alt="2nd Plane Approaching" width="157" height="200"></a><br />
    2nd Plane Approaching<br />
    <a href="http://911research.wtc7.net/essays/gopm/indexg.html" target="_blank">911research.wtc7.net</a></td>
</tr>
</table>
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="http://www.britannica.com/blogs/wp-content/uploads/2007/09/image3.jpg" title="Twin Towers on Fire" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911OnFire.jpg" alt="Twin Towers on Fire" width="175" height="200"></a><br />
    Twin Towers on Fire<br />
    <a href="http://www.britannica.com/blogs/2007/09/islam-and-the-west-six-years-after-911/" target="_blank">britannica.com</a></td>
<td><a href="http://www.gallupindependent.com/1999-2001/tn-9-11-01.JPEG" title="Smoke in The Sky" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911OnSmoke.jpg" alt="Smoke in The Sky" width="142" height="200"></a><br />
    Smoke in The Sky<br />
    <a href="http://www.gallupindependent.com/1999-2001/9-12-01.html" target="_blank">gallupindependent.com</a></td>
<td valign="top"><a href="http://www.debunk911myths.org/t/images/4/44/Wtc7_collapse_damage.jpg" title="Collapse" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Collapse.jpg" alt="Collapse" width="150" height="200"></a><br />
    Collapse<br />
    <a href="http://www.debunk911myths.org/topics/Image:Wtc7_collapse_damage.jpg" target="_blank">debunk911myths.org</a></td>
</tr>
</table>
</div>
<p><span id="more-425"></span>
<div align="center">
<table>
<tr class="capt">
<td valign="top"><a href="http://shieldofblue.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/911-picture-1f.jpg" title="Survivor" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Survivor.jpg" alt="Survivor" width="146" height="200"></a><br />
    Survivor<br />
    <a href="http://shieldofblue.com/" target="_blank">shieldofblue.com</a></td>
<td><a href="http://www.illinoisphoto.com/pictures/d/155864-2/911-rubble" title="Shattered Dreams, Broken Lives" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911ShatteredDreamsBrokenLives.jpg" alt="Shattered Dreams, Broken Lives" width="131" height="200"></a><br />
    Shattered Dreams, Broken Lives<br />
    <a href="http://www.illinoisphoto.com/main/v/military-photos/911+photos/act+of+war/911-rubble.html" target="_blank">illinoisphoto.com</a></td>
<td valign="top"><a href="http://www.arlingtoncemetery.net/firemen-01.jpg" title="New York Heroes" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Heroes.jpg" alt="New York Heroes" width="136" height="200"></a><br />
    New York Heroes<br />
    <a href="http://www.arlingtoncemetery.net/pentagon-attack.htm" target="_blank">arlingtoncemetery.net</a></td>
</tr>
</table>
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="http://www.packrat-pro.com/911/911angel.jpg" title="911 Angel" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Angel.jpg" alt="911 Angel" width="196" height="200"></a><br />
    911 Angel<br />
    <a href="http://www.packrat-pro.com/911/911.htm" target="_blank">packrat-pro.com</a></td>
<td><a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/35/State_Department_Images_WTC_9-11_The_Twin_Towers_(Right).jpg" title="Aftermath" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Aftermath.jpg" alt="Aftermath" width="253" height="200"></a><br />
    Aftermath<br />
    <a href="http://commons.wikimedia.org/wiki/Image:State_Department_Images_WTC_9-11_The_Twin_Towers_(Right).jpg" target="_blank">wikimedia.org</a></td>
</tr>
</table>
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="http://www.coronanorco.com/America/cartoon9-17.jpg" title="Nation Hand in Hand" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911HandInHand.jpg" alt="Nation Hand in Hand" width="515" height="350"></a><br />
    Nation Hand in Hand<br />
    <a href="http://www.coronanorco.com/America/" target="_blank">coronanorco.com</a></td>
</tr>
</table>
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="http://gothamist.com/attachments/jen/2007_09_healingfield.jpg" title="Healing Field" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911HealingField.jpg" alt="Healing Field" width="302" height="200"></a><br />
    Healing Field<br />
    <a href="http://gothamist.com/2007/09/11/september_11_6t.php" target="_blank">gothamist.com</a></td>
</tr>
</table>
<table cellspacing="10">
<tr>
<td colspan="2" align="center">
<h2>Ground Zero &#8212; Tribute in Light</h2>
</td>
</tr>
<tr class="capt">
<td><a href="http://www.911hotline.com/NY3.jpg" title="Ground Zero" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero1.jpg" alt="Ground Zero" width="267" height="200"></a><br />
    <a href="http://www.911hotline.com/" target="_blank">911hotline.com</a></td>
<td><a href="http://www.af.mil/shared/media/photodb/photos/060911-F-9471G-006.JPG" title="Ground Zero" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero3.jpg" alt="Ground Zero" width="133" height="200"></a><br />
    <a href="http://www.af.mil/photos/index.asp?galleryID=67&amp;page=2" target="_blank">af.mil</a></td>
</tr>
</table>
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="http://nymag.com/daily/intel/20061214wtc.jpg" title="Ground Zero" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero2.jpg" alt="Ground Zero" width="133" height="200"></a><br />
    <a href="http://nymag.com/daily/intel/2006/12/911_name_fight_drags_on_1.html" target="_blank">nymag.com</a></td>
<td><a href="http://www.911hotline.com/NY2.jpg" title="Ground Zero" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero4.jpg" alt="Ground Zero" width="279" height="200"></a><br />
    <a href="http://www.911hotline.com/" target="_blank">911hotline.com</a></td>
</tr>
</table>
</div>
<div id="cite">
<p align="center">Heaven 9-11<br />
<a href="http://www.youtube.com/v/z1TVWvsiteQ#" target="_blank">youtube.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<div align="center">
<table cellspacing="10">
<tr class="capt">
<td><a href="https://www.securehost-ssl.com/fireandrescuedecals/images/fr-081.gif" title="Never Forget" class="snap_noshot" rel="lytebox[911]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911NeverForget.jpg" alt="Never Forget" width="286" height="200"></a><br />
    Never Forget<br />
    <a href="https://www.securehost-ssl.com/fireandrescuedecals/index.php?cPath=26" target="_blank">fireandrescuedecals</a></td>
</tr>
</table>
</div>
<p class="datex">&#8212; PinAng: 9 September 2008 23:57</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/425/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/425/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=425&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/11/tujuh-tahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911SunShines.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sun Shines in New York</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Plane1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1st Plane Approaching</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Plane2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2nd Plane Approaching</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911OnFire.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Twin Towers on Fire</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911OnSmoke.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Smoke in The Sky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Collapse.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Collapse</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Survivor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Survivor</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911ShatteredDreamsBrokenLives.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Shattered Dreams, Broken Lives</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Heroes.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">New York Heroes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Angel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">911 Angel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911Aftermath.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aftermath</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911HandInHand.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nation Hand in Hand</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911HealingField.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Healing Field</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ground Zero</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ground Zero</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ground Zero</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911GroundZero4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ground Zero</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/911NeverForget.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Never Forget</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bianglala Kehidupan</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/10/bianglala-kehidupan/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/10/bianglala-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 05:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[di balik nada]]></category>
		<category><![CDATA[ecce homo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/10/bianglala-kehidupan/</guid>
		<description><![CDATA[— Merentang Busur Asa dan Juang Rare Rainbow nationalgeographic.com Entah kenapa, sepekan ini saya berulangkali memutar lagu Somewhere over The Rainbow, persis kelakuan orang sedang kasmaran yang tidak jemu mendendangkan lagu cinta yang sama sampai-sampai orang lain naik pitam karena &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/10/bianglala-kehidupan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=229&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Merentang Busur Asa dan Juang</h2>
<table class="captl" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a class="snap_noshot" title="Rare Rainbow (Idaho, June 19, 2006)" rel="lytebox[rainbow]" href="http://news.nationalgeographic.com/news/2006/06/images/060619-rainbow-fire_big.jpg"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/RainbowRare.jpg" alt="Rare Rainbow (Idaho, June 19, 2006)" width="269" height="175" /></a><br />
Rare Rainbow<br />
<a href="http://news.nationalgeographic.com/news/2006/06/060619-rainbow-fire.html" target="_blank">nationalgeographic.com</a></td>
</tr>
</table>
<p>Entah kenapa, sepekan ini saya berulangkali memutar lagu <span style="text-decoration:underline;">Somewhere over The Rainbow</span>, persis kelakuan orang sedang kasmaran yang tidak jemu mendendangkan lagu cinta yang sama sampai-sampai orang lain naik pitam karena bosan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  . Padahal saya tidak sedang mengalami <em>mood</em> tertentu yang ada hubungannya dengan pelangi, konon pula dengan rasa kasmaran.</p>
<p>Sudah agak lama saya ingin tahu siapa yang menyanyikan lagu yang terdengar sederhana. Apalagi penyajiannya hanya diiringi kocokan khas pada ukulele, sebuah alat musik yang boleh dibilang sama sekali tidak elit dan prestisius bagi para pesohor musik. Benar-benar lagu yang sederhana.</p>
<p>Beberapa kali saya mendengar lagu itu digunakan sebagai musik ilustrasi film. Yang masih saya ingat adalah <a href="http://www.sonypictures.com/homevideo/50firstdates/" target="_blank">50 First Dates</a> yang diperani oleh Adam Sandler dan Drew Barrymore (tentu saja bersama sobat kental Sandler, Rob Schneider) serta <a href="http://www.meetjoeblack.com" target="_blank">Meet Joe Black</a> yang dibintangi Brad Pitt dan Anthony Hopkins. Juga sebuah film lain yang saya lupa judul dan ceritanya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  , hanya ingat adegan akhirnya dimana kamera yang berada di ketinggian angkasa menyorot sang tokoh yang berdiri di puncak sebuah bukit.</p>
<p>Karena film-film itu bicara tentang nilai indah harapan dan perjuangan serta penghargaan terhadap kehidupan, terlepas dari tragedi apa pun yang mengiringi dan menggerogoti, tentu sangat menarik untuk mengetahui mengapa lagu sederhana itu dipilih. Namun kali ini saya tidak hendak bicara tentang film-film tersebut walau ada sesuatu yang sangat dalam yang bisa diulas. Lain kali saja.</p>
<p><span id="more-229"></span>Satu ketika, Riris membuat sebuah demo iklan untuk media TV yang dihiasi lagu tersebut. Kontan rasa penasaran saya jadi makin tergugah. Sayangnya, Riris tidak bisa memberikan informasi banyak tentang lagu tersebut. Bodohnya pula saya saat itu tidak segera bertanya pada Mr. Google yang mahasakti dalam soal informasi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  . Walhasil, rasa ingin tahu itu tetap tinggal sebagai kerikil samar-samar dalam hati selama sekian lama.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu, sewaktu mengunggah (<em>upload</em>) lagu-lagu ke internet, saya teringat pada lagu yang menurut saya cukup ajaib itu. Kali ini, tanpa menunda-nunda lagi, saya langsung takzim menghadap Mr. Google. Dalam hitungan kurang dari 1 detik, ribuan informasi segera membanjiri layar komputer. Dari sana, saya singgah ke perpustakaan WikiPedia untuk mencari informasi lebih dalam, serta menyambangi situs YouTube untuk mendapatkan efek visual. Dan tentu saja tidak lupa memasukkan lagu tersebut ke dalam daftar lagu untuk blog ini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  .</p>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a class="snap_noshot" title="Israel Kamakawiwo'ole" rel="lytebox[rainbow]" href="http://lyricwiki.org/images/c/cd/Israel_Kamakawiwo%27ole_-_Facing_Future.jpg"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/IsraelKamakawiwoole.jpg" alt="Israel Kamakawiwo'ole" width="200" height="133" /></a><br />
<a href="http://iz.honoluluadvertiser.com">Israel &#8220;Iz&#8221; Ka&#8217;ano&#8217;i Kamakawiwo&#8217;ole</a></td>
</tr>
</table>
<p>Baru saya tahu bahwa lagu itu digubah dan dipopulerkan oleh seorang &#8220;raksasa&#8221; dari Hawaii bernama Israel Ka&#8217;ano&#8217;i Kamakawiwo&#8217;ole yang akrab disapa Iz. Kisah hidupnya cukup menarik. Selain menjadi seniman yang tekun memopulerkan musik khas Hawaii, Iz juga adalah seorang pejuang yang gigih menyerukan kebebasan dan hak-hak orang Hawaii.</p>
<p>Demikian besar determinasi dan upayanya, sehingga pada akhir hayatnya dia menjadi orang ketiga (tetapi rakyat biasa pertama) yang jenasahnya mendapat penghormatan disemayamkan di gedung pusat pemerintahan Honolulu. Bendera Hawaii pun dikibarkan setengah tiang pada hari pemakamannya. (Jadi ingat Bob Marley yang juga sering dianggap sebagai pahlawan orang Jamaika.) Selain raksasa dalam ukuran badan, ternyata Iz juga adalah seorang raksasa dalam musik serta perjuangan kesetaraan hak-hak sipil orang Hawaii.</p>
<p>Tentang lagu itu sendiri; secara mengagumkan Iz menyisipkan syair lagu &#8220;What a Wonderful World&#8221; gubahan Louis Armstrong Jr. di tengah-tengah syair lagunya. Lagu Armstrong yang berjiwa jazz/blues tersebut masuk dengan mulus dan cantik ke dalam irama hawaiian yang menjadi karakter lagu Iz. Lagu yang kemudian kerap dijuduli <a title="Somewhere over The Rainbow/What a Wonderful World" rel="lyteframe" rev="auto;" href="http://alof.hostrator.com/solilokui/somewhere-over-the-rainbow.html" target="_blank">Somewhere over The Rainbow/What a Wonderful World</a> itu pun populer ke seantero dunia. Bahkan hingga saat ini, setelah kematian Iz sekitar satu dekade lalu. Selain dinyanyikan banyak orang dan <a href="http://www.youtube.com/results?search_query=over+the+rainbow" target="_blank">penyanyi sohor</a> dari berbagai genre musik, juga menjadi lagu latar berbagai film dan <a href="http://iz.honoluluadvertiser.com/izaroundtheworld.html" target="_blank">iklan</a> di berbagai negara.</p>
<table class="captl" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a class="snap_noshot" title="Digital Rainbow" rel="lytebox[rainbow]" href="http://www.digitalrevolutions.biz/works/rainbow_1600.jpg"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/RainbowDigital.jpg" alt="Digital Rainbow" width="233" height="175" /></a><br />
Digital Rainbow<br />
<a href="http://www.digitalrevolutions.biz/rainbow-abstract-wallpaper/2008/04/04/" target="_blank">digitalrevolutions.biz</a></td>
</tr>
</table>
<p>Sekarang soal pelangi. Sejatinya, tidak satu pun dari kita —kecuali saudara-saudara yang tunanetra ataupun butawarna— asing pada pelangi serta keindahannya. Memang pelangi hanyalah sebuah fenomena optik yang bisa dijelaskan secara masuk akal oleh ilmu fisika sehingga tidak dianggap sebagai mukjijat. Namun, sekian masa yang lampau, pelangi dipandang sebagai tanda yang dilambari sifat keilahian. Bahkan menjadi meterai perjanjian damai antara Tuhan dan manusia melalui Nuh, demikian Alkitab bertutur perihal fenomena indah alam yang saat itu belum terjelaskan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Maka bisa dipahami mengapa pelangi hampir selalu dikaitkan dengan kebaikan. Malahan dalam dongeng kanak-kanak, sering digambarkan sebagai busur rejeki yang di kakinya tergeletak seguci emas ataupun sepeti harta karun. Pada intinya, nyaris tidak ada metafora yang menggunakan pelangi untuk keburukan. Paling banter netral-netral saja sebagai kias keragaman ataupun dinamika asam-garam kehidupan.</p>
<p>Pelangi adalah simbol keindahan-tiada-tara dunia ini. Segala sesuatu demikian indah dalam harmoni bak sebuah simfoni agung. Maka, rasa haru saya cukup tergetar saat melihat klip video yang lagunya dilantunkan suara kanak-kanak <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aselin_Debison" target="_blank">Aselin Debison</a> (silakan klik <a href="http://www.youtube.com/watch?v=gkOW6OvqsxY#" target="_blank">ini</a> ataupun <a href="http://www.youtube.com/watch?v=txEhEw3sfQQ#" target="_blank">ini</a>).</p>
<p>Sialnya, bukan klip video manis tersebut yang pertamakali saya temukan dan buka di situs YouTube <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  , melainkan video ilustrasi di bawah ini.</p>
<div id="cite" style="text-align:center;">
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=lLGtiK5H3j0#" target="_blank">youtube.com</a></div>
<p>Entah siapa yang membuatnya, namun dengan jitu memparodikan 180° seluruh syair tentang keindahan yang semula nikmat didendangkan. Dan naasnya, justru itulah kenyataan dunia saat ini! Walhasil, lagu yang semula membuat saya penasaran itu kini malah membuat saya terjerembab dalam renung kesesakan. Benarkah dunia ini demikian indah tiada tara? Ataukah semua itu hanya dongeng pengantar tidur kanak-kanak?</p>
<p>Dan ketika menyimak liriknya, saya terpukau pada frasa pendek yang disodorkan Iz di akhir syairnya. Begitu singkat sehingga tidak menonjol, bahkan seperti sambil lalu. Namun, entah kenapa, saya merasa, justru pada frasa pendek itulah terkristalkan jiwa lagu tersebut.</p>
<p>Adalah sebuah gugatan besar yang mendasar tatkala seseorang mempertanyakan kenyataan tidak diijinkan memasuki berbagai hal indah dan menyenangkan yang berani [dan boleh] diimpikan orang lain. Seluruh keindahan yang kerap dikisahkan orang lain tinggal sebagai dongeng yang bahkan terlarang untuk dimimpikan, konon pula dinyatakan. Sebagian orang seakan berhadapan dengan dinding cadas yang membatasinya dari kebebasan dan keutuhan manusia yang asasi. Dalam hal ini saya bisa memahami maknanya dalam kaitan perjuangan Iz bagi hak-hak orang-orang asli Hawaii yang terbedakan dengan orang kulit putih.</p>
<p>Gugatan semacam itu membuat saya resah tatkala merefleksikannya ke dalam kehidupan di sini dan kini.</p>
<p>Saya percaya bahwa sesungguhnya dunia dan kehidupan ini amatlah indah. Penuh warna bagai pelangi, yang dalam lagu kanak-kanak dinyatakan sebagai ciptaan Tuhan. (Bukankah dunia dan hidup ini memang ciptaan Tuhan?) Pelangi adalah gambaran keragaman berbagai hal yang kita hadapi setiap saat dalam kehidupan. Kita bisa saja melihat sesuatu yang sama, tetapi belum tentu kita membaca makna dan memiliki rasa yang sama tentangnya. Demikianlah halnya semua kenyataan yang berlintasan di hadapan kita. Amat berwarna dan seharusnya amat menggairahkan. Bahkan setiap orang pun berhak memiliki pelanginya sendiri, tempat dia menyisipkan harapan dan mimpi-mimpi.</p>
<p>Sayangnya, kerapkali kita sulit menerima keberadaan orang lain yang memiliki &#8220;warna&#8221; berbeda dengan yang kita gemari. Entah bagaimana caranya menikmati keindahan pelangi yang hanya terdiri dari satu warna. Dan entah warna mana pula yang pantas dihadirkan. Setiap orang akan bertikai mempertahankan kubu masing-masing.</p>
<p>Pelangi kehidupan memang tidak seindah pelangi alam. Tidak musti selalu berwarna cerah semarak. Begitulah galibnya kehidupan. Namun, pelangi kehidupan ini acap berlumur lumpur hitam yang bukannya tidak jarang kita sendiri yang melaburkannya atau —lebih celaka— dilakukan satu orang terhadap lain orang. Tak perlu kita sangkal kenyataan tentang sebagian orang yang —entah dengan cara bagaimana— punya kuasa menentukan, menodai, atau bahkan merebut pelangi orang lain. Di sisi lain, tidak sedikit orang lain yang sudah tidak tahu lagi bagaimana menghayati pelangi kehidupannya yang sudah tergadaikan oleh belenggu keseharian. Di antara keduanya terentang ketegangan tak terdamaikan yang mungkin belum akan berakhir hingga hayat berpamitan pada raga.</p>
<p>Seandainya saja setiap orang mau berpadan diri dalam harmoni bagai nada-nada yang terangkai dalam sebuah lagu, niscaya semua akan menjadi pelangi yang anggun mewarnai kehidupan. Betapa indah dunia ini jika berjuta pelangi saling bertaut menyumbangkan keindahan masing-masing.</p>
<p>Pelangi memang belum menjadi tanda perdamaian dan kebaikan yang dijanjikan bagi seluruh insan. Namun kehidupan terus berjalan tanpa henti, tak jemu menantang orang-orang untuk tidak pernah menyerah hingga mencapai kaki pelangi. Di baliknyalah barangkali akan ditemukan keindahan sejati, bukannya kesemuan penuh gincu demi mematut penampilan dan kenikmatan tamak. Barangkali di sanalah bisa disua kedamaian dalam kesahajaan yang tidak canggih, tatkala setiap orang sedia berbagi dengan sesamanya, sehingga tak ada lagi orang yang masih harus berjuang menggugat hak-hak asasinya, termasuk untuk bermimpi.</p>
<p>Di sanalah mungkin Iz kini berada, bernyanyi riang dengan ukulelenya. Entah pula jika hal itu berarti telah terpenuhinya janji perdamaian antara Tuhan dengannya, sehingga pelanginya bukan lagi sekedar sebuah busur cahaya yang dipendarkan kristal air sebagai sebuah fenomena fisika biasa semata, bukan pula sebuah angan yang terbelenggu. <em>Somewhere over the rainbow, dreams really do come true.</em></p>
<p>Sekarang saya bisa menarik hikmah dari parodi video ilustrasi tersebut tentang kenyataan dunia yang amat bertolakbelakang dengan keindahan di balik pelangi. Kendati demikian, bagi saya, lagu legendaris karya Israel Ka&#8217;ano&#8217;i Kamakawiwo&#8217;ole itu adalah sebuah himne bagi orang-orang yang terbedakan namun tidak pernah terkalahkan. Itu sebabnya secara intuitif saya langsung menyukainya sejak awal <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="datex">— PinAng: Sabtu, 6 September 2008 02:27</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=229&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/10/bianglala-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/RainbowRare.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Rare Rainbow (Idaho, June 19, 2006)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/IsraelKamakawiwoole.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Israel Kamakawiwo'ole</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/RainbowDigital.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Digital Rainbow</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panta Rhei*</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/06/panta-rhei/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/06/panta-rhei/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 05:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/06/panta-rhei/</guid>
		<description><![CDATA[&#8212; Nyanyi Sepi Segara Lara Satu lagi tulisan yang menjadi peserta perlombaan yang dibatalkan itu Song of Self by Henryk Fantazos Malam masih amat muda tatkala perempuan itu duduk di sofa di hadapanku berseberang meja. Kutoleh sekejap lalu meneruskan membaca &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/06/panta-rhei/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=227&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">&#8212; Nyanyi Sepi Segara Lara</h2>
<p class="cat" align="center">Satu lagi tulisan yang menjadi peserta perlombaan yang dibatalkan itu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a href="http://www.fantazos.com/Recent_Paintings/images/Song%20of%20Self.jpg" title="Song of Self" class="snap_noshot" rel="lytebox[pantarhei]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/SongOfSelf.jpg" alt="Song of Self" width="200" height="281"></a><br />
    Song of Self<br />
    by <a href="http://www.fantazos.com/Recent_Paintings/pages/Song%20of%20Self.htm" target="_blank">Henryk Fantazos</a></td>
</tr>
</table>
<p>Malam masih amat muda tatkala perempuan itu duduk di sofa di hadapanku berseberang meja. Kutoleh sekejap lalu meneruskan membaca email melalui PDA. Apa peduliku? Setiap orang berhak duduk di kursi mana pun yang disukainya.</p>
<p>&quot;Boleh minta rokok sebatang?&quot; tanyanya mengoyak keasikanku.</p>
<p>Kuangkat wajahku dari ketertundukan. &quot;Silakan,&quot; sahutku sambil menyorongkan bungkus rokok yang tergeletak di meja diapit pemantik api Zippo dan asbak keramik berisi dua puntung padam.</p>
<p>Perempuan itu mencabut sebatang rokok. Alih-alih menyalakan pemantik api a-la <em>gentleman</em> dalam film, aku hanya mendorong Zippo ke arahnya.</p>
<p>&quot;Terimakasih,&quot; katanya sambil menghembuskan asap lewat mulut dengan tiupan kuat.</p>
<p>&quot;Kembali,&quot; sahutku sepintas tanpa menghentikan gerak <em>stylus</em> di layar sentuh PDA. Tak terlintas hasrat bercakap-cakap meski sekedar basa-basi. Bukan kebiasaanku berkenalan dengan sembarang orang di sembarang tempat dan waktu. Apalagi di arena boling, tempat bermacam manusia boleh datang dan pergi sesuka hati tanpa wajib kenal-mengenal.</p>
<p>Pasti aku sudah melupakan kehadirannya jika dia tidak bicara tepat setelah kutuntaskan membaca dan membalas beberapa email.</p>
<p><span id="more-227"></span>
<p>&quot;Tidak main?&quot; tanyanya.</p>
<p>Aku menggeleng sambil mematikan PDA. &quot;Tidak suka,&quot; kataku menegaskan.</p>
<p>&quot;Terus, ngapain ke sini?&quot;</p>
<p>Keningku berkerut. Untuk apa menanyakan alasan kehadiran seseorang di tempat yang boleh dikunjungi siapa pun termasuk yang tidak punya alasan?</p>
<p>&quot;Mengawani sepupu,&quot; tukasku datar dengan gerakan dagu menunjuk Ronny yang beberapa bulan ini amat gandrung boling.</p>
<p>&quot;O, Pak Ronny.&quot;</p>
<p>&quot;Kenal?&quot;</p>
<p>&quot;Satu klub dengan temanku,&quot; sahutnya seraya menunjuk lelaki yang bermain di jalur lain. Kukenali Ishak yang belasan tahun lebih tua dibanding Ronny yang seumuranku. Sedangkan perempuan itu kutaksir tak kurang sepuluh tahun lebih muda dariku. Entah bagaimana cara pertemanan dua insan berbeda jenis kelamin yang terpaut duapuluhan tahun. Ah, bukan urusanku!</p>
<p>&quot;Kamu tidak main?&quot; tanyaku kemudian. Entah kenapa aku jadi rajin berbasa-basi. Biasanya aku amat canggung pada perempuan, apalagi di tempat umum, sehingga kerap diolok bahwa padananku adalah perempuan &quot;rumahan&quot; atau &quot;sekolahan&quot;. Peranku dalam berbagai kesempatan adalah menjadi manusia periferal di tepi kerumunan sebagai figuran yang luput dari hitungan.</p>
<p>&quot;Sedang malas,&quot; katanya sambil mematikan rokok di asbak.</p>
<p>&quot;Biasa main di sini?&quot;</p>
<p>&quot;Seminggu sekali. Lain hari, di Kuningan atau Ancol.&quot;</p>
<p>&quot;Minimal tiga kali seminggu, jago dong.&quot;</p>
<p>&quot;Ah, biasa saja.&quot;</p>
<p>&quot;Suka ikut turnamen?&quot;</p>
<p>&quot;Kalau hadiahnya menarik,&quot; jawabnya sambil tersenyum.</p>
<p>Kudorong bungkus rokok dan Zippo sekalian ke dekatnya. Rokok dia selipkan di bibir. Tangan kanannya yang menggenggam Zippo melakukan dua gerakan tanpa jeda: ibu jari mengungkit terbuka tutup Zippo dengan denting khas, lalu berbalik memutar roda gigi penggesek batu api menyalakan sumbu. Setelah ujung rokok membara, tangannya menyentak ke kiri sehingga Zippo menutup memadamkan api. Kendati hanya <em>style</em> dasar, belum pernah kulihat seorang perempuan memakai Zippo dengan bergaya.</p>
<p>&quot;Perokok profesional juga rupanya,&quot; komentarku.</p>
<p>&quot;Belasan tahun mencumbu nikotin,&quot; dia tersenyum.</p>
<p>Baru kusadari matanya pun memancarkan senyum di balik bulu mata yang &#8212;juga baru kusadari&#8212; amat lentik. Entah asli atau palsu, tampak pantas hadir di sana. Telanjur memandang, kuteruskan menelusur kening, hidung, pipi, bibir, dan dagunya. Tanpa bedak, hanya saputan samar gincu merah pucat di bibir. Walau tidak cantik seturut kriteriaku, semua tertata serasi. Bekas luka kecil di tepi kelopak mata kirinya bahkan menjadi aksen pemanis. Ya, manis adalah istilah yang cocok. Hitam manis, tepatnya. Eksotis.</p>
<p>&quot;Ada yang aneh di mukaku?&quot; tanyanya memergoki.</p>
<p>Aku menggeleng. Lambaian Ronny di depan meja kasir menyelamatkanku dari kekikukan.</p>
<p>&quot;Ronny sudah selesai. Aku duluan,&quot; kataku sambil bangkit.</p>
<p>&quot;<em>Thanks</em> rokoknya.&quot;</p>
<p>Aku mengangguk kecil sambil menjajari Ronny ke pintu keluar.</p>
<p>&quot;Apa yang kalian bicarakan?&quot; tanya Ronny setelah kami duduk di mobil.</p>
<p>&quot;Siapa?&quot;</p>
<p>&quot;Kamu dan perempuan tadi, Julia.&quot;</p>
<p>&quot;Tidak ada. Hanya minta rokok.&quot;</p>
<p>&quot;Hati-hati.&quot;</p>
<p>&quot;Kenapa?&quot;</p>
<p>&quot;Bukan perempuan rumahan dan sekolahan.&quot;</p>
<p>&quot;Karena bersama Ishak si hidung belang?&quot;</p>
<p>Ronny hanya berdehem.</p>
<p>Aku tak berminat meneruskan. Bergunjing bukanlah kegemaranku. Lagipula, siapakah Julia sampai perlu kubicarakan? Hanya seorang perempuan yang sejenak lewat di satu malam yang sangat biasa untuk menumpang menghirup dan mengepulkan kabut nikotin dua batang rokokku.</p>
<table class="captr" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a href="http://www.fantazos.com/Recent_Paintings/images/FLYING_LESSONS.jpg" title="Flying Lessons" class="snap_noshot" rel="lytebox[pantarhei]"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/FlyingLessons.jpg" alt="Flying Lessons" width="250" height="191"></a><br />
    Flying Lessons<br />
    by <a href="http://www.fantazos.com/Recent_Paintings/pages/FLYING_LESSONS.htm" target="_blank">Henryk Fantazos</a></td>
</tr>
</table>
<p>Ternyata, masih berkali-kali kujumpa Julia. Setelah kali kesekian, dia tak lagi sungkan duduk di hadapan atau sampingku. Malah sepertinya sengaja mencari. Dan, laksana ritual, aku pun langsung menyodorinya rokok berikut Zippo.</p>
<p>Kadang, tak satu pun kata terucap sampai aku pulang, hanya menambah tebal asap yang berlomba menggapai langit-langit. Atau bergurau mengomentari tingkah para pemula yang tersipu malu melihat bolanya menyusur parit tepi lintasan. Namun, adakalanya kami berbincang serius setelah tak lagi peduli pada kata-kata minus polesan. Atau saling meledek tanpa sakit hati. Kecerdasan dan kejenakaannya membuatku nyaman.</p>
<p>&quot;Pasti kamu punya pikiran jelek tentang aku,&quot; satu kali dia berkata tiba-tiba.</p>
<p>&quot;Kenapa? Karena orang yang kamu temani?&quot; aku menebak.</p>
<p>Julia mengangguk, tak lepas menatapku dengan sorot mata kanak-kanak yang menuntut jawaban paling jujur.</p>
<p>&quot;Bukan jelek, hanya buram,&quot; elakku bergurau. Kuhirup rokok dalam-dalam lalu mengepulkan asapnya ke atas membentuk lingkaran tebal berpilin.</p>
<p>&quot;Kamu baik. Tak pernah hunjamkan pandang merendahkan,&quot; katanya lagi.</p>
<p>&quot;Kenapa harus begitu? Pilihan dan kemauan tidaklah sama ukurannya bagi tiap orang.&quot;</p>
<p>&quot;Jika pilihan itu bukan dari kemauan orang itu sendiri tapi pilihan dan kemauan orang lain?&quot;</p>
<p>&quot;Apa yang kamu harapkan? Belaskasihan? Jangankan airmata, darah pun tak ada harganya. Kita sendiri yang tentukan siapa kita di dunia yang tidak adil ini dengan apa pun yang kita miliki kini.&quot;</p>
<p>&quot;Termasuk menjadi sepertiku?&quot;</p>
<p>&quot;Lihat, kamulah yang menilai rendah diri sendiri! Tahu apa aku tentang kenyataan yang terjadi pada diri kamu sehingga berhak menilai pembenaran yang kamu ambil? Tidak ada.&quot;</p>
<p>&quot;Kalau kamu tahu &#8230; ?&quot; tanyanya menggantung.</p>
<p>&quot;Jangan paksa aku jadi orang suci.&quot;</p>
<p>Julia terdiam sejenak. Asap rokok di jemarinya mendaki atmosfer pelan-pelan. Aku sengaja menunggu.</p>
<p>Sambil mematikan rokok dia berkata, &quot;Aku anak sulung dari tiga bersaudara, perempuan semua, dari keluarga biasa. Kaya tidak, miskin tidak, terkenal pun tidak. Hanya jambon krislam seperti banyak orang lain.&quot;</p>
<p>&quot;Jambon krislam?&quot; aku tak paham.</p>
<p>&quot;Bapak Jawa, ibu Ambon. Ibu Kristen, bapak Islam,&quot; dia tertawa senang melihat kerut keningku. Matanya ikut tertawa. Aku memencongkan mulut.</p>
<p>&quot;Sore itu kami bertiga sedang pulang melalui jalan yang setiap hari kami lalui ketika sekelompok lelaki menyergap dan menyeret kami ke dalam hutan. Kepalaku diselubungi kain, tak bisa melihat apa yang terjadi pada kedua adikku. Hanya jeritan mereka yang kudengar ditingkah suara pukulan, makian dan tawa lelaki, serta kain koyak. Kian keras mereka menjerit, kian kerap pukulan kudengar, hingga akhirnya jeritan mereka melemah dan lenyap. Aku tahu, yang mereka alami sama seperti yang kualami, dianiaya dan diperkosa.&quot;</p>
<p>Telinga kupaksa menepis gaduh hantaman bola boling. Wajah eksotisnya bagai petang yang sekonyong-konyong diringkus malam.</p>
<p>&quot;Apa yang mereka incar dari seorang novis berkawan dua perempuan kecil berseragam sekolah lanjutan pertama? Keluarga kami bukan tokoh masyarakat, bukan penggiat gereja atau mesjid, bukan pula anggota laskar. Kenapa kami?&quot;</p>
<p>Mulutku terkunci. Layar di benakku mengilaskan tragedi kelam yang melanda kepulauan rempah-rempah bertahun silam.</p>
<p>&quot;Sia-sia meronta. Bertubi pukulan ke badan dan kepala membuatku tak mampu bertahan tetap sadar. Saat siuman, kutemukan diriku terkapar telanjang berkubang lumpur. Perih luka dan memar melumpuhkan seluruh sendi. Kepala tak lagi berselubung. Langit di atas amat gelap. Hutan begitu senyap. Kuseru nama kedua adikku sekuat tenaga, tapi hanya bisik berludah darah yang terucap. Berulangkali kucoba, tiada bersahut. Aku melata sambil meraba-raba hingga akhirnya menyentuh benda lunak hangat. Adik bungsuku. Kukenali dari parut di lengan kirinya. Telanjang berlumur lumpur, leher mengangakan luka, kepala terkulai nyaris terpisah dari tubuhnya. Gerimis di gelap malam jadi ganti tangis yang tak sanggup kulakukan.&quot;</p>
<p>&quot;Tidak usah diteruskan jika membuatmu tak nyaman,&quot; hiburku saat dia tersuruk dalam diam. Halimun kelabu bergulung-gulung di telaga gelap tanpa airmata.</p>
<p>&quot;Enggankah kamu jadi pendengar cerita tak indah?&quot; todongnya.</p>
<p>&quot;Haruskah bercerita kepadaku yang hanya seorang asing bagimu?&quot; balasku.</p>
<p>&quot;Kamu Aldo. Aku Julia,&quot; katanya sambil menganjurkan tangan kanannya. Kami bersalaman seperti baru berkenalan. &quot;Nah, sekarang kita bukan lagi orang asing satu sama lain,&quot; sambungnya menirukan dialog dari film yang kulupa judulnya. Aku menyeringai sepat.</p>
<p>Belum sempat dia lanjutkan kisahnya, kulihat Ronny melambai dari depan meja kasir. Kukedipkan mata pada Julia memberi isyarat aku harus pulang. Dia mengangguk tanpa kecewa.</p>
<p>&quot;Besok ada waktu?&quot; tanyanya sebelum aku beranjak.</p>
<p>Biasanya tak ada kegiatanku hari Sabtu. &quot;Kuhubungi besok,&quot; kataku sambil mengeluarkan PDA hendak mencatat nomor ponselnya.</p>
<p>&quot;Tidak usah. Aku akan ada di sini,&quot; elaknya halus.</p>
<p>Kuhampiri Ronny. Sepanjang jalan, aku hanya diam. Ronny pun tak berselera bicara. Mungkin kesal karena kalah dalam permainan.</p>
<blockquote><p>From: jdf83@&#8230;<br />
Date: Wednesday, 30 July 2008 21:34</p>
<p>dear aldo,</p>
<p>sebentar lagi burung besi gemuk itu membawaku melintas laut dan benua ke tempat yang belum pernah kubayangkan sekalipun dalam khayal, sebuah negeri yang tiruan saljunya dulu kerap kulihat di dedaunan cemara natal. kata orang, di sana semua mimpi tak lagi mustahil. sayangnya aku tak berani bermimpi, hanya bersedia diri mendada hari sekuat badan dan jiwa, apa pun taruhannya.</p>
<p>banyak yang sudah dan akan kamu dengar dari ronny ataupun orang lain. tak akan kusangkal meski bukan itu kesejatian yang erat meringkuk di pojok paling rahasia diriku. kamu pun tak sepenuhnya tahu biarpun kamu satu-satunya orang yang kututuri perihalku. apa pun kata mereka, janganlah turut menjadi hakimku, sebagaimana aku pun tak akan mengutuk noktah hidupku sebagai dosa orang lain.</p>
<p>julia namaku. dari nama bulan pertama paruh kedua tahun. aku tak percaya takdir, tapi pilihan dan kemauan. kuingin langkahku kini jadi pijakan pertama merengkuh kesempatan kedua dari pilihan yang kutetapkan sendiri.</p>
<p>harapkan aku tak patah dan kalah. doakan aku jika kamu masih percaya doa.</p>
<p>penuh sayang,<br />
julia</p>
</blockquote>
<p>Malam mendaki remaja.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Langit Sabtu berundung awan. Julia menawan seluruh petang dan setengah malamku lewat kisahnya.</p>
<p>Dia peluki jasad adik bungsunya dalam hujan, tak henti membisikkan namanya sepanjang malam hingga fajar menyeruak dari balik pepohonan sagu. Beberapa orang kampung yang lewat lantas menolongnya. Adik keduanya tidak pernah ditemukan.</p>
<p>Saat pulang, cuma arang membara dan puing berasap yang dia dapatkan. Genap sudah kemusnahan seketika. Tak sesuatu dan seorang pun tersisa sebagai alasan tetap tinggal. Hampa hari menuntun galaunya ke pelabuhan. Ingin dia luruhkan segalanya ke buih ombak yang menyerpih diiris lunas kapal yang membawanya ke Surabaya.</p>
<p>Namun, malam pekat berhujan di hutan sagu bersikeras memburu lewat ingatan maupun mimpi-mimpi yang senantiasa memaksanya terjaga bersimbah peluh. Tidur jadi sangat menakutkan. Dia larikan dirinya mengejar malam tanpa kegelapan. Profesi pramuria karaoke menyeretnya ke keping waktu padat rahasia. Cengkeraman pelik kemilau semu malam mendesaknya ke sisi paling muram seorang perempuan.</p>
<p>&quot;Setelah semua direnggut paksa, masih haruskah kenajisan diludahkan pada perempuan yang memakai tubuhnya, satu-satunya milik yang tersisa, untuk bertahan? Seks tak lagi berurusan dengan kesakralan maupun rajut terhalus perasaan manusia, melainkan transaksi menunda lapar. Dan, bagiku, sebagai senjata perlawanan. Mereka memujanya, aku menistanya. Kucibir mereka yang terkapar kalah di hadapan seks yang mereka kejar,&quot; tutur Julia tanpa nada berapi-api.</p>
<p>Jeda sejenak sebelum dia menyambung, &quot;Tapi, adalah munafik jika kukatakan tak pernah sekali pun menikmatinya. Seperti orang lain, aku pun punya birahi. Dan tak bisa kubunuh angan untuk merasainya sepenuh-jiwa sepenuh-tubuh bersama lelaki yang sanggup berdamai dengan keberadaanku.&quot;</p>
<p>&quot;Seperti film Pretty Woman?&quot; cetusku mencoba mengikis getir.</p>
<p>&quot;Begitulah,&quot; timpalnya ringan. &quot;Nyaris aku terbebas dari jerat kemenduaan itu saat kujumpa Ronny.&quot;</p>
<p>Serta-merta tenggorokanku tercekat. Alis mata kananku terangkat. Ronny? Anggukan Julia menjadi konfirmasi.</p>
<p>&quot;Tapi aku tidak terlalu bodoh untuk memahami siapa diriku dan siapa Ronny. Pretty Woman adalah senandung orang yang mampu bersegera selaraskan diri seturut perkembangan keberadaan orang lain. Sedangkan kita masih selalu memperhitungkan masa lalu sebagai ukuran martabat.&quot;</p>
<p>&quot;Tapi, Ronny &#8230;&quot;</p>
<p>&quot;Setidaknya, dia menyadarkanku bahwa kubangan pun ada tingkatannya,&quot; potong Julia tertawa, &quot;yang tidak mustahil ditembus di Jakarta ini.&quot;</p>
<p>Lidahku kelu. Meski kutahu Ronny jauh dari alim, tak pernah kuharap menyua sosok fragmen masa lalunya.</p>
<p>&quot;Tak usah dipusingkan. Aku saja tidak kenapa-napa, malah kamu yang loyo seperti baru dilabrak <em>debt collector</em>,&quot; gurau Julia membuyarkan kecamuk pikiranku.</p>
<p>&quot;Aku jadi curiga kamu mendekatiku karena Ronny,&quot; gumamku murung.</p>
<p>Julia menampar pelan pipiku sambil mencibir. Bukan marah, sebab kulihat senyum menari di matanya.</p>
<p>&quot;Paranoid! Kamu kira aku anak kencur yang ingin pacarnya cemburu?&quot;</p>
<p>&quot;Lalu kenapa?&quot;</p>
<p>&quot;Sebab aku suka kamu,&quot; bisiknya tanpa menundukkan pandang.</p>
<p><em>Gubraaaak!</em> Mungkin itulah seruan remaja jaman sekarang yang jitu memerikan perasaanku. Melongo adalah satu-satunya ekspresi yang bisa kutampilkan.</p>
<p>&quot;Jangan pasang tampang bloon gitu, ah!&quot; tegur Julia sambil menggoyang-goyangkan daguku.</p>
<p>Aku masih belum bisa bereaksi.</p>
<p>&quot;Terlarangkah bagiku untuk menyukaimu? Terlalu tinggikah kamu untuk kusukai?&quot; desaknya membelalak. Senyum masih menari di matanya.</p>
<p>Julia, aku hanyalah seorang lelaki periferal. Pengakuan seperti itu bukanlah hal biasa buatku.</p>
<p>&quot;Jika demikian, kenapa aku repot-repot ke sini?&quot; gerutuku melepaskan diri dari debar.</p>
<p>&quot;Entah. Mungkin mengharap seks &#8230;,&quot; sahutnya acuh tak acuh.</p>
<p>&quot;Dasar otak kotor, mulut juga kotor!&quot; geramku sambil menuding mulutnya.</p>
<p>&quot;Memangnya tidak pernah terpikir? Ayo, ngaku!&quot; ganti dia menuding pelipisku.</p>
<p>Telanjur masuk gelanggang, sekalian sajalah bertarung. &quot;Sangkamu aku lelaki buta tuna imajinasi?&quot;</p>
<p>Julia menatap mataku seakan hendak menerobos ke dalam. Dengan lembut diraihnya kepalaku mendekat ke arahnya. Di luar, gerimis turun malu-malu dalam lagu.</p>
<blockquote><p>From: jdf83@&#8230;<br />
Date: Friday, 1 August 2008 07:47</p>
<p>dear aldo,</p>
<p>aku baru tiba di negeri yang bekunya masih belum bisa kuakrabi. kutulis email ini di café sambil menunggu kereta. secangkir cappuccino hangat dan zippo tuamu mengawaniku. tapi aku masih sanggup bertahan tidak menyalakan rokok.</p>
<p>sabtu sore itu, nyaris tak luput kutatapi pintu, berharap kamu segera tiba walau kamu tak pernah janji. senyum pasti menari di mataku (begitu istilahmu) saat hadirmu memupus 5 jam penantian paling meresahkan.</p>
<p>itulah kali terakhir pertemuan kita. kamu terkejut saat kukatakan bahwa kamu satu-satunya orang yang kupamiti. memang tak ada siapa-siapa yang bukan orang asing bagiku. tidak pak ishak, tidak ronny, atau siapa pun yang bahkan pernah berbagi selimut denganku. hanya kamu, yang sebatas berbagi rokok, waktu, dan kata. toh tak semua percintaan bermeterai persebadanan, katamu.</p>
<p>diniary namaku. dari &quot;dini hari&quot;. aku percaya janji mentari yang akan selalu berjuang datang saat subuh menjelang. kuingin hari tersulit yang kusongsong kini jadi fajar pemupus pekat meski harus merangkak lambat.</p>
<p>dear aldo, keretaku sudah tiba. belum sepadan terimakasihku atas semua perjumpaan kita yang membuatku tak putus berharap ada pagi di ujung lorong dan semua akan baik-baik saja.</p>
<p>dengan cinta,<br />
diniary</p>
</blockquote>
<p>Malam kian meranum dewasa.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Aku tidak mengawani Ronny ke tempat boling. Batuk dan pilek menyerangku membabi-buta. Bunyi komputer tanda datangnya email memaksaku turun dari ranjang. </p>
<blockquote><p>From: jdf83@&#8230;<br />
Date: Saturday, 2 August 2008 04:23</p>
<p>dear aldo,</p>
<p>fajar baru saja bangkit menciumi embun di balik kaca jendela. satu malam berlalu lagi, satu perjalanan pun usai sudah. namun, untaian tualang sejati temukan tempat dan makna, baru saja bermula, di hamparan lenan putih yang menantiku melangkah.</p>
<p>aku percaya segala sesuatu mengalir. kini aku pun akan mengalir. ke atas, melampaui lapis teratas kubangan. kuharap kota kecil yang namanya mungkin belum pernah kamu dengar ini tak menuntut daya lompat sedahsyat jakarta <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  setidaknya, tak ada yang mengukuriku lewat teropong masa lalu.</p>
<p>fitria namaku. dari &quot;fitri&quot;. kuingin lahir kembali seperti bayi yang tak berbeban dosa kala menyapa dunia dengan ketelanjangan dan tangisan.</p>
<p>ya, aku telanjang saat ini, aldo. kumau memasuki dan dirasuki sejarah baru dengan kepolosan paling hakiki. kuingin menyapamu seutuh diri tanpa selubung, hanya berbatas udara yang dulu kerap kita gambari dengan asap.</p>
<p>aku juga menangis, aldo. bukan bersebabkan ketelanjangan-luka-memar berlumur lumpur di hutan sagu ataupun ranjang masai berkeringat, melainkan dari rasa paling purba yang telah kulabuhkan kekal di satu sabtu, menyimpul tuntas geligi masa lalu yang dengannya aku telah berdamai.</p>
<p>dear aldo, dentang lonceng doa pagi memanggil. aku harus bergegas. maklum, aku belum cukup mahir memasang tudung kepala <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>dalam kasih,<br />
fitria</p>
<p>ps. alamat ini akan kututup setelah email ini terkirim. tak usah kita rindukan masa datang. biarlah semua mengalir.</p>
</blockquote>
<p>Ada yang diam-diam menyelinap lolos dari pusat diriku. Rasa kehilangan yang teramat sangat. Seorang perempuan bukan rumahan dan bukan sekolahan. Bukan kriteria idamanku. Namun satu-satunya yang pernah menghelaku dari sisi periferal menjadi orang pertama bahkan satu-satunya.</p>
<p><em>Adieu</em>, Julia Diniary Fitria. <em>Panta rhei</em>.</p>
<p>Malam kian menyuruk renta. Hari esok mematri janji kisah berbeda.</p>
<p class="datex">&#8212; PinAng: Minggu, 3 Agustus 2008 04:01</p>
<p class="cat">[*] panta rhei (Gerika) = segala sesuatu ada dan berubah dalam aliran.</p>
<p class="fot">untuk seseorang yang namanya jadi ilham meski bukan tokoh nyata kisah di atas</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/227/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/227/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=227&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/06/panta-rhei/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/SongOfSelf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Song of Self</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/FlyingLessons.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Flying Lessons</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Timur Luar Sebuah Taman*</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/04/di-timur-luar-sebuah-taman/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/04/di-timur-luar-sebuah-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 13:36:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/04/di-timur-luar-sebuah-taman/</guid>
		<description><![CDATA[Satu tulisan yang menjadi peserta sebuah perlombaan yang dibatalkan Adam and Eve by Stan Mullins Mega tembaga bergayut di langit muram. Bongkahan awan-awan kecil berarak pelan merapat, lalu menyatu seakan bersepakat menaungi satu noktah yang nyaris tak nampak dari ketinggian: &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/04/di-timur-luar-sebuah-taman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=226&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="cat" align="center">Satu tulisan yang menjadi peserta sebuah perlombaan yang dibatalkan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' />  </p>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a href="http://www.stanmullins.com/images/adam_eve_painting.jpg" title="Adam and Eve" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/AdamEve.jpg" alt="Adam and Eve" width="250" height="187"></a><br />
    Adam and Eve<br />
    by <a href="http://www.stanmullins.com/adam_eve.html" target="_blank">Stan Mullins</a> </td>
</tr>
</table>
<p>Mega tembaga bergayut di langit muram. Bongkahan awan-awan kecil berarak pelan merapat, lalu menyatu seakan bersepakat menaungi satu noktah yang nyaris tak nampak dari ketinggian: segunduk tanah bercampur lempung kuning yang diapit sepasang perempuan dan lelaki berhadap-hadapan.</p>
<p>&quot;Marahkah engkau?&quot; si perempuan mengoyak senyap tanpa mengalihkan pandang dari gundukan tanah.</p>
<p>Lelaki itu tidak menjawab. Tangannya menoreh-noreh tanah dengan pangkal ranting zaitun yang masih berdaun, lalu menancapkannya di salah satu ujung gundukan. Dia mendongak sejenak menatap mega tembaga yang kian padat menggumpal di langit sebelum menyahut lirih, &quot;Tak ada alasan bagiku marah pada daging dari dagingku dan tulang dari tulangku. Engkau adalah aku, aku adalah engkau <sup>[1]</sup>. Perihalmu adalah perihalku. Murka dan nestapa yang kautanggung, pula sukacita dan rahasia, adalah karunia untuk kita saling berbagi, meski tak bisa sepenuhnya kita kecap bersama.&quot;</p>
<p>&quot;Aku tahu. Tapi hatiku masih saja resah.&quot;</p>
<p>&quot;Mengenai kekinian kita di sini akibat pilihan kita sendiri? Kalaupun semua ini adalah kesalahan, setidaknya kita masih punya alasan untuk menjalaninya bersama.&quot;</p>
<p>&quot;Meski kita telah kehilangan banyak?&quot;</p>
<p>&quot;Walau kehilangan segalanya.&quot;</p>
<p><span id="more-226"></span>
<p>Burung gagak di pucuk pohon ara kering memiringkan kepalanya bagai ingin menyimak cermat percakapan mereka. Seekor kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu hinggap di ranting zaitun. Sayapnya mengepak perlahan mengirim isyarat aman bagi seekor kupu-kupu lain agar hinggap di sisinya. Dengan santun keduanya melarutkan diri dalam hening.</p>
<p>&quot;Mengapa kaubiarkan aku jadi jurubicara atas sesuatu yang tak pernah diserahkan untuk kutanggungjawabi?&quot; tanya perempuan itu setelah cukup lama terperangkap dalam diam. Dia tolehkan wajahnya menatap lelaki yang masih tepekur di seberang gundukan.</p>
<p>&quot;Aku tak membiarkanmu. Aku bersamamu,&quot; sahut si lelaki masih dengan suara lirih.</p>
<p>&quot;Kau tak melarangku beradujawab dengan si ular tua!&quot;</p>
<p>&quot;Manalah bisa aku melarang setelah aku lebih dulu kehabisan kata menghadapinya? Kaulah pembelaku, benteng pamungkas diriku sepenuh, penyambung lidahku kelu, pengurai kebuntuan pemberangus benakku. Justru karenamu aku urung kehilangan martabat kemanusiaanku di hadapan seluruh mahluk yang menjadi saksi perjumpaan kita dengan si ular tua. Seluruh diriku, semua yang terbaik dariku, ada padamu. Walau pada akhirnya takluk, masih ada harga diri tak terenggutkan yang membuat kepala kita tetap tegak saat terusir.&quot;</p>
<p>&quot;Kau bermanis kata menghiburku dan menghibur dirimu sendiri,&quot; si perempuan merajuk.</p>
<p>&quot;Beginilah cara kita berbagi saat berbagai beban mendera. Begini pula keturunan kita kelak menyatakan kesejatian kebersamaan mereka. Walau tak langsung katupkan nganga luka, setidaknya ada peluang tak tersungkur sebatangkara.&quot;</p>
<p>&quot;Kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu?&quot; selidik si perempuan sambil melirik tajam.</p>
<p>Lelaki itu mengangkat wajahnya. Matanya menghunjam tajam langsung ke bola mata si perempuan.</p>
<p>&quot;Bukannya aku tak punya pilihan meninggalkanmu. Namun, ikrar telah kutorehkan jauh sebelum namamu disebut. Kepada namamu, jiwaku tak kuasa ingkar dan berdusta. Dan atas nama ikrar itu, janji-janji baru jadi memuakkan.&quot;</p>
<p>Sinar mata perempuan itu melembut. Tangannya, yang tak sehalus dulu, membenahi ranting zaitun yang agak miring.</p>
<p>&quot;Begitukah cara keturunan kita kelak menautkan janji antarmereka?&quot; tanyanya lagi.</p>
<p>&quot;Ya. Hanya diperlukan satu ikrar demi seluruh hidup mereka, hingga kisah tergenapkan.&quot;</p>
<p>&quot;Kau yakin tentang masa depan?&quot;</p>
<p>&quot;Semula, hanya pengetahuan tentang masa kini yang kumiliki, yang dengannya semua mahluk kuberi nama. Dengan kehadiranmu, aku menjadi lengkap. Sebagian masa depan kini dapat kuhampiri dalam penglihatan.&quot;</p>
<p>&quot;Seperti penglihatan yang kadang melintas sekejap di ruang pandangku selama ini?&quot;</p>
<p>&quot;Ya, sebuah terawang yang muncul saat kita bersehati penuh dengan semesta. Itu adalah karunia bagi setiap insan. Namun, tak semua sedia memelihara kepekaan berselaras dalam harmoni alam guna merengkuh sebersit kearifan membaca sasmita <sup>[2]</sup>.&quot;</p>
<p>&quot;Termasuk anak kita sehingga bangkit amarahnya pada saudara sedarahnya sendiri?&quot;</p>
<p>&quot;Termasuk anak kita,&quot; keluh si lelaki.</p>
<p>&quot;Mengapa tak kauajarkan semua ini kepadanya? Kepadaku pun baru kaukatakan sekarang, setelah sekian lama,&quot; protes si perempuan agak keras.</p>
<p>&quot;Kearifan bukanlah ujud lain pengetahuan. Dia datang bersama dengan munculnya kerendahhatian setelah pengetahuan lebih dulu menghampirinya. Ketika anak kita menengarai perbedaan ritualnya dengan ritual saudaranya, sesungguhnyalah saat itu kearifan sedang mengetuk hati dan pikirannya. Hanya dia sendiri yang layak memutuskan apakah membukakan pintu bagi kearifan untuk bersemayam dalam dirinya ataukah menutup pintu itu sekali untuk selamanya. Tak ada hakku memilihkan masa depannya. Anak-anak kita bukanlah anak-anak kita, melainkan anak-anak kehidupan yang melesat bagai anak panah ke masa depan yang tidak bisa kita kunjungi <sup>[3]</sup>.&quot;</p>
<p>&quot;Maksudmu, semua peristiwa di masa depan belum tersuratkan sejak purba?&quot;</p>
<p>&quot;Semua yang ada di masa depan bersebabkan semua yang ada di masa lampau serta masa kini.&quot;</p>
<p>&quot;Jadi, masa depan adalah konsekuensi atas pilihan-pilihan kita dan bisa berubah jika kita berkehendak?&quot;</p>
<p>&quot;Siapatah yang bisa menggariskan masa depan? Masa depan justru akan sangat menggairahkan ketika meniti di atas ketidakpastian,&quot; sahut si lelaki dalam retorika. &quot;Itu sebabnya nasib seseorang tak akan berubah apabila orang itu tak mengubahnya sendiri <sup>[4]</sup>.&quot;</p>
<p>Burung gagak di pucuk pohon ara kering masih memiringkan kepalanya, tak jemu menyimak percakapan maupun keheningan mereka. Dia tidak perlu terlalu lama menanti, sebab perempuan lalu berbicara lagi. Kali ini suaranya amat datar. Matanya menatap lurus seakan sedang mengintai sesuatu di kejauhan.</p>
<p>&quot;Ada banyak orang. Kacau. Hingar. Sebagian mengejar sebagian lain. Mengusir. Mendera. Antara lelaki dengan lelaki. Terhadap anak-anak, perempuan, orang tua. Kudengar jerit dan tangis. Kulihat luka dan kematian. Darah tertumpah. Merah. Api menyala. Membara. Ada yang tersungkur. Meregang nyawa. Seperti yang terjadi pada anak kita. Persis seperti anak kita. Mati. Mati&#8230;&quot; <sup>[5]</sup></p>
<p>Setelah beberapa jenak, cahaya kembali ke bola mata perempuan itu. Matanya berkejap-kejap, seperti ada sesuatu yang mengganggu pandangannya. Perlahan dia menyeka matanya. Sebutir air bening menggelantung di ujung jarinya. Dipandanginya lekat-lekat. Pelan-pelan butir air itu pecah dan mengalir membasahi jarinya.</p>
<p>&quot;Sesak kurasa. Perih dalam dada ini sesakit persalinan. Walau air dari mataku ini serupa dengan yang keluar saat kudengar suara pertama anak kita dulu, aku tahu pasti bahwa keduanya menorehkan rasa yang amat berbeda.&quot;</p>
<p>&quot;Kelahiran dan kematian adalah simpul-simpul terujung titi kehidupan. Pada keduanya terpatri sukacita paling jujur maupun nestapa paling murni. Di antara kedua simpul itu, sukacita dan nestapa silih berganti menghadirkan bermacam hakikat dan topengnya. Melalui pergiliran keduanyalah kehidupan menjangkarkan makna.&quot;</p>
<p>&quot;Lalu, apa hak sah seseorang menghela titi hidup orang lain ke dalam api dan kematian?&quot;</p>
<p>&quot;Orang kerap menyangka bahwa sebutir berlian tafsir kebenaran adalah liontin kebenaran itu sendiri. Padahal, untuk menguntai liontin, tak cukup satu berlian. Dan tak satupun berlian yang sepenuhnya sama dengan yang lain. Di sisi lain, tafsir kebenaran bagaikan seekor naga yang senantiasa gelisah mencari pijakan ajek. Dia tak lelah menggali, membongkar, bahkan menjungkirbalikkan segala sesuatu. Kadang dia ramah pada perbedaan, namun tak jarang teramat bengis terhadap semua yang merintanginya. Semua berpulang pada sang penunggang naga pengetahuan itu.&quot;</p>
<p>&quot;Sekeping kebenaran yang diperumit oleh pengetahuan, didaku sebagai kebenaran hakiki.&quot;</p>
<p>&quot;Padahal, kebenaran hakiki justru adalah yang paling bersahaja. Sesederhana pengakuan bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku. Tak ada tuntutan kebenaran yang melampaui itu. Manusialah yang acap mengubahpaksa kebenaran menjadi taring tajam pembedaan sehingga gagal menemukan dirinya yang paling murni dan utuh dalam diri manusia lain. Sebagian orang memaknai hakikat kebenaran sebagai nilai-nilai yang berpihak padanya. Padahal, tak seorang pun yang sanggup merengkuh inti kebenaran itu sendiri.&quot;</p>
<p>&quot;Kalau saja mereka paham bahwa kebenaran selalu tampil dengan wajah berbeda akibat perbedaan cermin hati dan akal mereka, tentu tak seorang pun akan angkuh memuliakan tafsir kebenarannya berlaku mutlak bagi semua orang.&quot;</p>
<p>&quot;Detak waktu dan bentang jarak kuasa mengikis kesadaran paling purba akan ketidaklengkapan pribadi tanpa kebersamaan. Akibatnya, orang menyangka bahwa dirinya paripurna, sebagai perwujudan ketunggalan adikodrati yang tak memiliki padanan, sekutu, maupun seteru. Mereka merasa berhak &#8212;bahkan wajib&#8212; meniadakan semua yang bertentangan dengan kemandirian kemahatunggalannya.&quot;</p>
<p>&quot;Mereka tidak lebih dari perampok yang mengangkangi hak memaknai kebenaran!&quot;</p>
<p>&quot;Bagaimanapun, mereka adalah keturunan kita.&quot;</p>
<p>&quot;Kau tak merasakan sesak dan sakit yang kurasakan saat menampak masa depan,&quot; gerutu si perempuan.</p>
<p>&quot;Bagaimana mungkin aku tak merasakan apa yang dirasakan belahan jiwaku?&quot; balas si lelaki setengah mesra.</p>
<p>Perempuan itu menyunggingkan senyum paling indah yang setara intipan hangat mentari pagi dari balik bukit.</p>
<p>&quot;Mungkinkah semua itu karena kita sudah mencampakkan sebagian pengetahuan mengenai kebenaran di taman yang kita tinggalkan, sehingga pengetahuan mereka perihal kebenaran tidak lengkap, bahkan ternoda?&quot;</p>
<p>&quot;Buah pengetahuan yang kita kupas dan cecap telah membebaskan segala kemungkinan &#8212;yang baik maupun buruk&#8212; ke dalam kehidupan. Setimpal dengan hak istimewa kita mengambil putusan berdasarkan kehendak bebas kita, yang bahkan malaikat pun tak berani memintanya.&quot;</p>
<p>&quot;Dan, di masa depan, keturunan kita akan menuturkan legenda kotak Pandora,&quot; sambut si perempuan sambil tersenyum. &quot;Untunglah kita masih diberi kesempatan membebaskan pengharapan sebelum selubung buah pengetahuan itu ditautkan kembali, sehingga keturunan kita kelak tak kehilangan daya juang, meski pada akhirnya harus tetap bertelut kalah.&quot;</p>
<p>&quot;Dan akulah orang pertama yang menikmati pengharapan itu ketika kauhadapi si ular tua,&quot; sahut si lelaki setengah meringis.</p>
<p>Keduanya lantas tertawa seakan semua beban sudah terangkat seketika.</p>
<p>&quot;Tidak bolehkah kita menyampaikan kebenaran ini kepada keturunan kita agar mereka tak mengulangi kebodohan yang sama dengan yang dilakukan anak kita?&quot; tanya si perempuan.</p>
<p>&quot;Kita pun bukan manusia sempurna. Kebenaran sempurna macam apakah yang bisa disampaikan oleh manusia tak sempurna?&quot;</p>
<p>&quot;Mereka jauh lebih tak sempurna walau mendaku sempurna!&quot;</p>
<p>&quot;Itu sebabnya di masa depan akan datang banyak utusan yang menguak serta mengajarkan kebenaran, selapis demi selapis, guna mengingatkan manusia akan ketidaksempurnaan mereka jika tanpa kebersamaan.&quot;</p>
<p>&quot;Mengapa bertahap? Tidak secara gamblang dan tuntas?&quot;</p>
<p>&quot;Tak seorang pun yang akan sanggup menanggungnya. Kelak, saat seorang penguasa mengajukan pertanyaan &#8216;Apakah kebenaran itu?&#8217; kepada seorang utusan, jawaban yang diberikan utusan itu hanyalah diam <sup>[6]</sup>.&quot;</p>
<p>&quot;Diam?&quot;</p>
<p>&quot;Ya. Diam. Kebenaran hakiki tidaklah muncul dari keriuhan. Tidak dari gelegar guntur, taufan dahsyat, maupun genderang perang. Tunasnya muncul dalam hening semilir angin tatkala semua atribut &#8212;bahkan seluruh tafsir kebenaran&#8212; ditanggalkan. Kebenaran bersedia menyingkapkan diri hanya jika manusia rela membuka diri sepenuhnya dan berlutut dalam pengakuan keterbatasannya. Sebab, jalan kebenaran bukanlah dari luar ke dalam, melainkan dari dalam ke luar. Dari ketelanjangan yang paling asasi.&quot;</p>
<p>&quot;Jadi, kebenaran itu sesungguhnya telah ada dalam diri manusia?&quot;</p>
<p>&quot;Itulah warisan paling berharga kita pada keturunan kita.&quot;</p>
<p>&quot;Sayangnya, tak sedikit orang yang jumawa mengingkari hak waris tersebut. Betapa pedih melihat banyak keturunan kita yang bercuriga pada kebenaran bersahaja yang tidak gemerlap dan gegap-gempita. Akibatnya, mereka harus menjalani pertikaian paling riuh dan brutal maupun dendam paling senyap dan mengiris.&quot;</p>
<p>&quot;Demikianlah perjanjian yang sudah kita buat dengan semesta tatkala kita putuskan memiliki kehendak bebas. Kita sendirilah yang akan menetapkan masa depan kita. Walau keturunan kita banyak yang kerap membuatnya demikian suram.&quot;</p>
<p>Lelaki itu terdiam. Perempuan itu terdiam. Betapa menyakitkan memiliki pengetahuan dan sekeping kebenaran.</p>
<p>Langit masih muram. Sepasang kupu-kupu bersayap kuning berbintik ungu melayang bersama. Burung gagak di atas pohon ara kering sudah menghilang sejak tadi. Mega tembaga di langit beringsut sedikit menyisakan sebuah lubang kecil di tengahnya. Sebutir air menetes melaluinya, jatuh tepat di atas sehelai daun zaitun pada ranting yang tertancap di ujung gundukan tanah bercampur lempung kuning, lalu menghunjam tanpa ragu ke tanah. Sepi pun serta-merta menyergap petang. Sepasang lelaki dan perempuan beranjak. Ke Timur. Kian ke luar taman yang tidak lagi berhak mereka tinggali. Menyongsong masa depan yang belum dipastikan.</p>
<p class="datex">&#8212; PinAng: Kamis, 10 Juli 2008 22:44</p>
<blockquote><p>[*] inspirasi judul dari film &quot;East of Eden&quot; yang dibintangi oleh Julie Harris dan James Dean<br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/East_of_Eden_(1955_film)" target="_blank">http://en.wikipedia.org/wiki/East_of_Eden_(1955_film)</a></p>
<p>[1] merenungkan filsafat Hindu &quot;Tat Tvam Asi&quot;<br />
<a href="http://genpositif.org/Global/Agung%20Putu/index.html.html" target="_blank">http://genpositif.org/Global/Agung Putu/index.html.html</a></p>
<p>[2] mengingat &quot;The Celestine Prophecy&quot; karya James Redfield<br />
<a href="http://www.thecelestineprophecymovie.com/insights.php" target="_blank">http://www.thecelestineprophecymovie.com/insights.php</a></p>
<p>[3] mengkaji puisi &quot;On Children&quot; karya Gibran Kahlil Gibran<br />
<a href="http://www.katsandogz.com/onchildren.html" target="_blank">http://www.katsandogz.com/onchildren.html</a></p>
<blockquote><p>Your children are not your children.<br />
They are the sons and daughters of Life&#8217;s longing for itself.<br />
They come through you but not from you,<br />
And though they are with you yet they belong not to you.</p>
<p>You may give them your love but not your thoughts,<br />
For they have their own thoughts.<br />
You may house their bodies but not their souls,<br />
For their souls dwell in the house of tomorrow,<br />
which you cannot visit, not even in your dreams.<br />
You may strive to be like them,<br />
but seek not to make them like you.<br />
For life goes not backward nor tarries with yesterday.</p>
<p>You are the bows from which your children<br />
as living arrows are sent forth.<br />
The archer sees the mark upon the path of the infinite,<br />
and He bends you with His might<br />
that His arrows may go swift and far.<br />
Let our bending in the archer&#8217;s hand be for gladness;<br />
For even as He loves the arrow that flies,<br />
so He loves also the bow that is stable.</p>
</blockquote>
<p>[4] menyadur al-Qur&#8217;an QS ar-Ra&#8217;d 13:11</p>
<blockquote><p>Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.</p>
</blockquote>
<p>[5] menyaksikan tragedi Monas 1 Juni 2008<br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=AlMnli0jcp4&amp;feature=related" target="_blank">http://www.youtube.com/watch?v=AlMnli0jcp4&amp;feature=related</a></p>
<p>[6] mengutip Injil Yohanes 18:38a<br />
<a href="http://sabdaweb.sabda.org/bible/verse/?b=43&amp;c=18&amp;v=38" target="_blank">http://sabdaweb.sabda.org/bible/verse/?b=43&amp;c=18&amp;v=38</a></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p>Saya mengalami kesulitan besar memangkas dan menautkan kata mengejar batas maksimal 10.000 karakter akibat salah ingat, menyangka 10.000 kata. Membuang cukup banyak alinea ibarat melakukan mutilasi terhadap untaian tema yang telanjur telah dituliskan. Inilah jadinya, sebuah tulisan compang-camping hasil pembantaian dari sebuah prosa liris.</p>
<p>Meski sudah berupaya keras, ternyata hasilnya masih saja melampaui batas maksimal karakter. 12.600 karakter jika catatan kaki dimasukkan, 11.138 karakter tanpa catatan kaki (semuanya tanpa memperhitungkan karakter kosong antarkata). Secara administratif, saya sudah terkena diskualifikasi. Saya tidak sanggup berbuat lebih <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=226&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/04/di-timur-luar-sebuah-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/AdamEve.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Adam and Eve</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyongsong Petang di Teras Starbuck</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/23/menyongsong-petang-di-teras-starbuck/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/23/menyongsong-petang-di-teras-starbuck/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 18:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[ecce homo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/23/menyongsong-petang-di-teras-starbuck/</guid>
		<description><![CDATA[— Perjumpaan dengan Padre Joas Adiprasetya the clown Bukanlah satu kebiasaan maupun kebisaan saya untuk bertemu secara nyata dengan orang-orang yang mulanya saya jumpai di dunia maya internet seperti mailing list (milis) melalui acara yang lazim disebut kopi darat (kopdar). &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/23/menyongsong-petang-di-teras-starbuck/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=183&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Perjumpaan dengan Padre Joas Adiprasetya</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/JoasClown.jpg" alt="Joas" width="250" height="222" /><br />
the clown</td>
</tr>
</table>
<p>Bukanlah satu kebiasaan maupun kebisaan saya untuk bertemu secara nyata dengan orang-orang yang mulanya saya jumpai di dunia maya internet seperti <em>mailing list</em> (milis) melalui acara yang lazim disebut <span style="text-decoration:underline;">kopi darat</span> (kopdar). Jangankan yang bersifat pribadi satu lawan satu, bahkan yang dilakukan secara beramai-ramai dengan anggota lain milis pun sebenarnya tidak sangat menarik minat saya.</p>
<p>Bisa dihitung dengan jari sebelah tangan jumlah kopdar yang pernah saya ikuti. Satu kali kopdar tidak resmi dengan beberapa anggota milis <a href="http://yahoogroups.com/group/apikatolik" target="_blank">APIKatolik</a> plus <a href="http://www.gerejakatolik.net" target="_blank">gerejakatolik.net</a> setelah misa Jumat pertama yang dilayankan oleh Romo Gani di Chase Plaza, satu kali dengan milis [yang waktu itu bernama] <a href="http://yahoogroups.com/group/gkps" target="_blank">gkps</a> di Laponi Tondongta Jalan Sabang, dua kali dengan milis <a href="http://yahoogroups.com/group/hkbp" target="_blank">hkbp</a> yang masing-masing berlangsung di Laponi Tondongta Jalan Sabang dan lapo Taman Mini. Hanya itu. Sedangkan yang sifatnya pribadi pun hanya segelintir. Yang saya ingat adalah dengan Dea, Debora, Telly, Caroline, Romo Gani, dan Mbah Dukun Sesat alias Efron.</p>
<p>Sebenarnya kekurangminatan saya itu lebih disebabkan oleh kekhawatiran menjadi canggung saat bersosialisasi dengan orang-orang yang belum saya kenal. Acapkali saya mengalami kesulitan mencari topik perbincangan awal yang menarik bagi keduabelah pihak (terlebih-lebih jika lawan bicara saya adalah kaum lelaki. Males banget dah! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  ).<br />
<span id="more-183"></span></p>
<p>Hal ini amat berbeda dengan dunia pekerjaan, dimana saya tidak menemui kesulitan saat berjumpa dengan siapa pun dari tingkatan apa pun kendati belum pernah berkenalan. Dengan mereka, tentu saja topik yang akan dibicarakan sudah dipahami [dan disepakati] oleh keduabelah pihak, sehingga tidak diperlukan basa-basi dalam rangka menebak-nebak jenis perbincangan. Semuanya bisa dilakukan <em>to the point</em> dalam semesta yang tidak terlalu melebar.</p>
<p>Sedangkan kopdar biasanya tidak memiliki agenda pembicaraan khusus. Semuanya amat cair dan mengalir sehingga bisa melantur ke mana-mana. Di situlah letak kesulitan saya; menebak-nebak bahan perbincangan yang diminati oleh lawan bicara. Apalagi jika kopdar tersebut bersifat pribadi tanpa kehadiran orang ketiga yang bisa menolong mengisi pembicaraan guna mencegah kebekuan. Dan, celakanya pula, saya termasuk orang yang paling enggan merepotkan diri menebak-nebak pikiran orang lain.</p>
<p>Sindrom itu pulalah yang menghantui saya tatkala mengarahkan mobil menuju Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta di Jalan Proklamasi pada tanggal 20 Agustus yang lalu. Sehari sebelumnya, sebuah SMS masuk ke ponsel saya menanyakan apakah saya ada waktu keesokan harinya sekitar jam 14 untuk bertemu. Kalau saja pengirimnya bukan orang bernama Joas Adiprasetya, barangkali saya tidak terlalu grogi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kini nasi sudah menjadi bubur, dan janji tak mungkin lagi ditarik. Sejak sekian bulan, bahkan tahun, yang lalu, ketika beliau masih &#8220;nyantrik&#8221; di Boston University, saya sudah memaksanya mencantumkan nama saya dalam daftar orang yang ingin &#8220;beraudiensi&#8221;, minimal minum kopi dan merokok bareng. Dan beliau sudah menyatakan kesediaannya.</p>
<p>Janji itu ditepatinya begitu kembali ke Indonesia. Malah, saya sudah disediakan waktu bertemu seusai kebaktian pagi di GKI Pondok Indah pada tanggal 20 Juli 2008, tepat 2 hari setelah tibanya di Jakarta. Sayangnya, pada tanggal yang dinanti-nantikan tersebut saya batal datang karena Riris (istri saya) kurang sehat. Walhasil, terjadilah penundaan hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan. Apalagi, jadwal beliau tampaknya cukup padat.</p>
<p>Sebenarnya, hari Minggu itu saya nyaris menjadi orang yang sangat beruntung. Sampai-sampai Padre Calvin van Pamulang sempat-sempatnya mengemukakan &#8220;kecemburuan&#8221; atas keberuntungan saya itu sementara beliau harus berkutat dengan urusan Sinode di Bandung. Dengan masygul saya balas SMS beliau mengabarkan batalnya perjumpaan dengan Joas.</p>
<p>Bukanlah sebuah omong-kosong jika saya katakan bahwa Joas adalah salah satu orang yang membuat saya merasa terhormat jika bisa berjumpa. (Dengan presiden saja rasanya tidak begini-begini amat karena memang tidak minat <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  ) Barangkali akan terdengar jumawa jika saya katakan tidak banyak orang yang saya segani dari dunia maya milis. Tapi, memang demikianlah kenyataannya. Dan Joas adalah salah satu dari sedikit orang tersebut (tidak perlulah saya jelaskan panjang-lebar alasannya). Meskipun saya tahu bahwa usianya lebih muda dibanding saya, hal itu sama sekali tidak mengubah pandangan saya terhadapnya sebagai seorang <em>locianpwee</em> dunia <em>kangouw</em> yang kepadanya patut saya haturkan <em>soja</em>.</p>
<p>Maka, bercampurbaurlah perasaan yang bergejolak di dalam hati saat memasuki areal parkir depan STT Jakarta tepat satu bulan setelah janji yang tertunda. Saking tidak ingin kehilangan waktu, saya sudah tiba di sana sekitar pukul 12.30. Sampai lupa bahwa saya belum makan siang. Akhirnya, saya makan dulu di salah satu rumah makan di Megaria yang [konon] pernah menjadi daerah &#8220;jajahan&#8221; Joas saat masih menjadi mahasiswa STT. Setelah itu, saya menghabiskan sisa waktu dengan menjalani lorong-lorong kampus STT dan membaca-baca pengumuman yang terpampang di sana. Sialnya, entah sejak kapan, kampus itu mendeklarasikan diri sebagai kampus bebas asap rokok <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> (</p>
<p>Tepat 5 menit menjelang pukul 14, saya berkirim SMS, &#8220;Mas Joas, saya sudah tiba di STT.&#8221; Hanya dalam hitungan kejapan mata, saya melihat seseorang berperawakan agak gemuk berjalan sambil &#8220;celingak-celinguk&#8221; di areal parkir dalam kampus. Aha, itu Joas! Untunglah saya sudah pernah melihat fotonya, sehingga dengan yakin saya melambaikan tangan. Sedangkan beliau rupanya ragu bahwa saya adalah orang yang sudah berjanji bertemu dengannya siang itu. Tentu saja orang yang dicarinya sangat berbeda dengan yang dipikirkannya, karena saya tidak lagi berambut panjang dan berkuncir. Apalagi saat itu saya berpenampilan cukup rapi dengan hem dan pantalon dan sepatu kulit layaknya orang kantoran, tidak lusuh seperti yang dibayangkannya sebagaimana terlihat dalam foto kopdar milis hkbp di lapo Taman Mini beberapa waktu yang lalu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8220;Ke mana kita? Saya tidak tahu tempat ngopi di sekitar sini,&#8221; kata saya setelah kami saling menyampaikan salam. Saya benar-benar lupa untuk terlebih dahulu mencari informasi dari adik ipar saya yang berkuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tentang tempat nongkrong yang nyaman di kawasan tersebut. Kabarnya, Café Loro Jonggrang di seputaran Cikini menyuguhkan kopi yang enak (tapi belum pernah saya jajal).</p>
<p>Rupanya Joas pun tidak begitu tahu perkembangan wilayah itu setelah 5 tahun penuh meninggalkan Indonesia. Akibatnya, mobil pun merambah jalan tanpa kepastian tujuan. Sambil jalan, kami berbincang-bincang menanyakan kabar dan keluarga masing-masing sebagaimana lazimnya orang baru berkenalan.</p>
<p>Setelah sampai di Kuningan, barulah saya ingat Starbuck di Tebet. Dan ke sanalah kami menuju. Padahal, di Setiabudi Building pun ada Starbuck. Inilah susahnya jika kekikukan masih membayangi. Pikiran jadi butek.</p>
<p>Beruntung Joas bukan orang kikuk seperti saya, malah cukup santai. Sehingga, tanpa banyak memakan waktu, kami sudah bisa berbincang tanpa jeda yang cukup berarti. Tapi, tentu saja perbincangannya masih belum beranjak terlalu jauh dari urusan milis <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setelah beberapa tegukan kopi racikan Starbuck membasahi tenggorokan diiringi belaian lembut kabut nikotin (A Mild untuk saya, Marlboro merah untuk Joas), perbincangan pun semakin hangat. Mulai dari soal STT, PGI, GKI, gereja pada umumnya, pendampingan jemaat, <em>think tank</em> gereja, keluarga, puisi saya, eksklusivisme-pluralisme-inklusivisme-singularisme agama, tesis doktoral yang diambilnya, hingga akhirnya sampai ke topik yang saya nanti-nantikan yaitu tentang apa yang akan dilakukannya di dan bagi Indonesia setelah menuntaskan penuntutan ilmu di Boston. Hati kecil saya sangat berharap beliau akan meluangkan waktu dan kemampuannya yang menurut saya <em>extra-ordinary</em> itu untuk menulis. Tentu saja yang saya maksudkan adalah menulis artikel dan buku yang dipublikasikan secara resmi dan luas, bukan sekedar melalui milis.</p>
<p>Joas tertawa ketika harapan saya itu mengingatkannya pada rencana menulis buku <strong>Amor Mundi</strong> yang sangat saya nanti-nantikan sejak bertahun silam. Namun, saya sangat bisa memaklumi ketika beliau mengakui mengalami kesulitan mewujudkannya. Terlalu banyak gagasan yang berseliweran di kepala sehingga malah bingung memilih dan memilahnya. Konon, itulah kutukan yang melekat pada orang yang punya banyak pengetahuan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Belum lagi soal disiplin meluangkan waktu duduk di hadapan komputer untuk menulis.</p>
<p>Alih-alih memberikan perkiraan penyelesaian buku <strong>Amor Mundi</strong>, Joas malah membuat saya sangat terperanjat ketika mengajukan pertanyaan, &#8220;Buku apa yang sebaiknya saya tulis?&#8221;</p>
<p>Waduh! Jelas ini bukan pertanyaan sambil lalu. Malah, terasa menjadi tohokan jitu terhadap alasan saya yang paling hakiki mengapa ingin berjumpa dengannya. Terang saja saya jadi gelagapan. Apa pula kompetensi saya sehingga pantas memberikan opsi untuk bidang yang tidak saya kuasai secara mumpuni?</p>
<p>Namun, di sisi lain pertanyaan itu membuat saya sadar tentang posisi saya selaku jemaat awam yang tentunya memiliki kebutuhan dan gairah menemukan pencerahan atas berbagai hal yang selama ini berlaku secara <em>taken for granted</em> bahkan cenderung menjadi ultimatum <em>take it or leave it</em>. Juga tentang banyak hal kontekstual dalam dinamika nyata kehidupan sehari-hari yang nyaris tidak/belum disentuh oleh gereja. Dalam hal ini, belum tersedia cukup literatur bagi kaum awam yang tidak akrab dengan bermacam jargon teologi-akademis.</p>
<p>Belum sempat saya mengurai, menautkan, dan merumuskan kecamuk pemikiran, kembali Joas mengejutkan saya dengan gagasan tentang &#8220;tarian&#8221; Trinitarian yang menjadi dasar dari seluruh &#8220;tarian&#8221; kehidupan kini dan di sini. Entah bagaimana, beliau seperti bisa membaca apa yang ada dalam pikiran saya sekaligus menjawabnya dengan jitu tanpa perlu saya katakan. (Itu sebabnya saya pernah katakan pada Efron bahwa Joas adalah anomali sekaligus jenius <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p>Menurutnya, hal itu sebenarnya sudah sangat akrab bagi kalangan Kristen di masa lampau, khususnya di Gereja Timur. Jelas, gagasan itu sangat menarik bagi saya karena pernah membaca buku yang membahas metafora &#8220;tarian&#8221; Allah Trinitarian. Hanya saja saya masih belum mampu mencerna maknanya dengan baik, sehingga masih amat jauhlah dari pemikiran saya tentang cara membahasakannya kepada masyarakat Kristen Indonesia yang lebih didominasi pemahaman teologi Barat.</p>
<p>Kendati demikian, samar-samar saya bisa membayangkan sebuah filosofi yang bisa menjadi dasar teologis bagi penerimaan, penghormatan, dan perayaan terhadap keragaman sekaligus landasan membangun kemitraan dengan semua pihak dalam kerangka pemuliaan manusia. Dalam hal ini, Joas mengatakan bahwa dengan itu kita bisa bicara banyak hal; ekologi, feminisme, keadilan, kesejahteraan, harmoni, dan sebagainya. Hanya saja, belum bisa saya bayangkan bagaimana sesungguhnya uraian tentang tarian Sang Allah Trinitarian tersebut dan bagaimana pula kisi-kisi pola yang bisa ditawarkan pada khalayak perihal penerapan praktisnya. Entah bagaimana pula relasinya dengan <em>global ethics</em> yang dulu pernah menarik minat Joas [dan masih tetap menarik bagi saya].</p>
<p>Ah, biarlah itu menjadi urusan sang resi.</p>
<p>Tiga jam berbincang dengan Joas ternyata amat jauh dari menjemukan, malah sangat menggairahkan (walau saya yakin bahwa semua yang kami bicarakan barulah tepi-tepi dan kembang-kembangnya saja, belum masuk ke inti yang tentunya tidak sederhana). Sensasinya seperti berjumpa kembali dengan seorang kawan lama walau baru pertamakali bertemu. Maka, agak berat juga rasanya ketika saya mengantar beliau kembali ke Jalan Proklamasi. Tugas kampus sudah menantinya.</p>
<p>&#8220;Datanglah ke rumah kalau buku-buku saya sudah sampai dari Amerika,&#8221; katanya ketika saya mengarahkan mobil meninggalkan pelataran parkir STT. Saya mengiyakan sembari membayangkan 3000-an buku yang akan datang menyerbu rumahnya.</p>
<p>Jarum jam menunjukkan pukul 17 lewat sedikit ketika saya pulang dengan perasaan lebih penuh, laksana cangkir dituangi kopi wangi yang baru saja kami nikmati di teras Starbuck.</p>
<p class="datex">— PinAng: Sabtu, 23 Agustus 2008 01:48</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=183&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/23/menyongsong-petang-di-teras-starbuck/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/JoasClown.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Joas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nuansa Spiritual dan Fasisme Beragama</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/11/nuansa-spiritual-dan-fasisme-beragama/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/11/nuansa-spiritual-dan-fasisme-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 16:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[risalah kedunguan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/11/nuansa-spiritual-dan-fasisme-beragama/</guid>
		<description><![CDATA[— Refleksi dari Diskusi di Beberapa Milis &#34;Agama&#34; Broken Glass octagonbolton.co.uk Walau tidak boleh dijadikan ukuran sahih bagi kenyataan sesungguhnya, peran mailing list (milis) dalam kehidupan masa kini dapat dianggap sebagai miniatur dan replika dinamika suatu komunitas. Bahkan, tidak jarang &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/11/nuansa-spiritual-dan-fasisme-beragama/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=100&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Refleksi dari Diskusi di Beberapa Milis &quot;Agama&quot;</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/BrokenGlass.jpg" alt="Broken Glass" width="200" height="264"><br />Broken Glass<br />
    <a href="http://www.octagonbolton.co.uk/OldArchive/images/Broken-Glass-official-image.jpg" target="_blank">octagonbolton.co.uk</a></td>
</tr>
</table>
<p>Walau tidak boleh dijadikan ukuran sahih bagi kenyataan sesungguhnya, peran <em>mailing list</em> (milis) dalam kehidupan masa kini dapat dianggap sebagai miniatur dan replika dinamika suatu komunitas. Bahkan, tidak jarang milis menjadi muara penyampaian berbagai suara yang tak tersuarakan di dunia nyata. Oleh sebab itu, ijinkan saya menggunakan beberapa fakta yang berlangsung di milis sebagai dasar pijakan tulisan ini.</p>
<p>Belum lama berselang, saya melihat adanya kemiripan tema diskusi di beberapa milis yang dari namanya sedikit-banyak bersentuhan dengan gatra-gatra keagamaan. Fenomena ini jadi menarik karena masing-masing milis tersebut tidak memiliki hubungan satu sama lain.</p>
<p>Di <a href="http://yahoogroups.com/group/islamliberal" target="_blank">islamliberal@yahoogroups.com</a> diskursus perihal aliran Ahmadiyah masih terasa hangatnya bahkan setelah pemerintah Republik Indonesia &quot;menyatakan sikap&quot; melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Mentri yang melarang Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) menyebarluaskan ajarannya [1]. Diskusi kian hangat setelah terjadi tragedi 1 Juni 2008 di lapangan Monumen Nasional (Monas) ketika rencana unjukrasa massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) &#8212;yang salah satu agendanya mengecam SKB tentang Ahmadiyah&#8212; bubar berantakan akibat serbuan kelompok yang menamakan dirinya Front Pembela Islam (FPI).</p>
<p>Suara yang berkembang di kalangan umat Islam di dunia nyata maupun maya cukup beragam. Salah satu yang gaungnya cukup populer adalah seruan [termasuk dari kalangan cendekiawan dan politisi] agar Ahmadiyah berhenti mendaku sebagai umat Islam dengan cara membuat agama sendiri. Dan di jalan-jalan, banyak terbentang spanduk yang menyerukan pembubaran Ahmadiyah. Pada intinya, Ahmadiyah hendak didorong keluar dari bangunan bernama Islam.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p>Di <a href="mailto:diskusi@gerejakatolik.net">diskusi@gerejakatolik.net</a> berlangsung diskusi [klasik] yang tidak kalah serunya berkenaan dengan maraknya gerakan karismatik dalam tubuh Gereja Katolik Roma (GKR). Topik ini saya anggap klasik karena berlangsung hampir setiap tahun, bahkan bukan hanya di satu milis Katolik saja. Nyaris hanya merupakan pengulangan yang hampir selalu berakhir buntu.</p>
<p>Meskipun gerakan karismatik sudah cukup lama dinyatakan sebagai bagian sah dari GKR sehingga diakomodasikan dalam wadah Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK), sebagian umat yang merasa nyaman dengan gaya ibadah hening-khidmat yang telah menjadi tradisi ratusan tahun merasa terusik oleh kehadiran ibadah ekspresif [yang kadang disertai bahasa roh dan misa penyembuhan] yang dilakoni kalangan karismatik.</p>
<p>Dilema, bahkan inkonsistensi, pun membayangi para peserta diskusi, terlebih-lebih mereka yang cap berusaha tampil sebagai pembela gigih ajaran dan lembaga GKR. Ada yang berpendapat bahwa gerakan karismatik adalah bentukan kalangan Protestan yang disusupkan ke tubuh GKR agar terjadi pembusukan dari dalam. Di sisi lain, tidaklah kalah kuat pandangan yang menyatakan bahwa sesungguhnya gerakan karismatik memiliki akar historis, bahkan lahir, dari rahim GKR perdana namun meredup dan kemudian &quot;dilahirkan kembali&quot; oleh kalangan Protestan.</p>
<p>Diskusi kian memanas sampai-sampai ada peserta diskusi yang mengultimatum agar gerakan karismatik membentuk gereja sendiri yang terpisah dari GKR. Gerakan karismatik hendak didorong keluar dari bangunan bernama Katolik.</p>
<p>Sementara itu, di <a href="http://yahoogroups.com/group/hkbp" target="_blank">hkbp@yahoogroups.com</a> terjadi diskusi yang tidak terlalu hangat tentang &quot;kebaktian alternatif&quot; yang merupakan istilah lain bagi ibadah a-la karismatik yang belakangan ini banyak diminati kalangan muda. Walau diskusi hanya berlangsung sebentar, sempat tercetus pendapat bahwa gereja tidak berkewajiban memuaskan selera anggota jemaat yang menganggap kebaktian klasik kurang berterima di kalangan anak muda. Walau berbeda dalam notasi, iramanya senada dengan yang muncul di kedua milis sebelumnya, yakni menyapih kelompok [minoritas] yang tampil berbeda tersebut dari tubuh induknya.</p>
<p>Tragisnya, situasi di dunia nyata HKBP lebih memilukan. Pada beberapa gereja terjadi polarisasi frontal di kalangan anggota jemaat. Friksi yang merupakan warisan pertikaian kelas tinggi di lembaga HKBP belasan tahun silam telanjur meresap hingga ke sebagian akar rumput. Jemaat/gereja yang semula satu lantas terpecah menjadi [minimal] dua kubu. Masing-masing mendaku sebagai pemilik sah gereja (terutama bangunan dan aset-asetnya).</p>
<p>Akibat kontestasi beraroma &quot;menang-kalah&quot; yang tidak jarang dilakukan secara fisik itu, salah satu kelompok dipastikan akan tersingkir sebagai pecundang. Mereka yang kalah otomatis kehilangan hak menggunakan gereja sebagai tempat beribadah. Misalnya, yang kalah dalam perseteruan di HKBP Pondok Bambu baru dapat melaksanakan ibadah setelah pihak Gereja Bethany mengijinkan gedung gerejanya digunakan. Sedangkan yang kalah dalam perseteruan HKBP di Jalan R.E. Martadinata Bandung terpaksa melangsungkan ibadahnya di pinggir jalan raya.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Baik di kalangan Islam, Katolik, maupun Protestan (dan tidak tertutup kemungkinan pada agama-agama lain) terjadi proses serupa, yakni kristalisasi pemahaman yang bermuara pada pendakuan sebagai pewaris sah dan murni ajaran agama. Semua yang dipandang berbeda dengan pakem tradisi akan dianggap melenceng sehingga tidak berhak turut ambil bagian dalam komunitas. Mereka tidak pantas hadir dalam istana agama.</p>
<p>Panji-panji agama dipandang masif berwarna merah seluruhnya, atau hijau seluruhnya, atau putih seluruhnya. Tidak satu warna lain pun boleh hadir dalam semestanya. Nuansa, gradasi, apalagi noktah kontras, amat diharamkan karena akan menodai kesucian warna tunggal.</p>
<p>Menyaksikan ketegaran hati manusia yang [mungkin sukar dihindarkan] berujung pada kekerasan, timbul pertanyaan, &quot;Apakah memang begini seharusnya wajah agama yang konon hadir dalam sejarah untuk memperbaiki ahlak dan kehidupan manusia? Inikah wajah sejati dari konsep karunia bagi semesta alam dan cinta kasih yang kerap didengung-dengungkan itu?&quot;</p>
<h3>Fenomena Apolos</h3>
<p>Dari pembacaan terhadap &quot;sejarah&quot; ketuhanan dan keagamaan dalam khasanah Kristen, patut diakui bahwa diskursus dan benturan wacana teologis bukanlah sesuatu yang baru ataupun asing. Perjanjian Baru memberikan gambaran bahwa berbagai aliran dalam kekristenan telah hadir sejak masa gereja perdana. Misalnya, dalam &quot;Surat kepada Jemaat di Korintus&quot; Paulus mencatat adanya golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan golongan Kristus [2]. Bisa jadi yang disebutkan oleh Paulus hanyalah kelompok besar dan cukup menonjol. Itu pun yang terdapat di Korintus saja. Bagaimana dengan kota-kota lain maupun kelompok-kelompok lebih kecil yang kurang populer? Bukannya tidak mungkin terdapat sangat banyak aliran dan kelompok yang sama-sama mengaku sebagai pengikut Kristus.</p>
<p>Amatlah menarik melihat nama-nama yang disebutkan dalam surat itu. Apolos yang tidak begitu terkenal disandingkan dengan nama besar Paulus dan Kefas (Petrus) yang bergelar Rasul dan dianggap sebagai sokoguru kekristenan. Lebih hebat lagi, ketiganya disejajarkan dengan Kristus sendiri.</p>
<p>Tidak dapat dinafikan bahwa penamaan kelompok-kelompok tersebut merupakan indikasi adanya perbedaan yang cukup mendasar satu sama lain. Dalam konteks agama, hal itu nyaris selalu dibarengi dengan perbandingan tingkat rohani. Adanya kelompok yang menamakan dirinya &quot;golongan Kristus&quot; mencerminkan hasrat pendakuan sebagai satu-satunya penerus sejati ajaran Kristus, sehingga semua golongan lain dianggap bukan pengikut Kristus alias bukan orang Kristen.</p>
<p>Paulus menegaskan bahwa perbedaan pandangan (hikmat) tidak menjadikan Kristus terbagi-bagi. Semua umat beriman sesungguhnya tidak memiliki apa pun yang dapat disombongkan sebagai kelebihannya dibanding orang lain, sehingga tak seorang manusia pun yang pantas memegahkan diri di hadapan Allah. </p>
<p>Teguran Paulus ini terasa masih sangat relevan bagi masa kini, sebab [hampir] semua perbedaan dan benturan yang terjadi dalam tubuh agama dibarengi dengan pendakuan kelebihbenaran dan kelebihsucian, bahkan paling benar dan paling suci, dan akhirnya satu-satunya yang benar dan suci. Padahal, ketidakterkenalan Apolos dibandingkan Paulus dan Petrus dapat dibaca sebagai isyarat bahwa <u>di hadapan Tuhan semua kelompok memiliki kesamaan dalam harkat dan peluang</u>.</p>
<h3>Fenomena &quot;Jalan Tuhan&quot;</h3>
<p>Adanya pengelompokan yang didasari oleh perbedaan pandangan pada masa kerasulan Paulus itu bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Saya menduga bahwa kemunculan berbagai aliran dalam agama Kristen bahkan sudah berlangsung lebih awal.</p>
<p>Alkitab mencatat bahwa sebelum berbalik menjadi pengikut Kristus, Paulus adalah seorang &quot;pejuang&quot; Farisi yang giat membela kemurnian agama Yahudi dengan cara memburu pengikut &quot;Jalan Tuhan&quot; hingga ke Damsyik/Damaskus di Suriah [3]. Mengapa Paulus &#8212;yang saat itu masih bernama Saul&#8212; tidak mengejar kelompok Petrus, Yohanes, dan Yakobus di Yerusalem yang nota bene adalah pusat agama Yahudi sendiri? Mengapa harus jauh-jauh hingga ke Damsyik?</p>
<p>Amat menarik melihat penggunaan huruf kapital pada kata-kata &quot;Jalan Tuhan&quot; yang dalam versi lain disebut &quot;Way of the Lord&quot; (Today&#8217;s English Version, 1992) atau &quot;Lord&#8217;s Way&quot; (Contemporary English Version, 1995). Cara penulisan seperti itu menimbulkan kesan bahwa yang menjadi sasaran Saul bukanlah semua penganut ajaran Kristus (orang Kristen) melainkan sekelompok orang yang cukup menonjol (mungkin karena militansi ataupun determinasinya) sehingga dipandang sebagai representasi ajaran Kristen.</p>
<p>Sikap Saul yang &quot;membesarkan&quot; reputasi kelompok &quot;Jalan Tuhan&quot; merupakan cerminan sifat manusia yang memerlukan sosok utama sebagai fokus dan prioritas (dalam konteks positif maupun negatif). Tidak terhitung berapa banyak aliran dan kelompok dalam agama Kristen pada saat ini, namun tidak banyak yang mampu menjulangkan namanya sehingga bisa dianggap sebagai suara dan cerminan umat Kristen. <u>Pada komunitas itulah ujian terbesar akan dikenakan</u>.</p>
<p>Barangkali di sinilah posisi HKBP selaku komunitas Kristen terbesar di Indonesia. Guncangan yang terjadi pada dirinya menjadi tolok ukur kekuatan mengguncang komunitas-komunitas Kristen lain yang lebih kecil. Waktulah yang akan menjawab apakah HKBP mampu bertahan dan keluar sebagai pemenang dari kemelut berkarat belasan tahun ataukah sirna seperti kelompok &quot;Jalan Tuhan&quot; yang diburu dengan penuh semangat oleh pasukan Saul.</p>
<h3>Fenomena Israel dan Yehuda</h3>
<p>Sejak kapankah pengelompokan dan perbedaan dalam tubuh agama bermula? Sejak masa Perjanjian Baru ataukah lebih tua lagi?</p>
<p>Menarik surut ke masa lampau, ternyata Perjanjian Lama yang merupakan kronikel pra-Kristen pun tidak kurang-kurang mencatat perseteruan keras akibat perbedaan pemahaman dalam agama [Yahudi]. Misalnya, kisah pecahnya keduabelas suku Yahudi menjadi dua kerajaan (Israel di Utara, Yehuda di Selatan) berdampak (atau malah bersebab?) pada keragaman pandang dalam agama itu sendiri, bukan semata-mata politis.</p>
<p>Hal ini dapat dilihat dari pemilihan Shiloh sebagai episentrum suci negara Israel dan Yerusalem bagi negara Yehuda. Lahirnya dua pusat kesucian agama dan bangsa Yahudi merupakan tanda adanya perbedaan penyikapan ritual yang tentu saja tidak dapat dilepaskan dari perbedaan teologi. Padahal, kedua-duanya menyebut dirinya sebagai penganut agama yang ajaran dan aturannya disampaikan oleh Musa. Jika benar demikian, seyogianya mereka memiliki pemahaman yang sama perihal kekudusan maupun hal-hal keagamaan lainnya. Tetapi, kenyataan berbicara lain.</p>
<p>Dari kenyataan itulah kita bisa melihat indikasi bahwa <u>kesucian yang konon dianggap mutlak itu ternyata bersifat nisbi dan portabel</u>. Atau dengan kata lain, <u>kesucian itu bisa didefinisikan sesuai dengan kebutuhan ataupun perkembangan penafsiran terhadap kesucian itu sendiri</u>.</p>
<h3>Fenomena Kain</h3>
<p>Rasanya akan tanggung jika amatan mengenai hal ini kita cukupkan sampai sejarah Israel dan Yehuda saja. Kerasnya gesekan antar kelompok dalam suatu agama tidaklah mungkin terjadi dalam sekejap. Diperlukan tenggang waktu yang cukup panjang untuk sampai ke tahap itu. Maka, amatlah wajar jika saya menduga bahwa ihwal sejarahnya jauh lebih tua.</p>
<p>Ternyata, jika kita beranjak lebih jauh ke masa silam, bahkan hingga ke lembaran-lembaran pertama Alkitab, akan kita temukan bahwa pertikaian dalam aroma agama dapat dilacak hingga ke masa perdana manusia alkitabiah! (baca: sejarah manusia menurut Alkitab). Dan itu bermula pada generasi kedua manusia: Kain dan Habel.</p>
<p>Kitab Kejadian 4 mencantumkan 7 ayat sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p>[2] Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.</p>
<p>[3] Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; [4] Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, [5] tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.</p>
<p>[6] Firman TUHAN kepada Kain: &quot;Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? [7] Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.&quot;</p>
<p>[8] Kata Kain kepada Habel, adiknya: &quot;Marilah kita pergi ke padang.&quot; Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.</p>
</blockquote>
<p>Meskipun tidak tertutur gamblang, ayat-ayat di atas merupakan narasi tindak kekerasan dan pembunuhan pertama antarmanusia yang berakar pada perbedaan penghayatan spiritual. Ritual yang merupakan simbolisasi penghayatan spiritual dipandang sebagai indikator nyata kehadiran dan perhatian Tuhan, yang wajib diperoleh secara mutlak tanpa berbagi dengan pihak lain.</p>
<p>Cermatan pada ayat-ayat di atas menyodorkan keunikan yang sangat mengejutkan. Justru kepada Kainlah Tuhan berkenan bercakap-cakap. Tidak sekali pun Tuhan menyapa Habel. Di sini terlihat betapa piawainya penulis kitab Kejadian menggambarkan <u>akar persoalan pertikaian dalam tubuh agama yang berlangsung sejak jaman baheula hingga masa kini, yakni kecemburuan dan kedengkian yang lahir dari perasaan lebih menghaki Tuhan dibanding manusia lain</u>.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Perasaan dekat dengan Tuhan tidak jarang bermetamorfosis menjadi keangkuhan menganggap dirinya memiliki derajat lebih tinggi secara rohani dibanding orang lain, yang kerap diistilahkan dengan &quot;kesombongan rohani&quot;. Penafsirannya atas wahyu serta pelaksanaannya dalam ritual dijadikan standar menakar kesucian. Segala sesuatu yang berada di luar pakem kesucian yang diterapkannya akan dianggap sesat.</p>
<p>Tudingan kesesatan itu dengan segera dapat berubah menjadi panggilan suci (<em>crusade</em>, em&gt;jihad</em>) melakukan pembersihan apabila pihak yang mendaku lebih/paling/satu-satunya suci itu memiliki kuasa untuk melakukannya. Jika perlu, dengan cara kekerasan, tanpa mempedulikan bahwa pihak lain yang dianggapnya sesat itu tidak melakukan tindakan yang merongrong kewibawaan dan kesucian yang dipraktikkannya.</p>
<p>Kecuali aliran gnostik masa lalu yang memuja Kain, hampir tidak ada orang yang tidak menganggap Kain bersalah. Walau tidak ada perbuatan Habel yang menyebabkan ternodanya ritual Kain, kecemburuan Kain pada Habel membuatnya marah dan menganggap perlu melenyapkan Habel. Kain ingin memiliki Tuhan sepenuhnya bagi dirinya sendiri sehingga tidak rela jika Tuhan berkenan pada Habel. Padahal Kain tahu bahwa Tuhan tidak pernah berpaling meninggalkannya, bahkan memilih bercakap-cakap dengannya tinimbang Habel.</p>
<p>Jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya bukan perbedaan itu sendiri yang menjadi faktor utama perpecahan yang bermuara pada penindasan dan tindak kekerasan, melainkan <u>ketamakan rohani</u>. Kesombongan rohani mungkin akan melahirkan sikap melecehkan pihak lain yang membuahkan perasaan tidak senang dan terhina. Namun ketamakan rohani akan menyeret ke tindakan perampasan hak orang lain (termasuk nyawa) yang menciptakan penindasan, ketakutan, dan kebencian. Pada saat itulah agama kehilangan daya hidup dan menghidupkannya, digantikan oleh teror dan kematian.</p>
<p>Oleh sebab itu, baiklah kita ajukan pertanyaan: <strong>Peran siapakah yang dimainkan oleh kelompok dominan/mayoritas yang mendesak kelompok lain ke bibir jurang atas nama agama? Kain ataukah Habel?</strong></p>
<p>Keengganan menjawab pertanyaan itu akan terus merongrong dunia agama dan terus membayangi wajahnya, bahkan hingga saat ini, dengan terus bermunculannya para &quot;Kain baru&quot; dan &quot;Saul baru&quot; yang merasa memiliki hak pendakuan atas kesucian serta kekuasaan untuk melancarkan perang suci.</p>
<p class="datex">&#8212; PinAng: Senin, 11 Agustus 2008 23:26</p>
<blockquote>
<p>[1] Sikap pemerintah Republik Indonesia tidak dapat dilepaskan dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan haram sehingga menyarankan pemerintah membubarkan aliran tersebut. Juga tidak bisa dipisahkan dari saran Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) agar pemerintah menyatakan Ahmadiyah sebagai ajaran terlarang di Indonesia. Juga, desakan berbagai elemen masyarakat yang mengatasnamakan komunitas Islam.</p>
<p>[2] I Korintus 1:10-13<br />
Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloë tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?</p>
<p>[3] Kisah Para Rasul 9:1-2<br />
Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.</p>
<blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=100&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/11/nuansa-spiritual-dan-fasisme-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/BrokenGlass.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Broken Glass</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moksa* (english)</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa-english/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa-english/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 15:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[interfidei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa-english</guid>
		<description><![CDATA[Wheels of Light Francene Hart The clock hand is exactly at 5 in the afternoon when the short message from Bonang, my little brother, vibrates my mobile phone. The message is indeed short. &#34;Pak Tua1 died at 16.51. The family &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa-english/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=693&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table class="captl" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a href="http://www.francenehart.com/images/wheels.jpg" title="Wheels of Light" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/WheelsOfLight.jpg" alt="Wheels of Light" width="200" height="319"></a><br />
    Wheels of Light<br />
    <a href="http://www.francenehart.com" target="_blank">Francene Hart</a></td>
</tr>
</table>
<p>The clock hand is exactly at 5 in the afternoon when the short message from Bonang, my little brother, vibrates my mobile phone. The message is indeed short. &quot;Pak Tua<sup>1</sup> died at 16.51. The family expects your presence.&quot;</p>
<p>Family matter concerning death certainly cannot be delayed. Especially when my presence is needed so much. After father died, it has been my responsibility as the oldest son to represent our family. It is even more so, if there is a need to make a final decision as the family collective stance.</p>
<p>With the passing away of Pak Tua, the responsibility as the head of two families, which used to be Pak Tua&#8217;s, shifts to me. And I have to start playing the role by myself this time.</p>
<p>Memories of Pak Tua start intrude me. He was father&#8217;s elder brother and only sibling. He had been sick for several years and gone in and out the hospital. His condition was poor; he practically lied down in his bed all the time.</p>
<p><span id="more-693"></span></p>
<p>His easy-going character, which was opposite to father&#8217;s silent one, made me feel closer to Pak Tua. I preferred talking about many things with Pak Tua to doing it with father. Including about my relationship with Maharani back then, because of the different religions we held.</p>
<p>&quot;Your father&#8217;s effort to send you to advanced education will just go up in smoke if you cannot fix your problem,&quot; teased Pak Tua.</p>
<p>&quot;What do you mean, Pak Tua? What does my certificate have to do with love matter?&quot; I grumble. Pak Tua&#8217;s spontaneity in speaking made me feel free to talk frankly.</p>
<p>&quot;Not the certificate. It&#8217;s the common sense.&quot;</p>
<p>I fell silent.</p>
<p>&quot;You are worried that people&#8217;s respect for your father will incline if you marry a girl holding another religion?&quot; Pak Tua asked.</p>
<p>I admitted gloomily. Father was a man of few words, but the church community was always awaiting his consideration. He was considered as a sage and idol. Even though our family was quite moderate concerning religion, my unwillingness to spoil father&#8217;s image really banged me to the wall.</p>
<p>On the other hand, Rani&#8217;s status as the daughter of an Islamic leader has led us to the cliff. Let alone accepting the change of religion in the family member, even welcoming the presence of a non-Moslem into the family had been a fantasy. It was Rani herself who stated it.</p>
<p>Rani and I had tried hard to get the two families to accept our situation. But our efforts were always in vain. Rani&#8217;s family does not welcome my presence enough. Haekal, Rani&#8217;s littlest brother, was the only one who did not mind; he was quite friendly.</p>
<p>&quot;Your father is not indifferent, but he finds it difficult to talk this out with you. You know how reticent your father is. But I&#8217;m the one who knows him most. He is not an egoist who puts his reputation on top of his son&#8217;s happiness. He will back up your decision, as long as you are willing to face the risks,&quot; Pak Tua continued at that time.</p>
<p>&quot;Father never does demand that we do what is beneficial to him, he only reminds us to guard a reputation,&quot; I added, supporting his statement.</p>
<p>&quot;Is your relationship with Rani good for you as well as your reputation?&quot; I know Pak Tua was asking for confirmation for he knows Rani quite well.</p>
<p>I confidently nodded. Rani was definitely neither the most beautiful nor cleverest girl I had dated. Neither ugly, nor stupid. But she was the only wise girl who knew when to be quiet and when to make me shut up when dealing with my inability to control myself.</p>
<p>With Rani I felt safe and sound. And I believed that Rani felt the same as I did. At least, our five years of intense relationship can be made as reference.</p>
<p>&quot;I bet you would like it better if it is Rani who should change her religion,&quot; Pak Tua guessed, bothering me.</p>
<p>&quot;You bet, Pak Tua.&quot;</p>
<p>&quot;You do, huh? You are lazy even to go to church, how could you make her interested?&quot; he mocked while cackling.</p>
<p>&quot;It&#8217;s not the going to church which is important, Pak Tua; it&#8217;s the implementation of the teaching,&quot; I defended myself, half embarrassed.</p>
<p>&quot;Goodness! What are you going to implement if you never learn it, Gus? Worshipping is just like going to school. We need to understand the theory and logic of something. Studying or worshipping must be very boring if your hope is just that skin-deep, Young Man!&quot;</p>
<p>&quot;Then, let me follow her faith,&quot; I exclaimed.</p>
<p>&quot;Good thought. I see that she conducts her faith obediently. I will be very happy if you can afford to do that with all your heart,&quot; challenged Pak Tua.</p>
<p>I was helpless. Praying five times a day? Bah, even for praying twice a day with discipline is already a problem with me.</p>
<p>&quot;How about you yourself, Pak Tua?&quot; I asked, trying to find the secret of his relationship with Mak Tua<sup>2</sup> who still held onto her belief.</p>
<p>&quot;Come on &#8230; Don&#8217;t justify yourself.&quot;</p>
<p>&quot;I&#8217;m not justifying; I&#8217;m learning. There must be something that we can add to our consideration as the enlightenment for the future,&quot; I said, returning his own words.</p>
<p>Pak Tua laughed. &quot;It was not actually planned that way. You can even call it the youth&#8217;s greenness. We were too keen to get married, how could we have thought of those kinds of things?&quot;</p>
<p>Pak Tua then told me that her marriage to Mak Tua was carried out with two religion processes, Catholic and Islam, under the pressure from both families. People may say that this was a common practice in the past. For the marriage to be legitimate in the Islam way, Pak Tua, who had been very young at that time, did not think of the consequence of citing the two-sentence confession, that he confessed to become a moslem.</p>
<p>&quot;But your relation with Mak Tua seems to be okay. Even very sweet, encompassing many other marriages without different religion problems,&quot; I probed.</p>
<p>&quot;That has nothing to do with identical or different religion matter, Gus, but it&#8217;s about your intention and consistence in carrying out the intention. If both parties have good intention, they can discuss and find a way out for just anything. Without it, even a good plan will die down and shatter.&quot;</p>
<p>&quot;Is not troublesome living your life with two different faiths, Pak Tua?&quot;</p>
<p>&quot;Of course it is. But then, what is not troublesome in this life? This is where the art lies. You know, Gus, it&#8217;s much easier changing religion to match the other one compared to accepting the difference wholly without regarding one as higher or lower than the other. There are more than a few people who change religions just to be doing the same ritual, not the spiritual harmony. You know, in that harmony, nothing needs to be sought or challenged,&quot; Pak Tua philosophized.</p>
<p>As usual, I bent my mouth while nodding if Pak Tua started to launch a series of his philosophies. But I never got fed up. Since I had been at High School, he always treated me as an equal discussion partner that he was open for questions or even challenges. I may have been benefited by his condition of not having a son.</p>
<p>Lengthy discussion with Pak Tua on religion difference within a family fortified a consideration Rani and I had been thinking: leave a marriage life without leaving our own religions. We both had agreed not to make the other one change religion, we even wanted to encourage that the other faith should be kept alive within our unity.</p>
<p>Pak Tua was glad to hear our decision. He promised to convey it to father and mother, while convincing them that the decision was the best for all of us. A few days later, father and mother called us for a discussion. They wanted to hear everything directly from us. Without much resistance, they accepted our explanation.</p>
<p>&quot;So, when are you going to get married?&quot; asked father later.</p>
<p>&quot;Not before six months from now,&quot; I answered, turning to Rani. Rani nodded. We indeed had talked this out quite for long and often so that we are aware of the many possibilities. Although I had only been working for one year, I guessed my opportunity to move ahead was quite open. Moreover, in another three months, Rani will graduate as a dentist. We were sure that the future will not be that scary, although we would have to start it with humbleness.</p>
<p>Father nodded as a sign of his understanding. Mother happily hugged Rani and called her &quot;my daughter&quot;. But I was totally unsure that the same thing would turn out at Rani&#8217;s family. Rani supported my concern.</p>
<p>&quot;It is my responsibility as well as honor for me as the head of the family to convey your intention and decision to Rani&#8217;s parents and family. Next Saturday afternoon we will go together to see Rani&#8217;s parents,&quot; said father, short.</p>
<p>I did not expect the process to be that quickly. In three days?</p>
<p>&quot;When are you going to communicate this plan to your parents?&quot; I asked Rani while taking her home.</p>
<p>&quot;Tonight. I don&#8217;t know how they would react,&quot; Rani sighed.</p>
<p>&quot;The most important is that they are willing to welcome my parents this Saturday. Let&#8217;s just see whatever the result will be. We have made our guesses, haven&#8217;t we?&quot;</p>
<p>We even had calculated the worst scenario that Rani&#8217;s family would not approve of it. Parents&#8217; blessing is important, said Pak Tua, but what is much more basic for the long-lasting happiness for a couple is their commitment to their unity in various matters. In this case, honesty is the main asset. Rani and I were sure that up to that time, we had been standing upon honesty.</p>
<p>The disaster did happen. Rani&#8217;s family did not want to welcome our proposal. Rani&#8217;s father politely presented various hindrances, be it concerning the religion&#8217;s rules or their reputation responsibility socially.</p>
<p>&quot;We can neither give you permission, nor stand in her way to reach his chosen future,&quot; Rani&#8217;s father underlined their family&#8217;s standpoint. &quot;The worst thing is the termination of family relation.&quot;</p>
<p>This possibility had been counted in our scenarios; still, Rani was struck. Her mother could only cry silently.</p>
<p>Six months later, we got married without the presence of and blessings from both her parents. Only Haekal came, conveying Rani&#8217;s mother&#8217;s regards.</p>
<p>Now Bonang&#8217;s SMS crashes the memory of Pak Tua. The next SMS is a little longer, &quot;When do you arrive? Mak Tua&#8217;s family wants the burial to be held with an Islamic process tomorrow morning. While the church and we have scheduled it for 2 o&#8217;clock in the afternoon tomorrow.&quot;</p>
<p>It is almost 20.00 in the evening. Still 3 hours to get to the village. Although he had never been an icon in the church community as father is, Pak Tua had often gone to church before his condition dropped drastically devoured by liver cancer. As long as my memory serves, Pak Tua never prayed in Islamic way. Yet he never forgot to accompany Mak Tua to fast for a month each year.</p>
<p>I &#8212;who was still a little children at that time&#8212; never bothered it as long as I could go to his house each Eid to have some ketupat<sup>3</sup> and opor ayam<sup>4</sup> and some other food. Also I never needed to question the absence of Mak Tua at church as long as I still got a present laid under the Christmas tree in their house.</p>
<p>I also never knew what Pak Tua was doing when one day he went with Mak Tua who left for pilgrimage. Even if I asked, Pak Tua only laughed without answering. This remains a mystery to us. And many people got a wrong perception. That is why although for the rest of his life I had never seen Pak Tua worshipping in Islamic way, I can understand if the family from Mak Tua&#8217;s side still reckons him as a moslem that they want to burry the body in an Islamic way. On the other side, our family naturally wants the burial to be done in the Catholic way.</p>
<p>I entirely understand the two parties&#8217; good intention to give the last ritual service for the dead. What I don&#8217;t understand is this: what victory does a party get from fighting over a corpse? Will the good memories of the person decline if he is buried with religion A process? Or will his glory fortify before God if he is buried under religion B procedure?</p>
<p>It is true that I am not a religious person who studies various religious processes in depth. But I am quite sure that the true spirituality of a person and God&#8217;s creature as well will not change simply because of the different prayer chants and process.</p>
<p>I may be considered permissive or even indifferent if I approve of the good intention from Mak Tua&#8217;s family side. On the contrary, I may possibly be thought of as a totalitarian or even radical if I choose the decision for our family&#8217;s favor. This really gives me headache. How difficult it is to satisfy all parties whose desires cannot be compromised.</p>
<p>The driver wakes me up. It seems that I have fallen asleep for the rest of the journey. It is almost midnight when we arrive at Pak Tua&#8217;s house.</p>
<p>How shocked I am to see the chaos there. People go to and from around the house while pointing the flashlight. Some of them even go around the backyard carrying torches. No one has the time to give attention or welcome me.</p>
<p>While stepping over the door to the family room, Bonang sees me. He quickly gets up and approaches me, leaving a group of people who seem to be discussing while standing in a circle. He greets me, &quot;Welcome, Bro.&quot;</p>
<p>The people in the circle now are circling me. They shake my hand without uttering a word. Their faces reflect strangeness as well as tension.</p>
<p>&quot;What&#8217;s up, Bonang?&quot; I asked.</p>
<p>&quot;Pak Tua dissapears,&quot; answers Bonang, short.</p>
<p>&quot;Dissapears? What do you mean?&quot; I asked, not understanding it.</p>
<p>Bonang takes me into the room. The people encircling me follow from behind. It turns out to be the room where they put Pak Tua&#8217;s body. Bonang pulls me nearing the coffin. Empty! At the bottom of the case is an embroidered gauze.</p>
<p>&quot;An hour ago Pak Tua&#8217;s corpse was still there, Bro. I saw it myself when I changed the candle,&quot; said Bonang pointing to a candle shining on a small table at the head side of the coffin.</p>
<p>I look around the room carefully. The only door, the one I just passed, connects the room with the family room where everybody gathers. The window facing sideways is fenced with solid brass. Nothing is bent. All the screws are in good condition, piercing fast and deep into the window&#8217;s frame which is made of teakwood. All the glass frames on the windows are still neatly placed. Let alone a hole, even a crack is nowhere in sight at the room&#8217;s ceiling.</p>
<p>There is just not any possibility of smuggling the corpse from the room in any ways. Where has Pak Tua&#8217;s corpse gone then? Who took it? When? And how did it go out without being seen by anybody?</p>
<p>Confusion prevails. My body seems floating in the air. I hear the commotion of people shouting noisily. Vaguely Pak Tua&#8217;s voice echoes through the darkness which suddenly grabs me, &quot;You know, in that harmony, nothing needs to be sought or challenged.&quot;</p>
<p class="datex">&#8212; Bandung-Jakarta: Sunday, 10 August 2008 22:30<br />
<span class="source">[translated by Untung P. Siahaan &#8212; 16 March 2009]</span></p>
<p class="cat">[*] moksa = sirnanya fisik dari pandang kasat mata.<br />
1) Pak Tua = short form of Bapak Tua, father&#8217;s elder brother.<br />
2) Mak Tua = short form of Mamak Tua, father&#8217;s elder brother.<br />
3) ketupat = rice put wrapped in woven coconut leaves, usually served during Eid.<br />
4) opor ayam = chicken cooked with Indonesian curry ingredients.</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/693/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=693&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa-english/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/WheelsOfLight.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Wheels of Light</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moksa*</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 15:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[interfidei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/09/08/moksa/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ketiga yang menjadi peserta perlombaan yang dibatalkan itu Wheels of Light Francene Hart Jarum jam nyaris menunjuk angka 5 sore ketika SMS Bonang, adikku, menggetarkan ponselku. Isinya yang amat singkat membuat sakit kepalaku kian bertambah. &#34;Pak Tua meninggal jam &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=228&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="cat" align="center">Tulisan ketiga yang menjadi peserta perlombaan yang dibatalkan itu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<table class="captl" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a href="http://www.francenehart.com/images/wheels.jpg" title="Wheels of Light" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/WheelsOfLight.jpg" alt="Wheels of Light" width="200" height="319"></a><br />
Wheels of Light<br />
<a href="http://www.francenehart.com" target="_blank">Francene Hart</a></td>
</tr>
</table>
<p>Jarum jam nyaris menunjuk angka 5 sore ketika SMS Bonang, adikku, menggetarkan ponselku. Isinya yang amat singkat membuat sakit kepalaku kian bertambah. &quot;Pak Tua meninggal jam 16.51. Keluarga menantikan kedatangan Abang.&quot;</p>
<p>Bagaimana kepalaku tidak tambah sakit? Urusan kantor sedang gawat-gawatnya dikejar tenggat waktu penyelesaian tahap ketiga projek di salah satu instansi pemerintah. Di tengah membaranya semangat tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengejar berbagai hal yang ditengarai mengandung unsur tindak pidana korupsi, tentu saja kami tidak bisa berleha-leha.</p>
<p>Celakanya, semua orang berpaling sekaligus melemparkan tanggung jawab kepadaku yang mengemban jabatan sebagai pimpinan projek. Sakit kepalaku memikirkan cara membukukan berbagai transaksi keuangan tak tercatat yang berlangsung antara kantor kami dengan para pejabat instansi tersebut. Tim konsultan keuangan yang kami sewa untuk bekerja secara maraton pun masih belum berhasil menutup tuntas celah yang pasti akan sangat menarik perhatian para petugas KPK.</p>
<p>Tapi urusan keluarga, apalagi yang berkenaan dengan kematian, tentu saja tidak bisa ditunda. Kehadiranku sangat diperlukan. Setelah bapak meninggal, menjadi kewajibanku selaku anak lelaki tertua untuk mewakili keluarga dalam berbagai acara yang memerlukan kehadiran kepala keluarga. Terlebih-lebih yang memerlukan keputusan final sebagai sikap bersama seluruh anggota keluarga. Dengan meninggalnya Pak Tua, tanggung jawab sebagai kepala dari dua keluarga, yang sebelumnya diemban oleh Pak Tua, otomatis beralih padaku. Dan aku harus mengawali peran tersebut sepenuhnya saat ini.</p>
<p><span id="more-228"></span>
<p>Kuputuskan pulang ke kampung guna menuntaskan musyawarah keluarga sesegera mungkin agar bisa segera kembali membereskan urusan kantor yang sudah sangat mendesak. Menurut sumber yang dapat dipercaya, KPK sudah memasukkan projek kami ke dalam daftar pemeriksaannya.</p>
<p>Kupanggil sekretarisku. &quot;Della, saya harus ke luar kota. Paling lama 3 hari. Pak Surya akan menggantikan saya memimpin projek. Tolong kamu atur supaya semuanya lancar. Saya kontak beliau nanti dari jalan. Beritahu Darmo agar menyiapkan mobil. Saya berangkat 15 menit lagi.&quot;</p>
<p>Setelah Della keluar, bergegas kumasukkan laptop dan berkas-berkas projek ke dalam tas. Siapa tahu beberapa jam perjalanan pulang ke kampung bisa kumanfaatkan untuk mencicil pekerjaan.</p>
<p>Ternyata, pikiranku tidak bisa kukonsentrasikan ke pekerjaan. Kenangan tentang Pak Tua terus mengusik. Beliau adalah abang dan satu-satunya saudara bapak. Sudah beberapa tahun beliau sakit dan bolak-balik masuk rumahsakit. Kondisinya amat memprihatinkan. Hanya tergolek lemah di tempat tidur.</p>
<p>Keluwesan Pak Tua yang bertolakbelakang dengan sifat pendiam bapak membuatku dekat dengannya. Banyak hal yang lebih suka kubicarakan dengan Pak Tua tinimbang pada bapak, termasuk kegalauanku sekian tahun silam perihal kelanjutan hubunganku dengan Maharani akibat perbedaan agama. Malah Pak Tualah yang mengambil inisiatif diskusi.</p>
<p>&quot;Percuma saja bapakmu menyekolahkanmu tinggi-tinggi kalau kamu tidak bisa membereskan persoalanmu sendiri,&quot; ledek Pak Tua.</p>
<p>&quot;Bagaimana sih Pak Tua ini? Apa hubungan ijasah teknik dengan urusan percintaan?&quot; aku mengomel. Kebiasaan ceplas-ceplos Pak Tua justru membuatku bebas berterus-terang.</p>
<p>&quot;Bukan ijasahnya yang penting, tapi akal sehatnya.&quot;</p>
<p>Aku hanya bisa membuang napas.</p>
<p>&quot;Kamu khawatir penghormatan orang pada bapakmu akan surut jika kamu menikah dengan perempuan beragama lain?&quot; tanya Pak Tua.</p>
<p>Aku mengiyakan dengan muram. Bapak memang jarang bicara, tetapi pertimbangan-pertimbangan beliau selalu dinantikan di lingkungan gereja. Beliau dipandang sebagai sesepuh dan panutan. Walau keluarga kami termasuk moderat dalam soal agama, keenggananku mengusik citra bapak yang telanjur dibangun oleh orang lain itu membenturkanku ke tembok.</p>
<p>Di sisi lain, status Rani selaku anak seorang pemuka agama Islam menggiring kami ke tepi jurang tak terseberangi. Jangankan bersedia memaklumi pergantian agama anggota keluarga, bahkan untuk menerima kehadiran seorang non-Islam ke dalam keluarga mereka pun hanyalah sebuah angan-angan mustahil. Rani sendiri yang mengatakannya.</p>
<p>Aku dan Rani sudah berkali-kali memikirkan dan mengupayakan berbagai cara agar kedua keluarga bisa menerima kenyataan kebersamaan kami. Namun semua selalu berakhir mentah. Keluarga Rani kurang berkenan atas kehadiranku sebagai calon anggota keluarga mereka. Hanya Haekal, adik bungsu Rani, yang tampaknya tidak berkeberatan malah cukup akrab denganku.</p>
<p>Pak Tua memotong lamunanku, &quot;Bapakmu bukannya tidak tahu ataupun tidak peduli, tapi dia mengalami kesulitan menemukan jalan masuk untuk membicarakannya denganmu. Kamu tahu sendiri bagaimana pendiamnya bapakmu. Tapi Pak Tua yang paling kenal sifatnya. Dia bukan orang egois yang lebih mementingkan reputasinya dibanding kebahagiaan anak-anaknya. Dia akan mendukung apa pun keputusanmu asalkan kamu sanggup menghadapi semua risikonya. Reputasi pribadinya adalah urusannya sendiri, bukan beban bagi anak-anaknya.&quot;</p>
<p>&quot;Bapak memang tidak pernah menuntut kami melakukan apa yang baik baginya, hanya mengingatkan kami menjaga nama baik kami sendiri,&quot; sahutku membenarkan.</p>
<p>&quot;Apakah hubunganmu dengan Rani baik untukmu maupun nama baikmu?&quot;, kutahu Pak Tua meminta konfirmasi sebab beliau sudah cukup mengenal Rani.</p>
<p>Tegas kuanggukkan kepala tanpa ragu. Rani memang bukan perempuan tercantik dan bukan pula yang terpandai dari semua perempuan yang pernah menjalin hubungan denganku. Tidak jelek, tidak pula bodoh. Tapi dialah satu-satunya perempuan yang arif memahami kapan harus diam serta kapan harus membuatku diam saat menyikapi ketidakmampuanku mengendalikan diri. Bersamanya aku merasa aman dan nyaman. Dan aku percaya bahwa Rani pun merasakan hal yang sama denganku. Setidaknya, hubungan kami yang cukup intens selama lima tahun bisa dijadikan tolok ukur.</p>
<p>&quot;Kamu pasti lebih suka jika Rani yang pindah agama,&quot; tebak Pak Tua mengusik gundahku.</p>
<p>&quot;Maunya sih begitu, Pak Tua.&quot;</p>
<p>&quot;Huh, enak saja! Ke gereja saja kamu malas, bagaimana bisa membuatnya tertarik?&quot; ejeknya sambil terkekeh-kekeh.</p>
<p>&quot;Bukan ke gerejanya yang penting, Pak Tua, tapi implementasi ajarannya,&quot; aku membela diri setengah malu.</p>
<p>&quot;Walah! Apa yang mau diimplementasikan kalau tidak pernah dipelajari, Gus? Beribadah itu ibarat pergi sekolah. Bukan sekedar untuk temukan jawaban praktis atas persoalan yang sedang dihadapi, tapi latihan membuka diri pada pencerahan dan segala kemungkinan agar bisa merenungkan peluang ke masa depan. Segala sesuatu perlu dipahami teori dan logikanya sesuai kaidahnya masing-masing. Belajar maupun ibadah pasti sangat membosankan kalau harapanmu hanya sedangkal itu, Anak Muda!&quot;</p>
<p>&quot;Kalau begitu, biar aku saja yang ikut agama Rani,&quot; cetusku seenaknya.</p>
<p>&quot;Pikiran bagus itu. Pak Tua lihat dia taat menjalankan ibadahnya. Pak Tua senang sekali kalau kamu sanggup melakukannya sepenuh hati dengan sukacita,&quot; tantang Pak Tua.</p>
<p>Aku mati kutu. Jangankan sembahyang lima kali sehari, berdoa dua kali sehari pun aku masih belum bisa berdisiplin.</p>
<p>&quot;Bagaimana dengan Pak Tua sendiri?&quot; tanyaku mencoba menemukan rahasia hubungannya dengan Mak Tua yang tetap mempertahankan keyakinannya.</p>
<p>&quot;Ah, kamu ini &#8230; Jangan mencari-cari pembenaran.&quot;</p>
<p>&quot;Bukan pembenaran, tapi pelajaran. Pasti ada yang bisa kami jadikan pertimbangan sebagai pencerahan ke masa depan,&quot; godaku membalikkan kata-katanya sendiri.</p>
<p>Pak Tua tertawa. &quot;Sebenarnya bukan begitu rencana kami semula. Malahan bisa dibilang akibat kenaifan masa muda. Namanya saja kebelet kawin, mana sempat terpikir hal-hal semacam itu?&quot;</p>
<p>Pak Tua lalu bercerita bahwa perkawinannya dahulu dengan Mak Tua dilakukan menurut 2 tatacara agama, Katolik dan Islam, akibat desakan dari keluarga masing-masing. Boleh dikatakan, hal semacam itu sangat lumrah terjadi pada masa lalu. Demi sahnya perkawinan secara Islam, Pak Tua yang saat itu masih sangat muda tidak memikirkan konsekuensi pengucapan 2 kalimat syahadat, yakni ikrar masuk ke agama Islam.</p>
<p>&quot;Tapi hubungan Pak Tua dengan Mak Tua kelihatannya baik-baik saja. Malah sangat harmonis, melebihi banyak keluarga lain yang tidak punya masalah perbedaan agama,&quot; pancingku.</p>
<p>&quot;Itu sih bukan soal sama atau beda agama, Gus, tapi niat dan konsistensi melakoni niat. Kalau sama-sama berniat baik, apa pun bisa dirundingkan dan dicarikan jalan keluarnya. Tanpa niat baik, apa pun akan mandek dan berantakan.&quot;</p>
<p>&quot;Apa tidak repot menjalani kehidupan dengan dua keyakinan berbeda, Pak Tua?&quot;</p>
<p>&quot;Jelas repot. Tapi apa sih yang tidak merepotkan dalam perjalanan hidup? Di situlah letak seni berkehidupan. Kamu tahu, Gus, jauh lebih mudah menyamakan agama dibanding menerima perbedaan apa adanya secara utuh tanpa memperlakukan lebih tinggi ataupun lebih rendah satu sama lain. Tidak sedikit orang bertukar agama hanya demi kesamaan ritual, bukan keselarasan spiritual. Padahal, dalam keselarasan itu, tak sesuatu pun perlu dicari dan digugat lagi,&quot; sahut Pak Tua berfilsafat.</p>
<p>Sebagaimana biasa, aku memonyongkan mulut sambil manggut-manggut jika Pak Tua sudah mulai melontarkan serentetan filosofinya. Namun tak pernah aku sebal. Semenjak aku duduk di bangku SMA, beliau selalu memperlakukanku sebagai lawan bicara yang setara sehingga terbuka untuk dipertanyakan bahkan ditentang. Barangkali aku diuntungkan oleh keadaannya yang tidak dikaruniai anak lelaki.</p>
<p>Perbincangan panjang-lebar dengan Pak Tua perihal perbedaan agama dalam sebuah keluarga menguatkan pertimbangan yang sudah pernah terpikirkan olehku dan Rani, yakni menjalani kebersamaan perkawinan tanpa meninggalkan agama masing-masing. Kami berdua bersepakat tidak akan memaksa satu sama lain berpindah agama, malah mengupayakan agar keyakinan pihak lain tetap hidup dalam kebersamaan tersebut.</p>
<p>Pak Tua senang mendengar keputusan kami. Dia berjanji akan menyampaikannya pada bapak dan ibu, serta meyakinkan mereka bahwa itulah yang terbaik bagi semua. Dan, beberapa hari kemudian, bapak dan ibu mengajak kami berdua bicara. Mereka ingin mendengar langsung semuanya dari kami sendiri. Tanpa banyak kesulitan, mereka menerima penjelasan kami.</p>
<p>&quot;Kapan rencananya kalian menikah?&quot; tanya bapak kemudian.</p>
<p>&quot;Paling cepat enam bulan lagi,&quot; jawabku sambil menoleh pada Rani. Rani mengangguk. Kami memang sudah cukup lama dan sering membicarakannya guna menghitung berbagai kemungkinan. Meski baru satu tahun bekerja, kurasa peluangku untuk maju cukup terbuka. Tiga bulan lagi pun Rani akan diwisuda sebagai dokter gigi. Kami yakin masa depan kami tidak terlalu mencemaskan walau harus mengawali semua dengan kesahajaan.</p>
<p>Bapak menganggukkan kepala tanda mengerti tanpa harus banyak bicara. Ibu langsung memeluk Rani dengan gembira dan memanggilnya &quot;putriku&quot;. Tetapi aku sama sekali tidak yakin hal yang sama akan mudah berterima pada keluarga Rani. Rani pun membenarkan kekhawatiranku.</p>
<p>&quot;Menjadi tanggung jawab sekaligus kehormatan bagi Bapak sebagai kepala keluarga untuk menyampaikan niat dan keputusan kalian pada orangtua dan keluarga Rani. Sabtu sore yang akan datang kita berangkat bersama menemui orangtua Rani,&quot; putus bapak singkat.</p>
<p>Tak kuduga akan secepat itu prosesnya. Tiga hari lagi.</p>
<p>&quot;Kapan kamu akan menyampaikan rencana ini pada orangtuamu?&quot; tanyaku pada Rani ketika mengantarkannya pulang.</p>
<p>&quot;Malam ini juga. Entah bagaimana reaksi mereka nanti,&quot; desah Rani.</p>
<p>&quot;Yang penting mereka bersedia bertemu orangtuaku Sabtu nanti. Apa pun hasilnya, bagaimana nanti sajalah. Kita kan sudah pernah mengira-ngira.&quot;</p>
<p>Kami bahkan sudah sampai ke kemungkinan terburuk bahwa keluarga Rani tidak setuju. Restu orangtua memang penting, kata Pak Tua, namun yang lebih mendasar bagi kelanggengan kebahagiaan sepasang manusia adalah komitmen kebersatuan mereka sendiri dalam berbagai hal. Dalam hal ini, kejujuran adalah modal utamanya. Aku dan Rani yakin bahwa hingga saat itu kami masih berdiri di atas kejujuran.</p>
<p>Ternyata petaka sungguh terjadi. Keluarga Rani tidak berkenan menerima lamaran kami. Dengan santun ayah Rani mengemukakan berbagai hal yang menjadi penghalang, baik yang berkenaan dengan aturan agama maupun yang menyangkut tanggung jawab reputasi mereka di lingkup sosial.</p>
<p>&quot;Kami tidak bisa memberikan ijin, tapi juga tidak bisa menghalangi langkah Rani ke masa depan yang dipilihnya,&quot; ayah Rani menggarisbawahi sikap keluarganya. &quot;Yang terburuk adalah putusnya hubungan keluarga.&quot;</p>
<p>Walau kemungkinan tersebut sudah pernah kami skenariokan, tetap saja Rani amat terpukul. Ibunya hanya bisa menangis tanpa bersuara.</p>
<p>Enam bulan kemudian kami menikah tanpa kehadiran dan restu kedua orangtuanya. Hanya Haekal yang datang menyampaikan salam dari ibu Rani.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>SMS Bonang membuyarkan semua bayang kenangan masa lalu. Isinya lebih panjang sedikit, &quot;Kapan sampai? Keluarga Mak Tua ingin penguburan dilakukan secara Islam besok pagi. Sedangkan kami dan gereja sudah menjadwalkan penguburan pukul 2 siang besok.&quot;</p>
<p>Kepalaku berdenyut tambah sakit. Hampir jam 8 malam. Masih 3 jam perjalanan untuk mencapai kampung.</p>
<p>Meski tidak pernah menjadi tokoh di lingkungan gereja seperti bapak, Pak Tua masih sering ke gereja sebelum kondisi fisiknya merosot drastis digerogoti kanker hati. Seingatku, Pak Tua tak pernah shalat. Tapi beliau tidak pernah alpa mengawani Mak Tua berpuasa sebulan penuh tiap tahun. Aku yang saat itu masih kanak-kanak tidak pernah mempedulikannya selama bisa datang ke rumahnya setiap Lebaran untuk menyantap ketupat dan opor ayam serta berbagai penganan lain. Juga tidak pernah merasa perlu mempertanyakan ketidakhadiran Mak Tua di gereja selama masih mendapat bingkisan yang diletakkan di bawah pohon Natal di rumah mereka.</p>
<p>Aku pun tak pernah tahu apa yang dilakukan Pak Tua ketika satu saat dia pergi bersama Mak Tua yang berangkat menunaikan ibadah haji. Kalaupun kutanyakan, Pak Tua hanya tertawa tanpa menjawab. Soal itu tetap menjadi misteri bagi kami. Dan banyak pula orang yang salah sangka. Oleh sebab itu, meski selama sisa hidupnya tak pernah kulihat Pak Tua melakoni ibadah secara Islam, bisa kumengerti jika pihak keluarga Mak Tua masih menganggapnya beragama Islam sehingga berniat melakukan penguburan secara Islam. Di pihak lain, keluarga kami tentunya ingin penguburan Pak Tua dilayankan secara Katolik.</p>
<p>Aku bisa mengerti niat baik keduabelah pihak memberikan pelayanan terakhir keagamaan bagi seorang manusia yang sudah meninggal. Hanya saja aku tidak mengerti, apa yang akan dimenangkan dari pertarungan memperebutkan seonggok bangkai? Akan berkurangkah kenangan baik mengenai orang itu jika dikuburkan secara agama A? Atau akan berlipatkah kemuliaannya di hadapan Tuhan seandainya dikuburkan menurut tatacara agama B?</p>
<p>Aku memang bukan seorang religius yang mendalami makna berbagai upacara agama. Tapi aku cukup yakin bahwa kesejatian spiritualitas seseorang selaku manusia sekaligus mahluk ciptaan Tuhan tidak akan berubah akibat perbedaan cara pengucapan doa dan upacara.</p>
<p>Boleh jadi aku akan dianggap permisif bahkan indiferentis jika kusetujui niat baik pihak keluarga Mak Tua. Sebaliknya, sangat mungkin aku dicap totaliter bahkan radikal jika kuambil putusan yang berpihak pada keinginan keluarga kami. Sakit kepalaku dibuatnya. Betapa susahnya menyenangkan semua pihak yang keinginannya tidak bisa dipertemukan.</p>
<p align="center">* * *</p>
<p>Darmo membangunkanku. Rupanya aku jatuh tertidur selama sisa perjalanan. Sudah hampir tengah malam. Betapa terperanjatnya aku menyaksikan kegaduhan di rumah. Orang-orang hilir-mudik di sekitar rumah sambil menyorotkan senter. Malahan ada yang kesana-kemari di ladang belakang rumah dengan membawa obor. Tak seorang pun sempat memperhatikan dan menyambut kedatanganku.</p>
<p>Saat melangkahi ambang pintu memasuki ruang tengah, Bonang melihatku. Serta-merta dia beranjak menghampiriku meninggalkan kumpulan orang yang tampaknya sedang berunding sambil berdiri dalam posisi melingkar. Dia mencium tanganku sambil mengucapkan salam, &quot;Selamat datang, Bang.&quot;</p>
<p>Orang-orang yang tadi melingkar pun kini mengerumuniku. Mereka menyalamiku tanpa mengucapkan satu kata pun. Wajah mereka memancarkan keanehan sekaligus ketegangan.</p>
<p>&quot;Ada apa, Nang?&quot; tanyaku.</p>
<p>&quot;Pak Tua menghilang&quot;, jawab Bonang pendek.</p>
<p>&quot;Menghilang? Apa maksudmu?&quot; tanyaku tidak mengerti.</p>
<p>Bonang menuntunku masuk ke kamar bekas ruang kerja bapak. Orang-orang yang tadi mengerumuniku berbondong-bondong mengekor di belakang. Rupanya di kamar itulah jenasah Pak Tua disemayamkan. Bonang menarikku mendekati peti mati. Kosong! Di dasar peti tergeletak kain kasa bersulam.</p>
<p>&quot;Satu jam yang lalu jenasah Pak Tua masih ada, Bang. Aku sendiri melihatnya waktu mengganti lilin,&quot; kata Bonang sambil menunjuk sebatang lilin menyala di meja kecil di bagian kepala peti.</p>
<p>Kucermati seantero kamar itu. Satu-satunya pintu, yang baru saja kulewati, menghubungkan kamar dengan ruang tengah tempat berkumpulnya semua orang. Jendela yang menghadap ke samping rumah dipagari terali kuningan tebal. Tidak ada yang bengkok. Seluruh sekrupnya dalam kondisi baik, menancap kokoh dan dalam ke kusen jendela yang terbuat dari jati. Semua kaca nako masih terpasang rapi. Jangankan lubang, retakan pun tidak ada pada eternit langit-langit kamar. Sama sekali tak ada kemungkinan meloloskan jenasah dari ruangan itu lewat jalan mana pun. Lalu, ke mana perginya jenasah Pak Tua? Siapa yang mengambilnya? Kapan? Bagaimana cara melewati semua orang tanpa terlihat?</p>
<p>Kebingungan melandaku.</p>
<p>&quot;Apa yang harus kukatakan pada semua orang mengenai hilangmu saat kujalani peranku kini sebagai kepala keluarga, Pak Tua?!&quot; teriakku dalam hati. Denyut di kepalaku kian menyakitkan. Betapa kurindu belaian lembut Rani yang menenangkan.</p>
<p>Kurasakan tubuhku melayang. Orang-orang gaduh berteriak. Lamat-lamat mengiang suara Pak Tua menembus gelap yang sekonyong-konyong menyergapku, &quot;<i>&#8230; dalam keselarasan itu, tak sesuatu pun perlu dicari dan digugat lagi.</i>&quot;</p>
<p class="datex">&#8212; Bandung-Jakarta: Minggu, 10 Agustus 2008 22:30</p>
<p class="cat">[*] moksa = sirnanya fisik dari pandang kasat mata.</p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=228&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/moksa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/WheelsOfLight.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Wheels of Light</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Les Misérables #2</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/les-miserables-2/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/les-miserables-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 20:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[familia]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/les-miserables-2/</guid>
		<description><![CDATA[— Hati Berlimpah Rela dan Cinta Coming from The Heart universalchurchofmetaphysics Kehidupan sebagai pelatih bersama komunitas Bangau Putih di Bogor tentu saja tidak memberikan janji masa depan mapan sebagaimana yang mungkin diraih oleh kebanyakan sarjana yang beroleh kesempatan memiliki pekerjaan &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/les-miserables-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=97&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Hati Berlimpah Rela dan Cinta</h2>
<table class="captr" style="float:right;margin:0 0 10px 10px;" border="0">
<tr align="right">
<td><a href="http://i257.photobucket.com/albums/hh239/12spencer12/comingfromtheheart.jpg" title="Coming from The Heart" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/ComingFromTheHeart.jpg" alt="Coming from The Heart" width="200" height="344"></a><br />
    Coming from The Heart<br />
    <a href="http://www.myspace.com/universalchurchofmetaphysics" target="_blank">universalchurchofmetaphysics</a></td>
</tr>
</table>
<p>Kehidupan sebagai pelatih bersama komunitas Bangau Putih di Bogor tentu saja tidak memberikan janji masa depan mapan sebagaimana yang mungkin diraih oleh kebanyakan sarjana yang beroleh kesempatan memiliki pekerjaan tetap. Walau orang yang dilatihnya banyak yang tergolong berkecukupan serta juga pesohor, berapalah honor yang diperoleh Lis sebagai pelatih? Boleh dikatakan bahwa yang dilakukannya cenderung merupakan pengabdian tinimbang pekerjaan. Walau begitu, tidak pernah dia mengeluhkan keterbatasan pilihan yang tersedia baginya.</p>
<p>&#8220;Dijalani saja, Bang,&#8221; katanya tanpa kehilangan senyum dan tawa yang jauh dari kesan terpaksa.</p>
<p>Betapa lapang hati seorang manusia yang harus menjalani keterbatasan yang tidak dapat ditolaknya. Entah dari mana datangnya kerelaan sebesar itu.</p>
<p>Ketabahan Lis menjalani hidup kerap membuat saya iri dan sekaligus tidak mampu menahan torehan perih yang membuncah di dalam hati ketika suatu siang saya mengunjunginya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana makanmu, Lis?&#8221; tanya saya dengan perasaan sangat berdosa lantaran kentara berbasa-basi. Jelas saya bisa melihat kardus mie instan setengah kosong di pojok kamarnya.</p>
<p><span id="more-97"></span></p>
<p>&#8220;Begitulah, Bang, sama-sama dengan teman-teman yang tinggal di sini,&#8221; sahutnya tanpa memberikan rincian penjelasan. Walau tidak pernah mengalami, saya cukup mengerti bagaimana cara makan beramai-ramai a-la asrama.</p>
<p>Kemudian saya mengajaknya makan siang keluar. Saya tidak tahu sudah berapa lama dia tidak merasakan gurih dan renyahnya ikan gurame goreng olahan rumah makan Sunda. Makanan yang biasanya saya santap dengan nikmat itu jadi amat sulit melewati tenggorokan.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, tidak bisa saya tahan keluarnya airmata. Bukan hanya karena haru, tetapi juga malu. Kondisi keuangan saya yang nyaris selalu pas-pasan akibat prinsip angkuh tidak sudi mengejar materi dan diperbudak uang membuat saya tidak bisa menggenggamkan uang lebih dari 500.000 rupiah ke dalam tangannya ketika berpamitan. Saya memang tidak memerlukan banyak uang untuk keperluan pribadi saya, tetapi saya kerap lupa ada orang lain yang membutuhkannya, yang seharusnya saya bisa menjadi sarana penyalurannya. Lis adalah salah satunya.</p>
<p>Apabila keadaan keuangan saya agak longgar, saya mengirimkan sebagian kepadanya melalui ATM. Situasi istimewa yang tidak sering terjadi ini biasanya berlangsung sekitar hari raya. Dengan bergurau saya katakan bahwa itu adalah THR (Tunjangan Hari Raya) baginya sekedar untuk membeli kue Nastar. Adakalanya pula saya mengarang alasan ingin dikirimi kue Nastar. Dan jika Lis mengatakan bahwa uang yang saya kirim terlalu banyak untuk satu stoples Nastar yang saya pesan, dengan menahan getir saya berkata, &#8220;Sisanya untuk menambah uang jajan kamu, supaya tidak makan mie instan terus.&#8221;</p>
<p>Menurut penuturan Bapak dan Mami, Lis pernah menjalankan usaha kecil-kecilan menjual perangkat bekal makan serta perlengkapan belajar anak sekolah. Dia juga pernah menjadi guru honorer di sebuah sekolah swasta maupun menjadi guru les privat untuk beberapa anak sekolah dasar. Tetapi semua itu tidak berlangsung cukup lama, konon pula langgeng sebagai sumber mata pencaharian ataupun sekedar sampingan. Kondisi matanya mengakibatkan gerak dan kemampuannya sangat terbatas. Membaca buku saja sudah semakin sulit. Walhasil, terhentilah satu demi satu usaha yang dia coba lakoni itu, hingga akhirnya hanya kehidupan bersama komunitas Bangau Putih yang tersisa baginya.</p>
<p>Kendati demikian, Lis tidak ingin dikasihani, malah berusaha berusaha memberikan kinerja terbaik yang tidak kalah dibandingkan rekan lain di komunitasnya yang tidak memiliki keterbatasan. Keteguhan hati dan kegigihan upayanya melahirkan kekaguman rekan-rekan maupun peserta-latihnya (saya mendengar pengakuan ini secara langsung dari seorang Afro-American yang sengaja pensiun dari pekerjaannya sebagai profesor di Taiwan guna menimba ilmu di Bogor selama beberapa waktu).</p>
<p>Lis pun bersikeras tampil sebagaimana layaknya anak normal yang bertekad menunjukkan bakti dan terimakasih kepada orangtua serta cinta kepada seluruh anggota keluarga dengan seluruh kemampuannya.</p>
<p>Jika ada kegiatan ekstra yang mengganjarnya dengan tambahan uang, maka Lis akan membawakan oleh-oleh bagi kedua anak kakak tertua kami saat dia pulang ke Sukabumi untuk menengok Bapak dan Mami. Ada saja yang dibawanya. Entah baju, tas, pita, buku, ataupun pernak-pernik lain. Meski bukan barang mahal, amat terasa betapa mewah dan berlimpahnya rasa cinta yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Bapak dan Mami pun beberapa kali mendapat kejutan darinya. Pernah Lis membawakan <em>DVD player</em>, <em>juicer</em>, ataupun beberapa peralatan lain yang menurutnya baik jika ada di rumah Sukabumi. Tentu saja hal ini membuat Bapak dan Mami jadi rikuh sekaligus trenyuh sehingga menyarankan Lis menyimpan uangnya untuk kebutuhannya. Tetapi Lis punya pendapat sendiri.</p>
<p>Suatu hari Lis berkunjung ke Sukabumi. Kebetulan hari itu adalah hari pernikahan Bapak dan Mami. Tidak ada kejutan khusus yang dibawanya selain ciuman bagi kedua orangtua kami. Semuanya berlangsung biasa-biasa. Setelah meninggalkan rumah untuk kembali ke Bogor, Lis menelpon dari jalan, &#8220;Bapak, Mami, coba deh periksa di bawah bantal. Ada sesuatu,&#8221; katanya agak misterius.</p>
<p>Bapak dan Mami menemukan amplop kecil di bawah bantal masing-masing. Di dalamnya ada uang sebesar 200.000 rupiah. Betapa tidak teriris hati mereka dan menangis. Padahal Bapak dan Mami tidaklah hidup dalam keadaan berkekurangan. Uang pensiun mereka berdua setiap bulannya saja lebih dari cukup, sehingga dapat dikatakan tidak ada kebutuhan mereka yang memerlukan sokongan berkala dari kami. Tetapi begitulah cara Lis mengungkapkan perhatian dan kasih sayangnya.</p>
<p>Satu kali saya mengiriminya uang lewat ATM, lalu mengabarinya lewat SMS. Tidak lama kemudian dia membalas dengan SMS yang membuat saya terpaku cukup lama (saya kutip seutuhnya termasuk kesalahan ketik yang sering terjadi akibat keterbatasan penglihatannya),</p>
<blockquote><p>Halo, Bang, aku udah trm smsnya. Tks byk, ya. Biar Tuhan yg berkati dan memberi yg lbh kpd Abang n Gawei. Aku seneng krn Abang inget aku, tp jg sedih, krn Abang selalu inget, walau mgkn Abbng cuma dpt sdkt, tp diksh ke aku. Tks byk ya, Bang. Oya, inget ga wkt Abang ksh aku uang dr jual mbl? Kan bbrp hr sblmnya, aku lht photo kt wkt kcl yg berlima. Photonya aku simpen di HP. Disitu kt duduk, trus aku digendong Abang. Trus aku kok pgn ada yg ksh duit, ga tau knp, pdhl sih ga utk apa2, cm pgn aja. Trus aku mkr, ah, ga mgkn Abang ngasih, krn thn lalu Abang kan ksh aku wkt mau Lebaran, smtr wkt itu msh jauh dr Lebaran. Udah tuh sampe situ ga mkrin lg. Eh, ga taunya Abang ksh aku uang bbrp hr kmdn. Aku sng, tp jg sdh, krn Abang srgnya sk mikirin dan merhatiin org lain, tp kdg Abang aja ga punya. Tp kiranya itu dpt menjadi berkat melimpah dlm stp kerjaan dan jg harapan2 Abang, ya, kiranya dpt terwujud. Amin.</p>
<p>Sent 13:28:51 15/11/2006</p></blockquote>
<p>Dari cerita Mami kemudian, barulah saya ketahui bahwa uang yang saya kirim untuknya pun tidak jarang dia sisihkan sebagian untuk dibagi dengan anggota keluarga yang lain. Sekecil apa pun rejeki yang diperolehnya, Lis mengupayakan untuk berbagi dengan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Apalagi pada momen-momen spesial seperti ulang tahun kelahiran maupun pernikahan anggota keluarga kami yang tidak pernah luput dari catatannya (bahkan dialah yang selalu rajin berkirim pesan mengingatkan kami semua agar tidak lupa memberikan selamat).</p>
<p>Bagaimana saya tidak menyesali kebebalan yang membuat saya enggan melempar jauh-jauh prinsip omong-kosong yang selama ini saya anut tentang mengejar materi?!</p>
<p>Dengan kenormalan, kemampuan, dan kesempatan yang saya miliki, bukankah saya seharusnya bisa berbuat dan berbagi kasih lebih dari yang saya lakukan saat ini? Bukankah sesuatu yang kecil dan kurang berarti bagi saya sangat boleh jadi memiliki arti yang sangat besar buat orang lain?</p>
<p>Apakah sebenarnya saya tidak rela meneteskan keringat yang bukan demi diri sendiri? Ataukah saya terlalu malas berbelarasa dan enggan mengemban kehormatan sebagai penyalur berkat bagi sesama? Atau &#8230; jangan-jangan hati saya sedemikian kecil sehingga tak tersedia cukup ruang bagi kasih, yang membuat saya khawatir tidak memiliki cukup cadangan bagi diri sendiri &#8230; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<p class="datex">— PinAng: Minggu, 10 Agustus 2008 03:10</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=97&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/08/10/les-miserables-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/ComingFromTheHeart.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Coming from The Heart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Les Misérables #1</title>
		<link>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/06/10/les-miserables-1/</link>
		<comments>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/06/10/les-miserables-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 18:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alof</dc:creator>
				<category><![CDATA[familia]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/06/10/les-miserables-1-2/</guid>
		<description><![CDATA[— Memandang Dunia melalui Jendela Bertabir Kabut Putih Les Misérables theaterofthestars.com Namanya Tien Lisnawaty Francesca Pauline. Panggilannya Lisna atau Lis saja. Sejak kecil hingga [kadang-kadang] saat ini, dialah satu-satunya perempuan dalam keluarga kami yang masih menyandang panggilan Uték (berasal dari &#8230; <a href="http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/06/10/les-miserables-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=92&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="font-family:Georgia;color:#9900cc;">— Memandang Dunia melalui Jendela Bertabir Kabut Putih</h2>
<table class="captl" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0">
<tr align="left">
<td><a href="http://www.theaterofthestars.com/images/shows/lesMis_lg.jpg" title="Les Misérables" class="snap_noshot" rel="lytebox"><img src="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/LesMiserables.jpg" alt="Les Misérables" width="200" height="289"></a><br />
    Les Misérables<br />
    <a href="http://www.theaterofthestars.com/lesMis.htm" target="_blank">theaterofthestars.com</a></td>
</tr>
</table>
<p>Namanya Tien Lisnawaty Francesca Pauline. Panggilannya Lisna atau Lis saja. Sejak kecil hingga [kadang-kadang] saat ini, dialah satu-satunya perempuan dalam keluarga kami yang masih menyandang panggilan Uték (berasal dari kata Butét yang belum bisa dilafalkannya dengan baik ketika masih balita). Dia adalah adik bungsu saya, yang terpaut 7 tahun usianya.</p>
<p>Sejak kecil, Lis adalah adik yang paling dekat dengan saya. Seringkali saya memintanya memijati saya dengan memukul-mukulkan tinjunya yang kecil ke pundak dan punggung saya. Kami menyebut cara pemijatan seperti itu dengan &#8220;dobuk-dobuk&#8221; (pukul-pukul), yang juga kerap kami lakukan pada Bapak dan Mami saat mereka penat.</p>
<p>Kami tidak lagi bersama-sama ketika saya melanjutkan pendidikan ke SMA di kota Bandung. Namun demikian, minimal sebulan sekali saya pulang ke Sukabumi. Pada saat itulah saya kembali dekat dengan Lis dan melakukan berbagai hal selama 1 hari kunjungan saya itu. Misalnya mengajarinya lagu-lagu masa orientasi siswa SMA saya. Atau menyuruhnya [dan kakaknya, Tidy] menghapalkan lagu-lagu lucu yang saya karang sendiri, dan bulan depannya saya uji <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya dan Lis sama-sama menyukai kue Nastar yang berisi selai nenas. Biasanya pada hari raya Natal dan Idul Fitri, di rumah kami tersedia beberapa stoples kue tersebut. Saya dan Lis selalu mencicil menghabiskan kue-kue tersebut dengan cara berbagi sama-rata. Masing-masing memperoleh jatah yang sama jumlahnya (tentu saja saya yang membaginya). Kadang-kadang, secara sembunyi-sembunyi saya mengambil jatah lebih. Lalu, ketika kue itu sudah berkurang jauh jumlahnya, dengan bergurau saya menudingnya bahwa dialah yang menghabiskan kue itu. Tentu saja dia menolak tudingan itu. Tetapi dia tidak menangis. Dia memang jarang menangis.</p>
<p>Barangkali karena kenangan masa kecil itu, hingga kini Lis kerap mengirimi saya kue Nastar.</p>
<p><span id="more-92"></span>Kedekatan saya pada Lis amat jauh berkurang pada beberapa tahun masa-masa terakhir kuliah saya, karena saya lebih banyak menghabiskan waktu di laboratorium kampus. Padahal, saat itu dia pun sudah tinggal di Bandung untuk melanjutkan pendidikan SMA-nya.</p>
<p>Hubungan kami kian renggang setelah saya pindah ke Riau untuk bekerja di sebuah perusahaan minyak. Akibatnya, saya sama sekali tidak tahu bahwa dia mengalami masalah dengan penglihatannya. Sifatnya yang tidak ingin merepotkan orang lain membuatnya menyimpan sendiri semua itu, termasuk kepada anggota keluarga lainnya. Baru bertahun-tahun kemudian kami mengetahui rinciannya.</p>
<p>Lis memang berkacamata minus. Tetapi letak persoalannya bukan pada kecekungan atau kecembungan lensa matanya. Tidak ada perubahan terhadap ukuran lensa kacamata yang diperlukannya. Yang dirasakannya, kian lama penglihatannya kian kabur. Semua yang dilihatnya bagaikan bayang-bayang yang bergerak dalam lautan kabut putih. Apalagi jika cahaya cukup banyak seperti pada siang hari.</p>
<p>Persoalan ini dicoba diatasi dengan menggunakan kacamata berlensa gelap. Walau pada awalnya hal ini cukup membantu, semakin lama daya penglihatannya semakin berkurang. Hingga akhirnya, dia malah tidak menggunakan kacamata sama sekali, karena tidak ada bedanya.</p>
<p>Secara bergiliran, kakak perempuan dan adik lelaki saya berkali-kali membawanya ke berbagai klinik, rumahsakit, dan tempat praktik dokter mata yang menurut banyak orang memiliki reputasi baik. Tidak ada hasilnya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang malah kebingungan menghadapi fenomena ini. Dokter syaraf pun sudah didatangi. Hasilnya nihil. Menurut pemeriksaan mereka, tidak ada syaraf-syaraf dan organ matanya yang rusak.</p>
<p>Setelah saya menyatakan berhenti dari tempat kerja di Riau dan kembali bergeliat di rimba beton Jakarta, saya pun beberapa kali saya mengantarkan Lis ke beberapa dokter mata. Walau sepahit apa pun kenyataan yang harus dihadapi, rasanya lebih baik terperangkap dalam kejelasan tinimbang melayang-layang dalam ketidaktahuan. Sedikitnya, kami bisa mendada kekalahan secara ksatria. Namun, dunia kedokteran ternyata memilih membisu. Walhasil, belasan tahun, hingga saat ini, Lis hidup dalam dunia kabut putih.</p>
<p>Tidak bisa saya bayangkan sudah berapa kali Lis terjatuh ketika turun dari kendaraan umum. Entah sudah berapa kali pula dia terperosok ke lubang, tersandung trotoir atau tunggul atau anak tangga, bahkan terjerembab di jalan. Mempertimbangkan hal itu, Bapak dan Mami memintanya tinggal di Sukabumi setelah dia lulus dari perguruan tinggi.</p>
<p>Beberapa kali saya bersama Bapak dan Mami mengantarnya mengikuti ujian masuk kerja ke beberapa perusahaan yang membuka lowongan. Amat terasa pedihnya hati tatkala kami mengantarnya hingga ke pintu ruang ujian setelah menuntunnya tertatih-tatih mendaki sekian anak tangga. Namun, semua perjuangan itu berakhir dengan tidak ada satu pun perusahaan yang memanggilnya masuk menjadi bagian dari mereka. Entah karena tahu bahwa Lis ada masalah dengan penglihatannya, entah karena Lis tidak bisa menjawab soal-soal ujian dengan baik karena tidak terbaca.</p>
<p>Lis kemudian memutuskan tinggal di Bogor bersama komunitas Bangau Putih yang sudah diakrabinya semenjak masih berkuliah di Bandung. Walau Bapak dan Mami keberatan pada keputusannya, tekad Lis tidak terbendung. Saya rasa ini adalah sebuah keputusan yang sangat berani, karena dia akan hidup bersama-sama dengan [dan sedikit-banyak akan tergantung pada] orang-orang yang tidak memiliki hubungan keluarga. Dengan kondisinya yang begitu terbatas, Lis memilih hidup mandiri dengan segala risikonya.</p>
<p>Ada kalanya kami lupa pada ketidaksempurnaan matanya. Satu kali, ketika akan makan, Mami menyodorinya sendok dan garpu. Lis hanya diam saja. Mami lalu berkata agak keras, &#8220;Lis, ini sendoknya&#8221;. Dengan meraba-raba udara, Lis pun menjangkau sendok-garpu itu. Kemudian dia berkata pelan, &#8220;Maaf, Mi, Lis tidak lihat&#8221;. Mami pun lantas tersadar akan kekurangan adik saya itu (dan satu hari menceritakan pada saya bahwa saat itu beliau menangis di dalam hatinya).</p>
<p>Pernah saya dari Jakarta menjemputnya ke Bogor untuk sama-sama pulang ke Sukabumi. Saya berpesan agar dia menunggu di depan gang tempat tinggalnya agar saya tidak perlu memarkir kendaraan di jalan yang lumayan sempit namun ramai itu. Ketika tiba di jalan depan gang tempat tinggalnya, saya melihat Lis sudah berdiri menunggu di tepi jalan. Tuter mobil pun saya bunyikan. Tetapi Lis bergeming seperti orang yang sedang melamun. Beberapa kali tuter saya bunyikan, dia tidak bereaksi. Akhirnya saya buka kaca jendela mobil dan meneriakkan namanya. Barulah dia beranjak mendekat.</p>
<p>Ketika sudah di dalam mobil, saya memarahinya. &#8220;Bagaimana sih kamu ini? Saya sudah klakson-klakson, tapi kamu diam saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf, Bang, Lis tidak lihat&#8221;, sahutnya pelan.</p>
<p>Sontak saya terdiam. Ingin rasanya menangis saat meminta maaf karena lupa pada cacat matanya. Apalagi ketika ingat bahwa dia hampir saja terjatuh saat turun ke jalan dari trotoir yang hanya beberapa sentimeter tingginya. Hingga kini, saya kerap merasa sebagai orang kalah perang saat mengingat Lis.</p>
<p>Namun, saya rasa, Bapak dan Mami adalah orang yang paling berduka pada keadaannya. Hampir setiap subuh, saat mereka berdua memanjatkan doa pagi, airmata mengalir di pipi kedua orangtua saya terutama ketika mendoakan Lis.</p>
<p>Walau tidak pernah menolak mentah-mentah jika diajak untuk berobat (termasuk ke pengobatan alternatif), Lis tidak terlalu berharap lagi bahwa matanya akan pulih.</p>
<p class="ind">&#8220;Bapak dan Mami jangan bersedih atas apa yang saya alami. Toh mata saya tidak buta. Jika Tuhan memang menginginkan saya hidup dalam kondisi seperti ini, saya menerima dan akan menjalaninya dengan rela. Hanya dengan cara itulah maka saya punya keyakinan bahwa Tuhan akan menyediakan yang terbaik bagi saya.&#8221;</p>
<p>Demikian kata-kata yang kerap diucapkannya, yang selalu terngiang di telinga Bapak dan Mami, yang selalu terbawa dalam doa dan airmata mereka.</p>
<p class="datex">— Beth: Selasa, 10 Juni 2008 01:18</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/solilokuifajar.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/solilokuifajar.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=solilokuifajar.wordpress.com&amp;blog=3814981&amp;post=92&amp;subd=solilokuifajar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://solilokuifajar.wordpress.com/2008/06/10/les-miserables-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/96d2b46e180a6bf1ba8ad9cb9cb31e37?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alof</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i286.photobucket.com/albums/ll86/alofx/solilokui/LesMiserables.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Les Misérables</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
